Produksi gas kita 60% diekspor, 22 % untuk domestik ( industri dan
listrik).serta untuk pemakaian sendiri , kalau bisa rasio ini dibalik ( yg
diekspor lebih sedikit) , karena banyak sektor yg bisa digantikan yg selama
ini masih menggunakan minyak seperti trasportasi dan listrik.Kemudian sumber
energi primer seperti Air dan geothermal dioptimalkan sebagai sumber energi
domestik ( listrik) shg untuk domestik peran oil diminimalkan.Dari kapasitas
terpasang listrik saat ini sebesar kurang lebih 23000 MW , peran geothermal
dan air tidak lebih dari 15 %, padahal jumlah cadangan keduanya lebih dari
30.000 MW dan renewable.Apabila 1 sumur geothermal rata rata mempunyai
kapasitas energi  10 MW maka dalam satu hari dapat menghasilkan energi 240
MWh, sedangkan apabila 1 liter  BBM menghasilkan listrik 2,5 kwh. maka  satu
sumur panasbumi dapat mengurangi pemakian BBM sebanyak 96000 liter/perhari,
kalau satu liter BBM ( MFO ) harganya 1500 Rp/l maka dapat dihemat 144 jt
Rp/hari. Kalau 50% saja ( 12.500 MW) listrik kita pakai sumber energi
panasbumi, maka dalam satu hari berapa yang dapat kita hemat minyak
kita.Belum lagi hitung hitumgan untuk air. Belum  untuk sektor transportasi
apabila diganti dg gas maka berapa banyak minyak kita yang dapat
dihemat.padahal cadangan gas jauh lebih besar daripada minyak.
Sebetulnya untuk diversifikasi energi primer secara teori mudah untuk
dilaksanakan, tapi begitu pelaksanaannya banyak kepentingan sektoral yang
ikut bermain, jadinya ya jalan ditempat. tahu tahu panik apabila sudah
kejadian seperti tingginya harga minyak saat ini.dan bayang bayang net
importir oil sudah diambang mata.Pemerintahpun kelihatannya lebih senang
menawarkan blok blok baru migas daripada blok blok untuk geothermal ( belum
pernah ada satupun yg ditawarkan rasanya sampai saat ini ), Jadi semuanya
masih bertumpu pada minyak yg memang harganya aduhai....
sekali.......sehingga para pembisnispun  pada berebutan semuanya.... dan
sumber energi lain hampir tdk diliriknya...........lha sampai kapan bisa
bertahan.... .......

ISM





Wah, itu kenyataan yang harus dihadapi. Nah sekarang, sebagai anak
bangsa, apa kira-kira tindakan nyata yang bisa kita lakukan ?
Sumbang saran ? Hemat bahan bakar ? Patungan beli bus supaya bisa ngajak
temen-temen yang terbiasa bawa mobil sendiri-sendiri,  otomatis
mengurangi pemakaian bahan bakar ?
Lha kalau cuma mengeluh terus, Bardjo wae iso !!

-----Original Message-----
From: MANWAR [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, October 01, 2004 10:02 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [iagi-net-l] Saudis to Boost Oil Production Capacity as
Price Hits $50

Negara kita memang sudah oil net importer. Produksi minyak DN menurun,
sementara kebutuhan meningkat terus, yang berarti impor akan naik terus
dengan harga yang juga naik terus. Tahun ini saja, subsidi BBM yang
direncanakan 9 trilyun, katanya akan membengkak hingga 60 trilyun.
Pemerintah tidak berani menaikkan harga BBM karena khawatir menimbulkan
gejolak politik yang luar biasa apalagi di saat ada pemilu (ingat,
kerusuhan
tahun 1988 diawali dari kenaikan harga BBM).
Pertanyaannya, darimana pemerintah mendapatkan dana subsidi tersebut ?
Ini
PR buat pemerintahan baru.
Kalau harga dinaikkan, efek domino akan terjadi. Seluruh pengguna BBM
dan
mata rantainya akan menjerit, termasuk PLN, industri, dan akhirnya
seluruh
rakyat. Kalau tidak dinaikkan, beban utang akan semakin membengkak, dan
anak
cucu kita akan ikut menderita. Krisis kedua akan melanda Indonesia ?
Wallahu
a'lam.

MA

----- Original Message -----
From: "O.K Taufik" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, October 01, 2004 8:54 AM
Subject: RE: [iagi-net-l] Saudis to Boost Oil Production Capacity as
Price
Hits $50


dulu sebelum domestic fuel consumption sebesar sekarang, kenaikan harga
minyak berarti berkah buat pemerintah..ada gain buat pendapatan devisa
yg tak di perkirakan, biasanya penysunan ABPN-kan di patok pada harga
minyak saat itu, sekarang harga minyak naik, membuat semuanya menjerit,
pengusaha sangat kesusahan dengan biaya produksi yg naik, beberapa PLN
daerah yg masih tergantung BBM malah akan menurunkan daya supplynya,
negara juga harus menyediakan dana untuk subsidi BBM ke masyarakat.
Dengan ditambah situasi masalah hukum di abitrase HI, akan kah kita
mengalami kesulitan BBM?

-----Original Message-----
From: Ariadi Subandrio [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, October 01, 2004 8:22 AM
To: [EMAIL PROTECTED]; Rovicky Dwi Putrohari
Subject: Re: [iagi-net-l] Saudis to Boost Oil Production Capacity as
Price Hits $50


Dari minyak rasanya sudah sangat sulit kita dapat tambahan rejeki. Dari
mana lagi harapan tambahan produksi minyak Indonesia. Tahun 2001
(2002?), Caltex masih ngebor dengan 56an rigs, konon sekarang tinggal 18
(bahkan denger2 kemarin udah cabut lagi dua, jadi tinggal 16). Mudah2an
windfall penjualan gas-gas kita dapat memberi tambahan rejeki.

Akan semakin komplikated, jika khabar bahwa arm Pertamina untuk
impor-export crude PT. PETRAL kalah dalam pengadilan (masalah klaim KBC
yg menuntut pembekuan Petral) di Hongkong. Akibat lanjut dari situasi
tersebut adalah kemungkinan terganggunya pasokan feed untuk BBM Dalam
Negeri. Sementara BBM domestik tetep pake crude international price. dan
Tak ada kenaikan harga BBM. Selamat datang pemerintah baru.

salam,
ar-





---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan
Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan
Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------






---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke