Di Jakarta polusi tentunya sudah ndak bisa terbendung lagi. Debu merupakan lauk-pauk untuk sarapan pagi, juga menjadi bagian lalapan siang hari, bahkan sering untuk selingan makan malam. Kita sulit sekali menghindar darinya, apa ya mungkin sih tidak bernapas sepanjang hari ... Tak kuku lah yaw .... Salah satu cara tentunya selalu menutup lingkungan sekitar, rumah tertutup full berAC, naik mobilpun mesti juga yang tertutup berAC. Atau bekerja saja di luar Jakarta, cari kerjaan dan bertempat tinggal di luar Jakarta.
Jakarta banyak berdebu karena tanahnya merupakan endapan pantai atau rawa, dimana ukuran butirannya sendiri sangat halus, sehingga kalau hujan becek dan ketika panas sangat berdebu. Banyaknya debu ini mungkin akan lebih dirasakan pembantu kita yang tiap hari mengelap meja, menyapu dan juga membersihkan kaca jendela. Atau bahkan kita rasakah ketika mencuci mobil. Bagaimana kalau di Kuala Lumpur. Apakah di Kuala Lumpur lebih bagus ? Jelas ... Kuala lumpur tidak banyak berdebu. Batuannya keras batuan basement disini tidak banyak menghasilkan debu tetapi hasil pelapukannya lebih banyak menghasilkan butiran pasir. Itulah sebabnya di Kuala Lumpur tidak banyak debu dibanding Jakarta. Jadi lebih aman di Kuala Lumpur ? Tunggu dulu .... Siapa bilang di Kuala Lumpur lebih aman dan lebih sehat dari jakarta. Pada masa lampau Kuala lumpur terkenal dengan hasil timahnya. Bahkan dulu pernah menjadi penghasil Timah terbesar di dunia. Bahkan nama Kuala Lumpur sendiri berarti lubang-lubang lumpur yang merupakan sisa-sisa penambangan ini. Nah apa sisa dari penambangan ini? Coba baca yg di'quote' dari sebuah website : === quoted ==== Due to the fact, that Malaysia had the world's largest production of tin, the country has now widespread areas with ex tin mining pools, contaminated with heavy metals and metalloids such as arsenic. Humans may be exposed to arsenic through different routes in the environment. Arsenic is a toxic and a carcinogenic component. ===unquote ==== Kandungan airtanah di Kuala lumpur ini sudah sangat tercemar. Dan sulitnya adalah bahwa pencemarannya tidak terkontrol, karena sisa-sisa penambangan masa lampau ini tidak tercatat dengan sempurnya. Anda tahu kan arsenic yg bersifat carsigenic ? Ya, saat ini zat carsigenic ini yang dicurigai sebagai penyebab kanker. Bahkan anda tahu kan bahwa munir juga diduga diracun dengan arsen ini. Zat beracun dan berbahaya ini banyak dijumpai pada arsenic yang dahulu dipergunakan dalam proses penambangan logam termasuk timah dan emas yg tentu saja pada jaman dahulu belum dikontrol seketat seperti saat ini. Jakarta atau Kuala Lumpur ? Nah bagaimana kalau pilihannya tinggal di Malaysia, Kuala Lumpur atau Jakarta?, keduanya punya potensi yg tidak ramah lingkungan. Atau pilih cara mudah saja ... Pakailah AC di Jakarta atau minumlah air terproses dengan sempurna (akua) di Kuala Lumpur. Tentunya perlu biaya yang tiggi. Nah disinilah yg penting kalau mencari kerja pilih saja gajinya yang lebih besar, sehingga memungkinkan mendapatkan tingkat kehidupan yang lebih baik. Dan jangan dulu terkesima dengan Malaysia atau bahkan hanya sedikitnya debu di Kuala Lumpur dibanding Jakarta, masih banyak yg perlu kita ketahui untuk membandingkan kedua kota ini. Salam RDP Silahkan klick reference dibawah : http://www.er.dtu.dk/courses/12243/2001%20projects/Minda%20TOR.htm http://www.planetark.com/dailynewsstory.cfm?newsid=14722&newsdate=26-Feb-2002 http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=PubMed&list_uids=8341178&dopt=Abstract Atau anda bisa cari gogle dengan item -> arsenic kuala lumpur mining -- my blog : http://putrohari.tripod.com/Putrohari/ --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

