Salah satu duka-nya kalau menurut saya,... selama kita jadi tenaga asing, kita 
diperlakukan berbeda. Kalau orang kulit putih secara umum perbedaannya 
positive, kalau passport cap Garuda, secara umum perbedaannya negative. Kalau 
di Brunei sih orang Indonesia secara umum di anggap sbg pegawai kasar. Jadi 
kalau urusan ke pemerintah atau ke polisi, kita harus pasang 'tagog' (pasang 
wibawa bahwa kita bukan seperti yang mereka pikir... kita tenaga profesional 
bukan, supir bus atau tukang potong rumput). 

Duka lainnya, kalau contractor / konsultan, tidak punya back-up / pelindung. 
Saya lihat kalau local staff, atau staff dari head quater, mereka punya boss 
yang concern dengan pergerakan mereka, promosi mereka, dlsb. Kalau kontraktor / 
konsultan, selain tidak ada karir, job security-nya kurang. 

Kalau salah hitung, yah... ini perlu pengalaman. Kalau kita punya 'tagog' kita 
bisa pasang harga. Kita bisa bilang 'take it of leave it'. 

Duka yang lain mungkin adalah masalah pendidikan anak. Kalau lama di luar 
negeri anak agak susah berbahasa Indonesia. Bahasa Ingrisnya ok, tapi sering 
kali matematika dan pelajaran lainnya tidak sama dengan di Indonesia. Jadi 
kalau mereka kembali mungkin tidak bisa mengikuti. Juga sama halnya dengan masa 
depan anak, apakah mereka nanti akan kerja di Jakarta?  Mungkin mereka tidak 
biasa lihat polusi dan kemacetan. Jangan-jangan mereka stress.... Saya punya 
kawan yang pulang dari US. Waktu sekolah di Indonesia, karena sesuatu hal dia 
dipukul gurunya. Wah anak ini tidak bisa terima, dia mau coba tuntut gurunya 
dan minta lawyer ke ayahnya.  .. culture shock..

Herman


-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 18 February 2005 08:15
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Sharing info suka dan info duka (the untold story)
--> Re: [iagi-net-l] Brain Drain


Friend,

Sebenernya banyak UNTOLD STORY yg tidak pernah dicritakan temen-temen
di KL sini.
Suka-duka dimana saja selalu saja ada. Tapi siapa sih peduli dengan
dukanya ? kita pasti terkesima dengan sukanya. Bahkan mungkin kalai
TKI (tenaga kerja intelek ini) bahkan akan memiliki rasa malu kalau
bercerita ttg duka disini.

Lah piye wong wektu ke LN dengan mantab je ...

"Sharing info", baik info suka maupun info duka ini yg menurut saya
paling memprihatinkan diantara kita ini. Kalau kita punya hal yg
menyenangkan kita susah berbagi dengan temen lain. Bahkan Herman
Darman pernah crita, banyak yg ngga suka liat temen seneng. Dimana
secara tidak langsung kita juga enggan untuk crita kesulitan atau
kesusahan akibat perlakuan ini karena takut dilihat temen lain
seolah-olah kita gagal. Apalagi TK Intelek ini, mereka akan lebih
tertutup lagi.

Contoh kongkrit adalah soal gaji.
Seperti yg disitir oleh Shofi, bahwa aku membuka siapa saja yg mau
berbagi info gaji ternyata hanya sedikit yg mau membagi info ini. Dan
Tahukah akibatnya, Nilai tawaran kontrak temen-temen di KL sekarang
langsung dievaluasi !! Ini diakibatkan oleh karena kita tidak saling
tahu perkiraan "pasar sendiri".

Akhirnya employer selalu menggunakan nilai terkecil yg ada sebagai
penawaran. Dan karena ini sudah diatas gaji di Indonesia, maka banyak
yg hengkang dr Indonesia hanya akibat "salah hitung". Bahwa yg namanya
pegawe kontrak itu hanya gajian 12 kali, sedangkan pegawe tetap itu
14-16 kali (plus bonus bonus).

Tapi karena sudah terlanjur disini ... apa ya mbalik ?
Malu lah yaw !!

Nah kemaluan inilah yg akhirnya dimanfaatkan oleh employer utk bermain-main.

Its real !
Kalu mau crita detil silahkan japri saja ... its too sensitive
hef e nais whik en

RDP
"jelas pingin mulih !"

On Fri, 18 Feb 2005 07:14:21 +0800, imanuel w pranoto
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Hmm, mohon maaf ini OOT.
> Sekedar merenung menatap paradoks nasib ratusan ribu saudara2 kita TKI
> di negara
>  yang sama, Malaysia, yang katanya lebih tepat dijuluki Pahlawan
> Devisa, tapi nasibnya amat merana.
> 
> "Muscle Drain", barangkali itu terminologinya (atau "Soul Drain"?). Ada
> yang mati, diperkosa, dipenjara, dianiaya ... Terakhir, boro-boro terima
> ribuan dolar, malahan tidak dibayar majikan dan dideportasi pulang.
> 
> Sekali lagi maaf OOT -- sekedar merenung.
> 
> Rovicky Dwi Putrohari bertutur pada 2/17/2005 6:59 AM:
> > Mau dilihat dari sudut atas bawah, kiri-kanan, utara-selatan ...
> > kayaknya 'brain-drain is brain drain' . Kerugian sepertinya akan ada
> > dipihak yg mengalami 'kebocoran' brain, dalam hal ini pihak Indonesia
> > yg akan rugi.
> >
> > Berapa sih nilai devisa yg masuk ke negeri ini ?
> > Taruhlah gaji 6000-7000USD/bulan ... upst buka kartu !
> > Biaya cost yg habis yg dipakai di negara tempat kerja sekitar 2-3 rb USD.
> > nah sepertinya devisa yg masuk 3-5 rb USD/bulan.
> >
> > Namun kalau dihitung "hasil kerja" yg dilakukan si pekerja tsb (berupa
> > laporan tenis, nilai ilmu, nilai intelektual dll) tentunya bernilai
> > lebih dari 10-20 rb $/bl. Nah seandainya nilai "brain" ini akhirnya
> > dipakai utk melakukan pengeboran dan menghasilkan minyak jutaan barel
> > minyak yg bernilai lebih dari jutaan $$$, maka nilai "brain" ini
> > menjadi tak ternilai lagi tingginya. Sehingga jelas bahwa negara yg
> > mengalami brain drain akan "rugi" kehilangan kesempatan untuk
> > memperoleh jutaan $.
> >
> > Memang secara tak sadar kita akan menyatakan bahwa ini "hukum pasar"
> > dan hukum pasar "supply demand" merupakan nilai ukur "pembenaran".
> > Akhirnya tak terasa kita (termasuk saya dulu) menilai bahwa kejadian
> > brain drain ini adalah keniscayaan.
> > Namun jelas dari sisi Indonesia hal ini sangatlah merugikan !
> >
> >
> > RDP
> > "kapan mulih, vick ?"
> >

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke