Institusi yg berhububungan dg masalah bencana alam dan Para pakar bencana
alam berasal dari institusi / lembaga pemerintah ( bukan dari institusi
bisnis/kampeni ).
IAGI adalah perhimpunan para Ahli dibidang geologi termasuk didalamnya ahli
perbencana alaman ( gempa.tsunami,Gn.api, dll ). tentunya isu isu yang
dibawakannya ( termasuk untuk Demontrasi) juga tidak jauh dari permasalahan
tsb.
Setelah demo IAGI , ini yang akan dilakukan oleh pemerintah:
Presiden ( SBY) akan memanggil para pembantunya ( menteri menteri terkait,
yaitu menteri ESDM , Menristek, dan mungkin juga Menko Kesra ) setelah
"didemo" oleh para anggota IAGI, menanyakan tentang "demonya" IAGI tsb.dan
apa saja yang telah mereka lakukan dan yg belum dilakukan.
Setelah dipanggil presiden , gantian para menteri tsb memanggil para Dirjen
dan kepala LPND terkait ( Dirjen DGSM,LIPI,BMG,BPPT,dll ) minta penjelasan
tentang masalah yang ditanyakan presiden tsb.
Kemudian gantian para Dirjen dan kepala LPND tsb memanggil para direkturnya
yg terkait dg masalah tsb ( Direk,Volk & Mitigasi Bancana, Puslitbang
puslitbang, dll ) untuk minta klarifikasinya.
Begitu juga para Direktur dan Kauslitbang Kapuslitbang tsb, memanggil para
pakar pakar yaang ada dilingkungannya untuk menindak lanjuti apa yang di
"demo"kan IAGI diatas, apa langkah langkah nya, dll,dll . Dan seperti kita
ketahui para pakar pakar tsb notabene juga terhimpun di  IAGI
Jadi kalau mau demo pertanyaannya jadi : "Siapa mendemo siapa"
Kecepatan Bencana alam ( gempa,tsunami,dll ) ternyata tidak berbanding
lansung dg kecepatan birokrasi, Bencana alam datang dg tiba tiba tidak kenal
waktu dan musim,tidak minta persetujuan politik,tidak menunggu tahun
anggaran,tidak melaui tender, dst,dst  sedangkan "tindakan birokrasi" harus
melalui berbagai macam "acuan" seperti tahun anggran , lembaga politik
(legislatip), dst,dst, ( termasuk prosedur teknis pengadaan barang dan
jasa), kalau tidak maka bisa bisa dg mudah dapat "di Mulyana kan ", itulah
bedanya dg intitusi bisnis/swasta/kampeni bisa bertindak cepat , dengan
pertimbangan simpel yaitu "asal menguntungkan".
Jadi ya selamat  "Bergemes Gemes Ria "
Rupanya betul bencana tidak mengenal situasi , bayangkan belum pulih dari
Tsunami, disusul Gempa, dan berita terakhir Gn.Marapi di Padang ( setelah
Gn,Talang) dan Gn.Tangkuban Perahu dan Semeru sudah mulai batuk batuk,
ibaratnya saat ini  " Bumi gonjang ganjing langit kelap kelap" .
Kalau kemarin  untuk "menolak" bencana alam ( angin topan/ Tsunami )
masyarakat Jogya ( terutama yg ada di pantai selatan) dilakukan dengan
"sayur lodeh" ( dan ternyata tdk jadi ada bencana ..........)  maka tidak
tahu untuk daerah lain . apa yg harus disayur/
dimasak......................................

ISM



Subject: [iagi-net-l] Demonstrasi? mengapa tidak
>     Rekan rekan
>     Apa memang kegiatan IAGI dan HAGI dalam "penanganan bencana hanya
>     sebatas tatanan moral ?
>     Kalau menurut  saya koq tidak ya !
>     Kita (baca para peneliti, pekerja di gunung gunung api yang bertugas
>     dalam profesi geolog/geofisika) jelas melakukan sebagian dari cara
>     cara yang berhubungan dengan bencana alam.
>     Berdasarkan Anggaran Dasar IAGI , maka kita sebagai ahli geolog (dan
>     tentunya juga para ahli geofisika) berkewajiban untuk melakukan
>     pekerjaan untuk kemakmurn dan kesejahteraan rakyat .
>     Dalam hal ini mengurangi dampak negatip dari bencana semaksimal
>     mungkin .
>     Bagaimana caranya ?
>     Antara lain dengan melakukan penelitian yang berhubungan dengan gempa
>     menambah peralatan dan stasiun stasiun pengamat dsb.
>     Perhatian Pemerintah dan Para Politisi terhadap hal ini sangatlah
>     kecil ini dapat dilihat dari program dan anggaran yang dikeluarkan
>     itu.
>
>     Disis lain masyrakatpun sangat kurang kepeduliannya terhadap bahaya
>     bencana alam (kecuali kalau secara langsung mengalaminya).
>
>     Dus , sosialisasi , penerangan dalam bentuk seminar , ceramah ., talk
>     show telah dilakukan oleh IAGI.
>     Menurut saya hasilnya ada , akan tetapi masih jauh dari harapan kita,
>     penyebabnya karena kita tidak punya "political power".
>
>     Apakah political power perlu ? Memang seyogyanya kita memiliki-nya,
>     akan tetapi disamping political power kita juga dapat memberikan
>     "shock therapy" kepada masyarakat dan Pihak penentu kebijakan.
>
>     Caranya ? Salah satu adalah demonstrasi para profesional ahli
>     kebumian yang menuntut agar mereka lebih memberikan perhatian pada
>     sistim "pengendalian' bencana dimulai dari penelitian , perhatian
>     pada peralatan , kerja sama  dll.
>
>     Ini , tentunya dapat diusung dalam spanduk spanduk sewaktu
demonstrasi.
>
>     Jadi demonstrasi ?? Ya boleh boleh saja .
>
>     Si - Abah pasti ikut !!! Siapa takut ????
>
>    Si Abah
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke