Kebetulan dan Kaos Berkawan dengan Hukum dan Harmoni
 
Berulang2 kita singgung faktor "kebetulan" dalam proses evolusi. Ada kesan pada 
sebagian kalangan agama bahwa faktor ini telah ditonjolkan oleh sejumlah 
evolusionis untuk menyangkal Sang Pencipta. Benarkah ? Para penganut 
neo-Darwinisme, atau juga pencetus saltationisme (teori loncatan dalam evolusi, 
tidak gradual ala Darwin dan Haeckel) memang mementingkan faktor kebetulan. 
Kenapa, sebab memang banyak kebetulan terbukti terjadi dalam multiplikasi gen 
yang berlipat ganda tanpa diketahui sebabnya.
 
Dalam fisika, walaupun Einstein berkata bahwa "Tuhan tidak bermain dadu" toh 
penelitian Niels Bohr dan Werner Heisenberg terbukti bahwa faktor kebetulan 
sungguh-sungguh ada (ingat saja asas ketidakpastian Heisenberg).
 
Paul Erbrich, ahli probabilitas genetika, pernah menulis bahwa kejadian 
kebetulan tidak berarti bahwa tidak ada kausalitasnya, dan bahwa tidak bisa 
diramalkan, melainkan "kebetulan" artinya tidak ada tujuan, finalitas seperti 
tampak dalam mutasi gen. Ia berpendapat bahwa mutasi dan seleksi alam saja tak 
cukup untuk proses evolusi berlanjut. Evolusi biologis tidak hanya merupakan 
proses adaptasi, tetapi juga loncatan ke higher level. Dalam proses itu 
terkandung sekaligus spontanitas, emansipasi dari lingkungan yang makin besar. 
Setiap makhluk merupakan hasil inovasi.
 
Unsur kebetulan tidak membabi buta, tetapi lebih2 merupakan peluang (chance) 
dari alam untuk variasi berlipat-lipat dalam proses multiplikasi gen. "Ledakan 
Kambrium" di Burgess Shale adalah contoh klasik bagaimana alam itu suka 
bereksperimen dan bermain. Tertanam suatu fleksibilitas, kelonggaran dalam 
evolusi yang mengkait dengan kebebasan. Seperti pernah diungkapkan Teilhard de 
Chardin, pastor Jesuit yang juga ahli geologi dan paleontologi dan pernah 
meneliti manusia Jawa bersama GHR von Koenigswald, kebebasan adalah ciri hakiki 
alam, dan faktor kebetulan adalah sokongannya yang kuat. 
 
Kaos (ketidakteraturan) sering juga disebut dalam interpretasi mekanisme 
evolusi. Dalam fisika, kaos adalah proses yang untuk jangka panjang tak bisa 
diperhitungkan dan dipastikan secara tepat. Tentu berhubungan dengan unsur 
kebetulan. Para evolusionis bergumul dengan fakta bahwa evolusi adalah proses 
berbelit, kompleks, di mana antara aturan dan kaos suka berhadapan atau malah 
bertukar tempat (ini semacam analogi satu sungai dengan baik arus laminer 
maupun turbulen). Mutasi gen adalah tempat bermainnya aturan dan kaos. Kaos 
bisa melahirkan harmoni dan keindahan. "Atraktor" adalah pembina harmoni dalam 
kaos. Kalau pernah mengamati pola simetris fraktal dalam kristal salju, nah 
itulah keindahan dalam kaos, yang terhempas oleh badai salju.
 
Carl Gustav Jung, ahli psikologi terkenal itu, bilang : evolusi berjalan atas 
dasar timbunan kasus-kasus yang kebetulan namun mempunyai arti, bukan melulu 
kebetulan ala J. Monod, tetapi juga berlatar belakang transendensi.
 
Kita sekarang memahami teori evolusi sebagai bukan hukum keharusan yang 
dogmatik, itu teori ratusan-puluhan tahun yang lalu, tetapi suatu teori yang di 
dalamnya ada hukum2 biologis tetapi juga punya ruang bebas untuk berkreasi, 
meloncat, katastofik bukan selalu uniformis, inovasi, bagi terciptanya sesuatu 
yang tidak terduga sama sekali. Hanya...golongan kreasionis dan para 
pendukungnya kelihatannya tak melihat perbedaan ini. 
 
Ini bukan suatu sintesis antara evolusi dan agama, atau memberi warna 
transenden pada evolusi agar tak dogmatik dan keras. Dalam pemahaman saya, 
hukum maupun kebetulan adalah karya penciptaan Tuhan. Kedua-duanya memelihara 
dan mengembangkan dunia kita.
 
salam,
awang

Eko Prasetyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Evolusi tak pernah bisa menjelaskan alasan keberadaaan dirinya sendiri secara 
komprehensif, semua nalar yang diungkapkan banyak mengandung pemaksaan akan 
sesuatu dan lebih cenderung dogmatik.
Keberadaan keadaan acak untuk kelahiran sebuah spesies baru tak dapat dinalar. 
Kenapa ? Karena banyak sekali makhluk2 hasil evolusi tersebut adalah makhluk2 
yang butuh mengalami perkawinan untuk melanjutkan spesiesnya.
Bisa dihitung bahwa kemungkinan adanya 2 makhluk kompatibel yang secara acak 
dilahirkan dari sebuah spesies yang luar biasa berbeda dari anaknya tersebut 
pada satu rentang masa hidup yang sama dan pada satu tempat yang sama adalah 
nol. (well, 1 pangkat -1e5 sih).

> -----Original Message-----
> From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, May 04, 2005 3:13 PM
> To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Perkampungan "Pygmi" di Flores
> 
> 
> Baru respon lagi ni setelah jalan ke luar dua minggu ini.
> 
> Menarik menanggapi pendapat Dr. Etty Indriati dalam artikel 
> yang di-posting Rovicky di bawah. 
> 
> copied : 
> 
> <> oleh sejumlah ahli. Etty Indriati PhD dari UGM menyebutnya sebagai
> dongengan tanpa dasar. Bagaimana bisa ada pernyataan spesies baru
> hanya dari temuan sebuah tengkorak yang bahkan keliru diidentifikasi.
> Mereka sebut perempuan sedang dari susunan geraham dan giginya jelas
> itu lelaki dan juga manusia masa kini.
> 
> "Yang lebih tidak masuk akal, tidak mungkin otak manusia yang sudah
> berkembang menjadi Homo sapiens, kemudian berubah mengecil dan lantas
> muncul menjadi spesies baru, tertinggal sebagai kelompok manusia
> purba," jelasnya.>>
> 
> Komentar :
> 
> Menurut saya, pendapat itu dilatarbelakangi oleh miskonsepsi 
> dalam memahami evolusi. Pemahaman evolusi banyak ditandai 
> dengan miskonsepsi. Misalnya, miskonsepsi dalam nature 
> selection : bigger is better, newer is better, natural 
> selection always works, there is inevitable direction in 
> evolution. Dengan miskonsepsi ini, maka disalahpahami bahwa 
> volume otak hominid harus bertambah besar dengan berjalannya 
> evolusi karena memang trend/arahnya demikian. Miskonsepsi ini 
> banyak disebabkan oleh idea populer abad ke-19, yaitu 
> "orthogenesis" : bahwa evolution would continue in a given 
> direction because of a vaguely defined nonphysical inner 
> force. Jadi menurut idea ini maka perubahan evolusi akan 
> berlanjut dalam arah yang sama sampai tercapai struktur yang 
> sempurna atau sampai spesies punah.
> 
> Karena idea orthogenesis pula maka ada common belief bahwa 
> hominid atau manusia akan berevolusi dengan otak yang semakin 
> besar sebab meneruskan trend sebelumnya. Idea ini sebenarnya 
> telah dibuktikan tidak selalu berlaku. Ada banyak fossil 
> record yang menunjukkan nonlinear change, dan banyak contoh 
> bahkan menunjukkan pembalikan dalam ukuran2 struktur.
> 
> Dalam kasus manusia/hominid, volume otak sebenarnya berhenti 
> membesar sekitar 50.000 tahun yang lalu (dari 
> Australopithecus afarensis sampai Homo soloensis memang 
> membesar terus). Ukuran rata-rata otak manusia bahkan sejak 
> itu cenderung sedikit berkurang sebagai konsekuensi penurunan 
> umum dalam ukuran rangka (Henneberg, 1988 : decrease of human 
> skull size in the Holocene, dalam Human Biology 60, p. 
> 395-405). Nah, harap diperhatikan bahwa umur fosil Homo 
> floresiansis itu ada di sekitar 50.000 tahun yang lalu juga. 
> 
> Orthogenesis (linear trend of evolution) tak selalu berlaku, 
> itu akan dipengaruhi oleh tiga faktor : environment, present 
> genetic variation, dan basic biological limits. Perubahan 
> evolusi juga akan dipengaruhi oleh relative costs dan 
> benefits perubahan itu sendiri. Volume otak manusia bisa saja 
> terus membesar, tetapi itu juga harus diimbangi oleh 
> pembesaran tulang2 sekitar panggul (pelvic). Nah, pembesaran 
> pelvic yang proporsional dengan pembesaran volume otak, akan 
> menyulitkan manusia berjalan. 
> 
> Kalau ingat gambar2 manusia masa depan di film/komik 
> science-fiction maka sering ditampilkan berkepala ekstra 
> besar (karena anggapan bahwa volume otak semakin bertambah 
> dengan semakin cedas) tetapi dengan tubuh ukuran biasa 
> seperti sekarang. Nah, inilah salah kaprah karena orthogenesis.
> 
> Menurut saya, idea orthogenesis pula lah yang menyebabkan 
> silang pendapat fosil Homo floresiansis itu. Dengan kata 
> lain, saya berpendapat bahwa Homo floresiansis bisa saja 
> lebih cerdas dari Homo erectus (dulu disebut Pithecanthropus 
> erectus) sekalipun ukuran volume otak Homo floresiansis lebih 
> kecil dibandingkan volume otak Homo erectus walaupun hominid2 
> Flores ini jauh lebih moderen di evolusi hominid. Buat saya, 
> penemuan Homo floresiansis sekali lagi menunjukkan bahwa 
> evolusi tak selalu terjadi dengan linier ala orthogenesis. 
> Maka, bukan suatu hal yang tak masuk akan kalau volume 
> manusia moderen mengecil dibanding manusia purba. 
> 
> Tentang perkampungan pygmi yang ditemukan tak jauh dari Liang 
> Bua itu, dan dicurigai bahwa fosil Homo floresiansis itu 
> bagian dari masyarakat perkampungan itu gampang saja 
> mengetesnya, lakukan saja tes radiometric age dating pada 
> fosil tsb dan perbandingan anatomi tengkoraknya dengan 
> masyrakat pygmi itu. Perbedaan umur 40.000 tahun mestinya 
> sudah menunjukkan bahwa fosil ini memang spesies baru dan 
> bukan bagian dari masyarakat pygmi. Homo sapien berkembang 
> 10.000 tahun yl sejak Holosen. Kalau Homo floresiansis 
> kemudian menurunkan masyarakat pygmi itu, nah skenario 
> evolusinya pas..
> 
> Salam,
> awang

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Small Business - Try our new resources site! 

Kirim email ke