Terimakasih, Mas Awang,
Kalau cerita tentang Indonesia Reef 2007, bisa dilihat di http://www.indonesiareef.com/. Ada lebih jelas mengenai kegiatan2 dalam rangka reef check di seluruh perairan Indonesia. Untuk sementara ini sudah dilakukan di beberapa point, seperti di Derawan (East Kalimantan), Sabang dan Komodo. Akhir bulan Juni kemarin, saya termasuk dalam rombongan National Geographic Indonesia menjadi relawan untuk reef check di Sabang, Pulau Weh. Kegiatan ini bekerja sama dengan Yayasan Reef Check Indonesia dan Yayasan Flora & Fauna Indonesia, yang istilahnya Sabang ini teritorinya mereka. Semua relawan melalui training yang singkat padat mengenai data-data apa saja yang harus diambil ketika melakukan penyelaman. Lokasi-lokasinya sudah ditentukan dan kita tinggal mengambil data saja. Setelah selesai crash course, kita simulasi, terus ujian dan diberi ijaza Eco Diver. Lumayan juga, sebagai geoscientist, selalu menarik bagi saya kalau bicara mengenai lingkungan terumbu karang. Dalam satu group terdiri dari 4 orang, dan kami bagi lagi menjadi 3. Di group saya, 2 orang mencatat data ikan (fish ID), data invertebrata dan substrat. Ikan2 yang kami catat adalah ikan2 terumbu karang seperti anglefish, kakap yang tengahnya bergaris kuning, kerapu, bumphead parrotfish, napoleon, dan morray eel (moa). Kami juga mencatan bila ada hal2 yang jarang muncul, misalnya penyu, hiu dan sebagainya. Yang mencatat invertebrata termasuk mencatat jumlah beberapa species timun laut (Holothuroidaea), crown of thorn (Acanthaster, semacam bintang laut yang memakan karang), Charonia tritonis (biasanya divers bilang siput triton, ini predatornya crown of thorn) dan beberapa jenis yang lain (saya agak lupa). Sedangkan substrat mencatat setiap 50 cm apa substrat di daerah lintasan (hard coral, soft coral, sand, silt, dll). Kondisi coral pun kita lihat, apakah mereka terkena bleaching (memutih, mati), atau dimakan oleh crown of thorn, kalau ada karang apakah rusak secara global atau local (kena bomb, kena anchor, dll). Setelah data ini dikumpulkan, maka akan diketahui bagaimana kondisi terumbu karang di wilayah itu dan dimonitor terus (mudah-mudahan). Karena kebetulan saya juga diving instructure, jadi kegiatan ini banyak gunanya untuk diturunkan kepada murid2 saya supaya mereka juga aware dengan lingkungan. Sebagai geologist, tentunya setiap penyelaman sangat menarik. Dan setiap membaca mengenai karbonat, paling tidak bisa terbayang seperti apa lingkungannya, hewannya seperti apa. Selain itu, sering juga terlihat singkapan2 yang sangat menarik. Misalnya, columnar joint di bawah laut (Banda Neira) yang ditumbuhi dengan ratusan table corals. Tetapi yang lebih penting lagi setiap penyelaman ada rasa semakin kecil. Semakin kecil saya ini di dunia dan semakin besar kekuasaan Tuhan terasa. Mungkin itu saja komentar saya, Mas Awang. Paling tidak jadi lebih aware dengan lingkungan terumbu. Parvita H. Siregar Salamander Energy Jakarta-Indonesia Disclaimer: This email (including any attachments to it) is confidential and is sent for the personal attention of the intended recipient only and may contain information that is privileded, confidential or exempt from disclosure. If you have received this email in error, please advise us immediately and delete it. You are notified that using, disclosing, copying, distributing or taking any action in reliance on the contents of this information is strictly prohibited. ________________________________ From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, July 25, 2007 8:07 AM To: [email protected] Subject: [iagi-net-l] Indonesia Reef 2007 : Peduli Terumbu Karang Indonesia Berikut adalah kutipan artikel pendek yang muncul di majalah National Geographic Indonesia (NGI) edisi terbaru Agustus 2007. "Memantau Terumbu di Perairan 0 KM" Berada di ujung barat Nusantara, perairan Pulau Weh menjadi lokasi pemeriksaan kondisi terumbu karang berikutnya dalam Indonesia Reef 2007. Sebanyak 12 relawan penyelam - Widianto, Cecilia Yuda, Hendri Salim, Jerry Aurum, Parvita Siregar, Adrijani Lim, Kunthi Isnarti, Teguh Tirtapura, Darwin Wibowo, Tan Fatcin Fakta Cen Hendra, S. Dewi Wardjojo, dan Sisesasari - bertolak dari Jakarta pada tanggal 27 Juni menuju salah satu wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu. Selama lima hari mereka tidak hanya melakukan pemeriksaan kondisi terumbu karang tetapi juga membawa misi promosi wisata bahari wilayah yang pernah tertimpa musibah gelombang tsunami tersebut. Usai mendapatkan pelatihan mereka bergabung dengan sukarelawan lokal untuk melakukan pemantauan di empat lokasi berbeda : Pantai Gapang, Pulau Rubiah, Rubiah Barat, dan Teupin Layeu. Dengan menggunakan metode line transect dalam Protokol Reef Check, pemantauan di Pulau Rubiah dan Pantai Gapang menunjukkan komposisi substrat yang tidak beragam dengan penutupan karang hidup (hard coral) antara 15-35 %. Kondisi tersebut bukan karena banyaknya kerusakan yang terjadi, melainkan secara alamiah kondisi terumbu Pulau Rubiah tidak memiliki tutupan karang hidup dengan persentase yang tinggi. Demikian kutipan artikel. Parvita Siregar, rekan IAGI-netter kita menjadi salah seorang relawan Indonesia Reef 2007. Barangkali Vita bisa bercerita lebih banyak dibandingkan artikel pendek tersebut ? Silakan. Sebelum penelitian di kawasan perairan Pulau Weh ini, tim Indonesia Reef 2007 NGI - yang disponsori 22 lembaga nasional dan internasional termasuk WWF - melakukan penelitian yang sama di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Ini adalah bentuk kepedulian terhadap terumbu karang Nusantara. Kita tahu bahwa terumbu karang Indonesia termasuk yang terpenting di dunia. Menurut buku "Diving Indonesia : A Guide to the World's Greatest Diving" (Kal Muller dan David Pickell - Periplus, 1999), 20 % dari seluruh terumbu di dunia ada di Indonesia. Dengan panjang garis pantai sekitar 80.000 km, bahkan ada yang menaksir sampai sepanjang 200.000 km, yang mengelilingi 17.508 pulau, dan laut tropis seluas 3,1 juta km2, bisa dibayangkan betapa kayanya keanekaragaman hayati bahari Indonesia. Ini adalah perairan dengan habitat marin paling kaya di Bumi. Indonesia juga terletak di episentrum keragaman spesies seluruh wilayah tropis Indo-Pasifik, yang membentang hampir sepanjang 20.000 km (setengah keliling Bumi) dari Madagaskar di sebelah barat sampai ke gugusan kepulauan di ujung paling timur Samudera Pasifik. Ribuan spesies ikan dan ratusan spesies koral hidup di kawasan terumbu karang Indonesia. Keanekaragaman hayati koral Indonesia dan sejarah geologinya dapat dibaca di dua volume buku sangat lengkap (total 1388 halaman) dan "hebat" tulisan Tomas Tomascik dkk. (1997) "The Ecology of the Indonesian Seas" (Periplus). Para ahli biologi, oseanografi, dan geologi yang menekuni terumbu akan mendapat banyak sekali manfaat bila mempelajari dua buku ini. Terumbu kita memang tengah mendapatkan ancaman yang serius karena penangkapan ikan melalui pengeboman dan peracunan. Efek pemanasan global yang menghangatkan air laut juga akan mengganggu kelestarian spesies koral ini. Maka, sebuah usaha nirlaba kepedulian terhadap keselamatan terumbu Indonesia seperti yang digagas NGI melalui "Indonesia Reef 2007" patut diacungi jempol, juga semua relawannya - termasuk Vita, yang gemar menyelam itu. Salut. Indonesia sangat kaya akan terumbu moderen di hampir semua lautnya, Tanah Air kita pun sangat kaya akan terumbu Miosen yang telah puluhan tahun mengalirkan minyak dan gas. Luar biasa. Dan, tak sampai dua tahun lagi kita akan melihat bagaimana terumbu Miosen yang terpendam dalam di kedalaman ribuan meter di laut dalam Selat Makassar akan disentuh mata bor sumur eksplorasi untuk yang pertama kalinya. Mari selalu kita syukuri, jaga, dan manfaatkan dengan bijaksana seluruh anugerah-Nya. "Situated upon the equator, and bathed by the tepid water of the great tropical oceans, this region enjoys a climate more uniformly hot and moist than almost any other part of the globe, and teams with natural productions which are elsewhere unknown" (Alfred Russel Wallace, 1869) salam, awang

