Waduhhh, sewaktu yangkung SMA tahun 1961 dalam mata pelajaran ilmu bumi alam 
sngai purba tersebut sudah diajarkan, sungguh pahit berita yang diketengahkan 
pak Awang ini. semoga hanya pelaku posting saja yang kurang pas.
 
Salam,
yangkung


________________________________
From: Awang Satyana <[email protected]>
To: IAGI <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]>; Geo Unpad 
<[email protected]>; Eksplorasi BPMIGAS 
<[email protected]> 
Sent: Thursday, 13 September 2012, 23:20
Subject: [iagi-net-l] SISTEM SUNGAI MOLENGRAAFF, PAPARAN SUNDA

Sebuah berita bertajuk: Ditemukan, Jejak Sungai Purba di Utara Laut JawaSabtu, 
18 Februari 2012 , di-posting seorang rekan di FB sebuah Group malam ini.  
Dilaporkan bahwa sungai2 purba ini ditemukan Tim Bencana Katastrofi Purba. 
Mungkin wartawannya ngawur ya...Perlu klarifikasi serius atas berita ini, 
meskipun ditulis Februari 2012. Sungai2 purba atau lebih tepatnya sungai2 
tenggelam di Laut Jawa sampai Selat Malaka adalah isu lama, tentu saja 
penemunya bukan Tim Bencana Katastrofi Purba dan jejaknya juga bukan ditemukan 
oleh Dr. Wahyu Triyoso. Sungai-sungai purba di Laut Jawa dan Selat Malaka itu 
sudah ditemukan hampir 100 tahun lalu dan sudah dipublikasikan oleh GAF 
Molengraaff dan M Weber pada tahun 1919 dalam makalah berjudul "Het verband 
tusschen den plistoceenen ijstijd en het ontstaan der Soenda-Zee en de invloed 
daarvan op de verspreiding der koraalriffen en on de land- en zoetwater fauna" 
(Wis- en Nat. Afd. Kon. Akad. v. Wetensch., Amsterdam,
 29 Nov 1919, 28, 497-544). Molengraaff adalah seorang ahli geologi dan Weber 
adalah seorang ahli biologi pada zaman Belanda di Indonesia. Garis Weber, garis 
kesetimbangan fauna Asiatik dan Australia di Indonesia bagian tengah adalah 
berasal dari namanya.Di Laut Jawa itu dan Selat Malaka itu, Molengraaff dari 
tahun 1919 telah memetakan alur-alur sungai yang tenggelam  (drowning river 
system) yang terbagi menjadi dua alur sungai utama, yang dinamainya Sungai 
Sunda Utara di bawah Selat Malaka dan Sungai Sunda Selatan di bawah Laut Jawa. 
Nama lain kedua alur utama sungai itu juga sering disebut sebagai Sistem Sungai 
Molengraaff, mengikuti nama penemunya. Sungai Sunda Utara mempunyai daerah hulu 
di Sumatra dan Kalimantan Barat, dan bermuara ke Laut Cina Selatan, sedangkan 
Sungai Sunda Selatan mempunyai hulu di Jawa dan Kalimantan Selatan dengan muara 
di Selat Makassar. Lembah-lembah sungai yang terbenam ini sebagian sudah 
tertimbun lumpur. Tetapi
 penelitian geologi kelautan sejak akhir 1950-an oleh beberapa ekspedisi 
kelautan bekerja sama dengan pihak asing telah dapat mengenal keberadaan 
sungai2 besar ini. Dua lembah sungai besar di selatan Kalimantan Selatan, 
sebelah selatan Sampit, misalnya ditunjukkan di buku bagus tentang oseanografi 
Indonesia tulisan Anugerah Nontji (Djambatan, 1987): "Laut Nusantara". Lebar 
lembah2 sungai ini antara 400-500 meter, dasar sungai purba ini 17-24 meter 
lebih dalam daripada dasar laut sekitarnya, dan terisi oleh endapan setebal 
8-15 meter.Weber juga menunjukkan bahwa adanya sistem sungai-sungai Sunda ini 
dibuktikan oleh banyaknya persamaan jenis ikan tawar di sungai2 pesisir timur 
Sumatra dengan ikan2 di pesisir barat Kalimantan, padahal antara Kalimantan 
Barat dan Kalimantan Timur tidak ada persamaan.Karena glasiasi-deglasiasi yang 
terus terjadi secara siklus di wilayah Paparan Sunda, sehingga saat glasiasi 
air laut menyurut dan turun lalu menyingkapkan
 paparan menjadi daratan (Sundaland) sebab air laut tertarik ke kutub2 Bumi 
menjadi es; dan saat deglasiasi terjadi pencairan es di kutub2 Bumi lalu air 
laut di mana2 naik, maka Sundaland kembali tenggelam menjadi Paparan Sunda 
(Sunda Shelf).Hasil penelitian geologi dapat menunjukkan jejak sejarah Paparan 
Sunda dan Sundaland. Kira2 170.000 tahun lampau muka laut berada kira-kira 200 
meter lebih rendah dari sekarang, tersingkaplah Sundaland. Lalu dalam 125.000 
tahun terakhir, air laut ini secara bertahap naik, tetapi belum mencapai posisi 
seperti sekarang. Pada sekitar 7000 tahun yang lalu, posisinya seperti 
sekarang, 4000 tahun yang lampau 5 m melampaui posisi sekarang, lalu turun lagi 
dan sejak 1000 tahun yang lalu posisinya sudah seperti sekarang.Yang namanya 
siklus glasiasi dan deglasiasi tak pernah terjadi mendadak turun atau naik, 
apalagi terjadi dalam semalam seperti banjir dalam dongeng Atlantis yang 
dituturkan Plato. Dan yang namanya sistem
 sungai2 Sunda tak berhubungan dengan peradaban tinggi ala dongeng Atlantis. 
Kecuali  kalau submarine archaeology kelak menemukan banyak bukti2 kebudayaan 
tinggi terkubur di lembah2 sungai2 Sunda itu tetapi bukan berasal dari kapal 
karam modern, bolehlah kita mendiskusikannya lagi soal kaitan lembah sungai 
tenggelam ini dengan peradaban tinggi itu.Salam,Awang 

Kirim email ke