Dengan dalih terus dicurigai, Rabu lalu MESDM menyampaikan bahwa keputusan pengelolaan Blok Mahakam ditunda sampai ada Presiden baru (Presiden RI) begitu berita di koran. Berita lain sementara Kontrak PSC East Natuna (ex-Natuna D_Alpha) masih terganjal insentif Permintaan Pertamina terutama menyangkut "Tax Holiday selama 5 Tahun" kurang lebih begitu kata penjelasan Direktkur Pembinaan Hulu Migas, Ditjen Migas Nariyanto yang diberitakan koran. Lho kenapa Pertamina yang minta insentif ?? Blok East Natuna oleh Pemerintah diputuskan dikelola Pertamina tetapi Pertamina harus mencari partners/mitra2, melalui tender Pertamina mencari partner, ada 12 kandidat tetapi yang terpilih Exxon, Total, dan PTT (Thailand). Karena itulah yang meminta insentif ke Pemerintah adalah Pertamina.
Meneg BUMN DIS sebelumnya menyatakan bahwa Pertamina sanggup mengelola Blok Mahakam, sementara Wamen ESDM yang kala itu dijabat Prof RRR menyatakan bahwa pengelolaan Blok Mahakam sedang dikaji untuk diberikan ke Pertamina dengan PArticipating Interest berkisar 70 - 51%. Keputusan pengelolaan Blok Mahakam kedepan ditunda sampai terpilih Presiden baru bisa menghilangkan kecurigaan, tetapi bisa juga kecurigaan semakin kental. Mengapa pengelolaan blok Mahakam tidak dilakukan seperti Blok East Natuna secara "Konsortium" yang di-lead oleh Pertamina, toh model Konsortium telah dikaji oleh timnya Wamen, mengapa harus ditunda. Pengembangan lapangan Gas di East Natuna kompleksitasnya lebih besar dibanding blok Mahakam, terutama CO2 disposal yang huge volumenya. Akankah pengalaman Blok WMO (West Madura Offshore) terulang di Blok Mahakam yang keputusan pengelolaan kedepan ditunda, walaupun kontrak Blok Mahakam berakhir 2017. Blok WMO semula diminta oleh Pertamina pengelolaannya kedepan dengan PI 100%. Turbulensi kepentingan politik saat itu makin kencang terkait keputusan Blok WMO, MESDM saat itu Darwin Zahedi Saleh dari partai berkuasa berada dalam turbulensi itu, akibatnya keputusan pengelolaan Blok WMO tertunda terus berakibat terjadi penurunan produksi saat itu 23.000 BOPD menjadi 7.000 BOPD pada saat sehari sebelum diserahkan ke Pertamina, akhirnya Pertamina dipercaya mengoperasikan Blok WMO dengan PI 80% dan yang 20% Kodeco beserta mitranya. Saat ini produksi minyak WMO suda mencapai 20.000an BOPD dan ditargetkan untuk naik ke level 30.000 BOPD. Akankah produksi Blok Mahakam menurun akibat penundaan keputusan MESDM tersebut? Harapannya tentu tidak karena dari Blok Mahakam punya kontrak memasok LNG ke Jepang sampai tahun 2021. Tengok keputusan Blok CPP (Coastal Plain Pakanbaru), saat itu Blok CPP diputuskan secara "Politik" (ada desakan Parlemen melalui berbagai RDP/Rapat Dengar Pendapat) untuk dioperasikan bersama melalui Badan Operasi Bersama (BOB) Pertamina - BSP (Bumi Siak Pusako/BUMD Riau). Pemerintah memutuskan PT CPI (Caltex waktu itu) diterminasi dalam mengoperasikan Blok CPP walaupun Caltex masih berminat untuk diperpanjang. Dari keempat blok tersebut saya ingin mengekspose bagaimana karakter keputusan tindak lanjut pengoperasian keempat blok tersebut. Blok CPP dan Blok East Natuna (Ex_Natuna D-Alpha) tak kalah besarnya turbulensi politiknya dibanding Blok Mahakam karena berhadapan dengan raksasa CPI dan Exxon. Pemerintah berani menterminasi blok CPP maupun blok Natuna D-Alpha, pada saat itu MESDM dijabat oleh Purnomo Yusgiantoro didalam era tiga orang Presiden yang berbeda. CPP diputuskan era Gus Dur eksekusinya era Bu Mega. Terminasi Natuna D-Alpha dan re-define sebagai Blok East Natuna di era Pak SBY. Sementara keputusan WMO mundur-mundur terus oleh MESDM Darwin Zahedi Saleh, dan Blok Mahakam oleh MESDM Jero Wacik ditunda sampai ada Presiden baru terpilih, kedua menteri ini bukan dari "Profesional yang Relevan" dan masih di era Pak SBY. Dari kasus ini jelas terlihat bahwa seyogyanya Kementrian yang membidangi Sumberdaya Alam dijabat oleh orang profesional yang latar belakangnya Relevan. Purnomo Yusgiantoro berlatar belakang pendidikan Teknik Perminyakan dan Energy Economic, sangat berpengalaman di Industri Perminyakan maupun Energi. Bandingkan dengan Darwin Zahedi Salah yang berpendidikan ekonomi tanpa pengalaman di Industri Perminyakan maupun Energi, begitu juga Jero Wacik yang Insinyur mesin sarat pengalaman di Industri Pariwisata tanpa pengalaman di Industri Perminyakan dan Energi. Purnomo dengan pengetahuan dan pengalamannya bisa meyakinkan Kabinet dan Parlemen dalam turbulensi politik yang tinggi sehingga jelas keputusannya tentang blok CPP dan Blok Natuna D-Alpha, PD menghadapi CPI dan Exxon, sementara Darwin ZS dan Jero Wacik kurang PD berada dalam turbulensi politik terkait Blok tsb begitu juga dalam menghadapi Total dan Inpex Sabda Rasullulah "Apabila sesuatu diserahkan kepada bukan ahlinya, tunggu kehancurannya".............. Ngeriiii top pisan. Salam, On Saturday, April 13, 2013, Rovicky Dwi Putrohari wrote: > Kepada Yth. : > Bapak / Ibu / Sdr/I Anggota IAGI > di tempat. > > Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Silaturahmi antara > Pengurus dan anggota IAGI sekaligus memperingati hari ulang tahun IAGI ke > 53, yang akan diselenggarakan pada : > > Hari/ Tanggal : Sabtut / 13 April 2013 > Tempat : Hotel Bumikarsa Bidakara, Room Subadra Lt 2 > Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.71 - 73 , Jakarta > Waktu : 18.00 WIB – selesai > Agenda : > - Pemaparan kegiatan-kegiatan dan program IAGI > - Pemaparan kegiatan anak organisasi IAGI ( FGMI, FOSI, > MGEI, Publikasi, Majalah IAGI, dll ) > - Pandangan dan pendapat Para Tamu Undangan tentang IAGI > > Mohon kehadirannya Bapak /Ibu dalam acara tersebut diatas. > > Atas kehadirannya kami PP-IAGI mengucapkan banyak terima kasih. > > Hormat kami Pengurus Pusat > Ikatan Ahli Geologi Indonesia > Sekretaris Jendreral > TTD > Ir . H. Seno Aji M.Si > > > > Anggota IAGI yang berminat hadir dalam acara ini diharapkan menghubungi > sekretariat (sekretar...@iagi.or.id <javascript:_e({}, 'cvml', > 'sekretar...@iagi.or.id');> atau telepon ke Sutar ( 021- 83702848 / > 83702577 ) > > - > >