Dear rekan IASA dimanapun berada,

 Barangkali berita ini sudah lama tersebar, 2 peneliti wanita mendapat Penghargaan 
Tingkat Nasional pada Hari Kebangkitan Teknologi ke-9. Dr.Sriani Sujiprihati lewat 
karya pemuliaan pepaya Genotipe IPB-1 dan IPB-2 dan satunya Dr.Purwati Handayani lewat 
karya  carbon sequestration. 
 Semoga keberhasilan beliau di bidang pertanian menjadi stimulus kita dalam bekerja 
dan berkarya bagi kemajuan pertanian Undonesia.

Gambarimashou,

wassalam,

BS Daryono
**************************
Tokyo Univ. of Agriculture

Penghargaan berkat Pepaya untuk Dr Sriani
 
DUA peneliti perempuan tampil ke permukaan pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 
ke-9, 11 Agustus lalu. Keduanya mendapatkan penghargaan tingkat nasional, yang 
diserahkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Yang pertama, Dr Ir Iin Purwati 
Handayani, MSc dari Universitas Bengkulu (Suara Pembaruan, Senin, 27 September). Yang 
kedua, Dr Sriani Sujiprihati dari Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Buah pepaya mengantar langkah Ani, panggilan akrab Sriani Sujiprihati, menerima 
penghargaan itu. Berkat ketekunannya memuliakan (breeding) pepaya, ia memperoleh 
berbagai genotipe yang sangat beragam sebagai plasma nutfah pepaya, serta beberapa 
genotipe yang unggul. Dua genotipe unggul IPB-1 dan IPB-2, diluncurkan oleh Presiden 
dalam Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Agustus lalu. Genotipe unggulan lain akan 
menyusul diluncurkan pada tahun-tahun berikutnya, sesuai rencana yang telah ditetapkan 
dalam "Roadmap - Papaya Breeding". 

"Itu sebetulnya penelitian tim. Saya tidak tahu kenapa penghargaan jatuh ke saya, 
sebagai pemulia tanaman," kata Ani, dalam percakapan melalui telepon, Kamis (23/9) 
petang. Ia sedang berada di Pusat Kajian Buah-buahan Tropika (PKBT) Bogor, saat itu. 

Ani bergabung dengan PKBT IPB sejak program Riset Unggulan Strategis Nasional (Rusnas) 
Buah dimulai pada tahun 2000. Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) mengembangkan 
Program Rusnas itu, suatu kegiatan penelitian dan pengembangan yang terkait dengan 
penguatan mata rantai dukungan teknologi (technology supply chain). Program itu, harus 
berorientasi pada kegiatan produksi yang spesifik. Dengan demikian, teknologi yang 
akan dikuasai dan dikembangkan serta dipetakan dalam technology roadmap, harus 
memiliki hubungan kuat dengan teknologi produk dan proses produksi yang berkaitan 
dengan sektor produksi yang dituju. 

Ketika mulai diluncurkan pada 2000, baru tiga topik Program Rusnas yang dilaksanakan, 
yaitu Teknologi Informatika dan Mikroelektronika (TIMe) yang dikelola Pusat Penelitian 
Antar Universitas Mikroelektronika ITB - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat 
(LPPM) ITB, Buah Unggulan Tropis oleh Pusat Kajian Buah-buahan Tropika (PKBT) Lembaga 
Penelitian IPB, dan Ikan Kerapu oleh Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Budidaya 
Pertanian (P3TBP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pada 2002, kegiatan 
Rusnas ditambah tiga topik, yaitu Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit yang 
dikelola Lembaga Penelitian IPB bekerja sama dengan Masyarakat Perkelapasawitan 
Indonesia (Maksi), Diversifikasi Pangan Pokok yang dikelola oleh Pusat Pangan dan Gizi 
Lembaga Penelitian IPB, dan Pengembangan Engine Aluminium Paduan yang dikelola oleh 
Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Material (P3TM) BPPT. 

Berkaitan dengan program itu, PKBT, seperti dijelaskan Ani, meneliti empat buah 
tropis. Selain pepaya, juga manggis, pisang, dan nenas. "Tetapi, yang membuahkan hasil 
baru pepaya. Keberhasilan itu membuka kemungkinkan bagi kami untuk meneliti buah-buah 
yang lain," ia menambahkan. 

Langkah Ani bukan hanya berhenti sebatas pemuliaan. Ia juga melibatkan para petani 
untuk berpartisipasi dalam kegiatan pemuliaan (participatory breeding), perbanyakan 
benih, dan teknik budidaya pepaya yang benar yang mengikuti standar prosedur 
operasional (SPO) untuk memanfaatkan hasil pemuliaannya. Kegiatan itu sudah mulai 
dilaksanakan di Kabupaten Bogor, atas kerja sama PKBT dengan Direktorat Tanaman Buah, 
Dirjen Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian. Petani mitra di sekitar Bogor 
sudah mulai menanam pepaya hasil pemuliaan itu, yang sekaligus juga menjadi kegiatan 
pengujian dari genotipe yang akan diluncurkan. 

Sebagai dosen, Ani juga memanfaatkan program pemuliaan pepaya itu untuk penelitian 
mahasiswanya. Kini, ia sedang membimbing tiga mahasiswa S-3, tiga mahasiswa S-2, dan 
lebih dari sepuluh mahasiswa S-1 dalam penelitian di bidang pemuliaan pepaya. 

Di samping meneliti, Ani bekerja sama dengan peneliti di dalam maupun di luar IPB, 
juga petani serta pengusaha, mengembangkan hasil pemuliaan pepaya itu. Sampai saat 
ini, kerja sama penelitian pengembangan produk pepaya telah dilakukan antara lain 
dengan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Balitbio Bogor, UPN Veteran Yogyakarta, UPN 
Veteran Surabaya, dan para petani mitra. 


Dukungan Keluarga 

Sriani yang dilahirkan di Ponorogo, 28 Oktober 1955, menempuh pendidikan dasar hingga 
sekolah menengah atas di kota kelahirannya. Kemudian ia melanjutkan kuliah (S1) di 
Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, lulus di bidang agronomi pada 1981. Agak 
berbeda dengan umumnya teman sealmamater, yang cenderung memilih berkarier di fakultas 
asal atau lembaga di lingkungan Departemen Pertanian, Ani malah melamar menjadi staf 
pengajar di Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian IPB tahun 1982. Ia diterima. 

Di Bogor pula ia ketemu jodohnya, Dr Enisar Sangun MSc. "Ia lulusan IPB, tetapi 
bekerja di Departemen Pertanian di pengembangan sumber daya manusia," kata Ani. 
Pasangan itu dikaruniai empat anak, Diannisa Ikarumi (mahasiswi Fakultas Kedokteran 
UGM), Vidya Nursolihati (mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi UGM), Muhammad Arifyandi 
(siswa SMA Negeri I Bogor), dan Ayuni Nuramalina (SD). 

Di IPB pula ia menyelesaikan program pendidikan S-2, di bidang pemuliaan tanaman di 
Fakultas Pascasarjana IPB, dan lulus tahun 1990. Pada 1991 ia meneruskan kuliah (S3) 
di Universiti Putra Malaysia, untuk memperdalam bidang yang sama. Penelitiannya yang 
dilakukan empat tahun dengan promotor Profesor Madya Dr Ghizan Saleh, menghasilkan 
varietas jagung hibrida unggulan Universiti Putra Malaysia. 

Menyelesaikan pendidikan di Universiti Putra Malaysia pada 1996, Ani kembali mengajar 
di IPB dan menekuni penelitian di bidang pemuliaan tanaman. Pusat Studi Pemuliaan 
Tanaman IPB menyediakan fasilitas baginya dalam mengembangkan kultivar-kultivar 
unggul, yakni varitas-varitas tanaman dengan sifat-sifat yang sudah mantap. 

Di sela-sela kesibukannya sebagai ibu bagi empat putra putrinya, dan istri dari suami 
tercinta, Ani tetap mempunyai dedikasi dan komitmen yang tinggi sebagai pemulia 
tanaman. Suami dan putra-putrinya sangat mendukung kegiatannya. 

Ia berharap, hasil pemuliaannya bermanfaat bagi petani dan masyarakat. Ia memimpikan 
nantinya orang tidak lagi harus "demam" buah serbabangkok. Buah pepaya, contohnya, ia 
sebut buah populer. "Buah yang merakyat, dikonsumsi dari masyarakat bawah sampai 
kalangan berada," ujarnya. Melalui genotipe IPB-1 dan IPB-2 ia membuktikannya 
penemuannya tidak kalah dengan para ahli buah Thailand, sebagai contoh. "Genotipe 
IPB-1 itu kecil-kecil, nantinya untuk pasar swalayan. Sedangkan genotipe IPB-2, yang 
berukuran lebih besar, itu yang kami tujukan untuk bersaing dengan pepaya bangkok," 
Ani menambahkan. 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Iin, Peneliti dengan Segudang Penghargaan
 
IA suka sekali dengan biologi sejak sekolah menengah. Tetapi, tidak suka yang terlalu 
murni. Keinginan itu yang mengantar langkah Iin Purwati Handayani mendalami ilmu 
terapannya, di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Lalu, ketika 
tiba masa penjurusan, ia memilih Jurusan Ilmu Tanah. 

"Karena tertarik dengan kegiatan lapangannya dan tertantang dengan persyaratan tinggi 
nilai akademis yang diminta," katanya, dalam percakapan melalui telepon, Kamis (23/9) 
lalu, dari Bengkulu, tempatnya menetap kini. 

Ia menggeluti ilmu tanah, hingga ke Negeri Paman Sam, sampai meraih gelar doktor. Di 
samping mengajar di Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, ia tidak meninggalkan 
kegemarannya meneliti. Buah ketekunan pun diperolehnya. 

Tahun ini, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Agustus lalu, 
Kementerian Riset dan Teknologi menganugerahi Dr Ir Iin Purwati Handayani, MSc, 
Penghargaan Riset Unggulan Terpadu (RUT). Penghargaan diserahkan oleh Presiden 
Megawati Soekarnoputri. 

Penghargaan diberikan kepada Iin atas karya inovasinya serta keberhasilannya dalam 
mengkaji dan menerapkan model fraksionasi bahan organik tanah sebagai komponen utama 
kesuksesan dini proses rehabilitasi lahan kritis. Karya inovatifnya dinilai menguasai 
fenomena carbon-sequestration dalam kaitan dengan penghitungan neraca karbon-nitrogen 
untuk menekan efek gas rumah kaca, sekaligus memperbaiki produktivitas lahan. 

Hasil riset itu dapat memberikan kontribusi bagi Indonesia dalam kegiatan mitigasi 
dampak pemanasan global, melalui pendayagunaan lahan-lahan kritis, dengan aktivitas 
revegetasi berbasis sekuen ekologi (ecological sequence). 

Bidang kajian yang ditekuni Iin selama ini memang berkaitan erat dengan 
masalah-masalah tanah dan lingkungan. 

Penekanan khususnya pada aspek siklus karbon, siklus nitrogen, mikroba tanah, enzim 
tanah dan mitigasi gas rumah kaca, serta penggalian nilai-nilai kearifan tradisional 
masyarakat lokal dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan setempat. 

Hal-hal itu menjadi kepeduliannya, bermula dari keresahannya melihat permasalahan 
lahan-lahan kritis di wilayah tropis, yang terkadang mengundang kontroversi argumen 
dalam penanganannya. 

Keresahan itu membersitkan ide sekaligus inovasi yang dituangkannya melalui penelitian 
berkelanjutan tentang fenomena dan dinamika bahan organik tanah sebagai komponen kunci 
yang harus dicermati dalam upaya merehabilitasi lahan kritis. 

Inovasi konseptual yang digulirkannya melalui penelitian di berbagai lokasi adalah 
pemodelan fraksionasi karbon-nitrogen pools guna memprediksi daya suplai nitrogen 
tersedia, sebagai indikator utama produktivitas dan kualitas ekosistem. Konsep itu 
memberi arti penting dari segi perlindungan lingkungan serta dapat diimplementasikan 
untuk skala aplikatif di bidang industri pupuk atau rehabilitasi dan reklamasi 
lahan-lahan kritis. Ketersediaan nitrogen dalam bentuk yang dapat dimanfaatkan tanaman 
berikut cadangan bahan organik tanah, merupakan indikator dini kesuksesan dari setiap 
teknologi masukan yang diaplikasikan pada lahan-lahan kritis. 

Melalui model fraksionasi karbon yang memisahkan antara fraksi aktif, fraksi labil dan 
fraksi stabil, kemampuan ekosistem dalam menekan emisi gas rumah kaca karbon dioksida 
dapat diprediksikan. 

Temuan itu memberikan nuansa baru di bidang ilmu tanah dalam kaitannya dengan 
ilmu-ilmu dasar di bidang pertanian, agroekologi, dan kehutanan, karena menyajikan 
suatu konsep terpadu antara aspek biologi, fisika, dan kimia tanah, serta 
keterkaitannya dengan komponen tanaman, guna menilai produktivitas lahan melalui 
keserasian antara indikator kesuburan tanah, produktivitas tanaman, perlindungan 
lingkungan, dan keberlanjutan sumber daya alam. 

Model fraksionasi karbon juga sangat berguna dalam membantu perhitungan carbon 
sequestration, sehingga dapat turut mendukung negara Indonesia dalam mengantisipasi 
masalah pencemaran lingkungan akibat karbon dioksida. 

Dalam perjalanan kariernya di bidang penelitian, Iin juga menghasilkan beberapa temuan 
sampingan, seperti formulasi pupuk hayati untuk budi daya padi gogo di lahan marjinal, 
pola tanam campur untuk percepatan akumulasi bahan organik, sistem pengkayaan 
(enrichment) masa bera (fallow systems), serta teknik percepatan permudaan alami di 
lahan kritis. 

Kegiatan penggalian nilai-nilai lokal setempat dalam mengelola sumber daya alam dan 
lingkungan secara arif juga sedang ditekuni sekaligus dicoba untuk dimplementasikan 
lagi dengan bantuan pengayaan teknologi tepat guna yang sesuai. 


Paling Menarik 

Dilahirkan di Yogyakarta pada 2 Oktober 1963, Iin menyelesaikan pendidikan sekolah 
dasar hingga sekolah menengah atas di kota sejuk Bogor. Dibesarkan di lingkungan yang 
senang dengan tanaman, ia masuk Fakultas Pertanian UGM, dan lulus pada 1986. 

Di kampus pula Iin bertemu suaminya, Priyono Prawito, kakak kelas, empat tahun di 
atasnya, yang kemudian mempersuntingnya begitu Iin lulus. Iin mengikuti langkah 
suaminya, berkarier sebagai staf pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. 

Keduanya sama-sama meraih gelar doktor di Amerika Serikat. Di negara itu pula pasangan 
itu dikaruniai seorang putra, Topaz Adiardhana, yang kini duduk di kelas lima sekolah 
dasar. 

Iin yang menyelesaikan gelar master of science di University of Arkansas, 
Fayetteville, Arkansas, pada 1991, meraih gelar doktornya di University of Kentucky, 
Lexington, Kentucky, pada 1996. Ia mengajukan disertasi berjudul "Soil Carbon and 
Nitrogen Pools and Transformations after 23 Years of No Tillage and Conventional 
Tillage". Nilai kelulusannya mengagumkan, ia meraih indeks prestasi kumulatif 4,00! 

"Salah satu saya memilih mendalami ilmu tanah karena tugas-tugas lapangannya yang 
menarik. Ada keseimbangan antara penelitian di laboratorium dan lapangan. Prinsip 
saya, kalau nggak bisa lihat keadaan sebenarnya di lapangan, penelitian kita nggak 
akan memunculkan 'roh'-nya," katanya. 

Penghargaan memang bukan hal baru dalam kehidupan Iin. Sebelum mendapat predikat 
Peneliti Utama Teladan Indonesia Riset Unggulan Terpadu Award, Agustus lalu, Iin sudah 
mengantongi beberapa penghargaan. 

Dua universitas tempat ia menggali ilmu di Amerika Serikat memberinya penghargaan, 
Gamma Sigma Delta, sebagai mahasiswa yang lulus dengan nilai mengagumkan. Universitas 
tempatnya mengajar menganugerahinya gelar dosen teladan juara pertama, pada 2003, 
serta juara pertama dosen berprestasi pada 2004. Tahun ini pula namanya dicatat 
sebagai dosen berprestasi tingkat perguruan tinggi/kopertis seluruh Indonesia. 

Karya inovatif Iin yang diperoleh dari riset unggulan terpadu, bernilai ilmiah 
penting. Karya itu mampu membantu para praktisi serta pakar konservasi dan lingkungan 
dalam mendeteksi secara dini tingkat kesuksesan suatu teknologi masukan pada lahan 
atau sistem pengelolaan ekosistem berbasis keserasian antara produktivitas ekosistem, 
perlindungan lingkungan serta nilai ekonomis dari keberlanjutan sumber daya alam. 

Hasil penelitian itu juga bersifat universal dan dapat diaplikasikan ke dalam disiplin 
ilmu terapan, terutama bioteknologi terapan untuk bidang agronomi, kehutanan, 
perkebunan dan lingkungan. Bagi negara ini, temuan itu dapat dijadikan acuan dasar 
bagi pengembangan teknologi dan pengkayaan inovasi pada aktivitas rehabilitasi dan 
reklamasi lahan kritis (sebagai upaya pemulihan ekosistem tropis), terutama dalam 
rangka menjalankan mekanisme pembangunan bersih.




-- 
_______________________________________________
Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages
http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/S8XolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

IASA homepage: http://welcomte.to/iasa_japan or
http://www.geocities.com/iasa_japan/iasa.html 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/iasa/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke