aida sartimbul <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Brain Drain: Dari Cibiran Menjadi Aset
Berita IPTEK, Kamis, 07 April 2005, 09:42:24 Wib
Oleh Is Helianti
Setiap tahun di bulan Maret, bertambahlah Doktor
lulusan Jepang asal Indonesia. Ini dikarenakan
kalender akademik Jepang diawali di bulan April, dan
diakhiri di bulan Maret. Mahasiswa Indonesia menempati
posisi yang cukup besar di Jepang setelah China dan
Korea. Hampir selalu terjadi pergulatan batin dan
diskusi yang panjang bagi para doktor baru asal
Indonesia. Bertahan di Jepang kah? Atau langsung
pulang ke tanah air? Kira-kira demikian yang terjadi
jika selesai program doktoral, mereka ditawari
kesempatan yang lebih luas, Postdoktoral atau bekerja
di perusahaan.
Sebenarnya, jawaban bagi sebagian mereka tidaklah
rumit. Jika ada kesempatan untuk belajar lebih banyak,
mengapa tidak? Tetapi, tidak demikian bagi banyak
kalangan yang melihatnya dari kaca mata investasi dan
balas jasa kepada negara. Bekerjanya para doktor di LN
ini otomatis menjadi "brain drain" yang merugikan
negara. Kebanyakan mereka disekolahkan dengan uang
negara (yang berasal dari pajak rakyat), lalu mengapa
tidak mau pulang secepatnya dan berbakti pada rakyat?
Brain drain; fenomena lebih senangnya para intelektual
berkiprah di negara-negara maju adalah fenomena
klasik. Betapa banyak dosen dan peneliti yang
capai-capai disekolahkan pemerintah, lebih asik
bekerja di negara tetangga atau negara tempat mereka
pernah bersekolah. Bahwa, lebih senangnya kaum cerdas
ini di LN adalah masalah pendapatan dan penghargaan
yang tak sebanding dengan yang mereka terima jika
mereka di LN.
Dalam tulisan ini, saya mencoba memberikan beberapa
fakta ilmiah yang telah dikaji sehingga dapat memberi
suatu pandangan lain, tentang brain drain. Bahwa,
brain drain bisa jadi merupakan suatu asset.
Sejarah Brain Drain
Fenomena brain drain dimulai ketika banyaknya SDM-SDM
trampil dari Eropa seperti Inggris, Jerman, juga
Kanada memasuki Amerika dan menjadikan Amerika sebagai
dream land pasca perang dunia II. Seiring dengan
melajunya kedigdayaan Amerika, maka immigrant yang
memasuki Amerika di tahun 1980-an adalah para SDM
trampil dan ahli dari Asia seperti China, Taiwan,
India, dan Korea Selatan. Tahun 1990-an, ketika
Habibie memulai mengirimkan para remaja potensial
lulusan SMA ke LN, "brain drainer" dari Indonesia pun
melonjak. Tahun 1990-an US mengalami masa keemasan
ekonomi. Gaji tinggi dan berbagai insentif seperti
Green Card ditawarkan bagi SDM-SDM immigrant yang ahli
dan berprestasi yang dapat berkontribusi besar bagi
kemajuan negeri Paman Sam ini. Tentu ini juga berlaku
bagi para mahasiswa Indonesia di sana. Ketika krisis
multidimensional mulai meledak di tahun 1998-an,
banyak mahasiswa yang sudah lulus sekolah lebih
bertahan memilih di LN, daripada kembali ke Indonesia
yang belum jelas menjanjikan apapun untuk masa depan
mereka.
Sebenarnya, bukan hanya Indonesia saja yang menderita
brain drain. Fenomena banyaknya orang pandai yang
lebih senang di negara maju ketimbang di negaranya
sendiri (yang termasuk negara berkembang) bukanlah
fenomena yang aneh. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB),
secara khusus bahkan melakukan kajian tentang efek
brain drain terhadap negara berkembang. Dalam
konferensi PBB untuk perdagangan dan pembangunan tahun
1996 disebutkan , paling tidak benua Afrika kehilangan
60 000 orang tenaga trampilnya antara tahun 1985-1990.
Jika dikonversikan ke dalam nilai mata uang adalah
sekitar sebesar $ 184 000 setiap orang. Atau dalam
kurun lima tahun itu Benua Afrika menderita kerugian
hampir 12 milyar USD.
Di tahun 1980-an, Amerika sebagai negara penerima
brain drain terbesar diuntungkan sekitar 20 000 dolar
per tahun untuk satu orang tenaga trampil hasil brain
drainnya.
Tetapi, pandangan bahwa brain drain melulu sesuatu
yang merugikan dan menggerogoti negara berkembang,
akhir-akhir ini banyak dibantah oleh para ahli. Antara
lain Prof Dr Saxenian dalam banyak makalahnya,
megatakan bahwa pada dasarnya brain drain tidak lah
abadi. Tetapi, dia hanya suatu siklus saja di dalam
fenomena globalisasi yang dinamakan brain circulation.
Semua brain drain berpotensi besar menjadi reverse
brain drain yang memberi keuntungan pada negara
pengirim. Contohnya adalah kasus India dan Taiwan.
Reverse Brain Drain, Belajar dari Taiwan dan India
Taiwan menjadi contoh istimewa dari parahnya mereka
mengalami brain drain, sekaligus betapa suksesnya
mereka menggaet para brain drainernya untuk kembali
atau berkontribusi positif terhadap negaranya. Tahun
1970-an, posisi Taiwan adalah layaknya Indonesia saat
ini. Saat itu, Taiwan adalah tipikal negara berkembang
yang hanya bisa menyuplai banyak tenaga kerja murah
bagi negara maju. Hubungan dengan negara-negara maju
dalam ekonomi maupun Iptek selayaknya Indonesia
sekarang. Bukan berdiri sama tinggi ataupun duduk sama
rendah. Sementara itu, banyak dari kalangan cerdas
atau intelektual Taiwan bersekolah lalu bekerja di
Negara maju, seperti Amerika Serikat.
Tahun 1980-an, Pemerintah Taiwan mengubah arah
kebijakan yang membuat iklim ekonomi dan pengembangan
Iptek Taiwan lebih kondusif. Mulailah Pemerintah
Taiwan mendekati para brain drainer yang berdiam di LN
dan sudah banyak mempunyai modal. Mereka di harapkan
dapat berkontribusi modal untuk pembangunan negaranya.
Pendekatan simpatik dari pemerintah bersambut. Para
warga negara Taiwan yang tingal di LN berbondong
berbalik ke Taiwan dan menjadi reversed brain drain.
Para SDM unggul ini, tidak hanya menyumbangkan
modalnya, bahkan pikiran dan karyanya pada negaranya.
Contohnya, Miin Wu, "braindrainer" yang lulus PhD dari
Stanford tahun 1976. Lalu dia bekerja sebagai
profesional di Silicon Valley dan kembali ke Taiwan
1989. Setelah kembali ke Taiwan, Wu mendirikan
perusahaan Macronix Co. Perusahaan ini kini menjadi
salah satu perusahaan semikonduktor terbesar di Taiwan
dengan omset $ 300 juta/tahun dan menyerap 2 800
tenaga kerja.
Dengan iklim yang sehat dan kondusif ini, sekarang
Taiwan tidaklah menjadi negara yang takut kehilangan
orang-orang pintarnya. Sebagaimana dilaporkan dalam
Financial Development tahun 1999, hanya kurang dari
10% warga negara Taiwan yang lulus PhD di tahun 1990
yang tetap tinggal di US sampai tahun 1996. Atau,
hampir sebagian besar mereka kembali ke negaranya.
Sejak tahun 1990 ini, Taiwan diakui sebagai negara
yang leading dalam bidang ekonomi dan teknologi
informasinya. Semua berkat reversed brain drain!
Langkah Taiwan, nampaknya sedang diikuti oleh India
saat ini. India juga merupakan negara yang sangat
menderita karena brain drain. Menurut data, di tahun
1996 kurang dari 25 % warga negara India yang kembali
ke negaranya setelah selesai PhD di Amerika tahun
1990-1991. Berarti pada tahun tersebut, sebagian besar
orang-orang terpilih ini memilih tetap tinggal di AS.
Prestasi penduduk Amerika asal India di dream land
tersebut memang tidak main-main. Tahun 1970-1990-an
SDM India dengan kualitas tinggi brain drain ke USA.
Di tahun 1998 profesional asal India menguasai 775
perusahaan teknologi di Silicon Valley dengan omset
$3.6 milyar dan penyediaan 16 600 lapangan kerja!
Akan tetapi, ternyata trend brain drain ini mulai
berubah sejak akhir tahun 1999. Sejak awal tahun 2000
sampai kini diperkirakan, terjadi reversed brain drain
besar-besaran ke India. Sekitar 35 000 warga negara
India kembali ke negaranya, baik untuk tinggal
permanent ataupun sementara.
Kembalinya WN India ke negaranya, sebenarnya tak lepas
dari kondisi perekonomian di US sendiri, yang sejak
tahun 1999 tidak sekondusif sebelumnya. Kondisi resesi
di US, menyebabkan banyak perusahaan yang menutup
perusahaanya dan mem-PHK para tenaga ahlinya.
Kesempatan bekerja dan iming-iming insentif bagi para
orang cerdas ini tidaklah segemerlap sebelumnya.
Amerikapun mulai menerapkan kebijakan outsourcing,
khususnya dalam bidang teknologi informasi seperti
penyediaan software. Mereka memesan ke negara-negara
seperti Taiwan dan India yang dipandang punya
kemampuan karena lebih murah secara biaya. Para WN
India yang telah mengenyam pendidikan dan pengalaman
berprofesi dan berbisnis menangkap peluang ini. Maka,
mereka berlomba pulang ke negaranya, dan menjadi
jembatan penghubung antara para tenaga trampil yang
menetap di India dan jaringan pasar di LN dengan
menjadi pengusaha ataupun konsultan di negaranya.
Misalnya kisah Nagarajan, seorang "braindrainer"
alumni Silicon Valley yang kembali ke India. Tahun
2000 dia mendirikan perusahaan teknologi informasi
dengan cuma 20 pekerja. Pada tahun 2004 perusahaannya
mempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak
heran, jika pemerintah India dengan optimis meramalkan
bahwa lewat kehadiran industri teknologi informasi ini
India secara keseluruhan akan mendapat laba $ 87
milyar dengan omset pasar $ 225 milyar dan akan mampu
menyediakan 2,2 juta lowongan pekerjaan di tahun 2008.
Beberapa intelektual India dengan bangganya
menunjukkan beberapa WN Inggris yang saat ini brain
drain ke perusahaan India, karena perusahaan tersebut
mampu membayar ahli dari Inggris tersebut lebih
daripada Inggris sendiri!
Bagaimana dengan Indonesia?
Warga negara Indonesia yang mendapat kesempatan
bersekolah di LN dengan beasiswa atau berkiprah di
sana pada dasarnya adalah SDM terpilih sehingga
merupakan asset bangsa. Keunggulan merekalah yang
menyebabkan mereka juga mendapat peluang untuk lebih
lama di LN dengan tawaran penelitian lanjutan atau
bekerja di perusahaan di sana. Jadi potensi yang ada
ini, rasanya sangat sayang jika diabaikan, hanya
karena mereka "disertir", "pembelot", dan sebagainya.
Seharusnyalah pemerintah memanfaatkan asset bangsa
yang terserak di negeri orang ini, seperti yang telah
dilakukan India dan Taiwan. Karena mereka potensial
memberi keuntungan sebagai ��eversed brain drain��dan
menjadi jembatan penghubung dengan jaringan
internasional. Pendekatan yang bijak tentu harus
dilakukan.
Pada dasarnya, mereka yang memilih untuk tetap tinggal
di LN, bekerja dan berkiprah di sana tak perlu
dipertanyakan rasa nasionalismenya. Indonesia, sebagai
tanah air dan kecintaan tentulah tak semudah itu
dilupakan. Banyak yang tetap tinggal di LN merasakan
kehadirannya di luar negeri, lebih dapat berkontribusi
ke tanah air, tinimbang mereka berada di Indonesia.
Mereka giat melakukan kegiatan pengumpulan beasiswa
untuk anak-anak tak mampu. Bagi mereka yang telah
bekerja di univeristas sebagai peneliti ataupun
pengajar maka jaringan internasional dibidang
penelitian dan Iptek tentu menjadi lebih terbuka.
Kesempatan beasiswa atau lowongan program doctoral
misalnya, menjadi lebih mudah diakses lewat keberadaan
mereka.
Pengalaman bekerja secara professional tentunya jauh
lebih baik ketimbang "cuma" pengalaman belajar formal
yang mereka bawa jika mereka pulang ke tanah air.
Setidaknya mereka punya kemampuan know how secara
manajerial dan institusional yang lebih praktis dan
dalam. Jika mereka mapan dengan posisi mereka di LN,
maka para peneliti, professional, atau pebisnis yang
mapan ini tentulah dapat menjadi link antara komunitas
yang sama atau produser lokal di tanah air dengan
masyarakat internasional.
Beberapa saran bagi pemerintah yang mungkin bisa
dilakukan dalam mengatasi fenomena brain drain ini.
Bagi mereka yang PNS, diberi kebebasan untuk
memilih.Tetap bekerja di LN tanpa batas waktu tetapi
harus mengundurkan diri dengan hormat. Uang
pengembalian beasiswa atau denda proses PTUN dikelola
untuk kepentingan masyarakat secara transparan dan
akuntabel. Atau, diberikan jangka waktu terbatas untuk
berada di LN. Bisa juga mereka dibebaskan PTUN dengan
syarat wajib secara hukum kembali ke Indonesia suatu
saat kelak, dan wajib menjadi penghubung pengembangan
ekonomi, industri, dan iptek.
Selain itu, harus diciptakan kondisi yang kondusif,
sehingga para lulusan luar negeri ini dapat berkiprah
optimal dan sepenuh hati di tanah air. Negara tetangga
kita, Malaysia misalnya, tidak takut kehilangan para
orang unggulnya yang sekolah di tanah orang. Dengan
sendirinya, tanpa dipaksa, rata-rata mereka kembali ke
Malaysia untuk membaktikan dirinya pada masyarakat
tanah airnya. Ini dikarenakan, Malaysia menciptakan
iklim yang nyaman bagi para tenaga trampil dan ahli,
baik di penelitian, perguruan tinggi maupun bidang
professional lainnya. Mereka mendapat penghargaan yang
layak sesuai pendidikan, keahlian, dan prestasi kerja
mereka.
Pemerintah Thailand sampai membuat program khusus
untuk menarik para tenaga ahlinya di LN untuk balik ke
Thailand lewat proyek "Reverse Brain Drain". Proyek
ini dilakukan oleh National Scientific and Tecnology
Agency of Thailand. Mereka membuka pendaftaran untuk
para tenaga trampil/ahli di LN untuk mengisi lowongan
pekerjaan bergengsi di Thailand dengan imbalan yang
dua kali lipat daripada tenaga kerja domestik.
Walaupun, banyak memperoleh kritikan, khususnya dari
para alumni dalam negeri, karena masalah diskriminatif
gaji. Akan tetapi, semangat gebrakan kebijakannya
mungkin patut dicontoh.
Yang terakhir, namun tak kalah penting, adalah kiprah
para intelektual kita di dalam negeri sendiri. Para
brain drain India yang menjadi reversed brain drain
sangat tergugah dan terinspirasi oleh rekan-rekannya
yang memilih hidup dan bekerja keras di tanah air.
Mereka merasa harus bisa berkontribusi yang sepadan
dengan para rekan di tanah air bagi kemajuan bangsa,
walaupun mereka di LN sekalipun. Inilah sumber
kekuatan mereka untuk membangun Iptek, khususnya
industri teknologi informasi India saat ini.
Dr. Is Helianti, MSc Peneliti pada Pusat Pengkajian
dan Penerapan Teknologi Bioindustri, BPPT. Alumni
Universitas Jepang
Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
==========================================================================
Agriculture is the mother of all arts.
When it is well conducted, all other arts prosper.
When it is neglected, all other arts decline.
(Xenophon 430-355 BC)
Related homepage to IASA :
http://welcomte.to/iasa_japan
http://www.geocities.com/iasa_japan/iasa.html
http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
==========================================================================
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/iasa/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
