Assalaamu'alaykum wr wb

Ada tulisan terbaru dari Pak Arief B Witarto di Kompas, senior IASA sekaligus 
Chief in Editor IJAS, Jurnal milik kita bersama.

Selamat Pak Arief.

Wassalam
Tatang Sopian
--------------------------------------------------------------
https://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/03/ilpeng/1724950.htm


Protein Tanpa Bentuk yang Menjaga Fungsi Otak 


Arief B Witarto

Otak kita mengontrol seluruh aktivitas tubuh termasuk emosi, kecerdasan, dan 
menyimpan memori. Untuk itu, penyakit yang menyerang sel otak atau neuron 
(neurodegenerative disease) seperti alzheimer, parkinson, dan Huntington dan 
Creutzfeldt-Jakob (CJD) berakibat fatal karena melumpuhkan fungsi kemanusiaan 
kita yang paling esensial itu. 

Penelitian akhir- akhir ini menunjukkan bahwa penyakit-penyakit tersebut 
disebabkan oleh protein-protein tak berbentuk yang secara alamiah ada dalam sel 
itu namun berubah menjadi patogen dengan menunjukkan bentuk/strukturnya. 


Pemahaman kita terhadap protein selama ini menyatakan bahwa protein selalu 
harus memiliki bentuk alias struktur agar dapat berfungsi. Protein adalah 
rantai asam amino dengan panjang minimal 50-an asam amino yang melalui proses 
pelipatan (folding) menemukan strukturnya yang unik. Keunikan yang dimaksud, 
dari 350 kemungkinan struktur yang ada (3 arah sumbu x, y, z dari 50 asam amino 
penyusun protein dengan ukuran terkecil), hanya satu yang dipilih.

Proses pelipatan ini demikian kompleks dan menyimpan banyak misteri sehingga 
kemampuan untuk kita melakukan rekayasa terhadap protein masih terbatas. Tidak 
heran, salah satu super komputer tercepat di dunia bernama Blue Gene yang 
dibuat oleh IBM, khusus diperuntukkan buat melakukan simulasi bagaimana protein 
melipat.

Untuk mengurai kompleksitas struktur protein, ilmuwan membagi struktur protein 
berdasar beberapa parameter. Menurut parameter hierarki dalam proses pelipatan, 
struktur protein dibagi menjadi struktur primer yaitu sekuen asam aminonya; 
struktur sekunder yaitu struktur lokal seperti alfa-helix, beta-sheet, turn, 
dan random; struktur tersier yaitu struktur keseluruhan satu rantai protein; 
dan terakhir struktur kuartener yaitu struktur keseluruhan protein yang 
memiliki lebih dari satu rantai.

Pentingnya struktur dalam memahami fungsi protein yang sangat beragam mulai 
dari enzim, hormon, antibodi, reseptor, dan sebagainya tampak dari berbagai 
usaha peneliti mengembangkan teknik untuk menganalisa dan melihat bentuk 
protein tersebut. Mulai dari teknik kristalografi sinar-X yang dikembangkan 
oleh Max Perutz dan John Kendrew (menerima Nobel Kimia 1962), teknik mikroskop 
elektron oleh Aaron Klug (Nobel Kimia 1982), teknik spektroskopi NMR (nuclear 
magnetic resonance) oleh Kurt Wuthrich, dan teknik spektrometri massa oleh 
Koichi Tanaka serta John Fenn (bertiga, bersama-sama menerima Nobel Kimia 2002).

Usaha menentukan struktur protein secara eksperimen dirasa semakin penting 
sehingga pusat data koordinat struktur protein yaitu Protein Data Bank menerima 
penambahan data yang terus bertambah secara eksponensial dan didirikannya 
konsorsium internasional penentuan struktur protein. Tidak mau kalah, para 
ilmuwan noneksperimen basah yang mengandalkan kekuatan komputer melakukan 
prediksi dan simulasi struktur protein yang dikompetisikan setiap tahun. 
Berbagai pusat data juga dibuat untuk mengklasifikasikan protein berdasar 
strukturnya seperti SCOP.

Di tengah ingar-bingarnya perhatian terhadap pentingnya bentuk/struktur dalam 
memahami fungsi protein itu, satu kejutan lahir dengan ditemukannya protein 
yang secara alamiah tidak memiliki struktur yang tetap, alias tak berbentuk. 
Stanley Prusiner, penerima Nobel Kedokteran 1997, menemukan bahwa protein 
bernama prion dalam kondisi normal tidak memiliki struktur yang jelas namun 
kemudian berubah menjadi abnormal yang menyebabkan penyakit (bersifat patogen) 
dengan membentuk struktur tertentu.

Prion ini menyebabkan penyakit CJD pada manusia dan sapi gila/BSE pada sapi 
atau domba. Dimulai dari kondisi normal tak berbentuk, sebagian dari rantai 
asam amino protein itu melipat biasanya jadi struktur sekunder beta-sheet, lalu 
mulai terjadi pengendapan/agregasi dalam bentuk serat (lihat gambar). 
Pengendapan yang intensif dalam sel otak inilah yang akhirnya menyebabkan sel 
itu mati. (Gambar)

Mekanisme serupa telah ditemukan sebelumnya pada protein beta-amyloid yang 
menyebabkan penyakit alzheimer. Dengan demikian, protein yang telah menjadi 
serat dan mengendap itu dinamakan amyloid-like fibril (serat mirip amyloid). 
Setelah itu, penyakit kerusakan otak yang penting lainnya diketahui disebabkan 
oleh mekanisme yang sama, misalnya protein alfa synuclein pada penyakit 
parkinson yang diderita oleh petinju legendaris Muhammad Ali dan aktor film 
Back to the Future, Michael J Fox serta protein Huntingtin pada penyakit 
huntington. Kehadiran protein-protein jenis baru yang tak berbentuk ini menjadi 
penting dan menarik karena semua berada dalam sel otak. Bagaimana fungsi 
sebenarnya protein-protein itu masih belum diketahui dengan jelas seperti hasil 
eksperimen dengan tikus percobaan yang telah dihilangkan gen penyandi protein 
prionnya tanpa memberikan efek fisiologis yang berarti. Akan tetapi yang jelas 
ketika "protein siluman yang tak berwajah" ini memperlihatkan bentuknya, 
terjadilah penyakit-penyakit yang menakutkan seperti di atas.

Pengobatan

Sampai saat ini belum ada pengobatan yang mujarab untuk penyakit-penyakit ini 
sehingga penderitanya seperti harus pasrah saja menunggu maut sambil terus 
digerogoti kemampuan otaknya. Walau demikian, para peneliti mulai mengembangkan 
obat hasil bioteknologi, pertama menggunakan antibodi. Seperti dilaporkan 
penulis (Mencari Obat Penyakit Sapi Gila, Kompas 23/01/04), pada tahun 2003 
Cashman dari Kanada dan Hawke dari Inggris secara terpisah telah berhasil 
memperoleh antibodi yang spesifik berikatan dengan protein prion abnormal. 
Menggunakan antibodi ini, interaksi antara protein normal dengan protein 
abnormal bisa dicegah sehingga perkembangan penyakit bisa dihambat sampai 
disembuhkan. Keberhasilan ini memberi inspirasi untuk mengobati penyakit 
kerusakan otak lainnya dengan cara sama.

Bard dan Liu, masing-masing memublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Proc. 
Natl. Acad. Sci. USA (2003) dan Biochemistry (2004) mengenai pengembangan 
antibodi yang mengenali protein beta-amyloid penyebab alzheimer yang dapat 
mencegah pengendapan protein abnormal. Hasil penelitian ini telah dicoba pada 
eksperimen invitro (di luar sel, terhadap protein saja) dan invivo (di dalam 
sel seperti kondisi sesungguhnya). Untuk penyakit huntington, Heiser dan Lecerf 
telah memublikasikan hasil penelitian mereka mengenai pengembangan antibodi 
yang dapat menghambat agregasi protein Huntingtin. Heiser mendapatkan antibodi 
yang diberi nama 1C2 yang berikatan dengan sekuen polyQ dari protein 
Huntingtin. Sementara Heiser memperoleh antibodi C4 yang mengenali sekuen nomor 
1-17 protein Huntingtin. Terakhir, protein alfa synuclein penyebab penyakit 
parkinson telah coba dihalangi pengendapannya dengan antibodi oleh Emadi tahun 
2004. Antibodi yang dikembangkan mengenali dua lokasi sekaligus dalam protein 
alfa synuclein, yaitu sekuen nomor 27-37 dan nomor 101-111.

Pembuatan antibodi tidak mudah dan memerlukan biaya tinggi sehingga harga 
produknya menjadi mahal, hal ini mendorong dikembangkannya bentuk pengobatan 
kedua dengan bioteknologi. Prof Koji Sode dari Tokyo University of Agriculture 
and Technology, tempat penulis dulu menimba ilmu, menggunakan teknik rekayasa 
protein telah berhasil membuat protein alfa synuclein versi mutan yang memiliki 
sifat pengendapan dan pembentukan serat, jauh lebih kecil daripada aslinya. 
Ketika protein mutan ini dicampur dengan protein asli, pembentukan serat 
menurun dramatis sampai 10 persen dari kontrol tanpa pencampuran protein mutan 
yang mencapai 100 persen. Diperkirakan, interaksi antara protein mutan dan 
protein normal itu mencegah terjadinya pengendapan yang berlanjut pada 
pembentukan serat, sebagaimana mekanisme pencegahan oleh antibodi.

DR Arief B Witarto MEng Ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Protein, Puslit 
Bioteknologi LIPI, Cibinong Science Center


__________________________________________________________________
Switch to Netscape Internet Service.
As low as $9.95 a month -- Sign up today at http://isp.netscape.com/register

Netscape. Just the Net You Need.

New! Netscape Toolbar for Internet Explorer
Search from anywhere on the Web and block those annoying pop-ups.
Download now at http://channels.netscape.com/ns/search/install.jsp


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/RzSHvD/UOnJAA/79vVAA/S8XolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 
 untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA : 
           http://welcomte.to/iasa_japan 
           http://www.geocities.com/iasa_japan/iasa.html
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
========================================================================= 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/iasa/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke