Menurut saya pribadi baik pendapat Pak Eko maupun pendapat Pak Kuntoro keduanya ada benarnya. Saya pribadi sebetulnya tidak terlalu banyak menguasai tentang kesepakatan2 dalam GATT, putaran Uruguay ataupun WTO itu sendiri. Jadi tidak terlalu memahami apa konsekuensi yang kita dapatkan bila kita meninggalkan WTO.
Namun dari sepengetahuan saya melihat kasus dalam kesepakatan2 dunia yang banyak saya pelajari di bidang saya seperti Konvensi Keanekaragaman Hayati, Konvensi Perubahan Iklim, Protokol Kartagena dan Protokol Kyoto serta beberapa kesepakatan dunia tentang biohazard, bahan kimia dan limbah berbahaya. Ternyata sebagian besar Kesepakatan dunia itu mengatur tentang partisipan dan non partisipan. Jadinya meskipun kita tidak ikut meratifikasi atau sekurang2nya menjadi partisipan, tetap saja diatur oleh kesepakatan2 dunia tersebut. Dan jelas bagi partisipan itu, mereka terikat dengan kesepakatan tersebut yang berarti pula semua keuntungan dan kerugiannya mereka peroleh. Sedangkan bagi non partisipan kelihatannya akan lebih banyak mengalami kerugian, mengingat justru yang partisipan cenderung untuk lebih menghindari non partisipan dalam kerjasama2 bilateralnya di bidang2 tersebut. O iya perlu kita ingat bahwa jumlah partisipan kesepakatan2 dunia itu jumlahnya lebih banyak (lebih dari 100-150 negara) daripada non partisipan (ketentuan internasional selalu membuat minimal jumlah partisipan (50 negara) agar kesepakatan tersebut bisa diberlakukan) Lalu bagaimana langkah kita selanjutnya setelah kesepakatan2 itu kita ikuti dan bahkan kita ratifikasi ? Apakah kita mundur lagi ? Menurut saya, konsekuensi kita membuka diri dengan politik luar negeri yang bebas dan aktif (sebagaimana peraturan perundang2an yang berlaku), kita harus siap berhadapan dengan kerjasama2 bilateral dan multilateral yang ada, yang artinya kita juga harus siap diatur oleh pasal2 kesepakatan bilateral dan multilateral itu. Ya jelaslah namanya diatur itu, gak sepenuhnya enak, contohnya sebagaimana kita sebagai individu diatur oleh undang2 misalnya bayar pajak padahal kita berkerja dengan hasil keringat sendiri, harus punya KTP, KK, dan lain2 sebagainya. Samalah dengan kesepakatan internasional, harus konsekuen. Yang terpenting sekarang kita harus pandai2 mencari celah keuntungan dari pasal2 kesepakatan di WTO tersebut. Yang manakah itu, perlu kita pelajari dulu kesepakatan2nya. Saya sempat lihat sedikit pasal2nya tapi rada pusing bacanya, banyak hal2 yang kurang saya mengerti, mungkin karena bukan bidangnya barangkali. Maaf agak ngaco jawabnya nih... Kuntoro Boga <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >Betul Mas Eko, >Kalau dibilang mangkel sih memang saya juga mangkel. Kita sudah lama jadi >subordinant atau peri-peri negara maju seperti yang ada dalam teori dependency >nya John Galtung. Tapi mau dibilang gimana lagi. Kita gak mau menderita sich, >perekonomian makro kita masih bergantung mereka. Liat aja proporsi hutang luar >negri kita dalam APBN masih besar. Kita juga agak gensi minta keringanan >hutang karena keder kalau berhadapan dengan Mr. Bule dll. >Kalau kita keluar WTO juga bisa berabe kecuali kita ngajak rame-rame negara >lain juga keluar heheheheh....(ini mungkin enggak yach? mungkin aja kalau >presiden kita se revolusioner Pak Karno! atau Gaddafi!) >Juga kalau mau lepas dari aturan negara besar yach harus siap prihatin atau >dalam sebagian masa hidup kita enggak makan KFC, Washington apple, Susu >Nestle, es krim Meji, barang brand dll. Atau kalau anggaran negara gak pake >utang luar negri maka efeknya gaji PNS belum bisa naik bahkan tertunda >pembayarannya. >Sanggupkah kita? >Minat komentar dari Pak Tatang, Mas Yusuf, Mbak Siti, Pak Arif dan yang >lainnya... -- Tatang Sopian Tokyo University of Agriculture and Technology Department of International Environmental and Agricultural Science Laboratory of Plant Genetics and Biotecnology __________________________________________________________________ Switch to Netscape Internet Service. As low as $9.95 a month -- Sign up today at http://isp.netscape.com/register Netscape. Just the Net You Need. New! Netscape Toolbar for Internet Explorer Search from anywhere on the Web and block those annoying pop-ups. Download now at http://channels.netscape.com/ns/search/install.jsp ========================================================================= "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia" ------------------------------------------------------------------------- Related homepages to IASA : http://www.iasa-online.org/ http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/ ========================================================================= Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/iasa/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
