TOPIK DISKUSI BIDANG KEHUTANAN Hutan tropika dikenal sebagai paru-paru dunia karena luasan dan perannya yang sangat besar dalam menyangga ekosistem dunia, seperti mengatur penyerapan CO2 energi, panas, air, udara maupun polutan. Kerusakan paru-paru dan ekosistem dunia telah mengakibatkan kerusakan siklus air, siklus panas, siklus udara dan sebagainya sehingga anomali-anomali alam dapat langsung kita rasakan saat ini. Curah hujan di daerah tropika yang biasanya berkisar 2000-3000 mm pertahun tidak bisa lagi diserap oleh lama oleh permukaan bumi yang gundul, sehingga langsung dibuang ke laut melalui permukaan bumi. Dengan perubahan siklus air tersebut, konsekuensinya, pada musim hujan akan terjadi banjir besar, sedang pada musim kemarau akan muncul kekeringan yang meluas. Sebaliknya, fenomena El-Nino tahun 1997/1998 telah mengakibatkan laju curah hujan tahunan hanya setengah dari biasanya, sehingga mengakibatkan kekeringan yang meluas dan berkepanjangan.
Laju kerusakan hutan Indonesia yang mencapai 2,8 juta hektar pertahun (setara 3 lapangan bola setiap detiknya) dan kompetisi penggunaan lahan hutan untuk tujuan lain (pertanian, pertambangan, sosial budaya, infrastruktur dsb) telah mengakibatkan benturan peranan dan fungsi lahan serta penurunan peran hutan di dalam menyangga ekologi global. Perubahan iklim global (kenaikan kadar CO2), banjir di musim hujan, pergeseran hujan, kekeringan berkepanjangan di musim kemarau, kenaikan temperatur, kenaikan muka air laut dsb) bisa jadi disebabkan karena hilangnya peran hutan tropika sebagai paru-paru dunia dalam menyangga ekosistem global tersebut. Sudah separoh lebih luas hutan kita yang hilang dan berubah menjadi lahan rusak. Sisa hutan kita yang hanya berkisar 60 juta ha akan habis dalam jangka waktu tidak lama lagi bila tidak ada tindakan penyelamatan intensif. Upaya GNRHL (Gerakan Nasional Rehabilitasi Lahan dan Hutan) yang diharapkan mampu memperbaiki kondisi hutan dan lahan, ternyata secara keproyekan hanya mampu menanam semai sebanyak maksimal 300-500 ribu ha per tahun, yang apabila semua tumbuh bagus dan berhasil 100%, baru bisa ditebang setelah umur 40-50 tahun nanti. Ini berarti semai yang ditanam pada tahun ini baru bisa mengganti maksimal sepertiga ratus drai kerusakan pada tahun yang sama. Akumulasi kerusakan hutan ini akan mengakibatkan semakin rusaknya ekosistem dunia itu sendiri. (Bahan diskusi dicuplik dari artikel bapak Dr. Cahyono Agus, Yogyakarta) Apakah yang bisa kita perbuat agar laju kerusakan hutan kita tidak semakin parah ? Apakah peran nyata kita sebagai bagian dari kerusakan hutan tersebut? Peran kita sebagai mahasiswa ? Bagaimana kita mensikapi kerusakan hutan yang terjadi ? Apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan kondisi demikian ? Dimohon partisipasi rekan-rekan semua.....atas partisipasinya dihaturkan terimakasih...... Bidang Kehutanan IASA Bainah Sari Dewi Laboratory of Forest Biological Conservation Forestry Departement Faculty of Agriculture Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) Saiwaicho Fuchu Shi Tokyo JAPAN 183 0054 laboratory phone : 81 42 367 5746 dormitory phone 81 42 367 5550 (via operator) mobile phone 81 9061242403 mobile phone email : [EMAIL PROTECTED] email : [EMAIL PROTECTED] yahoo mess : [EMAIL PROTECTED] http://www.geocities.com/bainahdewi/bainahsaridewi.html http://www.geocities.com/bainahdewi/ mypage.html ========================================================================= "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia" ------------------------------------------------------------------------- Related homepages to IASA : http://iasa-online.org http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/ ========================================================================= Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/iasa/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
