On Sat, 20 Feb 1999, Adrian Purnomo wrote:
> Hm... masalah kepercayaan memang masalah yang penting...
> Tapi kalo mencari programmer yang inovatif dan yahud, sangat mudah.
> Justru dengan tingginya dan mudahnya pembajakan software di Indonesia,
Tadinya saya-pun menggunakan "premise" seperti ini. Tetapi ternyata
setelah berjalan lebih dari 10 tahun kondisi itu tidak terjadi, dan bahkan
kita mengalami kerugian
- Mereka lebih mengenal kita bukan sebagai golongan yang inovatif
(ini mereka simpulkan dari,.. pembajak sulit menjadi inovatif)
- Kita cenderung menunggu "bajakan" sehingga kurang inovatif.
- Kita mnjadi korban "pseudo marketing"...
> maka SDM Indonesia dapat dengan mudah meningkatkan kemampuannya.
> Bayangkan kalo di Indonesia nggak ada pembajakan software. Mana bisa
> ntar Indonesia berkembang dalam bidang komputer ?
Tadinya pun saya "demikian yakin" dengan kondisi ini, artinya
"ketersediaan program bajakan" akan mendorong terciptanya "jalan pintas"
untuk mempelajari aplikasi terbaru. Tetapi ternyata melihat pola
link yang terjadi antara "developer-techsupport-solution provider"
Programmer kita menjadi "tidak dikenal" karena kita tidak masuk dalam
link tersebut. Kita dapat masuk di dalam link tersebut kalau kita
- Tercatat dg kata lain. membeli perangkat lunak "asli".
> begitu
> getol nguber2 Indonesia masalah pembajakan. Soalnya kalo pembajakan
> softwarenya dilarang keras, ntar processor dan hardware2 lain ngga laku.
Alasan BSA, atau commersial software sebetulnya lebih pada "pseudo
marketing" artinya biarkan aja orang pakai program bajakan.. nanti setelah
terbiasa, dan bekerja toh akan beli yang aslinya... sehingga..he.h.eh
tahu sendiri.. tanpa marketing yang kenceng program mereka sudah dikenal..
IMW
______________________________________________________________________
Utk berhenti langganan kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Sudah cari di arsip? http://www.linux.or.id/milis.php3#arsip-id-linux
Utk info etika diskusi, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]