On Mon, 25 May 1998, Adi Suwarso wrote:
> Date sent: Sat, 23 May 1998 13:08:59 +0200
> From: Kumoro Wisnu Wibowo <[EMAIL PROTECTED]>
>
> > Kalau saya akan sangat berhati-hati sekali dalam penggunaan perintah
> > rpm -Uvh utk penginstalan RPM files. Karena dia tidak hanya
> > menginstall si program baru, tapi juga menghapus file-file program yg
> > diupgrade (overwrite). Secara pribadi, saya lebih cenderung utk
> > remove (rpm -e) program lama, utk kemudian install yg baru.
Mungkin maksud mas Kumoro ini kalau utk install program _baru_, bukan utk
upgrade program yg sama, bukan begitu Mas ? Saya sih kalau mau install
program baru, langsung tancap dg -ivh. Baru kalau ada conflict, mungkin
baru memakai strategi -e.
Saya sendiri selalu memakai opt -U utk upgrade rpms dari saat program rpm
itu masih berupa perl script + cpio (rh 2.1 ora), dan amat jarang sekali
dapat masalah. Saat itu belum ada dependency sehingga sysadmin bisa aja
'rpm -e libc', heh.. heh... Saya juga pernah kehilangan config file yg
udah dimodifikasi dg susah payah krn opt -e. Untung dg dependency yg ada
sekarang, tidak bisa sembarangan -e. Saya pake -e hanya kalau memang mau
men-del rpms for good, atau utk kasus2x tertentu, itu pun biasanya
ditemani dg opt --nodeps.
Yg bagus dari opt -U juga config file program yg bersangkutan tidak
dijamah, atau kalaupun mau ditimpa, yg lama direname dg suffix .rpmsave.
Regards,
-- Anto --
_____________________________________________________________________
Untuk berhenti langganan:
kirim email ke [EMAIL PROTECTED] dg body "unsubscribe id-linux"