Mengapa Harus Minta Maaf?
Selasa, 18/09/2007
TAK mudah menyuruh si kecil bilang "Maaf" saat melakukan kesalahan terhadap
orang lain.Bagaimana memberikan pemahaman saling memaafkan kepada mereka?
Psikolog anak dan remaja dari Yayasan Lentera Insan Fitriani mengatakan,
permintaan maaf hendaknya dilatih sejak dini, saat anak mulai bisa
berbicara.
Hanya, pada usia anak bawah tiga tahun (batita), mengajarkan anak meminta
maaf masih sebatas pengondisian. "Maaf adalah pengakuan ada kesalahan bahwa
ada hak orang lain yang terambil sehingga perlu berbesar hati untuk
mengorbankan ego," ujar Fitri,sapaan akrab ibu dari tiga anak ini. Menurut
dia, mengajarkan anak meminta maaf sebagai bagian dari pengendalian diri.
Hanya, pada usia anak bawah tiga tahun (batita), mengajarkan meminta maaf
masih sebatas pengondisian.
Mengingat, anak usia batita masih memiliki sifat egosentris yang tinggi
sehingga biasanya mau menang sendiri. "Orangtua bisa mengajarkan anak,
misalnya mengatakan maaf saat anak secara ti- dak sengaja menumpahkan air
atau tanpa sengaja memukul bundanya. Anak akan mendengar dan menyerap semua
perkataan tersebut," papar Fitri. Kemudian, setelah anak berusia 3 tahun ke
atas,maka anak akan lebih mengerti pada situasi apa dia meminta
maaf.Terutama, jika dia melihat orangtuanya juga meminta maaf jika melakukan
kesalahan.
Hal senada diungkapkan Pemerhati Anak Resti Margiasih Panitie. Dia
mengatakan, kesadaran meminta maaf sebaiknya diajarkan sejak dini. Bahkan,
sebelum anak bisa bicara, orangtua bisa mencontohkan dengan menempatkan
dirinya sebagai anak. Resti yang berpengalaman sebagai pengajar di
pendidikan pra-sekolah selama lebih dari 10 tahun mencontohkan,saat anak
menangis dengan keras pada usia dalam hitungan bulan. Sambil menenangkan
anak, bundanya bisa mencontohkan untuk meminta maaf, dengan berkata: "Maaf
ya bunda, aku menangis keras karena kedinginan.
" Namun, Kathryn Sims MA CSW, konsultan anak prasekolah, batita,dan bayi
yang tinggal di Oakland County, Michigan mengatakan, orangtua sebaiknya
tidak meminta atau mengharap anak batita meminta maaf atau memberi pelukan
untuk menyenangkan seseorang atau 'membereskan situasi'. Alasannya, walau
mengucapkan kata-kata maaf atau memeluk, mereka tidak memahami konsep
'bagaimana perasaan orang lain'. "Secara perkembangan, anak batita tidak
dapat memakai perspektif orang lain. Kemampuan ini akan datang seiring
perkembangan, bukan dari latihan," papar Sims.
Sims berpendapat, tidak ada cara efektif untuk membantu anak batita untuk
memulai pengendalian emosi dan perilaku, lantaran semua itu akan tiba dengan
sendirinya seiring perkembangan dari waktu ke waktu.Menyuruh seorang anak
bertingkah dengan cara-cara di luar tingkat pemahaman dan keterampilannya
sama saja dengan menyuruhnya tumbuh le- conbih tinggi supaya bisa meraih
mainan."Perkembangan sosial dan emosional memerlukan waktu, pemahaman dan
kesabaran," tegas Sims.
Meminta dengan Tulus
Jody Johnston Pawel, seorang parent educator yang juga penulis buku The
Parent's Toolshop: The Universal Blueprint for Building a Healthy Family
bahkan menyarankan agar orangtua melawan pemaksaan terhadap anak batita
untuk minta maaf, sekalipun anak itu tukang ganggu dan telah mencederai
orang. "Maaf adalah kata yang dapat orang ucapkan secara tidak tulus untuk
menghapus pertanggungjawaban dan kesalahan mereka," ujar Pawel dikutip dalam
todaystoddler.com.
Namun,dia mengakui bahwa membiasakan anak meminta maaf akan membantu anak
menerima tanggung jawab atas suatu kesalahan dan memberi sarana untuk
membuat segala sesuatu baik kembali. Selain itu, meminta maaf juga membantu
anak "mengeluarkan diri dari lubang kesalahan, menjernihkan udara yang sesak
oleh ketegangan, membantu memperbaiki hubungan, dan memberi permulaan baru".
Sementara, psikolog Fitriani memaparkan agar anak dapat meminta maaf
bersungguhsungguh secara tulus, baru bisa dipahami anak pada usia sekolah
dasar.
Pada masa ini, anakanak sudah lebih bisa mengerti mengenai hal-hal yang
abstrak. "Permintaan maaf dari hati secara tulus memang bersifat abstrak,
tapi kesalahannya kan bersifat konkret.Misalnya,buku yang rusak akibat
perbuatannya, atau temannya yang terluka karena dipukul. Jadi, untuk anak
usia SD,mereka bisa lebih mudah mengerti,"sebutnya. Menumbuhkan kesadaran
anak untuk meminta maaf dan menyadari kesalahan, membutuhkan peran dari
orangtua di rumah sekaligus guru di sekolah. "Meminta maaf ini merupakan
salah satu perkembangan hati nurani (conscience).Saya memiliki seorang murid
yang usia SD, namun sama sekali tidak mau minta maaf. Memang saat anak sudah
menginjak usia SD, apalagi usia SMP dan SMA sudah semakin sulit
mengajarkannya karena pribadi mereka sudah terbentuk,"tuturnya. (ririn s)