Tawwakal Mendidik Anak

Oleh Muhammad Rizqon

Siswoyo adalah profil guru yang tidak hanya dicintai anak didik tetapi juga
para orang tua. Sebabnya karena ia mampu membangun komunikasi yang sehat,
baik kepada siswa maupun orang tua.

Satu hal yang mengagumkan darinya adalah kemampuan memperhatikan satu per
satu anak siswa, memahami kelebihan dan kekurangannya, sehingga semuanya
merasa mendapat perlakuan yang selayaknya sesuai dengan karakternya
masing-masing. Kemampuannya itu didasari oleh semangat menerapkan konsep
pendidikan terkini yang dipahaminya di mana dalam konsep tersebut diungkap
bahwa semua anak adalah pintar dan berbakat, semua anak memiliki
keistimewaan dan memiliki potensi untuk bisa berprestasi secara maksimal.
Pendekatan yang bisa dilakukan antara lain adalah dengan senantiasa
menghiasi atau memotivasi anak dengan sifat-sifat positif yang dilakukan
secara terkontrol dan terfokus.

Siswoyo berkecimpung di dunia pendidikan lebih disebabkan oleh kecintaan dia
kepada anak-anak. Hal ini dapat dipahami mengingat latar belakang
pendidikannya adalah IAIN, bukan fakultas tarbiyah melainkan fakultas hukum
syari'ah. Karirnya diawali dengan mengajar di sebuah SDIT (Sekolah Dasar
Islam Terpadu), kemudian berpindah ke sekolah alam, dan terakhir berpindah
ke sekolah Islam internasional. Dengan mengajar di berbagai sekolah unggulan
tersebut, wawasan kependidikannya semakin lengkap. Tak heran dengan
penguasaan berbagai konsep pendidikan dan kurikulum tersebut, kini posisi
tawar dia sebagai guru atau konsultan pendidikan semakin bagus.

Sebagai guru, meskipun guru di sekolah Islam internasional, tetap saja ia
dihadapkan pada realita tingginya kebutuhan keluarga yang semakin meningkat.
Guna menutupi tingginya pengeluaran yang dirasa belum sebanding dengan
gajinya, maka beliau pun banyak menerima tawaran menjadi guru privat selain
menjadi MC pada pesta-pesta pernikahan atau acara-acara lainnya. Kesibukan
Siswoyo memang luar biasa. Selain sibuk di dunia pengajaran, dia juga aktif
dalam kegiatan berdakwah.

Rupanya kesibukan ayahnya yang luar biasa tersebut menjadikan putrinya Fina
Nurul Izzah, siswi kelas 4 SDIT, menjadi uring-uringan kehilangan perhatian
ayahnya. Beberapa kali ia minta agar ayahnya menyempatkan beberapa jam
sehari untuk mengajari hal-hal yang belum dikuasai atau ingin dikuasainya
dari mata pelajaran di sekolah. Tetapi karena sibuk, Siswoyo kurang
memperhatikan dan tidak menganggapnya sebagai hal yang serius atau
prioritas. Ia mencoba agar sang isteri ikut menangani. Rupanya isterinya
juga kurang telaten dan sang isteri pun termasuk orang yang luar biasa
sibuk, terutama dalam urusan berdakwah membangun ummat.

Pada puncaknya, ketika Fina mengetahui ayahnya sibuk memberikan les privat
kepada anak orang lain -sedangkan ketika Fina sendiri minta diajarin sesuatu
ayahnya selalu mengelak dengan berbagai alasan, karena tidak sabar melihat
perilaku orangtuanya itu, ia berujar ngambek, "Abi gimana sih, anak orang
lain diajarin, anak sendiri tidak. Udah deh. pinterin aja anak orang lain,
anak sendiri biarin aja bodoh. "

Sebenarnya Siswoyo sering menerima sindiran-sindiran serupa atas
ketidakpuasan Fina. Namun kali ini Siswoyo merasakan perkataan putrinya itu
sebagai peringatan keras bagi dirinya. Ia pun mencoba berenung, benar bahwa
ia banyak memberikan les privat atau kegiatan dalam rangka membantu anak
orang lain. Ia seakan melupakan bahwa dia pun memiliki murid istimewa yang
sekaligus adalah anak-anaknya sendiri. Pada puncak kesadarannya ia berkata
lirih kepada saya, 

"Alangkah bodohnya saya Pak, masak saya sibuk memberi les privat kepada anak
orang lain, anak sendiri tidak. Anak orang lain dipinterin sedangkan anak
sendiri tidak. Astaghfirullah, Kalau mau diturutin banyak les privat yang
menunggu saya. Tapi sudahlah, saya tidak mau lagi banyak-banyak terima les
privat, saya ingin ngajarin anak-anak saya sendiri. Buat apa dapat uang
banyak-banyak kalau hasilnya anak tidak terperhatikan. "

***

Ambisi memperoleh dunia terkadang menjadikan orang tua lupa terhadap
pendidikan anak. Kasus Siswoyo adalah contoh kecil saja.. Banyak sekali
kasus lain yang jauh lebih parah dampak dan pengaruhnya bagi anak. Jika Fina
hanya sekedar merajuk dan banyak mengkritik karena kehilangan perhatian,
banyak anak-anak yang melampiaskan dalam bentuk yang lebih parah, seperti
tindak kekerasan, pergaulan bebas dan narkoba. Siswoyo patut bersyukur,
karena bentuk kejanggalan yang ditemuinya tidak begitu signifikan dan parah
dan ia patut bersyukur pula karena bisa berintropeksi dan memperbaiki
langkah karena kritikan putrinya tersebut sehingga masa depan anak-anaknya
akan bisa lebih baik.

Banyak orang tua yang enggan mawas diri terhadap perilaku anaknya sehingga
dampak yang terjadi nampak sangat parah. Saya memiliki contoh nyata, di
kompleks tempat saya tinggal terdapat dua anak yang kecanduan narkoba berat.
Jauh sebelumnya, beberapa tahun yang lalu, isteri saya telah mengingatkan
ibu dari anak tersebut bahwa ada sesuatu yang aneh pada dirinya dan isteri
saya mohon agar anak tersebut lebih intensif diperhatikan. Rupanya, sang ibu
merasa tersinggung dan meremehkan. Gejala tersebut baru dirasakan dan
disadari ketika ia mengetahui banyak barang-barang berharga di rumahnya
raib. Bukan dirampok atau dimaling, melainkan diambil anaknya sendiri untuk
memuaskan dahaganya akan narkoba. Naudzubillah.

Siswoyo mawas diri untuk memperoleh harta sekedarnya asal bisa memperhatikan
anaknya. Boleh jadi, banyak orang yang berambisi memperoleh harta bahkan
dengan cara haram. Padahal Al-Jauzi mengingatkan bahwa jika harta yang
diperoleh adalah dari barang haram, seluruh tindakannya akan selalu berada
pada jalan yang haram. Pada contoh anak yang terkena narkoba seperti
pengalaman isteri saya tersebut, boleh jadi ini adalah peringatan bagi orang
tua yang mengusahakan harta bagi anaknya dengan cara tidak halal atau orang
tua yang tidak teguh memeliharanya dien-nya. Kini anak yang terkena narkoba
tersebut belum sepenuhnya sembuh dari deritanya. Padahal harta yang terkuras
untuk mengobati dia sudah begitu amat memadai. Boleh jadi itu adalah cara
Allah memusnahkan hartanya yang tidak berkah.

Prof. Dr. Mutawalli Asy Sya'rawi mengatakan bahwa manusia yang tidak beriman
kepada Allah, tidak segan-segan melakukan pekerjaan yang hina dina. Kita
tidak bisa mempercayai manusia seperti itu sedikitpun karena ia bisa saja
menikam kita dari belakang, atau menggiring kita ke suatu tempat yang
menjerumuskan, atau menipu-dayakan kita dengan seribu satu kecurangan dan
kejahatan untuk merampas harta kita atau untuk memperkosa kehormatan kita.
Ia dapat melakukan apa saja dan terhadap siapapun juga.

Boleh jadi karena tiadanya keimanan itulah yang menjadikan sentuhan
pendidikannya terhadap anak teramat sangat kurang. Bisa saja ketika ia jima'
terhadap isterinya dia tidak membaca doa perlindungan, waktu lahir anaknya
dia tidak meng-adzankan dan mengi-iqomatkan, waktu aqiqah dia tidak
membacakan doa perlindungan, saat sholat (jika melakukan) tidak terlintas
berdoa untuk anaknya, di keseharian juga tidak mengajarkan hal-hal yang baik
dan utama terhadap anak, dan lain-lain.

Kisah Siswoyo mengingatkan saya tentang bagaimana sulitnya mendidik anak.
Terlebih di tengah degradasi moral pada zaman sekarang ini. Sungguh, teramat
berat perjuangan kita untuk membentengi mereka terhadap pengaruh-pengaruh
buruk. Dan hanya dengan kekuatan dan pertolongan Allah-lah orang tua bisa
mengarahkan anak-anaknya menjadi anak shaleh sesuai dambaannya.

Alangkah bodohnya jika kita hanya menyandarkan proses pendidikan anak pada
upaya manusiawi semata, dengan menyekolahkan ke tempat yang bagus, dengan
memberikan guru privat yang bagus, dengan memberikan fasilitas yang bagus,
dan lain-lain yang bagus. Namun pada sisi lain kita tenggelam dalam
kesibukan sendiri tanpa ada kepedulian terhadap anak walau sekedar
menanyakan atau berdoa untuknya. Syukur jika kita sibuk dalam meolong agama
Allah, maka Allah pun akan menolong kita dengan penjagaan Allah atas anak
kita. Yang memprihatinkan, kita sibuk mengejar harta dan sama sekali tidak
melibatkan kekuasaan ilahi dalam masalah penjagaan anak.

Dalam upaya apapun kita tidak lupa bertawwakal kepada Allah menyerahkan
segala urusan. Namun sering kali kita jumpai orang tidak bisa bertawwakal
mendidik anak. Jika kita memang betul bertawwakal, maka kita pun akan
merawat keimanan kita, kita akan senantiasa berdoa untuk anak-anak kita,
kita akan senantiasa memberikan perhatian semampunya, -dan yang sering
dilupakan manusia, senantiasa mengevaluasi dari mana asal harta-harta kita
dan bagaimana kita telah membelanjakannya.

Dewasa ini kita menyaksikan begitu dahsyatnya penyimpangan yang terjadi pada
anak bahkan diluar perkiraan kita sebelumnya. Banyaknya kasus korupsi yang
merebak, banyaknya aliran sesat yang terkuak, dan banyaknya kehidupan
sekuralisme yang semarak, seakan membuktikan kebanaran dari sebab dan akibat
dari ayat-ayat-Nya yang mulia.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita untuk bertawwakal dengan
sebenar-benarnya, termasuk dalam mendidik Anak. Amin.

Waallahu'alam Bishshawwab. 

 

 

Kirim email ke