Indahnya Berprasangka Baik

Penulis : Rahima

 

Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan
sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan
sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk
sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10 km dari rumah
peninggalan orangtua mereka.

 

Suatu ketika sang kakak berdo'a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil
supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi
mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia
miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaan tempatnya bekerja.

 

Lalu sang kakak berdo'a memohon seorang istri yang sempurna, Allah
mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis
yang cantik serta baik akhlaknya.

 

Kemudian berturut-turut sang kakak berdo'a memohon kepada Allah akan sebuah
rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya
bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu
mengabulkan semua do'anya itu.

 

Sementara itu, sang adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap
sederhana, tinggal di rumah peninggalan orangtuanya yang dulu dia tempati
bersama dengan kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan
pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering
kali harus berjalan kaki untuk mengaji ke rumah guru mereka.

 

Suatu saat sang kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya
dengan perjalanan hidup adiknya. Dia dia teringat bahwa adiknya selalu
membaca selembar kertas saat dia berdo'a, menandakan adiknya tidak pernah
hafal bacaan untuk berdo'a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk
menasihati adiknya supaya selalu berdo'a kepada Allah dan berupaya untuk
membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga
do'a-do'anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

 

Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang
begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas
nasihat itu.

 

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai
meninggalnya sang adik itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia
merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya
sehubungan do'anya tak pernah terkabul.

 

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orangtuanya sesuai dengan amanah
adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada
selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya
yang berisi tulisan do'a, diantaranya Al-Fatihah, shalawat, do'a untuk guru
mereka, do'a selamat, dan ada kalimah di akhir do'anya : "Ya, Allah. Tiada
sesuatu pun yang luput dari pengetahuanMu. Ampunilah aku dan kakakku.
Kabulkanlah segala do'a kakakku. Bersihkanlah hatiku dan berikanlah
kemuliaan hidup untuk kakakku di dunia dan akhirat."

 

Sang kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana
ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo'a untuk memenuhi nafsu
duniawinya. 

 

 

 

Kirim email ke