Madrasah Cinta
(dalam rangka memperingati Hari Ibu, 22 DES 2007)
Oleh: Bayu Gautama
Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti
jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh,
seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang
akan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari
seorang bidan; "positif".
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih
dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda
baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil diperutnya.
Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagia-
kah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu
menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruh
kannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia.
Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak
peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode
cinta baru saja berputar.
Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak.
Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan
sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak.
Si kecil baru saja berucap "Ma." segera ia mengangkat telepon untuk
mengabarkan ke semua yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri,
ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil
terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya
menyaksikan langkah awal kesuksesannya.
Meskipun di saat yang sama, pikirannya terus
menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti
rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.
"Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada dipasar
berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau
keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue.
Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan
kuenya,
setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli
baju
untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak.
Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang
ia
harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.
Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas,periksalah
catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak,
2.Beli susu anak, nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain.
Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya.
Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap
terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan
agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.
Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah
dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby
sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang
bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela
menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar
tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang
melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari.
Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak
pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau
harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-
pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata
barang sedetik.
Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng
ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun mendongeng.
Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-
anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu
kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat,
"Sudah makan belum?" tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah.
Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya
itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di
kampus.
Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan ter-
penting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya,
siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata?
Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap.
Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan.
ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin.
Disaat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan
curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang
tertambat,
yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"
Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang
usianya. Ia pun adar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu
pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu meninggal, ibu ingin
anak-
anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian".
Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya.
"Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak
kecil," ujarnya.
Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana
mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah
mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya,
sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: CINTA. Sekolah yang
hanya ada satu guru: PECINTA. Sekolah yang semua murid-muridnya
diberi satu nama: yang DICINTA.**