Tahun "Baru" Oleh: Samuel Mulia, penulis mode dan gaya hidup
Belum pernah rasa senang saya begitu memuncak seperti saat saya menyambut pergantian tahun. Menyambut hari jadi saya saja, saya tak seantusias menghadapi datangnya detik Tahun Baru. "Mungkin sudah tambah tua ya, Mas. Tambah pikun. Malaslah menyambut kepikunan. Ya, tak?" komentar teman saya yang kemarin bersama saya mengunjungi rumah jompo. Saat itu dia malah menuntun saya dengan memegang lengan saya yang seperti kaki ayam sambil berkata, "Opa, Opa, sini, jangan kegenitan, nanti jatuh." Tahun yang baru buat saya seperti penghapus. Oleh karena itu, saya selalu menanti dengan kesabaran superrendah. Kalau bisa dipercepat, that much even better. Karena saya tak sabar menghiasi perjalanan saya yang baru dan ingin cepat mengubur album lama sejumlah tiga ratus enam puluh lima halaman yang selain memuat hal baik dan indah, juga tak sedikit hal menyakitkan. Pekerjaan yang tak memenuhi target, cita-cita yang setengah dan kandas sama sekali, termasuk pacaran yang tak berhasil meski kata ramalan bintang tahun ini saya dapat jodoh. Kalau dipikir-pikir lagi, janji mendapat jodoh sudah saya dengar dari sejak pompa bensin bernama Pertamina belum mengganti dekor bangunannya menjadi seperti sekarang ini yang malah terlihat tak bedanya dengan saingannya. Tetapi karena dasarnya geblek, yah. hal yang seperti itu masih saja saya percayai. Parah Saya mau sabar tahun ini, tetapi enggak berhasil. Ingin menabung, enggak berhasil pula. Mau punya kulit cantik, dokternya enggak menyerah, sayanya yang malah menyerah. Malah sebelum ke dokter, saya sudah dibuat putus semangat saat tiba di sebuah gerai perawatan kulit buatan Perancis. Si mbak penjual yang rias wajahnya, seperti lampu neon, mengatakan, "Wah, kalau lihat kulitnya Mas, saya sarankan ke dokter saja. Mungkin produk kami tak bisa menolong. Ini hanya untuk kulit yang tak separah seperti Mas." Parah? Ya. tahun ini saya memang parah. Berencana mau ini, dapatnya itu. Mau ke sana eh. jadinya kemari. Mau di atas, malah tertindih lagi di bawah. Mau memaafkan, weleh, weleh, weleh, repotnya. Mau minta kalau bisa tenggat tulisan ini diundur, sama repotnya. Di atas semua itu, saya adalah manusia yang tak suka menyimpan kenangan lama, baik itu bagus atau tidak. Saya tak mau dikaitkan dengan kejadian masa lalu. Jadi, kalau bisa Tahun Baru secepatnya terjadi karena saya tak mau dikaitkan lagi dengan peristiwa kedaluwarsa. Saya tak pernah menyimpan kartu natal atau kartu ulang tahun dari masa lalu. Itu tak pernah tersimpan, tak pernah tertempel di dinding, atau berdiri dengan cantik di meja kerja, seperti meja kerja beberapa teman saya. Surat pacar saya saja saya buang begitu habis dibaca. Bukan soal saya tak cinta, saya memang tak suka menyimpan. Kalau saya menemukan problem dalam surat itu, yaa... akan saya selesaikan segera. Kalau cuma mau yayang-yayangan, saya akan telepon juga. Jadi, yayang-yayangan-nya di telepon atau di SMS. Seperti saat Natal kemarin, ada dua makhluk hidup yang membuat saya melayang lewat SMS. Satu hal yang tersimpan adalah dari surat tanda pembayaran listrik, telepon, dan deposito yang sifatnya sangat administratif. Itu sebetulnya juga terpaksa. Hanya, mau apalagi. Saya duduk termenung setelah mengevaluasi kegiatan dan cita-cita saya selama setahun ini. Selagi momen termenung itu berlangsung, pertanyaan aneh tiba-tiba muncul di benak saya. Pertanyaannya, masihkah sebenarnya ada yang baru untuk saya pada Tahun Baru? Tak ada yang baru Kemudian saya mencoba mengintrospeksi diri lagi. Kali ini lebih cermat. Saya ingin panjang umur, itu sudah sejak lama saya inginkan, saya mau negeri ini aman dan sejahtera bebas dari korupsi, harapan itu bukan harapan baru. Jakarta sudah banjir tiap tahun dan saya berharap jangan menimpa lagi, eehhh. ya menimpa lagi. Dan harapan untuk tak tertimpa air bah itu bukan harapan baru. Saya mau menjadi manusia sabar, rendah hati, teman-teman saya akan tertawa terbahak karena setiap tahun saya bercita-cita seperti. Jadi, itu pun bukan harapan baru. Saya mau mendapat jodoh, sukses, kaya raya. Itu juga bukan hal dan harapan baru. Itu sudah ada belasan tahun lalu, sejak pertama kali saya iri mengapa teman-teman saya bisa dapat jodoh dan kaya raya. Saya mau naik gaji, itu juga bukan harapan baru. Saya sakit hati, itu bukan hal baru. Bercita-cita untuk tidak sakit hati dan mencoba mengerti orang lain, itu bukan hal dan harapan baru. Karena tahun lalu saya mengharap bisa seperti itu, tetapi apa daya kandas di seperempat jalan. Kalau saya mau menambah kekayaan, selingkuhan, koleksi lukisan atau mobil, itu juga bukan hal dan harapan baru karena sudah lama saya menginginkan itu. Kegiatan menambahkan pun bukan hal baru. Saat saya memiliki lima pasang sepatu lalu menjadi tujuh, saya juga sudah melewati masa saat memiliki satu pasang sepatu menjadi tiga. Jadi, menambahi, mengurangi, membagi dan mengalikan, juga bukan hal dan harapan baru. Jadi, selama ini saya bergembira menyambut Tahun Baru dan baru sekarang saya sadar hanya memperpanjang harapan-harapan lama untuk terjadi lagi pada Tahun Baru. Kalau hanya merayakan bergulirnya angka enam ke angka tujuh, tentu itu sah-sah saja. Tetapi, sekali lagi saya diingatkan saya masih memiliki jam tangan buatan zaman kuda gigit bolu yang kalendernya pun bergulir setiap hari. Jadi, melihat angka bergulir pun bukanlah hal baru. Lalu, apa coba gunanya saya bergembira menyambut Tahun Baru, lha wong pada Tahun Baru itu keadaan saya sama sekali tak ada yang baru. "Yaaaa... pasti adalah, Mas. Eh. by the way, lo belum disunat kan? Dan, lo belum pernah berharap itu, bukan?" kata teman saya. Belum lagi saya membalasnya, ia sudah nyerocos lagi. "Maksud gue, mulut lo itu yang disunat." Sumber: Kompas
