Birokaraten

Sudah beberapa minggu ini saya bertandang ke sebuah lembaga departemen di 
kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.  Tujuan kedatangan saya memberi pendampingan 
proses penerjemahan situs web departemen tersebut ke dalam bahasa Inggris.

Hari pertama sudah menjadi petualangan yang menantang. Hari ini diisi dengan 
briefing awal berisi penjelasan singkat seputar alasan, maksud dan tujuan 
diadakannya pendampingan ini. Dimulai dengan sambutan Bapak Kepala Sub Bagian 
yang punya hajat, disambung oleh sambutan rekan saya, dilanjutkan dengan 
dimulainya sesi pendampingan.

Entah kenapa ketika Bapak Kepala Sub Bagian memberi kata pengantar tidak 
seorangpun terlihat menyimak. Entah karena membosankan, terlalu muter-muter 
omongannya, orangnya tidak menyenangkan atau karena hal lain saya nggak tau 
persis. Ibarat jaman sekolah, yang penting nggak berisik lah…

Penampilan saya memang tidak terlihat ibu-ibu karena selera pakaian saya tidak 
seperti layaknya mereka. Gaya saya juga tidak menunjukkan ibu-ibu karena 
mungkin terlalu funky. Kemampuan saya? Wah, masa iya tidak meyakinkan. Kalau 
memang tidak meyakinkan, masa sih peserta hari pertama yang berjumlah hampir 15 
orang itu bisa termotivasi oleh saya? Artinya mindset yang saya tanamkan 
setidaknya cukup ampuh di hari pertama itu. Mungkin bagi si Bapak Kepala Sub 
Bagian yang punya hajat itu kurang menunjukkan kemampuan saya. Okelah…

Si Bapak Kepala Sub Bagian yang punya hajat ini gayanya birokrat sekali. Dia 
ingin agar segala sesuatu yang terjadi diketahuinya. Jangan-jangan kalau saya 
mau ke toilet juga harus ijin padanya? Pantas saja semua peserta akan terdiam 
ketika si Bapak Kepala Bagian yang punya hajat ini di dalam ruangan dan 
bertolak belakang menjadi aktif ketika ia keluar ruangan.

Buat saya, kehadiran Bapak Kepala Sub Bagian yang punya hajat ini mengganggu 
karena membuat kelas jadi pasif dan kaku.  Belum lagi segala omongannya bisa 
terbalik di hari yang lain. Wah repot nih…  Masa setiap perbincangan harus 
direkam. Tidak hanya itu, gaya si Bapak Kepala Sub Bagian ini juga jumawa 
sekali. Seolah-olah hanya dia yang paling benar dan hebat.

Pada suatu hari, saya terlambat setengah jam. Padahal saya sudah kirim SMS ke 
rekan saya untuk mengabarkan. Ternyata rekan itu nggak terima SMS. Jadilah 
setibanya saya di sana disemprot sama si Bapak ini. Itulah pejabat. Orang 
bersalah dan minta maaf eh malah kesalahannya di-blow up.
“I’m very deeply sorry, Sir. It will never happen again,” kata saya sambil 
menekuk ego.
“Yes, you must!” Katanya jumawa.

Idih, ga ada dalam english conversation jawaban seperti itu. Aneh nih orang. 
Kultur birokratnya kental bener… Untung dulu ibu saya pernah kerja di bawah 
Departemen tersebut. Musti digertak orang ini. Akhirnya saya cari sana-sini 
dengna bantuan ibu saya. Ketemu beberapa nama. Diantaranya Wakil Ketua Mahkamah 
Agung RI. Wah dapet kartu As sekop nih. Dalam permainan kartu, As sekop 
memiliki nilai paling tinggi.

Hari ketiga ketika kebetulan tidak ada peserta, maka saya langsung 
berakrab-akrab dengan si Bapak ini. Saya selipkanlah orang-orang yang telah 
saya dapatkan namanya itu. Apalagi si Bapak itu Nasution, nenek saya Nasution, 
si Tante Wakil Ketua Mahkamah Agung itu juga Nasution. Masa dia ga kenal?

Hari itu berlangsung biasa saja. Tapi hari-hari berikutnya si Bapak itu tidak 
lagi menunjukkan batang hidungnya. Ampuhkah jurus saya? Nggak tau. Yang penting 
saya nggak diganggu lagi.

Beberapa hari kemudian, saya datang terlambat setengah jam. Di depan gedung, 
terparkit mobil sedan mewah warna hitam mengilat berplat nomor RI 19. Wah ada 
Pak Menteri nih. Tumben? Di lantai dasar, saya ketemu sama peserta coaching 
yang kantornya di lantai 3.
“Mbak, demi kesehatan, nggak usah naik ke atas deh. Mati lampu, semua lift 
mati.”
Waduh! Lantai 6 tempat coaching itu kan jauh bener. Gimana nih? Tapi saya harus 
minta paraf di visit form sama Bapak contact person?

Akhirnya dengan susah payah menghitung anak tangga, saya sampai juga di lantai 
6. Fiuh… luar biasa. Capek beneerr…. Saya langsung ke ruangan Bapak contact 
person.
“Halo Bu, mati lampu nih dari jam 8 pagi.”
“Ya ampun! Ini kan udah jam 10.30. Belum nyala juga? Padahal di bawah ada RI 19 
parkir.”
“Wah, dia sih punya lift sendiri dan kantornya ga bakal mati lampu. Nggak 
ngerasain kaya kita gelap-gelapan seharian.”

Wah, enak betul jadi pejabat negeri ini. Nggak ikut merasakan penderitaan 
pegawai. Departemen itu punya 3 gedung. Tempat biasa coaching itu di lantai 6. 
Pak Menteri di gedung yang sama di lantai 7, lantai tertinggi. Dua gedung di 
kanan-kirinya juga mati lampu. Berapa jumlah karyawan yang sengsara? Nggak 
boleh pulang tapi nggak bisa kerja. Komputer mati. Apa nyalain komputer pake 
elpiji tabung kecil hijau itu?

Memang, kerja buat institusi pemerintah itu bikin capek hati. Udah kitanya ga 
maju, kulturnya juga banyak unggah-ungguh, progress-nya lelet. Kalo bukan demi 
uang untuk nutupin cetak buku sih, ogah deh!

Pantes aja negeri ini nggak maju, wong kultur kerjanya juga nggak maju.
Cuman bisa berdoa semoga cepet berlalu supaya selesai dan honor keluar. Abis 
itu? Bye bye pemerintah…

Salam Damai,

G. Lini Hanafiah
Via Lattea Foundation
www.via-lattea.org
ym: thegaris

Kirim email ke