Tentang Album Iwan Fals Cikal (REVIEW)


Album               : Cikal

Artist                 : Iwan Fals

Produksi           : Indo Music Box

Rilis                  : 1991

Format              : Kaset



Dear Friends,



Pada tahun 1991 Iwan Fals memiliki keinginan yang kuat untuk merilis
album barunya, padahal  Iwan baru saja menyelesaikan proses rekaman
dengan SWAMI II, Iwan Fals menyampaikan keinginan tersebut kepada Cok
Rampal, Iwan yang akan membiayai semua biaya produksi album tersebut, 
Cok Rampal setuju asalkan tidak menyalahi kontrak dengan SWAMI II, pada
saat itu belum tahu siapa saja musisi yang akan terlibat dalam album
tersebut. Cok mengusulkan Mates pada Bass, Gilang Ramadhan pada Drums
dan Totok Tewel pada gitar, musisi yang lain nanti kita fikirkan di
studio saja, Iwan Fals setuju, demikian dialog yang terjadi pada saat
itu di Lembang, sambil teriak kegirangan Iwan menyebutkan satu persatu
nama musisi pendukung albumnya " Cok Rampal, Mates, Gilang Ramadhan,
Totok Tewel ". Pada saat itu Iwan Fals dan Cok Rampal menyamakan
persepsi, temanya nuklir, lagu pada saat itu belum ada, imajinasi
berjalan, berfikir lebih serta kontemplasi. Akhirnya ketemulah Gins
Studio. Pada saat proses mengerjakan album ini, begitu banyak menyita
energi dan sangat melelahkan, terutama terjadi pada Iwan Fals dan Cok
Rampal.

Ada sepuluh lagu yang terdapat dalam album Cikal ini yaitu pada side A :
Intro, Untuk Yani, Cikal, Pulang Kerja, Alam Malam. Pada side B: Ada,
Untuk Bram, Cendrawasih, Proyek 13, " ….."

Gambar yang dibuat anaknya Iwan Fals yang bernama Annisa Cikal Rambu
Basae dijadikan sebagai  Ilustrasi cover dengan sampul yang dominan
warna hitam, desain grafis oleh Work gallery dan fotografi oleh Harry
Suliztiarto. Musisi yang ikut mendukung album Cikal Iwan Fals ini adalah
Cok Rampal, Totok Tewel, Mates, Gilang Ramadhan, Embong Rahardjo, Yunus,
Andi.

Album Cikal banyak menggunakan bunyi-bunyi symbol, sastranya sulit
dicerna, register peralatannya banyak, ini adalah musik ambience yaitu
musik suasana yang mewakili perasaan.

Dibuka dengan lagu Intro yang dinyanyikan Iwan hanya dengan akustik
gitar-nya, gelap, terang, dan ruang, gitar kayu yang dimainkan
melahirkan tanya dan selalu bertanya. Untuk Yani judul lagu ini
didedikasikan terhadap Yani yang adalah seorang aktifis, lagu ini
dikerjakan oleh Iwan Fals dan Mahesa Ibrahim atau yang akrab disapa Bram
Nabi. Lagu dengan pattern ballad yang ceria, tiupan harmonika dari Cok
Rampal semakin membuat kental nuansa ballad yang ada, Andi bermain harp
blues. Pada komposisi Cikal , Iwan menggunakan instrument akustik gitar,
tambourine, dan kelonongan sapi, Totok tewel menggunakan Timpani.
Komposisi dengan judul Pulang Kerja dimana liriknya mencoba
mendeskripsikan kehidupan manusia  yang dinotasikan sebagai
simbol-simbol seperti harimau, kucing hutan, berang-berang, tikus salju,
dan kepasrahan manusia di dalam hidupnya yang diserahkan sepenuhnya
kepada sang pencipta seperti liriknya berikut ini… duhai langit,
duhai alam raya, kuserahkan langkahku padamu, duhai ada, duhai tiada,
duhai cinta ku percaya…, ada makna religi yang hadir di dalam lagu
tersebut. Pada akhir lagu ada koor  dari Cok Rampal,  Totok Tewel dan
Yunus, pada komposisi ini Iwan Fals menggunakan harmonika dan akustik
gitar, Cok Rampal menggunakan slide gitar dan akustik gitar, Totok Tewel
menggunakan elektrik gitar, Mates pada Bass, Gilang pada drums, serta
Yunus menggunakan akustik gitar.



Alam Malam, komposisi ini dengan notasi lirik-lirik yang bercerita
mengenai religi. Komposisi Ada, kembali menghadirkan tema religius
seperti liriknya Ada yang ada, ada yang tak ada, nyatanya ada, nyatanya
tak ada, antara ada antara tak ada, ada diantara ada dan tak ada…,
ada atmosfir kengerian yang hadir dalam komposisi tersebut dimana Cok
Rampal meniupkan terompet senterewe dan voice illumination, komposisi
Ada adalah musik ambience. Pada akhir lagu frekuensi menjadi naik dengan
eksplorasi pada sound elektrik gitar-nya Totok Tewel dan gebukkan
drums-nya Gilang Ramadhan menutup komposisi tersebut.

Komposisi Cendrawasih, lirik lagu ini dimana Iwan Fals bercerita
mengenai simbol sayap-sayap cinta, Cok Rampal bereksplorasi dengan
instrument Hasapi yang menghasilkan frekuensi yang khas. Embong Rahardjo
bereksplorasi dengan bunyi-bunyian yang keluar dari saxophone dan flute.
Ada koor pada lirik sayap-sayap cinta membela bianglala…,
sayap-sayap cinta membela cakrawala.., sayap-sayap cinta nuraninya..

Komposisi Proyek 13, dibuka dengan petikan bass-nya Mates dan tiupan
saxophone-nya Embong, dinamakan proyek 13 karena pada saat itu
pemerintah sedang mengerjakan proyek 12, berawal dari kondisi  tersebut
akhirnya lagu tersebut dinamakan Proyek 13, proyek 13 bercerita mengenai
dampak dari rencana pemerintah terhadap pembangunan PLTN (pembangkit
listrik tenaga nuklir) di Muria, kengerian terhadap pembangunan PLTN
bila terealisasi, atmosfir kengerian tersebut di tuangkan dalam voice
illumination dan bunyi-bunyian yang keluar dari terompet senterewe juga
teriakan-teriakan Cok Rampal. Pada komposisi ini eksplorasi Mates pada
bass-nya sangat luar biasa, Mates bermain dengan sound-sound bass-nya
yang ajaib, bermain tidak seperti biasanya, Mates bereksplorasi dengan
bass-nya dengan filosofis tokoh Semar di dalam pewayangan.

Komposisi " ….. " sebenarnya adalah merupakan bagian penutup
dari komposisi dengan judul  Intro, yang diletakkan pada pembuka album
ini. Apresiasi masyarakat Jepang pada album ini sangat menarik dimana
pada saat Iwan Fals, Cok Rampal, Totok Tewel dan Inisisri membawakan
komposisi Proyek 13 di Shirataka Jepang, masyarakat Jepang yang menonton
meng-apresiasinya dengan berdiri (standing) dengan tangan kanan diangkat
keatas.



Best Wishes,

Jonny Herbart / 0818749607





Kirim email ke