Yahukimo, Pengalihan Isue Media soal Penolakan Impor Beras ? Jumat pagi, setidaknya yang saya perhatikan, ada 3 media massa nasional yg menurunkan berita soal bencana kelaparan di salah satu kabupaten di Propinsi Papua, Kab Yahukimo, dua media cetak, 1 media elektronik. Tak tanggung-tanggung, sedikitnya 55 warga di sana meninggal karena kelaparan, akibat ladang umbi-umbian, sebagai bahan makanan pokok warga di sana, gagalkarena hujan turun terus menerus sehingga umbi tidak tumbuh dengan baik. Spekulasi sebab lain, karena warga sibuk dilibatkan dalam kampanye pilkada pemilihan bupati kabupaten baru.
Keruan, berita ini di update terus menerus oleh media lain, lantaran bencana kelaparan begitu menyentuh sisi kemanusiaan kita. Selain menjadi komoditas, sekaligus menyentuh. Media massa begitu bersemangat melakukan updating, semua literatur mengenai Kabupaten Yahukimo di kumpulkan. Riset dadakan dilakoni. Hasilnya, penggelembungan isue soal bagaimana kondisi geografis Yahukimo, kondisi tanah, profil warga, kebiasaan warga dalam bertahan hidup, hingga kelalaian pejabat daerah yg dianggap tidak responsif, antisipatif terhadap cadangan pangan di wilayahnya sendiri. Saya mulai curiga ketika Presiden memberi pernyataan saat memberikan penghargaan pada kepala daerah yang berhasil menjadikan daerahnya memiliki ketahanan pangan yang baik. Presiden SBY memberikan pernyataan mengenai impor beras, agar tidak terlalu dipermasalahkan, karena hal itu dilakukan semata untuk mengantisipasi cadangan pangan nasional.(?) Sementara di Banten, 3 Kapal pengangkut beras yang dibeli pemerintah atas izin Departemen Perdagangan sedang menunggu bongkar muatan di pelabuhan di sana. Terkatung-katung karena mendapat kecaman, penolakan dari DPR, Petani, yang juga dibesarkan oleh pemberitaan media. Saya langsung teringat spekulasi pengalihan isue soal kenaikkan harga BBM, dan banyak lagi kebijakan pemerintah lainnya yang mendapat penolakan luas, lalu tiba-tiba ada isue lain yang seolah menutup isue sebelumnya. Mungkinkah ini "agenda setting" dari pemerintah ? Mungkinkah media massa di Indonesia terseret pada management isue dari pemerintah? Semua pejabat di Kab Yahukimo, sampai Gubernur Papua begitu mudah dihubungi media untuk memberi penjelasan. Bahkan ada seorang Produser dari sebuah media elektronik di telepon langsung ileh Bupati, sekedar memberitahu bahwa dirinya siap diwawancara mengenai bencana kelaparan itu. Kalau benar begitu, bagitu mudahkan media massa kita diarahkan oleh isue yang dihembuskan pemerintah? Sementara penolakan petani mengenai kebijakan impor beras masih berlangsung, tiba-tiba ada kasus yang bisa menjadi Pembenar oleh pemerintah untuk melakuan impor beras dari Vietnam, yang memang sedang surplus beras, sehingga mereka-pun melindungi petaninya, agar harga beras dalam negeri Vietnam tidak jatuh. Maka dijual-lah ke Indonesia, yang bila dalam hukum pasar pasti dijual dengan harga murah. Namanya juga kelebihan produksi. Bagaimana media massa kita? Mahbub El Amien , jurnalis radio di Jakarta ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery. http://us.click.yahoo.com/WpTY2A/izNLAA/yQLSAA/iPMolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ================================================================= "Morning greetings doesn't only mean saying 'Good Morning'. It has silent message saying that I remember you when I wake up. Wish you have a Great Day!" -- Ida & Krisna Jangan lupa untuk selalu menyimak Ida Krisna Show di 99.1 DeltaFM Senin - Jumat, pukul 06.00 - 10.00 WIB SMS di 0818-333582 ================================================================= Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/idakrisnashow/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
