Melejitkan Potensi Diri dengan Quranic Quotient
   
  Oleh  : Buya Vira 
Judul  : Quranic Quotient: Menggali dan Melejitkan Potensi Diri Melalui 
Al-Qur'an
Penulis  : Udo Yamin Efendi Majdi
Penerbita : Qultum Media, Jakarta
Cetakan  : Pertama, 2007
Tebal  : xvi + 196 halaman
Distributor : Gramedia, Gunung Agung, dan toko buku besar seluruh Indonesia
   
   
  "Buku yang ditulis oleh Udo Yamin Efendi Majdi merupakan karya yang —saya 
yakin— akan menambah kecintaan pembaca akan Al-Quran sekaligus menjadikannya 
sebagai pedoman puncak dalam menjalani kehidupan," tulis Ary Ginanjar Agustian 
ketika memberikan Kata Pengantar terhadap buku Quranic Quotient.
  Ungkapan pimpinan ESQ Leadership Center itu tidak berlebihan, sebab buku 
Quranic Quotient ini hadir dalam rangka back to Al-Qur`an. Penulis ingin 
meyakinkan kita bahwa siapa pun yang mengamalkan prinsip dalam Al-Qur`an, maka 
potensi dan kecerdasannya akan berkembang pesat. Setidaknya, buku ini menjadi 
sarana diskusi kepada siapa saja, terutama bagi generasi muda Islam yang ingin 
lebih mencintai Al-Qur`an dan mengembangkan potensi diri berdasarkan wahyu 
Ilahi.
Dalam buku ini, penulis mendiskusikan tentang: Nama dan Sifat Al-Qur`an, Fungsi 
Al-Qur`an, Kewajiban Terhadap Al-Qur`an, Pengaruh Al-Qur`an Terhadap Potensi 
Diri, dan Quranic Quotient. Kelima hal itu, penulis bahas dengan “personal 
essay”, dengan bahasa komunikatif, atraktif, dan mudah untuk dicerna oleh siapa 
saja. Selain itu, buku ini unik, karena setiap awal bab memuat puisi Sir. 
Muhammad Iqbal.
Pada Bab I, membicarakan 16 nama dan sifat Al-Qur`an. Dalam bab ini, kita 
sebagai pembaca akan menemukan pendapat Michael H. Hart —penulis bukunya 
‘Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah’ dan para orientalis 
tentang Al-Qur`an. Ada juga, kisah renaisannce (pencerahan) di Barat dan 
‘tidurnya’ umat Islam. Kita pun akan berkenalan dengan pencetus teori ilmiah 
Ibnu Al-Haitsam. Al-Khawarizm sang penemu Angka Nol. Al-Battani pencetus 
istilah Sinus, Kosinus, Tangen, dan Kotangen dalam Matematika, atau Azimut, 
Zenit, dan Nadir dalam Ilmu Astronomi. Ibnu Sina bapak Ilmu Kedokteran. Al-Razi 
penemu "Kimia Kontemporer". Ibnu Rusyd tokoh Filsafat. Ibnu Khaldun peletak 
Ilmu Sejarah dan Sosiologi. Dan tokoh yang lainnya. Tak ketinggalan, ada kisah 
masuk Islamnya dua tokoh terkenal, yaitu Cat Stevens —mantan artis Prancis dan 
Irena Handono —mantan biarawati.
Selanjutnya, dalam Bab II, kita akan menemukan 4 fungsi Al-Qur`an. Di sini ada 
cerita tentang Ahmad Deedat ketika diundang oleh raja Swedia, Subaza. Atau, 
kisah Dr. Keith L. Moore —ahli Embriologi Amerika, Profesor Tajasen Tahasen 
—seorang ahli Farmakologi Thailand,  Mr. Jacques Yves Costeau —ahli kelautan 
(Oceanografer), dan Prof. William Brown, masuk Islam karena menyaksikan 
kemukjizatan Al-Qur`an.
Lima kewajiban terhadap Al-Qur`an, penulis bicarakan kepada kita dalam Bab III. 
Kewajiban itu, antara lain (1) mengimaninya; (2) mempelajarinya; (3) 
mengamalkannya; (4) mendakwahkannya; dan (5) membelanya. Juga mendiskusikan 
jawaban, mengapa ada orang yang suka baca Al-Qur`an, tapi Al-Qur`an itu tidak 
menyentuh hati dan merubah tingkah lakunya? Ada cerita tentang kedekatan Pak 
Ary Ginanjar dan Bu Marwah Daud dengan Al-Qur`an. Ada cerita tentang interaksi 
Sir. Muhammad Iqbal terhadap Al-Qur`an. Ada kisah Harun Yahya. Ada kisah 
Abdullah bin Mas’ud .
Kemudian Bab IV, penulis mengajak kita untuk menjawab pertanyaan: “Siapa Saya?” 
atau “Apa Diri itu?” Apa itu potensi diri? Apa itu Ahsanu Taqwîm? Sebagai apa 
saya, menurut Al-Qur`an? Bagaimana saya membaca diri? Bagaimana cara saya 
memandang diri? Dan, berbicara tentang diri yang unik. Tidak lupa, membicarakan 
tentang empat potensi terbaik manusia, yaitu potensi intelektual, emosional, 
spiritual, dan fisik. Dan alasan, mengapa fisik tidak termasuk dalam kajian 
kecerdasan.
Sebagai lanjutan dari bab sebelumnya, trilogi kecerdasan (IQ, EQ, dan SQ) 
penulis bahas dalam Bab V dan kemudian ia hubungkan dengan tiga wahyu pertama 
yang turun kepada Nabi Muhammad . Ada juga tentang Kang Abik (penulis novel 
Ayat-ayat Cinta), Mbak Helvy (cerpenis dan mantan Ketua Umum FLP Pusat), dan 
Mas Fauzil (penulis buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah). Dan kita, diajak 
oleh penulis mengunjung Piramida Giza di Mesir, ketika ia berpendapat bahwa IQ, 
EQ, SQ versi barat tidak cukup untuk mengantarkan kita ke puncak sukses 
dunia-akhirat.
Maka dalam Bab VI, penulis menegaskan kepada kita bahwa selain tiga kecerdasan 
itu, kita juga butuh Quranic Quotient atau Kecerdasan Qur'ani. Ia juga 
mendiskusikan, apa itu makna sukses dan bahagia? Apa itu Ulil Albâb? Lalu, ia 
membahas 7 prinsip menggali dan melejitkan potensi diri dengan Quranic Qoutient 
beserta kiat-kiat praktisnya.
  Saat memberikan endorsement terhadap buku yang lahir dari rahim santri 
Universitas Al-Azhar Mesir ini, B.S.Wibowo —Trainer dan CEO Trustco Cipta 
Madani— berkomentar:: "Membaca judulnya pasti penasaran. Skiming bukunya tambah 
penasaran. Sebaiknya membaca sampai habis, itulah jawabannya. Sebuah buku yang 
memadukan antara pemikiran asasi dengan pemikiran kini. Sangat menarik dan 
wajar jika dipuji. Perlu dibaca untuk masa kini.” Bahkan, pengelola Rumah 
Dunia, Golagong, menambahkan: "Bacalah buku ini dan kita akan merasa malu, 
karena sudah melupakan Al-Quran, kitab yang kita akui sebagai milik kita.”


       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke