Hati2 dengan dokter dimedan & pelayanan di RS Gleni Internasional

Kejadian ini menimpa anak perempuan saya yg berumur 2 tahun 3 bulan. Tanggal 
12-04-2009 anak saya muntah2 dan lemas, kami bawa ke RS. Gleni. Kami minta 
dr.Johannus Wibisono.spa untuk periksa. Katanya anak saya kurang cairan & 
mungkin ada infeksi pencernaan, jadi harus diinfus. Disamping itu kami selaku 
orang tua diminta untuk segera selesaikan administrasinya dulu baru bisa 
berobat. Benar-benar bingung dan kesal. Tapi apa boleh buat segera kami 
selesaikan administrasi-nya agar anak kami segera dapat dirawat.

Sebelum diinfus anak saya masih bisa sadar dan juga masih bisa meminta tolong 
pada kami. Dan saat itu juga dia bilang gak mau dokter (mungkin juga dia 
mempunyai firasat). Setelah anak saya diinfus tidak berselang berapa menit, 
anak saya kejang & terus berangsur tak sadarkan diri. Kami pun bertanya kepada 
perawat disana kok dia kejang dan nampaknya tertidur? Kata perawat biar dia 
istirahat saja dan kejang itu gejala biasa (kebetulan dokter telah meninggalkan 
ruangan dengan meminta perawat untuk mengambil sample darah). Tapi tak lama dia 
kejang lagi sampai matanya belalakan dan mulut-nya mulai menggigit, buru-buru 
tangan saya dimasukkan agar tidak tergigit lidah-nya, kesusahan bernafas. 
Tetapi suster2 diruangan diam saja, sampai mertua saya berteriak baru dilakukan 
tindakan memompa secara manual. Karena tidak bisa maka akan dipasang alat, 
tetapi suster disana tidak bisa membuka alatnya, sampai suami saya yang 
membantu membuka.

Bagaimana kinerja kerja & profesionalisme petugas medis di RS Gleni yang 
terkenal & termahal di kota Medan? Mengapa anak saya menjadi koma setelah 
diinfus? Karena anak saya koma, maka dimasukkan ke ruang ICU.

Sebelum dibawa ke ruang ICU, anak saya dianjurkan untuk diambil sample darah 
dan dict scan kepala-nya, tapi untuk ct scan pun kita menunggu lama sekali 
(waktu ditanya ke perawat katanya masih ada pasien yang lagi CT Scan, padahal 
sebenarnya menunggu petugas-nya yang tidak di tempat), padahal anak saya 
keadaan sudah kritis.

Karena anak saya masuk keruang icu, dr.Johannus meminta dr.Chairul Yoel untuk 
mengecek anak saya. Tgl 13/04/2009 dilakukan rontgen paru2 anak saya. Oleh 
dr.chairul yoel dikatakan hasilnya bagus, tetapi ada kesalahan pemasangan 
selang katanya akan dilakukan perbaikan. Ternyata selama 8 hari anak saya 
dirawat di RS Gleni sama sekali tidak dilakukan perbaikan pemasangan selang, 
yang menyebabkan 1 paru2 anak saya tidak berfungsi, dimana paru2 tersebut penuh 
dengan sekret, susu basi yang tidak dibersihkan (yang akhirnya dilakukan 
perbaikan oleh dokter di Singapura) Dimana tanggung jawab seorang dokter 
spesialis anak yang terkenal dikota medan ?

Kami pun meminta dokter syaraf untuk mengecek anak saya dan karena di Medan 
yang terkenal adalah dr.Tonam sps maka kami pun meminta ia datang. Tapi apa 
kata dr.Johannus, dengan gaya arogan ia marah dengan kami ia tidak mau campur 
tangan lagi dengan urusan ini & meminta kami melihat prosedur. Seharusnya 
seorang dokter memilih menyelamatkan nyawa bukan melalui prosedur yang bertele2 
dan mengikuti gengsinya. Seharusnya seorang dokter bisa bekerja sama dengan 
dokter yang lebih berkepentingan untuk menyelamatkan nyawa pasien.

Dari hasil ct scan diketahui anak saya mempunyai tumor disebelah otak kanan yg 
cukup besar. Kami pun berkonsultasi dengan dr.Tonam sps & dr.Govar spbs. Dan 
kata semua dokter2 tersebut anak saya tidak bisa ditolong lagi.

Tgl 14/4 2009 kami berencana untuk membawa anak saya kesingapura dan semua 
telah disiapkan termasuk pesawat yang khusus�  untuk membawa pasien koma. Dari 
pihak dokter singapura sudah ok. Tgl 15/4 2009 paginya singapura dibilang tidak 
jadi karena anak saya belum stabil. Dan yang memberi resume ke dokter singapura 
adalah dr.Tonam sps. Apa yang ditulis dalam resume itu? Karena dari keterangan 
suster (kami bertanya ke suster) anak saya keadaan stabil, layak terbang dan 
yang kami carter adalah pesawat khusus. Detak jantung anak saya pada tgl 14/4 
102 dan pada tgl 15/4 82, memang menurun diangka 82 tapi ternyata angka 82 itu 
adalah normal (itu baru kami ketahui pada tgl 19/4,dari seorang teman yg pernah 
mengalami koma & dibawa kesingapura).

Jadi, mengapa anak kami ditahan? Apakah karena gengsi tidak bisa menyembuhkan 
anak saya atau karena uang? Karena ternyata dari kabar yang saya dengar kalo 
seorang pasien diopname dirs.gleni dan apabila akan dibawa keluar pasti 
dibilang tidak stabil, ditahan dengan bermacam-macam alasan. Apakah seorang 
pasien itu dianggap pohon uang,jadi ditahan. Dimana kode etik seorang dokter 
yang telah diminta sumpahnya?

Tgl 15/4 anak saya dilakukan MRI untuk melihat secara jelas tumor otaknya,dan 
pelaksanaan MRI memakan waktu hampir 2 jam lebih?

Tgl 18/4 kami meminta dr.Iskandar Japardy spbs untuk melihat anak kami 
(rekomendasi dari dokter singapura), katanya dilihat dari perkembangan anak 
saya tumor otaknya jinak dan dapat dilakukan operasi dimedan, gak perlu sampe 
keluar negeri,operasi cuma makan waktu 2 jam katanya. Dan yang melakukan 
operasi dr.govar dan kalau diminta ia pun mau membantu. Jadi kami diminta 
diskusi apakah mau dilakukan operasi. Tetapi apa yang dikatakan dr.iskandar 
japardy spbs kepada dokter singapura? Katanya anak saya kena kanker,gak bisa 
ditolong lagi. jadi,apa maksud perkataannya kepada kami ia bisa operasi,tapi 
yang dikatakannya ke dokter singapura dibilang tidak bisa lagi?

Sorenya anak kami dilakukan tes EEG, padahal menurut teman kami yg sebelumnya 
pernah koma, seharusnya dari awal tes tersebut telah dilakukan. Jadi bisa tau 
langsung apakah otak anak saya masih berfungsi atau tidak. Dan pada saat anak 
kami dilakukan tes EEG petugasnya mungkin tidak bisa, hal ini diketahui dari 
teman saya yg masuk ke ruang ICU untuk melihat ibunya yang kebetulan disebelah 
kamar anak saya. Katanya petugas angkat HP dan keluar bicara, padahal saat 
peralatan belum dijalankan kami yang sebelumnya diruang icu memakai HP diusir 
katanya radiasi, tapi kenapa petugas memakai HP dan menurut si teman saat 
melakukan tes EEG disingapura petugas sama sekali tidak boleh keluar. Dan kami 
menunggu pelaksanaan tes ini selama lebih kurang 1 jam, sedang disingapura cuma 
1/2 jam saja.

Tgl 19/4 karena kami sudah tidak tahan lagi, maka kami memaksa untuk membawa 
anak kami kesingapura. Kami mencari dokter lain dari singapura, dan katanya 
pesawat yang membawa anak saya menjamin tidak akan terjadi masalah karena 
pesawat sudah seperti ruang ICU (kata dokter medan tidak bisa dibawa terbang?).

Dan ternyata benar, anak saya sampai dengan selamat di Singapura (padahal saat 
terbang detak jantung anak saya 76), dan begitu sampai di RS Mount Elizabeth, 
anak saya lagsung ditangani (tidak bicara prosedur,langsung melakukan 
penyelamatan dulu). Dari sana kami baru tahu begitu parahnya pelayanan di RS 
Gleni yang katanya terbaik di kota Medan. Paru2 anak saya 1 dibuat rusak oleh 
dokter Medan , tapi dokter Singapura bisa menanganinya. Dan memang benar tgl 
20/4 pagi2 sekali dokter anak singapura sudah memberitahu kepada kami bahwa 
paru2 anak saya sudah baik,tinggal masalah tumor diotaknya. Kemudian suster 
yang membersihkan anak saya sangat terkejut melihat hidung anak saya kotor, 
tidak pernah dibersihkan, penuh dengan susu basi (waktu di RS Gleni anak saya 
minum susu melalui selang dihidung). Paru2 anak saya penuh dengan sekret yang 
jarang disedot oleh suster dimedan (dan memang benar selama dipesawat anak saya 
sering disedot sekretnya oleh dokter singapura yang memang datang dengan 
pesawat khusus).

Tgl 21/4 dilakukan CT Scan ulang disingapura yang hanya memakan waktu lebih 
kurang 15 menit. Dan diketahui anak saya terlambat ditolong (bukan tidak bisa 
ditolong lagi). Seandainya pada tanggal 15/4 kami bisa sampai disingapura 
mungkin anak saya masih bisa tertolong. Tanggal 24/4 anak saya berpulang kepada 
Tuhan.

Berarti, anak saya selama di RS Gleni kondisi stabil, karena anak saya mampu 
bertahan selama 5 hari di Singapura. Mengapa dikatakan tidak stabil, tidak bisa 
diterbangkan?

Pelayanan suster dimedan sangat parah. Pernah 1 kali kami memaksa masuk keruang 
ICU untuk melihat anak saya, ternyata anak saya mukanya sudah pucat kurang 
oksigen, karena selang oksigen lepas.. Dan suster2 disana tidak tahu, rupanya 
mereka ada pergantian shift dan pergantian shift dilakukan sambil bercanda, 
sampai2 anak saya selang oksigen lepas pun tidak tahu.

Kalau seandainya dokter dimedan tidak bisa menangani anak saya, seharusnya dari 
awal diberitahu (ada pasien yang menjalani bedah otak di Penang yang 
memberitahu bahwa dimedan tidak ada dokter yang bisa menangani bedah otak jadi 
kalau bisa dibawa keluar aja).

Kami tidak pernah menyesali yang telah terjadi, tapi ini merupakan suatu 
pengalaman & pembelajaran bahwa dokter di Indonesia (waktu di Singapura ada 
pasien dari Jakarta & Kendari berbagi cerita, katanya dokter mereka sudah 
angkat tangan tapi tetap tidak memberi izin keluar, akhirnya mereka memaksa 
untuk terbang) khususnya di Medan mungkin tidak melihat nyawa seseorang, yang 
dilihat hanya gengsi dan uang saja. Bayangkan saja dokter2 yang kami pakai 
adalah dokter yang terkenal di Medan, tapi tidak memegang kode etik seorang 
dokter yang tugas utamanya menyelamatkan pasien, tapi malah menahan2 seorang 
pasien yang akan berobat keluar negeri.

luv u all..

Lina Dewi



Toserba Indonesia -> http://www.facebook.com/people/Toserba-Indonesia/1214443167

---------------------------------------------------------------
Milis Jual Beli & Info Konsumen
http://groups.yahoo.com/group/iklan-produk
---------------------------------------------------------------

Gambar produk yang dijual, dan lain-lain:

http://groups.yahoo.com/group/iklan-produk/files/
http://groups.yahoo.com/group/iklan-produk/photos/




Kirim email ke