Tahun ini, menjelang Lebaran operator bukan hanya wajib memperhatikan kondisi layanan suara dan SMS. Layanan data pun perlu disiapkan matang-matang. Sebab, jumlah pengguna jejaring sosial dan penggemar chatting telah melonjak. Amat mungkin mereka tetap ingin senantiasa online dan eksis selama dalam perjalanan mudik.
Minggu lalu, penulis sengaja mengaktifkan layanan BlackBerry (BB) Axis, kemudian menempuh perjalanan darat dari Jakarta ke Jogja. Hasilnya, kinerja layanan BB Axis di salah satu jalur mudik itu pantas diberi predikat mengesankan. Hal yang mengejutkan, sinyal Axis ternyata lebih kuat dan merata daripada Indosat. Uji pakai dimulai sekitar pukul 06.00. Sambil sarapan, penulis menjalankan aplikasi Speedtest yang telah diinstalasikan di BB Bold 9700 alias Onyx. Dengan memanfaatkan aplikasi buatan Xtreme Labs Inc Kanada itu, kecepatan unduh (download) dan kecepatan unggah (upload) rata-rata dapat diketahui secara mudah. Mode jaringan di Onyx yang penulis gunakan sengaja diatur ke 3G & 2G. Dengan demikian, kala tidak mendapatkan sinyal 3G, handheld akan berpindah ke jaringan 2G. Tuntas makan pagi, penulis check out dari hotel di kawasan Kuningan, lalu bergegas ke Stasiun KA Gambir. Rute Jakarta-Purwokerto penulis tempuh via kereta api Argo Dwipangga. Karena rel kereta api lebih sering melintasi daerah yang tidak memajang papan nama di kiri-kanannya, penulis memerlukan "mata tambahan" untuk mengenali daerah yang sedang dilewati. Wujudnya berupa kombinasi antara GPS terintegrasi, BlackBerry Maps, dan Google Maps. Selama perjalanan dari Jakarta ke Purwokerto, sinyal Axis menghilang selama hampir tujuh menit saja. Hal itu terjadi ketika kereta melewati daerah Cilongok, Banyumas. Di lokasi lain, sinyal Axis selalu tertangkap oleh Onyx yang penulis pakai. Layanan BB pun selalu dapat digunakan. Sinyal Axis lebih sering terlihat penuh alias lima bar. Hanya sesekali sinyal Axis tak sampai menyentuh posisi maksimal. Contohnya, di perbatasan antara Subang dan Indramayu. Menurut Marc Proulx, General Manager Network Operations Axis, di daerah tersebut sinyal Axis sedang tidak maksimal akibat terjadinya pencurian perangkat. "Pencurian perangkat adalah masalah yang sering dihadapi oleh semua operator di Indonesia," jelasnya. Di bawah jendela Argo Dwipangga yang penulis tumpangi, tersedia sebuah colokan listrik. Iseng-iseng penulis melakukan satu uji pakai tambahan. Yakni, menjajal performa Indosat M2. Kartu IM2 diselipkan ke modem USB, kemudian modem itu ditancapkan ke laptop yang terhubung dengan colokan listrik. Ternyata, frekuensi Indosat kehilangan sinyal di jalur kereta api Jakarta-Purwokerto jauh lebih tinggi daripada Axis. Saat mendapatkan sinyal pun, layanan akses data belum pasti bisa digunakan. Sesampai di Purwokerto, perjalanan penulis lanjutkan dengan menumpang bus. Tujuan akhirnya Kota Gudeg. Sinyal Axis lebih menggila di jalur ini. Sama sekali tak pernah kehilangan sinyal dan nyaris tak pernah beranjak dari lima bar. Baik saat indikator di layar Onyx menunjukkan 3G maupun EDGE. Ketika melewati Gombong, layanan BB sempat bengong sekitar sepuluh menit. Selanjutnya, lancar jaya hingga Jogja. Kala berada di jaringan 3G, kecepatan unduh rata-rata yang penulis peroleh hampir selalu lebih dari 100 kilobit per second (kbps). Malahan pernah menyentuh 423,98 kbps. Hanya satu kali penulis mendapatkan kecepatan unduh rata-rata kurang dari 100 kbps, yakni 95,23 kbps. Sedangkan saat masuk ke jaringan EDGE, kecepatan unduh rata-rata terendah yang diperoleh adalah 54,55 kbps. Salam, Herry SW

