BismilLahirRahmanirRahim Assalamu'alaikum wa rahmatulLahi wa barakatuh,
Untuk Para "Ustadz" yang saya sayangi, Ada sedikit kritik saya pada Anda, para "ustadz" (baca: bukan ustadz beneran): Zaman sekarang ada perseorangan maupun sekelompok orang yang meng-haram-kan sesuatu yang di-halal-kan Allah swt, sementara kalau diajak berkomentar tentang "korupsi untuk bisa naik haji ONH Plus", malah diam, dan/atau menyuruh tutup mulut dan "jagalah hati", yang korupsi biarlah korupsi biarlah Allah swt yang "mengotori tangan-Nya" memberantasnya dan kita para "ustadz" (nan palsu ini) biar bisa ikut umrah bersama penjabat korup hitung-hitung nanti pulang disuruh ceramah di "baiti naari"-nya yang ber-AC dan "urusan dagang bakso lainnya" pun (bisa ditebak) akan lancar. Dan mudah. Semuanya lilLahi penjabat Ta'ala. *** Di Sumut, ada yang "ustadz" (baca: ustadz palsu atau ulama su') beginian. Di-umrah-kan penjabat korup, pulangnya berdakwah "yang baik-baik saja." Surge mulu, nerake itu tak ade - seperti kata Neale Donald Walsch dalam buku "Conversations with God", a trilogy for the Christians, yang menanggap bahwa mana bisa ada neraka wong dosa sudah ditebus oleh Yesus, tak iye. Yang penting koruptor manapun jangan lupa surah Az-Zumar 53: "janganlah (koruptor sejahanam apapun) berputus asa dari rahmat-Nya" Jadi, dengan shalat seratus ribu kali pahala (asal tidak dikali nol oleh "oknum malaikat" tertentu) di "masjidil halal", maka "insya 'Ustadz'", uang haram untuk umrah Ramadhan bukanlah menjadi "sesuatu dan lain hal." Awak yang bodoh ni bukan pulak mau menghalangi para koruptor dari rahmat yang akan diberikan (di neraka) nanti, tapi ingin bilang yang korup itu salah, dan Allah swt itu baik dan cuma menerima amal yang baik-baik dari usaha yang baik-baik. Surga neraka. Hitam putih. Bukan fuzzy logic. Sekalipun di surga dan neraka nanti bakal ada nikmat yang lebih besar untuk para nabi, syuhada, dan waliyulLah ketimbang orang khawas dan awam, namun kayaknya nggak ada nikmat yang nol, alias satu kaki nginjak surga satu kaki nginjak tempat yang satunya. Kecuali, tentu saja, kun, fayakun. Bagaimana dengan "ustadz" (sekali lagi, baca: bukan ustadz bener) di Jakarta? Saya tidak mau komen lah, wong ada yang sering muncul di tipi-tipi sewaktu diminta ceramah ke Medan minta bayaran 40 juta. Iki opo tumon? Harus bayar "tim kreatif" dan keluarga besarnya? Saya jadi sulit membedakan mana "ustadz" kondang dengan artis kondang sekarang ini. Kalau "ustadz ghairu kondang," ya lain dah ceritanya. :-) *** Jadi, ini salah satu keprihatinan saya. Kan jadinya curhat nih. :-) Dan mungkin juga ada di antara jamaah sekalian mempunyai uneg-uneg yang relatif sama dan sebangun dengan saya. Mungkin juga tidak. Tidak (mau) tahu. Ya, auk ah, gelap... bagaimana mau mikir solusi kalau lampu di Sumut suka mati sementara bila di Jakarta mati satui hari saja bisa ribut se-Indonesia karena banyak orang-orang penting di situ yang bisa nyekolahin anak ke LN termasuk Sydney. :-P Btw, saya mohon maaf kepada sahabat-sahabat di milis ini yang sudah menerima saya yang suka bikin ulah di milis-milis mana pun. Ya, begitulah BTL (Batak Tembak Langsung:-) ...maaf..maaf... Wassalamu'alaikum wr. wb., Mohammad Andri Budiman Allahu a'lam La haula wa la quwwata illa bilLah Wassalamu'alaikum wa rahmatulLahi wa barakatuh, Mohammad Andri Budiman SI 93 "Bias-Bias Cak Andri" http://mandrib.kuyasipil.net/ http://mandrib.multiply.com/
