BismilLahirRahmanirRahim

Assalamu'alaikum wa rahmatulLahi wa barakatuh,


Sekedar melewatkan artikel yang menggugah ini.

Semoga berkenan ya.


La haula wa la quwwata illa bilLah

Wassalamu'alaikum wa rahmatulLahi wa barakatuh,

Salam,

Andri
SI 93
"Bias-Bias Cak Andri"
http://mandrib.kuyasipil.net/
http://mandrib.multiply.com/

---article begins---

Subject:        [milis kuyasipil euy] QURBAN TERBAIK
Date:   Fri, 07 Dec 2007 18:19:39 -0000
From:   Irsal Imran <[EMAIL PROTECTED]>

QURBAN TERBAIK

Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan
Qurban.
Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga 
hidungku,
dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.
Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang 
hanya
bersarung
hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali 
anak-anak
yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan 
di-Qurban-kan
pada Idul Adha nanti,
sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini
tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi
memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti.
Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang,
ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

" Berapa harga kambing yang itu pak ?" ujarku menunjuk 
kambing coklat
tersebut.

" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua 
juta
rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi
matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli 
lainnya.

" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba 
mahal" si
pedagang bertahan.

" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran 
pertama

" Maaf pak, masih jauh." ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan 
penawaran terendah
berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan 
harganya.

" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh 
ribu?"
kataku

" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek

" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing 
ikut naik?"
ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia 
gak bisa
datang ke sini sendiri.
Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan 
bakarnya bukan
rumput"
kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak 
menawarkan
harga selain
yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku 
alihkan ke
kambing lainnya
yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan 
harga
lima ratus ribu.
Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke 
toko ban
mobil.
Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus 
tusirannya.
Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang 
harganya kini
selangit.

" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku 
kemudian

" Nah yang itu Super biasa.. Satu juta tujuh ratus lima 
puluh ribu
rupiah" katanya

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek
menanyakan
harga kambing coklat Mega Super tadi.
Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi 
wajahnya
masih terlihat segar.

" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum

" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata si pedagang 
setengah
malas menjawab
setelah melihat penampilan si kakek.

" Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?" kata si 
kakek
dalam bahasa Purwokertoan
" bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.

" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang terlihat 
semakin
malas meladeni.

" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban 
taun iki
(Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)
Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas." 
katanya tetap
bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan
dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga 
sudah lusuh
itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan
dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari 
dalamnya.
" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) 
dianter ke rumah
ya mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang 
memperhatikannya
sejak tadi.
Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima 
uang yang
disodorkan si kakek,
kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu..

" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang 
mengeluarkan
selembar lima puluh ribuan

" Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos 
kirimnya ya?) si
kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih

" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yg 
cukup jujur
memberikan lima puluh ribu ke kakek
" mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek 
berubah
menjadi mbah)

" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di 
tabung neh
(bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya
" tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke 
desa dekat
itu ya),
sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid
Baiturrohman,
takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan 
pegawe
Pemda Pasir Mukti,
InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah
tahu)."

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di
sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua
yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh 
dari X-Trail
milikku.
Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di 
kayuhnya
tetap dengan semangat.

Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya
berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku.
Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda
engkol,
sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya.
Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang 
diterima setiap
bulan oleh si kakek.
Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada 
rumah yang
berdiri dengan mewah,
rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani 
dan para
pensiunan pegawai rendahan.
Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding 
penghasilanku
sebagai Manajer perusahaan swasta asing.
Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi
Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga 
ban-nya saja
cukup membeli seekor kambing Mega Super
Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan
memilikinya
Yang sanggup membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus

Tapi apa yang aku pikirkan?
Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah 
kemampuanku
yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail,
kendaraanku di dunia fana.
Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir 
seribu
kali saat membelinya.

Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia
balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini
ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu

(Cikini, 12-11-07)

---article ends---

Kirim email ke