---------- Forwarded message ----------
From: diah susanti <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/4/1
Subject: [Fosil-MMIT] Orang-Orang di Balik Kegarangan KPK Memerangi Korupsi
To: ntust isa <[EMAIL PROTECTED]>, fosil-mmit <
[EMAIL PROTECTED]>, Muslim Taiwan [EMAIL PROTECTED]


   Semoga Bapak2 di KPK ini diberiNya kekuatan iman, hati dan fisik. Hebat
bila masih bisa bertahan dengan banyaknya godaan.

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=10245

Selasa, 01 Apr 2008,
*Orang-Orang di Balik Kegarangan KPK Memerangi Korupsi *


Setingkat Eselon I, Uang Saku Hanya Rp 75 Ribu Per Hari
Tak mudah menjadi anggota KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Mereka harus
tahan terhadap berbagai godaan, terutama terkait dengan uang. Bagaimana
kehidupan sehari-hari para figur yang berkiprah di lembaga itu?

ELIN YUNITA, Jakarta

Menjelang magrib Jumat lalu (28/3), pria berumur 60 tahun lebih itu masih
sibuk di kantor, gedung KPK di Kuningan, Jakarta. Dia adalah Abdullah
Hehamahua, penasihat di lembaga pemberantasan korupsi. Di antara para
anggota KPK, Abdullah termasuk yang bersedia diwawancarai terkait aktivitas
sehari-hari.

Di kalangan internal KPK, sosok Abdullah dikenal disiplin. Dia memang
termasuk orang KPK yang gampang ditelepon untuk konfirmasi. Tapi, dia hanya
bisa ditelepon setelah jam kerjanya di KPK selesai. Yakni, di atas pukul
17.00. "Tidak boleh ada urusan pribadi di jam kerja," kata Abdullah, tegas,
saat sore itu menerima Jawa Pos di kantornya.

Dia menambahkan, integritas adalah hal yang mutlak dipunyai para anggota
KPK. "Kode etik harus benar-benar ditegakkan," katanya. Salah satu penerapan
kode etik di KPK, tamu di luar urusan pekerjaan tak boleh diterima di
kantor. Aturan itu berlaku untuk semua orang di KPK. Bahkan, Abdullah yang
dituakan pun harus menemui tamu di musala gedung tetangga, yakni kantor Jasa
Raharja.

"Yang juga ditegakkan di sini, anggota tak boleh menggunakan telepon kantor
untuk urusan pribadi. Ini tak akan pernah terjadi," kata pria yang sering
mengenakan baju koko dan peci itu.

"Latar belakang saya matematika. Jika 3,7 juta PNS (pegawai negeri sipil)
menggunakan telepon kantor untuk urusan pribadi satu menit per hari, negara
membayar untuk 3,7 juta menit sehari. Berapa miliar itu?" ujarnya.

Bagi Abdullah, berkiprah di KPK adalah pengabdian. Selain itu, dirinya harus
benar-benar tahan dari godaan dan bisa bertahan hidup hanya dari gaji, tanpa
penghasilan tambahan. "Orang di KPK, kalau bukan karena komitmen, nggak akan
mau keluar daerah. Wong saya Eselon I, uang saku hanya Rp 75 ribu sehari,"
ujarnya terus terang.

Uang sejumlah itu tentu tak cukup untuk makan di hotel atau restoran.
"Untungnya, selera saya ini termasuk selera kampung. Sukanya beli makan
pecel lele di kaki lima," ujarnya, lantas tertawa lepas.

Seorang petugas di KPK menceritakan, sehari-hari Abdullah ngantor dengan
mengendarai Kijang kotak. "Pak Abdullah di sini kos. Dia mencuci sendiri
baju-bajunya," katanya.

Ketika hal itu dikonfirmasikan, Abdullah tersenyum. "Itulah seninya mengabdi
di KPK," katanya.

Ujian yang tak kalah berat selama mengabdi di KPK, kata Abdullah, ketika
menghadapi orang-orang yang dikenal. "Hampir 25 persen orang yang diusut KPK
adalah senior saya, junior saya, dan teman saya," ujar mantan Ketua KPKPN
(Komisi Penyelidikan Kekayaan Penyelenggara Negara) Sub-Legislatif itu.

Dia lantas menyebut nama mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh dan mantan
Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri.

Tak jarang tersangka yang dibidik KPK itu menghubunginya untuk minta
bantuan. "Tak ada satu pun yang saya layani. Mereka menelepon pun tak saya
angkat," tandasnya.

Saat Puteh diperkarakan, demonstran berdatangan, termasuk dari Korps Alumni
Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Di organisasi ini, Abdullah menjadi
anggota. Mereka berdemo di Juanda. "Akhirnya saya temui. Saya bilang, pilih
Puteh atau saya? Puteh, mantan ketua HMI Cabang Bandung, atau saya yang
mantan ketua PB HMI? Setelah saya ngomong seperti itu, mereka pulang,"
ceritanya.

Sepupu Abdullah juga suatu ketika terjerat kasus korupsi yang ditangani KPK.
"M. Khusnul Yakin Payopo (mantan Kasubdit Imigrasi KJRI Penang) itu sepupu
saya. Saya awalnya kaget, karena tahu anak ini baik," kisahnya. "Tapi
bagaimanapun tetap harus diproses," ujarnya.

Abdullah tak cawe-cawe ketika sepupunya itu diproses dalam kasus dugaan
pungli biaya pengurusan dokumen di KJRI Penang. "Dia akhirnya divonis pidana
29 bulan," lanjutnya.

"Sampai sekarang saya belum jenguk dia karena kode etik. Waktu selesai satu
periode (kepemimpinan Taufiequrachman Ruki), saya mau jenguk sepupu saya
itu. Tapi, karena jadi penasehat lagi di periode ini (Antasari Azhar) saya
belum besuk. Bagaimana pun harus tega," ujarnya.

Bukan hanya Abdullah di KPK yang mengalami konflik batin ketika famili atau
teman dekat sedang terjerat kasus korupsi. Mantan Wakil Ketua KPK Erry
Riyana Hardjapamekas ternyata adalah paman Mulyana W. Kusuma, terpidana
kasus penyuapan auditor BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan kasus korupsi
pengadaan kotak suara Pemilu 2004.

Mulyana ketika dikonfirmasi Jawa Pos membenarkan hal tersebut. "Itu tak
masalah," ujarnya ketika ditanya hubungannya dengan Erry Riyana saat ini.

Meski aturan di KPK ketat, ada juga penyidiknya yang tak kuat godaan. Dia
adalah AKP Suparman, yang tertangkap tangan dan harus menghadapi tuntutan
dari rekan-rekannya sendiri. Suparman tertangkap tangan sedang memeras saksi
kasus korupsi PT Industri Sandang Nusantara. Dia pun diganjar dengan hukuman
delapan tahun penjara. "Apa boleh buat, dia (Suparman) memang salah,"
komentar Penyidik KPK Kombespol Heru Sumartono.

Belajar dari kasus tersebut, penyidik Polri itu mengakui, menjadi bagian
dari KPK memang harus lebih tahan banting menghadapi para koruptor yang
berkantong tebal. "Ada saja godaan seperti itu, cincay-cincay-lah
istilahnya. Hampir setiap kasus, pasti ada (godaan, Red)," ujarnya.

Bukan hanya digoda uang. Teror pun kerap diterima. "Untung saya dari Polri,
saya masih bawa senjata yang lama, dari organik saya. Itulah senjata yang
saya pakai setiap hari," ujar pria 51 tahun itu. Bagaimana dengan
keselamatan keluarga?

"Lha, itulah risiko," ujar pria asal Surabaya tersebut pasrah. Bukan hanya
ancaman keselamatan, ancaman kehilangan jabatan pun mengintainya jika salah
tangkap dan akhirnya diperkarakan.

Misalnya, saat dia menangkap Irawady Joenoes, anggota Komisi Yudisial (KY)
yang tugasnya mengawasi hakim. Saat itu, Irawady ditangkap karena menerima
suap. Heru mengaku sempat ngeper karena hingga menit ketujuh, barang bukti
atas diri Irawady belum ditemukan di rumahnya, Jalan Panglima Polim 138,
Jakarta. Untung, operasi itu sukses besar. "Kalau waktu itu salah (salah
tangkap, Red), di-grounded-lah kita," ujarnya.

Keputusannya bergabung di KPK dengan alasan ingin memperbaiki diri juga
bukan keputusan mudah. "Saya pernah belum terima gaji meski bekerja di KPK
sudah memasuki bulan keempat," tuturnya. "Hati saya nelangsa, mantab-lah,
makan tabungan maksudnya," ujarnya, lantas tertawa.

Selain gaji, fasilitas yang dimiliki KPK juga tergolong terbatas. Kantor KPK
adalah gedung tua, aset pinjaman Setneg. Laptop, bahkan kursi dan meja,
sering menjadi rebutan. "Saat penggeledahan, karena kita menganut standar
internasional, harus pakai sarung tangan. Waktu itu KPK belum punya. Jadi,
sebelum penggeledahan, penyidik harus beli sarung tangan di apotek," ujar
pria kelahiran Samarinda itu.

Kisah suka duka selama berada di KPK juga diceritakan Khaidir Ramly, salah
satu jaksa di KPK (kewenangan ganda di KPK membuat lembaga itu punya dua
pilar: penyidik dan jaksa). "Selama 1,5 tahun pertama kerja di KPK, saya tak
terima gaji. Jangankan mengirimkan uang bulanan ke istri dan anak, memenuhi
kebutuhan sendiri pun sulit," cerita Khaidir yang asal Padang itu.

"Terpaksa saya minta subsidi sama keluarga. Kebetulan ada keluarga di
Jakarta," ujarnya. Ketika ditanya berapa dia digaji di KPK, Khaidir enggan
menjawab. "Yang jelas, tak sebesar perkiraan orang," lanjutnya.

Bukan hanya gaji, petugas keamanan yang mengawal jaksa di KPK juga minim.
Jaksa KPK hanya dikawal ketika pergi dan pulang dari pengadilan.
Selanjutnya, keamanan jadi tanggung jawab pribadi jaksa yang juga tak
dilengkapi senjata apa pun. "Kalau mati, mati sendiri deh," tukasnya.

Meski demikian, Khaidir tetap bersyukur karena selama berada di KPK, dia
masih sempat menyelesaikan kuliah S2-nya. Bukan hanya itu, di KPK dia juga
reuni dengan rekan seangkatannya di Pendidikan Jaksa di tahun 1989, Antasari
Azhar (ketua KPK). "Kami seangkatan, tapi beda nasib. Saya masih bersyukur,
ada beberapa teman seangkatan saya yang nasibnya lebih di bawah," ujarnya.
(kum)

------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster
Total 
Access<http://us.rd.yahoo.com/evt=47523/*http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com>,
No Cost.





-- 
- Dedi -

Life gives Answers in Three ways,
It says YES and gives Whatever u Want,
It says NO and gives u Something Better
It says Wait and gives u the Best

Kirim email ke