---------- Forwarded message ----------
From: kunil <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/9/20
Subject: [lombok] Modus operandi sindikat pemalsu ijazah
To: senggigi2014 <[EMAIL PROTECTED]>



Percaya ga percaya, ijazah yang dikeluarin sindikat ini benar-benar
asli (kertas, dan tanda tangan rektornya). Tapi orangnya tidak pernah
kuliah di univ yang bersangkutan.

Ga jelas apa rektor ITB tahu kalo dia tanda tangan ijazah mahasiswa
siluman ato ga.

--------------------------
www.jawapos.com
[ Jum'at, 19 September 2008 ]
Rektor Tinggal Tanda Tangan
Beli Ijazah Tidak Susah - Episode II (Habis)

Jaringan makelar ijazah cukup rapi. Ada marketing, ada administrasi.
Tapi, dari total pembayaran ijazah instan, mereka hanya dapat bagian
kecil. Separo untuk rektor, separo lagi dibagi-bagi untuk banyak
orang.

---

Selama beberapa minggu mengikuti proses pembelian gelar sarjana
instan, Jawa Posmempelajari bagaimana jaringan Topan (bukan nama
sebenarnya) bekerja. Ternyata, cara kerja mereka cukup rapi. Setelah
ditelusuri, pada prinsipnya mereka terbagi atas dua bagian:marketing
dan administrasi.

Bagian marketing dipegang sendiri oleh Topan. Di Surabaya, ayah dua
anak itu seperti koordinator lapangan. Dia memiliki beberapa anak
buah.

Untuk menjaring konsumen, Topan dan tim menerapkan banyak strategi.
Yang paling efektif adalah dengan bekerja aktif di lapangan. Topan
menyebarkan timnya ke beberapa tempat yang dinilai memiliki banyak
potensi pembeli ijazah instan. Dalam hal ini, instansi pemerintahan
adalah sasaran empuk (baca edisi kemarin).

Lewat diri sendiri atau anak buah, Topan menawarkan beberapa pelayanan
ijazah instan. Biasanya tidak langsung ke Topan. Biasanya lewat anak
buah dulu untuk penyaringan. Begitu terlihat meyakinkan, baru deal
langsung dengan Topan. Kebetulan, ijazah yang dibeli Jawa Posdiproses
langsung lewat Topan. Tidak perlu lewat anak buahnya.

Cara lain jaringan tersebut mendapatkan pembeli adalah lewat iklan di
media massa. Salah satunya lewat iklan baris yang dipasang di sebuah
harian kriminalitas di Surabaya. Pada edisi 8 Mei lalu, ada iklan
Topan yang sepintas seperti iklan lain yang menawarkan jasa privat
atau kursus.

Namun, jika isi iklan tersebut diteliti, tertulis bahwa dia siap
membantu pengurusan ijazah untuk jenjang pendidikan S-1, S-2, S-3,
atau akta mengajar dalam waktu singkat dengan beragam fakultas.
Misalnya, hukum, ekonomi, psikologi, dan teknik. Di bagian bawahnya
tertera nama asli Topan berikut nomor handphone-nya.

Hanya, di sana tidak disebutkan nama kampus dan besaran biaya yang
dibutuhkan. Selain untuk mengirit biaya iklan, hal itu dilakukan untuk
mengaburkan bahwa isi iklan tersebut bukan jual beli ijazah. ''Kalau
ada yang tertarik, langsung telepon. Tapi, jumlahnya tidak seberapa,''
kata Topan.

Sama dengan berhubungan langsung, Topan dan timnya menyaring dulu
peminat lewat iklan ini. Dengan begitu, risiko bisa dikurangi. Kalau
ada anak buah yang ditangkap aparat, yang kena hanya kaki tangan.
Sedangkan pelaku utamanya masih aman, dan kemudian bisa membantu agar
hukuman sang anak buah tidak terlalu berat.

Jawa Pos sendiri sempat dicurigai sebagai polisi yang menyamar. Saat
baru ketemu, Topan meminta agar Jawa Pos menunjukkan KTP. Karena
khawatir, Jawa Pos menolak menunjukkannya. Tiba-tiba, Topan menjadi
marah. ''Ojo-ojo awakmu polisi,'' ujarnya. Namun, setelah diyakinkan
bukan polisi, dia pun mau tenang kembali.

***

Mendapatkan konsumen hanyalah satu bagian dari usaha ijazah instan.
Yang paling penting, dan yang paling bikin penasaran, adalah
administrasinya. Untuk jaringan Topan, bagian ini dipegang seorang
perempuan bernama Sari (juga bukan nama sebenarnya).

Ibu satu anak yang tinggal di kawasan Rungkut itulah yang bekerja di
dalam kampus, dan membangun jaringan antarkampus. Bukan hanya di
Surabaya, juga di kota-kota lain hingga di Kalimantan. Dia menerima
order dan semua persyaratan ijazah dari Topan, lantas memprosesnya
hingga menjadi ijazah dan transkrip.

Dengan jaringan yang dibangun Sari, Topan bisa memenuhi permintaan
pembeli ijazah instan dari luar pulau. Atau sebaliknya, menyediakan
ijazah dari universitas di luar pulau untuk orang yang tinggal di
Surabaya.

Jaringan Sari tersebut sebenarnya terbentuk dengan sedikit kebetulan.
Dia memang pegawai tata usaha di sebuah universitas teknologi di
Surabaya. Dari sanalah dia bisa menggandeng teman-teman di bidang yang
sama untuk membantu mengurus pembuatan ijazah. Lama-kelamaan, hubungan
pertemanan itu berlanjut menjadi jaringan jual beli ijazah
antarkampus.

***

Dalam mengurus ijazah instan, Sari menerima beberapa berkas
persyaratan dari Topan. Syarat tersebut, antara lain, fotokopi ijazah
sekolah sebelumnya, pasfoto ukuran 3 x 4 (delapan lembar hitam putih
dan lima lembar warna). Selain itu, ada nama lengkap dan keterangan
tempat tanggal lahir.

Data tersebut kemudian dijadikan dasar dalam mengurus administrasi di
kampus, agar nama klien tercatat sebagai mahasiswa di kampus tersebut.
Namun, klien itu tidak dicatat sebagai mahasiswa baru. Sari memasukkan
nama klien sebagai mahasiswa angkatan empat tahun sebelumnya.

Ijazah instan yang dibeli Jawa Pos, misalnya. Meski dipesan pada 2008
ini, Jawa Pos tertulis sudah menjadi mahasiswa sejak 2004. Itu untuk
mengelabui data. Agar masa pendidikan terhitung sama dengan mahasiswa
reguler jalur resmi.

Untuk memasukkan nama klien menjadi mahasiswa, bukan asal-asalan. Sari
membuat daftar absen kuliah fiktif. Di absen itu seolah-olah klien
benar-benar kuliah selama empat tahun. Padahal, ke kampus saja belum
tentu pernah. Dengan absen fiktif tersebut, klien terlihat seperti
mahasiswa aktif. Terbukti ada nama lengkap beserta nomor induk
mahasiswanya.

Absen fiktif itu juga dilakukan untuk menutupi aksi jaringan tersebut
saat ada tim pengawas kampus yang mengecek administrasi kemahasiswaan.

Sari menyatakan, kadang nama-nama lain yang ada dalam absen itu adalah
rekayasa. Dia mengaku punya banyak stok nama dan tanda tangan supaya
punya daftar absen ''lengkap''.

Terkadang, nama-nama yang tertera di daftar hadir tersebut adalah nama
pembeli ijazah instan lain. Karena itulah, kadang pembuatan ijazah
instan menjadi molor, karena harus menunggu calon klien lain yang
masih dalam proses negosiasi.

''Bagi kami, mending telat dua atau tiga minggu ketimbang harus bikin
angkatan mahasiswa baru lagi,'' ucap Topan.

Menurut dia, semakin banyak klien yang mendaftar dalam waktu
bersamaan, semakin mudah pula proses menata absennya.

***

Begitu identitas pembeli ijazah instan tercatat di kampus, data
tersebut diajukan ke fakultas untuk diproses ke jenjang selanjutnya.
Yaitu di meja dekan. Karena itu, praktik ijazah instan tersebut tidak
lepas dari peran dekan yang mengepalai fakultas. Namun, dekan hanya
berperan pasif. Dia hanya menerima data dan menandatanganinya. Setelah
itu, dia mengembalikan data mahasiswa ''palsu'' tersebut kepada Sari.

Dari sana, Sari meneruskan data ke meja rektor. Orang nomor satu di
kampus itu pun terlibat dalam pembuatan ijazah instan. Sama seperti
dekan, rektor hanya berperan pasif. Data datang, rektor tinggal
menandatangani berkas ijazah dan transkrip. Proses selanjutnya
diselesaikan oleh Sari.

Data yang sudah ditandatangani rektor itu lantas diteruskan ke
Kopertis untuk didaftarkan. Karena itulah, ijazah yang dikeluarkan
jaringan Topan dan Sari tersebut asli. Tidak berbeda dari ijazah
mahasiswa yang menempuh jalur reguler. ''Kalau ragu, cek saja nomor
ijazah ini ke Kopertis, pasti terdaftar,'' tegas Topan mantap.

Usut punya usut, Sari juga punya orang dalam di Kopertis yang bertugas
meng-entry data mahasiswa baru siluman itu. Tidak aneh, nama mahasiswa
gadungan tersebut terdata, meski tidak pernah ikut kuliah. Mereka bisa
memasukkan data ke Kopertis sewaktu-waktu bila dibutuhkan.

Begitu semua urusan administrasi selesai, Sari menyerahkan hasilnya ke
Topan, untuk diberikan kepada pemesan. Beres. (Tim Jawa Pos/Habis)

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups
"senggigi2014" group.
To post to this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe from this group, send email to
[EMAIL PROTECTED]<[EMAIL PROTECTED]>
For more options, visit this group at
http://groups.google.com/group/senggigi2014?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---




-- 
- Dedi -

Life gives Answers in Three ways,
It says YES and gives Whatever u Want,
It says NO and gives u Something Better
It says Wait and gives u the Best

Kirim email ke