Salam dan Shalawat.

Haidar Bagir tidak hanya sukes berbisnis buku lewat Mizan, tapi juga sukses 
menghadirkan pembelaan ketertindasan dalam sinema..bersama Andrea Hirata, Mira 
Lesmana, Riri Riza, mereka mampu menghidupkan semangat spiritual dalam konteks 
lain..tidak lewat takbir, sorban, janggut ataupun celana nge'gentung'..lewat 
tokoh-tokoh Laskar Pelangi, agama menemukan sosok nya..

OVIC
_______
  
SUKSES
film ”Laskar Pelangi” dalam menarik jumlah penonton ke bioskop adalah
juga kebanggaan untuk Mizan Publishing. Film yang diangkat dari buku
karya Andrea Hirata itu diterbitkan September 2005 oleh Bentang, salah
satu penerbit di bawah Mizan Publishing. 
Kalau
boleh terus terang, kesenangan sukses investasi (dalam film Laskar
Pelangi) itu tidak sebanding dengan rasa senang bahwa film ini disukai
orang,” kata Haidar Bagir (51), salah satu pendiri dan Presiden
Direktur Mizan Publishing.

”Kami
juga senang karena—istilah ’ge-er’-nya teman-teman (di Mizan)—film ini
Mizan sekali. Dalam arti, ada unsur agamanya, tetapi menekankan pada
akhlak, pendidikan yang tidak mengukur anak-anak dari nilai akademis
seperti dikatakan Pak Harfan, kepala sekolah di film itu, concern pada
kemiskinan, menghibur tetapi berkualitas,” tambah Ketua Yayasan
Lazuardi Hayati yang mengelola sekolah Lazuardi di Cinere dan Sawangan
(Depok), Cilandak, Jakarta Barat, Lampung, dan Solo itu, serta dosen
dan pendiri Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta.


Menurut
Mira Lesmana yang bersama Mizan Publishing memproduksi film dengan
sutradara Riri Riza ini, selama dua minggu pertama Laskar Pelangi sudah
menyedot 1,5 juta penonton. (Sampai hari Jum’at, 28 November 2008, Film
ini sudah ditonton oleh lebih dari 4,2 juta orang. Ed. AYS)Bukunya
sendiri, menurut Haidar Bagir, sudah terjual 500.000-an kopi, sementara
karangan Andrea Hirata yang lain, Sang Pemimpi dan Edensor,
masing-masing terjual 300.000-an kopi, dan yang keempat, Maryamah
Karpov, segera terbit. Keberhasilan Laskar Pelangi membuat Mizan
Publishing mantap melangkahkan kaki masuk ke industri film dengan
memproduksi Sang Pemimpi.
 
Buku bagus dan keberuntungan
 
”Menurut saya, keberhasilan buku ini adalah gabungan antara buku bagus, 
waktunya pas, dan juga keberuntungan,” jelas Haidar. 

Bagaimana cerita penerbitan Laskar Pelangi?

 Buku
ini dikirim ke Bentang di Yogya oleh teman Andrea Hirata yang karyawan
Telkom. Buku itu sempat beberapa hari tidak dibaca karena pikiran
karyawan Telkom tidak biasa menulis buku. Ternyata isinya sangat
menarik. Ketika ke Yogya, saya ditunjukkan naskah buku itu. Saya
langsung bilang, terbitkan. Sudah dengan judul Laskar Pelangi.
Kami
tahu buku ini bagus dan akan laku, tetapi tidak tahu bakal selaku ini.
Lalu Andrea Hirata bertemu saya di Bandung, membicarakan kemungkinan
memfilmkan cerita itu. Terus terang waktu itu saya tidak terlalu
optimis. Buku sudah laku, tetapi belum meledak. Selain itu, Mizan
Sinema (kemudian menjadi Mizan Production) baru berpengalaman membuat
acara televisi. Mizan masuk layar lebar, apa mungkin?
Kemudian
buku itu diangkat dalam acara Kick Andy (di Metro TV) dan meledak.
Sebelumnya, buku-buku kami juga diangkat dalam acara itu, tetapi tidak
meledak seperti Laskar Pelangi.
 
Bagaimana menjadi film?

Setelah
buku meledak, kira-kira setahun lalu, mulai banyak sutradara menanyakan
apakah akan difilmkan. Kami jadi optimis. Kami kontak Andrea dan dengan
cepat memutuskan menyerahkan kepada Mira Lesmana dan Riri Riza karena
mereka sukses menggarap Petualangan Sherina. Kami merasa cerita ini
sedikit seperti film itu, ada menghiburnya, tetapi tidak kehilangan
keindahan. Mizan tidak sendirian sebagai investor, saya mengajak
Bachtiar Rachman, teman saya yang membikin sekolah Lazuardi Cordova di
Jakarta Barat.
 
Keberuntungan Laskar Pelangi ?

Keberuntungannya
karena diangkat dengan sangat baik oleh Kick Andy, besok paginya sudah
ada beberapa orang dari toko buku antre di depan gudang kami. Tetapi,
tetap yang paling utama memang bukunya bagus.

Agama cinta

Perbincangan
dengan Haidar berlangsung di toko buku sekaligus kantor Mizan
Publishing di Jalan Puri Mutiara, Jakarta Selatan. Toko buku itu,
demikian Haidar, lebih dimaksudkan sebagai tempat berkumpul dan
berdiskusi berbagai komunitas, seperti musik, sastra, film, dan para
ibu muda.
Tahun
1982, saat masih kuliah di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi
Bandung, bersama dua temannya Haidar mendirikan Mizan. Setahun kemudian
mereka mulai menerbitkan buku. Kini, setelah seperempat abad, Mizan
Publishing memiliki 12 unit usaha dan membagi saham untuk karyawan
senior dan melalui koperasi.

Bila
awalnya Mizan menerbitkan buku tentang agama, sejak tahun 1990 jenis
buku yang diterbitkan diperluas. Buku agama saat ini 20 persen dari
sekitar 1.000 judul per tahun. ”Mau cari buku resep masakan ada, buku
tentang dekorasi, self help, sampai pendidikan,” tutur penerima
pnghargaan Best CEO 2008 versi majalah Swa ini.
Sikap
dan pandangan hidup Haidar dalam mengembangkan pemikiran yang
mengutamakan modernasi, rasionalitas, ilmu pengetahuan, serta
pembangunan peradaban yang berkeadilan dan berorientasi sosial di atas
landasan spiritual yang positif amat mewarnai Mizan.
 ”Kami
tidak tertarik menerbitkan buku yang berhubungan dengan pendekatan
syariah karena biasanya pendekatan hukum menyebabkan eksklusivisme.
Bukan hanya antara orang Islam dengan orang di luar Islam, tetapi juga
internal Islam sendiri. Atau buku yang memojokkan kelompok lain dari
sudut pandang keagamaan.
 ”Sebaliknya,
kami menerbitkan buku dari semua sumber. Ekstremnya, ada bukunya orang
Muslim, buku yang ditulis pastor, dan juga yang mungkin dianggap
sekuler, seperti Agama Cinta yang dekat dengan advokasi tentang civil
religion. Sebetulnya buku itu sangat kontroversial karena mau
mengatakan, agama itu sebetulnya cinta,” papar penerima tiga beasiswa
Fulbright.
 Kini
dia sedang menyelesaikan dua buku berjudul Islam Agama Cinta; satu
ditulis populer dan yang lain secara akademis dengan dilengkapi riset.



 ”Buku
ini bukan hanya untuk orang luar, tetapi untuk orang Muslim sendiri.
Ahli fenomenologi agama biasanya membagi agama ke dalam agama
berorientasi nomos, hukum, yang dalam Islam disebut syariah; dan
berorientasi eros, cinta. ”Biasanya
fenomenologi tradisional memasukkan Islam ke dalam agama berorientasi
nomos, hukum. Tetapi, melihat fenomenologi yang lebih belakangan
sebetulnya kita harus melihat Islam sebagai agama yang tidak
kurang-kurang berorientasi cinta. 
”Saya
ingin menunjukkan kepada kaum muslimin sendiri, di atas semuanya
prinsip Islam adalah cinta. Hanya itu yang bisa membuat Islam terbuka
karena pendekatannya kepada orang lain adalah kebaikan hati, berpikir
positif, prasangka baik.”

 Sementara, menurut Haidar banyak kaum muslimin yang menekankan keberagamaan 
pada syariah.

 ”Saya
tidak mengatakan syariah tidak penting, tetapi harus mengacu pada
prinsip Islam agama cinta. Kalau melihat agama hanya bersifat syariah,
akan membuat orang menjadi eksklusif. Cinta itu merangkul semua dan
membuat prasangka baik: semua orang sama baiknya, sama benarnya, sama
salahnya dengan kita,” jelas Haidar. Doktor
filsafat Islam dari Universitas Indonesia ini juga membahas hal yang
untuk beberapa pihak masih kontroversial. Misalnya, kekerasan dan
perang.

”Islam
agak khas dalam membuka peluang penggunaan kekerasan dan perang. Dalam
buku ini saya tunjukkan betul, di atas semua itu prinsipnya tetap
cinta. Perang dalam Islam hanya boleh dilakukan untuk melawan
penindasan dan sifatnya defensif. Pada saat penindas siap duduk di meja
perundingan, perang harus dihentikan.
 

”Dengan
segala keterbatasan ilmu saya dalam hal ini, saya ingin menunjukkan
kita harus melakukan paradigm shift, perubahan paradigma. Melihat Islam
dari agama berorientasi hukum menjadi agama berorientasi cinta di mana
hukum menjadi sarana kita memastikan setiap orang mendapatkan kasih
sayang,” jelas Haidar. Lalu
juga tentang neraka. ”Prinsip kasih sayang itulah yang menjadi prinsip
neraka. Neraka pada dasarnya bukan Tuhan menghukum manusia, tetapi apa
yang dari Tuhan dapat dipersepsi berbeda oleh manusia,” tambah dia.
Haidar mencontohkan segelas air dingin yang menyegarkan untuk orang sehat dapat 
menyiksa untuk orang sakit.

”Itu
saya coba ungkapkan untuk menunjukkan Tuhan tidak membuat sesuatu yang
pada dirinya sendiri menyiksa, tetapi karena manusia tidak hidup dengan
cara yang menyebabkan dia mendapat kenikmatan. Ini memang
kontroversial, tetapi saya secara konsisten ingin membuktikan hal-hal
tersebut.”
 
Sumber: Kompas, Minggu, 12 Oktober 2008
    


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke