FYI...

---------- Forwarded message ----------
From: Sarwono Sutikno <[email protected]>
Date: 2009/3/17
Subject: [Civitas] Fwd: ITB = Produser Narsisus?
To: [email protected]


----- Pesan Diteruskan ----
Dari: "[email protected]" <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>
Terkirim: Senin, 16 Maret, 2009 19:32:06
Topik: [IA-ITB] FW: [ika-unpad-milis] ITB = Produser Narsisus?


Dari milis tetangga,skedar nerusin.bwt rekan2 yg feeling top1,spy jd
bahan introspeksi..


----- Original Message -----
Subject:[ika-unpad-milis] ITB = Produser Narsisus?
Date:Mon, 16 Mar 2009 10:54:18
From:Cahyo Sukaryo <[email protected]>

ITB = Produser Narsisus?
Mar 16, 2009 -- 3:37 PM
Posted for everyone

Disclaimer:
Tulisan ini merupakan hasil observasi sebagai Rekruiter selama 4 tahun
terakhir. Mohon jangan digeneralisasi. Kalau ada yang tersinggung,
mohon maaf ya!

Adalah sebuah rahasia umum di mana terdapat berbagai tipe pekerja
berdasarkan tempat belajarnya. Anak UGM dikenal lugu, tidak neko-neko,
dan rendah hati. Anak UI dikenal fleksibel dan cepat belajar. Anak ITB
dikenal sebagai 'pemikir makro', besar omong, dan kaku luar biasa.
Apakah stereotipe ini benar adanya? Saya tidak berani mengamini dengan
sepenuh hati karena belum melakukan penelitian secara ilmiah.

Dari pengamatan yang saya lakukan selama rentang 4 tahun belakangan
(dalam kapasitas sebagai head-hunter, pastinya), beberapa
karakteristik dapat saya verifikasi. Anak UGM memang terbukti lugu,
tidak ambisius; anak UI dengan fleksibilitasnya, dan anak ITB dengan
kekakuan dan kesombongannya. Hal terakhir ini yang ingin saya angkat.
Kenapa? Karena karakteristik ini sangat menonjol dan sangat mengganggu
proses rekrutmen.

Tidak hanya ITB junior, tapi para senior ITB juga terjangkit virus
kaku dan sombong ini. Kekakuan yang mereka tunjukkan dapat saya
maklumi karena mereka adalah orang-orang teknik. Secara ilmiah, sudah
pernah dibuktikan bahwa ilmu-ilmu eksak, terutama teknik memang
membentuk pribadi yang kaku. Selanjutnya, virus sombong. Pernah dengar
cerita Narcissus? Saya yakin pernah. Dan inilah penyakit akut yang
menjangkiti (hampir) seluruh anak ITB.

Hampir semua anak ITB yang saya temui memiliki gejala self-oriented
yang begitu tinggi. Bukan sekali atau dua kali saya menemui anak ITB
yang berbicara tentang prestasi dan mimpi mereka. Mimpi atau cita-cita
biasanya diskalakan dalam ukuran makro: "Proyek.....Nasional ,"
"Se-Indonesia. " adalah kata-kata yang sering saya dengar. Diucapkan
dengan mimik muka luar biasa yakin dan nada tinggi. Ketika bicara soal
jejaring, mereka selalu mau menjadi "yang kenal dengan..." (Biasanya
orang-orang terkenal, minimal menteri). Mereka juga bukan anggota tim
yang baik karena selalu mau menang sendiri. Hal ini biasanya terjadi
dalam lingkungan kerja non-ITB. Yang terakhir, mereka adalah pemuja
diri sendiri.

Appraisal bagaimana yang mereka lakukan? Begini kira-kira contohnya:

Jumat lalu saya menemui seorang kandidat, lulusan ITB. Ketika saya
tanya soal prestasinya dia berulang kali menekankan hal-hal berikut:

(1) Pencapaian nilai kimia yang sempurna (100) di mana hanya terjadi 5
tahun sekali, orang satu2nya di antara 1,400 mahasiswa lain (diulang 3
kali)
(2) Pemimpin yang sangat baik, excellent! (diulang minimal 3 kali)
(3) Sangat bisa segalanya.
(4) Semua orang kenal saya.
(5) Ada lowongan regional manager Asia tapi tidak diambil dan kalaupun
dia yang maju, sekitar 98% kemungkinan dia pasti jadi (diulang 2 kali)

Dan hal-hal tersebut diceritakan berulang-ulang, dengan berulang kali
penghentian kalimat pada bagian2 tertentu. Hal ini untuk memberi efek
penekanan dan pujian (Serius, dia mengharapkan itu). Perilaku yang ia
tunjukkan selama wawancara adalah "You listen to me, and answer my
questions. dedicate your time for me. You need me."

Ketika saya bertanya apakah dia ada pertanyaan mengenai proses maupun
klien saya, dia hanya mengajukan beberapa pertanyaan. Lucunya, ketika
saya menutup wawancara dengan dalih ada urusan lain, dia malah bilang
"Oh pantesan ibu buru-buru. Jadi kapan saya bisa tanya2 ibu lagi?"
(Lhoh??) Setelah itu dia masih berusaha nyerocos menceritakan
kehebatannya di konteks pekerjaan.

Baiklah, saya tidak ada masalah dengan kandidat yang menceritakan
prestasi kerja. Saya malah senang. Soalnya orang Indonesia cenderung
menggunakan "Kami" dan malu-malu jika saya minta cerita soal prestasi
kerja. Tapi ketika hal tersebut diceritakan dengan terlalu
bersemangat, dengan nada sombong dan penuh keyakinan, hal tersebut
jadi memuakkan.

Kandidat lain yang juga adalah alumni ITB dengan kepercayaan diri luar
biasa menjual gelar S2 yang ia dapatkan di Jerman untuk meminta gaji
tinggi. Tidak tanggung-tanggung, cukup EUR 5,000. Iya, EURO, bukan
Dollar. Per tahun? Tidak, per bulan. Katanya, standar gaji S2 di
Jerman segitu. Oh, Tuan Pintar, sebaiknya kamu ke Jerman aja, jangan
di sini.

Teman saya yang lulusan ITB lain lagi, nggak mau kerja. Mau wirausaha.
Sayangnya, karena tidak memiliki pengalaman, ia berulang kali gagal.
Ia tidak mau belajar dari pengusaha yang sudah maju, memilih produk2
jualan yang kurang komersil, dan tidak memiliki jejaring yang
mendukung. Pikirannya sempit, tidak tahu medan yang ia masuki tapi
sombongnya luar biasa. Hmmm.

Ini adalah hal lain yang masuk virus Narsisus, menghargai diri begitu
tinggi sampai tidak memperhatikan standar yang ada. Tidak hanya soal
gaji, soal kerjaan pun mereka sangat pemilih. Hanya mau perusahaan A,
B, atau C. Kalau tidak, mau kerja sendiri karena mereka terlalu
'bagus', over-standard untuk bekerja dalam sebuah organisasi.

Pertanyaan saya:
Ada apa sebenarnya dengan para alumni ini? Apa sebenarnya yang
diajarkan di ITB? Kenapa para lulusannya memiliki kesombongan
terprogram - yang secara kolektif terjadi?

Kalau yang saya dengar, ini berasalah dari 'cuci otak' pada masa
plonco. Sumber lain mengatakan ini juga berasal dari persaingan
internal ITB yang tidak sehat. Semacam seleksi alam, di mana sang
pemenang akan menjadi sangat berkuasa. Sifat inipun kemudian terbawa
ke kehidupan kerja. Tapi ini baru asumsi dan opini sekelumit orang,
saya tidak berani mengatakan  hal tersebut memang terbukti.

Jika ada yang membaca ini dan termasuk alumni ITB yang menyangkal, ya
nggak papa juga. Kan di awal sudah dikatakan bahwa ini adalah hasil
observasi saya selama bekerja sebagai Head Hunter. Saya cuma mau
berpesan: Janganlah jadi Narsisus. Kami sudah tahu anda hebat, tetapi
tidak perlu membesar-besarkan kehebatan anda. Kami tahu persis anda
pintar, dan mungkin terpintar se-Indonesia. biarkan prestasi anda yang
bicara. Kalau tidak bisa se-Indonesia, jadi paling pintar se-Bandung
saja masih oke kok. Jangan biarkan imej  yang melekat di ITB adalah
Produser Narsisus. Sudah cukup banyak Narsisus di negeri ini.

Taken from: http://sweetchizkei k.multiply. com/journal/ item/364/


 --
Sarwono Sutikno, Dr.Eng., CISA, CISSP, CISM
_______________________________________________
Mailing list civitas academica Teknik Elektro ITB
Akses web : http://mail.ee.itb.ac.id/mailman/listinfo/civitas
Unsubsribe   : kirim email ke [email protected]
Subscribe    : kirim email ke [email protected]
Alamat milis : [email protected]



-- 
- Dedi  -

Life gives Answers in Three ways,
It says YES and gives Whatever u Want,
It says NO and gives u Something Better
It says Wait and gives u the Best

Kirim email ke