Pak Djarot, Pak Koes, dan rekan2 ysh.
Terima kasih atas pandangan dan pendapatnya. Sebelumnya judul thread ini
kita ubah sedikit, mengingat sudah ada peringatan dari Pak Mody.
Saya ada sedikit pandangan berbeda mengenai istilah 'magnet', bahwa
sebenarnya yang dikejar oleh setiap peziarah itu sebenarnya adalah
'hidayah', yang diyakini berada di tempat-tempat tertentu. Sebagaimana
beberapa peristiwa yang saya alami, hidayah itu ternyata tidak menetap di
suatu ruang dan di suatu waktu; terkecuali ruang-waktu yang dijanjikan Allah
swt seperti di Arafah itu, juga Masjidil Haram dan Madinah.

Mungkin saya diizinkan menjelaskan sedikit mengenai hidayah itu sejauh
pemahaman saya selama ini. Hal ini sebenarnya cukup berat saya lakukan
karena kompetensi yang kurang, dan juga sebenarnya hal ini merupakan tugas
para mujtahid; seperti banyak yang lebih pantas menyampaikan di antara kita
peserta milis ini. Bahwa sebenarnya hidayah Allah itu diberikan ke seluruh
alam semesta, dalam berbagai bentuk, dan terkadang juga membedakan hakekat
makhluk. Hal ini sebenarnya merupakan rahasia dari keadilan Allah swt.
Misalnya hidayah akal, diberikan kepada manusia untuk membedakannya dengan
makhluk lain. Kemudian hidayah kemerdekaan, yang membedakan insan religi
dengan insan lainnya yang masih disaput nafsu. Kemudian hidayah iman, yang
membedakan seorang muslim dengan manusia dan makhluk lainnya, yang juga
merupakan hidayah tertinggi.

Dengan demikian hidayah itu telah ditentukan oleh Allah swt dengan demikian
adilnya. Terkadang bisa diberikan ketika beribadah, di Curitiba, di Paris,
di dalam bus kota, di goa Selarong, di Parang Tritis, di musholla hotel di
Kemang, di tengah laut, dst. Di berbagai tempat yang bersih dan wening,
dimana hidayah berkenan untuk hadir. Namun sejauh yang saya yakini bila
hidayah itu 'hinggap' dan bergerak berbatas ruang dan waktu. Sehingga belum
tentu bila seseorang yang pernah menerima hidayah akan terberkati selamanya.
Dalam hal ini adalah benar kiranya apa yang disampaikan oleh Pak Koes: "...
mudah-mudahan oleh-oleh cahayaNya bertahan lama ..." Karena hati manusia
tidaklah terbuat dari besi dan menyediakan media penyimpanan yang permanen.
Atau sering disebut Mulan Jameela dengan "hatiku ini bukanlah hati yang
tercipta dari besi dan baja, hatiku ini bisa remuk dan hancur". Dengan
demikian bila hidayah itu telah hinggap, memang merupakan suatu tugas
berat untuk menjaga dan memeliharanya.

Saya tidak mempercayai bila hidayah itu 'bersemayam' di suatu tempat kecuali
tempat-tempat yang disebutkan secara khusus; namun bisa jadi pernah singgah
di tempat itu. Sehingga seharusnya memang manusia itu mengharapkan hidayah
'langsung' dari Allah swt, di berbagai tempat yang bersih dan wening dan di
berbagai waktu. Dan secara senantiasa, secara taubat, syukur dan ikhlas.

Demikian sementara waktu pak, mudah-mudahan ada yang berkenan meluruskan dan
menambahkan. Salam.

-ekadj

2009/12/3 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
>   Pak Koes, Pak Eka dan sahabats,
>
> Jika demikian, saya jadi mengerti mengapa suatu ruang tertentu menjadi
> selalu dirindui (ngangeni) untuk dialami kembali, karena ya pengalaman
> spiritual semacam itu. Fenomena pengalaman spiritual yang sangat mendalam
> barangkali menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan para
> arsitek dan perencana dalam menjalankan tugas profesionalnya. Tentu fenomena
> ini terjadi pada tema atau kasus ruang-ruang bernuansa religius. Saya jadi
> ingat, mengapa Parangkusumo-Parangtritis setiap malem satu Suro
> pengunjungnya mbludag, bahkan pemkab Bantul menjadikannya salah satu
> penghasilan daerah, ya karena nilai spiritual dari ruang itulah MAGNETnya
> (meminjam istilah Pak Sudaryono).
>
> Saya lantas jadi mengerti, mengapa seseorang ingin berkali-kali ke Mekkah,
> bukan semata-mata karena berhaji berkali-kali melainkan karena mengalami
> peristiwa spiritual yang menyentuh jiwanya hingga sangat mendalam. Jika
> motivasinya adalah pencerahan ilahi, tentu hal ini sangat manusiawi dan
> religius. Hal yang sama juga terjadi di kalangan umat agama yang lain,
> misalnya ziarah Walisongo yang populer di kalangan pesantren di jawa.
>
> Menurut saya, jika kita punya pengalaman tentang spiritual semacam itu,
> pastilah menjadi penguat dalam praktek profesi karena kita memilikinya
> sebagai deposit pengetahuan (dan pengalaman). Seorang arsitek bisa saja
> tidak perlu menjadi seorang presiden terlebih dahulu untuk menyelesaikan
> tugas merancang istana presiden, atau tidak perlu menjadi penjahat lebih
> dulu untuk menyelesaikan tugas desain sebuah penjara yang manusiawi....
>
> Saya kira, pengalaman spiritual atau apapun mesti kita tarik manfaatnya
> untuk pemerkayaan profesi kita, jika kita sepakat milis ini untuk
> mengembangkan pengalaman dan profesionalitas profesi kita....
>
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Thu, 12/3/09, muhammad koeswadi <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: muhammad koeswadi <[email protected]>
>
> Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
> To: [email protected]
> Date: Thursday, December 3, 2009, 5:37 AM
>
>
>
>    Mas ATA, Mas Ekadj, dll,
> Alhamdulillah, para pemikir kita ini, telah memperoleh pencerahan dari
> sumberNya,.. .semoga *oleh-oleh cahayaNya bertahan lama*
> Siapa mau menyongsong, menyusu, dan menyusul
> Salam, KoesJKT
>
>
> --- On *Wed, 2/12/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>*wrote:
>
>
> From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
> Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
> To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> Date: Wednesday, 2 December, 2009, 21:27
>
>
> Betul sekali,
> saya kebetualn merasakannya tanggal 9 tersebut...
> ...walau memiliki berbagai kultur asal yang berbeda semua yang hadir dapat
> mencair menjadi satu dalam waktu-ruang tersebut...bukan main....
> ...sedangkan sebelum dan sesudahnya, dalam waktu-ruang- kultur berbeda,
> padang Arafah sepi melompong... .tidak ada apa-apanya.. ..
>
> Wassalam,
> ATA
>
> 2009/11/27 muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. 
> co.uk<http://uk.mc244.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> >
>
>>
>>  
>> [Attachment(s)<http://uk.mc244.mail.yahoo.com/mc/welcome?.gx=1&.tm=1259792697&.rand=1sd3nf5a3ghgg#125349cb29691ba4_TopText>from
>>  muhammad koeswadi included below]
>>
>> Nambahin sedikit keterangan Mas Ekadj. Tepat sekali Arafah adalah nama
>> yang membawa makna adanya event pertemuan: ruang dan waktu dan kesejajaran
>> dan ‘kematian’.
>>
>> Di sini pula mensyaratkan seluruh hadirin (sebagai tamu Allah/*dhuyufur
>> rahmah*) berstatus sama. Waktunya 9 *dzulhijjah* (hari Arafah) bukan 10 *
>> dzulhijjah*, jamnya dhuhur (mulai sekitar 12.15 waktu setempat hingga
>> sore). Tempatnya padang Arafah yang umumnya panas ini memiliki batas
>> adminstrasi tegas (menurut sumber ditetapkan Malaikat Jibril as.). Siapapun
>> yang berhaji (*wukuf*) harus masuk di dalam wilayah administrasi ini. Di
>> luar batas ini batal (tidak syah).  Di luar batas waktu ini batal juga.
>>
>> Juga, siapapun berkostum seragam khusus, umumnya putih polos (tak
>> berjahit) menyimbulkan kesamaan derajad dunia. Juga, siapapun harus menjaga
>> lingkungan hidup, menghargai kehidupan dan sekaligus dilarang
>> mencabut/menebang rumput, pohon; dilarang membunuh binatang sekalipun
>> sekecil semut. Bahkan dilarang mencabut/menebang bagian organ hidup kita
>> sendiri, misalnya kuku, rambut.
>>
>> Juga, siapapun dilarang berpolemik soal dalil apapun termasuk ilmu
>> pengetahuan (*jidal*). Bila ingin berdalil bukan di masa hajji (5 hari,
>> 9-13 dzulhijjah). Intinya merasakan ‘kematian’. Semua pelanggaran kena
>> saknsi denda (*dam*).
>>
>> Semoga mas Ekadj dan rekan2 berhasil mencapai tapak-tapak kenabian
>> (Ibrahim as.).  (Sedikit informasi agak detil, bisa lihat attachment
>> table Peristiwa Hajji).
>>
>> Wassalam. Koes, JKT.
>>
>>
>>

Kirim email ke