FYI,
Dari milis sebelah..

--- Pada Sen, 5/7/10, Sri Endah <[email protected]> menulis:

Dari: Sri Endah <[email protected]>
Judul: [PT] Anak Laki dan Pohon Apel
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 5 Juli, 2010, 4:25 PM







 



  


    
      
      
      


Dahulu kala ada sebuah 
pohon apel yang besar. Setiap hari, seorang anak laki kecil mendatangi pohon 
itu 
dan bermain di sekelilingnya. Ia memanjat puncaknya, makan buahnya dan tidur di 
naungannya. Ia mencintai pohon itu, dan pohon itu pun senang bermain-main 
dengannya.

Waktu berjalan, si anak tumbuh lebih besar. Ia tidak lagi 
bermain-main di bawah pohon itu setiap hari. Suatu hari si anak mendatangi 
pohon 
dengan wajah sedih.

"Mari kita bermain," kata pohon apel.

"Aku 
sudah bukan anak-anak lagi, aku tidak bermain-main di bawah
pohon," kata si 
anak. "Aku ingin punya mainan. Aku butuh uang 
untuk
membelinya."

"Maaf, aku tidak punya uang, tapi kau dapat memetik 
semua buahku lalu menjualnya."

Anak itu menjadi sangat senang. Lalu ia 
memetik semua apel yang bergantungan di pohon, kemudian pergi dengan perasaan 
gembira.

Setelah itu, si anak tidak kembali lagi. Pohon apel merasa 
sedih. Suatu
hari, si anak kembali dan pohon apel merasa sangat 
gembira.

"Mari kita bermain-main, " ajak pohon apel.

"Aku tidak 
punya waktu. Aku harus bekerja untuk menghidupi keluargaku.
Kami butuh rumah 
untuk berteduh. Dapatkah kau membantuku?" kata si anak.

"Maaf, aku tidak 
punya rumah, tapi kau dapat memotong dahan-dahanku untuk membangun 
rumahmu."

Si anak lalu memotong semua cabang pohon dan pergi dengan 
perasaan gembira. Sang pohon juga merasa bahagia bisa membantu. Namun, setelah 
itu si anak tidak pernah datang lagi. Sang pohon merasa kesepian dan 
sedih.

Di musim panas, si anak kembali datang, dan pohon pun merasa 
sangat senang.

"Kemarilah ... mainlah denganku!" kata pohon.

"Aku 
lagi sedih. Aku semakin tua. Aku ingin sekali berlayar untuk menikmati hari 
tuaku. Dapatkah kau memberiku perahu?"

"Gunakanlah batangku untuk membuat 
perahu. Kau dapat berlayar jauh dan menikmati hari-hari bahagia!"

Lalu si 
anak memotong batang pohon untuk membuat perahu. Ia pergi berlayar dan lama 
tidak kembali. Akhirnya, setelah sekian banyak tahun lewat, si anak 
kembali.

"Nak, maafkan aku, aku tidak punya apa-apa lagi untukmu 
sekarang. Tidak ada lagi apel untukmu.," kata pohon apel.

"Aku sudah 
tidak punya gigi lagi untuk menggigit," kata si anak.

"Aku tidak punya 
batang lagi untuk dipanjat." kata pohon apel.

"Aku terlalu tua untuk 
memanjat." kata si anak.

"Aku benar-benar tidak memiliki apa-apa kecuali 
akar-akarku yang sekarang sekarat," kata pohon dengan sedih.

"Aku 
sekarang juga tidak butuh macam-macam, aku hanya butuh tempat istirahat. Aku 
merasa lelah setelah melewatkan tahun-tahun itu," jawab si anak.

"Baiklah 
kalau demikian. Akar pohon tua adalah tempat yang baik untuk bersandar dan 
beristirahat. Kemarilah., duduklah bersamaku.
Istirahatlah! "

Si anak 
lalu duduk. Dan sang pohon tersenyum bahagia, meneteskan air 
mata.
PS 
:
Setitik Kasih membuat 
kita Sayang, 
Seucap Janji membuat 
kita Percaya,
Sekecil luka membuat 
kita Kecewa,
Tapi sebuah 
Persahabatan akan bermakna abadi selamanya.
Begitulah arti 
kehadiran Sahabat dalam hatiku.
Salam,
Endah

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _________ 
_________ _

This message is for the designated recipient only and may contain privileged, 
proprietary or otherwise private information. If you have received it in error, 
please notify the sender and delete the message immediately. Any other use of 
the email is Prohibited.



    
     

    
    


 



  





Kirim email ke