Dari milis sebelah, smoga mencerahkan
---------- Forwarded message ----------
From: sutono joyosuparto <[email protected]>
Date: Wed, 1 Sep 2010 14:24:44 +0700
Subject: [muhibbun_naqsybandi] Olympiade Sudah Kuno?
To: [email protected], Soeparmono Dasirun Samsudin
<[email protected]>, Roosdiana binti Abdullah
<[email protected]>, suheimi nur usman
<[email protected]>, "dr.ekosuyono" <[email protected]>
Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam. Al Fatiha.
Olympiade Sudah Kuno?
Ya memang dari sejarahnya permainan (game) ini sudah berumur tua sekali. Dan
untuk waktu itu mungkin memang sangat cocok bahwa pada awal peradaban,
manusia memang memerlukan seorang tokoh yang paling kuat, paling cepat
larinya, paling tinggi dan jauh lompatannya dan sederet qualifikasi fisik
lainnya. Tokoh seperti itulah yang dianggap bisa menaklukkan sesama manusia
lainnya dan pantas dijadikan pemimpin.
Tetapi untuk Abad ke 21 ini apakah permainan model seperti itu masih relevan
? Allah memang memerintahkan kita untuk berlomba. Tetapi bukan untuk
berlomba menonjolkan keterampilan pribadi seperti Olympiade begitu. Atau
seperti pemilihan Ratu Sejagad. Bahkan Olympiade Fisika atau Olympiade
Matematika sekalipun, sebetulnya sudah ketinggalan jaman. Pertandingan
berbentuk kerja team, seperti Piala Dunia, Thomas Cup dan Ubber Cup harusnya
diganti hal lain yang lebih diperlukan manusia secara luas dan mendasar.
Keadaan negeri ini secara umum tidak akan membaik, hanya karena misalnya
kita menjadi Pemegang Piala Thomas atau Ubber.
Allah memerintahkan kita untuk berlomba *berbuat baik*. Begitu senang Allah
dengan perbuatan baik, sampai Dia menyediakan hadiah/ganjaran 700 kali lipat
bagi sebuah perbuatan baik. Contoh sederhana : kalau kita mampu berbuat baik
dalam menanam padi, maka satu ha sawah, yang memerlukan bibit sekitar 25 kg,
harusnya akan mendapat hasil/panen sebanyak 17,5 Ton. Tapi data yang
dikumpulkan FAO tahun 2002, hasil panen rata rata sawah di Indonesia hanya
2,5 Ton per ha. Sedang Australia dapat mencapai 11 Ton gabah per ha per
panen. Padahal kita semua diajari di sekolah bahwa negeri ini tanahnya subur
makmur. Sungguh sebuah kebohongan publik yang serius, yang dilakukan
pemerintah ini kepada rakyatnya.
Masih banyak di antara kita yang yakin bahwa berbuat buruk, seperti curang,
mencuri, merampok atau korupsi adalah perbuatan yang menguntungkan. Itu
hanya ilusi saja. Bayangkan kalau semua orang pengguna jalan beranggapan
bahwa melanggar aturan lalu lintas adalah menguntungkan, apa yang mungkin
terjadi? Lampu pengatur lalu lintas akan diabaikan oleh semua pengguna
jalan, dan semua perempatan jalan akan berdarah darah. Dan kalau semua orang
menganggap mencuri dan curang dan korupsi itu menguntungkan, maka semua
orang akan melakukan hal itu dan apa yang akan terjadi ? Bumi ini akan
menjadi tempat yang sangat tidak menyenangkan untuk dijadikan habitat
manusia. Bandingkan dengan kalau suatu masyarakat itu terlihat suka saling
menolong dan berlomba berbuat baik, kita pasti akan senang tinggal di situ
sebagai tempat habitat kita.
Jadi sesungguhnya berbuat baik adalah sifat yang mendasar bagi manusia. Yang
diperlukan adalah sebuah sistem pendidikan dan pelatihan yang memupuk dan
mengembangkan sifat baik tersebut, sejak dari Taman Kanak Kanak secara taat
asas sampai ke jenjang perguruan tinggi. *Learning berbuat baik by doing it
*, dalam semua level pendidikan dan pelatihan.
Sesungguhnya sebagai awal ada contoh yang baik sekali untuk kita gunakan.
Ketika Nabi Muhammad sa.w. pulang dari perjalanan malamnya ke langit
ketujuh, bahkan lebih jauh lagi, besoknya dia menemui para shabatnya dan
berkata :”Doakan saya ya teman teman!” Lho, dia yang sudah dijanjikan surga
dan tidak nampak ada kesukaran yang dihadapinya kok masih minta didoakan,
begitu mungkin para shahabatnya berpikir dalam hati, sambil berkata
:”Bagaimana pula kami berdoa buat engkau ya Rasul? Bukankah engkau yang
hendaknya mendoakan kami kami ini?”
“Begini cara berdoa untuk aku,” begitu Nabi s.a.w. menjawab. “Shali ala
Muhammad wa ala ali Muhammad kama shalaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim….”
Seperti yang kita baca ketika duduk tahiyyat itu lho. Dengan Nabi s.a.w.
meminta para shahabatnya untuk berdoa baginya, maka dia telah berbuat baik
bagi mereka. Mengapa ? Karena kemudian turun ayat yang memerintahkan kita,
orang beriman, untuk bershalawat bagi Nabi s.a.w. Artinya dengan kita berdoa
buat Nabi s.a.w. seperti itu, kita telah berbuat baik buat diri kita dan ini
yang dijanjikan hadiah 700 X nya oleh Allah itu, antara lain.
Jadi jangan minta uang atau barang, tetapi meminta didoakan kepada teman
sekitar kita, itu adalah suatu perbuatan baik. Perbuatan itu masuk dalam
kategori “*wa tawashau bil haqq wa tawashau bi sh-shabar” *yang
dimaksud dalam
Surat Wal Ashr. Orang yang tidak pernah merasa perlu didoakan oleh
sekitarnya adalah orang sombong, yang merasa bahwa dirinya bisa sendiri
berjaya, tanpa bantuan atau doa siapapun. Dan yang dibenci Allah adalah
orang sombong. Kalau Allah sudah membenci seseorang, bagaimana pula itu
artinya? Allah yang berkuasa mematikan dan menghidupkan kita, berkuasa
memberi dan mencabut rezeki kita, berkuasa memberi dan mencabut kekuasaan
kita. Allah gitu loh. Pokoknya sengsara deh, singkat- kata nya.
Bila kita disamping (shali ala Nabi) itu juga selalu (atau banyak) berdzikir
kepada Allah, maka kita telah membuat sebuah lingkaran kebaikan guna melawan
lingkaran setan yang mungkin sedang menjerat (memenjarakan) kita. Allah
adalah Sumber apapun yang tiada habisnya, sedang Nabi s.a.w. adalah tempat
penampung doa yang tiada penuhnya. Bayangkan berapa banyak, kuantitas dan
kualitas, doa yang dikirim Allah dan para Malaikat kepadanya setiap saat.
Apa tidak penuh itu ? Tidak, karena beliau s.a.w. adalah The Perfect Sink.
Doa itu semua dikembalikan kepada si pengirim (mungkin hanya yang dari Allah
yang tidak dikembalikan, karena Allah tidak memerlukan apapun dari makhluq
Nya) ditambah bonus yang dari Allah, yang mungkin memang dibutuhkan oleh
yang bersangkutan. Begitu kira kira gambaran sederhanya mekanisme sekitar
dzikir Allah dan shalawat ala Nabi.
Lalu segi praktis dan yang nampak atau kasat mata, bagaimana berbuat baik
buat sekitar itu? Itu bisa dimulai dengan mengajari anak kita atau anak
didik di sekolah untuk saling mengajari. Yang sudah bisa mengajari teman
atau saudaranya yang belum bisa. Dengan cara ini kita akan mengikis budaya
nyontek yang sudah meraja lela. Diberikan kailnya. Bukan ikannya. Dan
situasi ini menimbulkan tahwaf ilmu yang luar biasa, yang makin mempercepat
dan menambah jumlah ilmu yang bisa di down load manusia dari Sumber nya,
sebagaimana dijanjikan Allah dalam Hukum Syukur dan Shabar itu. Dan Allah
tidak ingkar janji.
Dan budaya menaruh kendi berisi air minum di depan rumah, bisa dimulai lagi,
agar pejalan kaki yang haus bisa melepas dahaganya tanpa harus beli Aqua.
Dan kita membuat angket untuk mengganti kalimat atau baris kedua Lagu
Kebangsaan Indonesia Raya : Tanah Tumpah Darahku. Sudah 82 tahun kita
menggunakan kalimat itu, dan setiap kali seluruh bangsa ini bernyanyi dengan
khusu’ Lagu Kebangsaan mereka pada acara Agustusan, maka para Malaikat
mengamininya. Nyanyian adalah doa. Jadilah negeri ini berdarah darah terus
menerus. Budaya kekerasan ada di mana mana, dari sejak TK, SD, SMP, SMU,
Perguruan Tinggi, DPR, di Rumah Tangga, suami membunuh isteri, isteri
membunuh suami, orang tua membunuh anak, anak membunuh orang tua,
perkelahian antar kampung. Semua suka kekerasan. Cara penyelesaian persoalan
dengan dasar cinta dan logika hanya dikenal dalam dongeng saja.
Dan kalau kita masih menganggap Tanah dan Air adalah kemuliaan kita, makanya
itu dicantumkan dalam kalimat pertama Lagu Kebangsaan : Indonesia Tanah Air
Ku, kita harus merubah Undang Undang Agraria, agar tanah dan air kembali
menjadi milik negara. Ketika masih jaman kerajaan tanah adalah milik
raja/kerajaan. Bahkan penjajah pun mengakui hal itu, sehingga dikenal
istilah tanah sewa dari sejak itu. Sekarang kalau pemerintah akan membangun
sarana umum, mereka harus membeli tanah dari rakyat. Ini kan tidak benar.
Dan dengan tanah dikembalikan kepemilikannya kepada pemerintah, itu lebih
adil dalam pelaksanaan kredit di bank. Tanah tidak lagi diagunkan di bank.
Sekarang ini berlaku keadaan di mana tanah yang dibeli dengan harga sangat
rendah, dikatrol menjadi sangat tinggi untuk mendapat kredit bank. Ini
adalah awal dari budaya korupsi yang mengakar di masyarakat sekarang.
Demikian juga dengan pengelolaan air. Harusnya pemerintah berkewajiban
menyediakan air untuk rakyat, kalau perlu dengan membeli teknologi yang
memungkinkan pemerintah melakukan kewajiban itu. Tapi yang terjadi
pengelolaan air malah dilakukan oleh asing. Jadi Tanah dan Air sudah menjadi
komoditi dagang, bukan lagi Tanah Air yang kita jadikan lambang harga diri
negeri ini. Tanah sudah menjadi milik Ciputra, Aburizal Bakri. Air sudah
menjadi milik Aqua, Danone.
Dan dengan alasan yang bersifat fiktif, dunia sudah meninggalkan konsep uang
adalah penukar barang dan jasa. Sekarang uang sudah menjadi komoditas
dagang. Negara tidak lagi mendasarkan nilai uang nya kepada emas. Segala
sesuatu tentang uang menjadi terasa random dan dibuat buat.
Mari kita renungkan dan pikirkan bersama tentang konsep ini!!! Semoga kita
bisa menyaksikan hal ini diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara secara global. Maka dana yang biasa digunakan untuk menciptakan
peperangan dan kebencian, dan untuk berbagai permainan yang sudah sangat
kuno itu bisa dialihkan kepada program ini, yang sangat kita butuhkan
bersama, yang tidak akan terpenuhi hanya dengan sistem penyediaan subsidi
belaka.
Bi hurmati Habib. Al Fatiha
31 Agustus, 2010
sutono saimun joyosuparto
--
Dikirim dari perangkat seluler saya
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/immam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/immam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/