http://umum.kompasiana.com/2009/08/04/diplomasi-ala-bugis/
Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Rakhmat Siregar <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 2 Sep 2010 00:23:54 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [immam] He he he sudah di alam baka. Pada tanggal 01/09/10, syahganda nainggolan <[email protected]> menulis: > Kau promosi Gus Dur? > > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > > -----Original Message----- > From: Rakhmat Siregar <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Wed, 1 Sep 2010 22:44:55 > To: immam<[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [immam] > > ---------- Forwarded message ---------- > From: m revaldi <[email protected]> > Date: Wed, 1 Sep 2010 14:58:56 +0800 (SGT) > Subject: [muhibbun_naqsybandi] Kulo ndherek, Gus > > > Kulo Ndherek, Gus > Oleh Ahmad Tohari > > > ADALAH Edy Yurnaedi almarhum. Suatu siang, pada 1987, wartawan Majalah > Amanah > itu bergegas masuk ke ruang redaksi di Jalan Kramat VI Jakarta. Dengan > wajah > gembira dia meminta beberapa redaktur, di antaranya saya, mendengarkan > laporannya. Dia baru selesai mewancarai KH Abdurrahman Wahid di Kantor > PBNU. > Topik wawancaranya adalah pluralitas internal umat Islam Indonesia. > > Maka rekaman wawancara pun diputar. Intinya, Gus Dur mengatakan, kemajemukan > di > dalam masyarakat muslim di Indonesia sudah menjadi kenyataan sejak > berabad lalu. > Meskipun sebagian besar umat Islam Indonesia menganut Mazhab Syafi'i namun > ada > juga yang mengambil mazhab lain. Bahkan penganut Islam Syi'ah, Ahmadiyah, > abangan pun ada. Menurut Gus Dur tingkat penghayatan umat pun amat > bervariasi > dari yang hanya berkhitan dan bersyahadat waktu menikah sampai yang > bertingkat > kiai. Namun, ujar Gus Dur kemajemukan itu harus tetap terikat dalam ukhuwah > islamiyah atau ikatan persaudaraan Islam. Artinya, sesama umat Islam yang > berbeda aliran maupun tingkatan pemahaman seharusnya saling menyambung rasa > saling hormat. > > Gus Dur sangat tidak suka terhadap istilah Islam KTP atau Islam abangan. > Baginya, semua orang yang sudah bersyahadat dan berkelakuan baik ya muslim. > Mereka yang ketika bertamu masih memberi salam dengan ucapan kula nuwun > (Jawa), > punten (Sunda) atau selamat pagi, ya muslim karena syahadatnya. > > "Kalau begitu Gus, ucapan assalamu alaikum bisa diganti dengan selamat > pagi?" > tanya Edy Yurnaedi. > "Ya bagaimana kalau petani atau orang-orang lugu itu bisanya bilang kula > nuwun, > punten atau selamat pagi? Mereka kan belum terbiasa mengucapkan kalimat > dalam > bahasa Arab kayak kamu?" > > Itulah inti pendapat Gus Dur dalam wawancara dengan Edy Yurnaedi. Edy > mengusulkan wawancara itu dimuat dalam Majalah Amanah edisi depan dengan > penekanan bahwa Gus Dur menganjurkan mengganti assalamu alaikum dengan > selamat > pagi. Alasannya cukup konyol. Menurut Edy, Majalah Amanah yang kala itu > baru > berumur satu tahun harus membuat gebrakan dalam rangka menarik perhatian > pasar. > "Kan nanti Gus Dur akan membantah. Dan bantahan itu kita muat pada edisi > berikut. Nah, jadi malah ramai kan? Ini cuma taktik pasar kok," Edy > ngotot. > > Drs H Kafrawi Ridwan MA yang waktu itu jadi pemimpin redaksi lebih suka > mengambil sikap momong kepada yang muda. Maka usul Edy ditawarkan kepada > rapat. > Tentu ada yang pro dan kontra. Celakanya lebih banyak yang pro. Mereka > beralasan > seperti Edy, cuma taktik pemasaran, dan Gus Dur mereka yakini akan > membantah. > > Dan terbitlah edisi assalamu alaikum itu. Benar saja, masyarakat riuh. Gus > Dur > menuai kecaman. Oplah majalah terdongkrak. Dan Edy melanjutkan aksinya > dengan > mewawancarai kembali Gus Dur. Diharapkan Gus Dur akan membantah bahwa dia > telah > menganjurkan mengganti assalamu alaikum dengan selamat pagi. Tapi Edy amat > terkejut ketika Gus Dur dengan enteng menjawab, buat apa membantah. > "Biarin, > gitu aja kok repot." > > Edy pulang ke kantor dengan wajah lesu. Oleh pemimpin redaksi dia > dianggap telah > gagal menyukseskan strategi pemasaran. Memang, oplah naik tetapi makan > korban > berupa terjadinya fitnah di tengah masyarakat. Secara pribadi saya pernah > minta > Gus Dur berbuat sesuatu untuk menghentikan fitnah yang sebenarnya tidak > perlu > terjadi. Tapi dasar Gus Dur. Dia tetap pada pendirian akan membiarkan > fitnah itu > berhenti sendiri. > > Sayang fitnah itu ternyata berumur panjang. Setelah Gus Dur wafat kemarin > masih > terdengar suara penyiar yang mengatakan Gus Dur pernah ingin mengganti > assalamu > alaikum dengan selamat pagi. Maafkan kami para wartawan dan redaksi Majalah > Amanah yang telah bermain api yang ternyata membakar kami sendiri. Gus Dur > sendiri tetap berjiwa besar, tetap bersahabat, meskipun banyak yang > terpaksa > salah faham. Gus Dur tidak pernah mengusulkan mengganti assalamu alaikum > dengan > selamat pagi. Untuk hal ini saya akan menjadi saksi bagi Gus Dur. > > Dia, dengan kebesaran jiwa hanya ingin mengajak siapa pun untuk menghargai > sesama muslim yang bisanya mengucap salam dengan kula nuwun, punten, atau > selamat pagi. Ini adalah sikap dasar Gus Dur yang menyintai semua muslim > dari > yang hanya bermodal khitan sampai yang bergelar kyai. Bahkan ukhuwwah > basyariyah > (persaudaraan kemanusiaan) yang berkembang dari iman membuat Gus Dur > memiliki > rasa cinta kepada siapa saja, tak pandang ras, agama, maupun status sosial. > Sugeng tindak, Gus, insya Allah kulo ndherek. > > http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/01/02/93511/Kula.Ndherek..Gus > > imnoexis! > > ~ die before you die ~ > > -- Dikirim dari perangkat seluler saya
