Mudah2an bermanfaat: -------------------- Hampir semua sistem pengapian standar mobil menggunakan sistem induksi ke koil (inductive system). Sistem induksi ini banyak digunakan oleh pabrikan mobil karena sederhana dan murah biaya produksinya. Untuk mobil dengan kebutuhan 'standar', sistem ini sudah mencukupi. Tapi ketika kita berbicara 'performance' atau peningkatan kemampuan mesin, sistem induksi yang dipakai pada standar mobil tentu sudah tidak mencukupi lagi. Kenapa bisa begitu? Kelemahan utama sistem pengapian induksi mobil standar adalah terletak pada dua fungsi yang dilakukan secara sekaligus oleh koil. Pertama koil bertugas seperti 'trafo step up' untuk meningkatkan tegangan masuk dari aki. Sedang tugas yang kedua adalah menyimpan 'energi listrik' ini untuk beberapa saat (charging) sebelum dilepaskan sesuai dengan perintah sulut (trigger) yang didapat dari ignitor atau platina. Tetapi sebanding dengan meningkatnya RPM mesin, di sisi lain ternyata tidaklah cukup waktu untuk 'menjalankan fungsi meningkatkan tegangan' (step up), sehingga energi spark (spark energy) atau energi percikan api yang terjadi di busi setelah koil disulut (ditrigger) menjadi lemah. Lemahnya energi spark ini menyebabkan kegagalan proses pembakaran campuran BBM dan bisa mengakibat terjadinya 'misfire' (kegagalan pengapian) sehingga mesin kehilangan sebagian tenaganya karena BBM tidak bisa terbakar sempurna. CDI itu apa sebenarnya? Kita sering mendengar istilah CDI atau Capacitive Discharge Ignition, yang diartikan banyak orang sebagai 'pengapian tanpa platina'. Pengertian seperti ini tidak seratus persen salah tetapi juga tidak benar sepenuhnya. Platina dalam sistem pengapian standar mobil adalah kontak poin (contact point) yang berfungsi sebagai penyulut (trigger) koil. Fungsi ini dalam perkembangan selanjutnya diganti oleh rangkaian elektronik yang bekerja sama dengan ignitor, yang kemudian kerap dianggap sebagai CDI. Padahal rangkaian elektronik yang secara umum disebut ignitor ini mempunyai fungsi sama persis seperti platina tetapi mempunyai prinsip kerja secara elektronik bukan mekanikal, sehingga tidak mengalami keausan seperti platina. Sistem pengapian tanpa platina ini sering dinamai pula sebagai Transistorized Ignition System atau Solid State Ignition System, karena di dalamnya menggunakan komponen transistor sebagai komponen aktifnya. CDI atau Capacitive Discharge Ignition secara umum adalah sebuah alat yang mampu menghasilkan energi spark yang sangat kuat di seluruh rentang RPM, mulai dari RPM rendah pada saat start sampai sangat tinggi pada saat mobil berakselerasi kencang. Alat ini menghasilkan output energi spark yang besar langsung dari aki mobil dengan melalui 'trafo penaik tegangan' yang dibuat secara khusus di dalamnya, sehingga mampu menghasilkan tegangan secara konstan dan stabil sebesar 400 volt atau lebih, dari hasil melipatgandakan tegangan aki. Selanjutnya energi tegangan listrik ini disimpan dalam sebuah kapasitor (charging process) yang kemudian dilepaskan (discharge process) saat mendapat trigger. Pada peristiwa ini, tegangan listrik sebesar itu disalurkan ke koil sehingga berlipat ganda menjadi sekitar 30 - 50 ribu volt bahkan lebih, tergantung dari tipe koil yang dipakai. Kemudian dialirkan ke distributor dan berakhir di busi menjadi energi spark yang besar. Kemampuannya untuk menyediakan tegangan yang besar dan stabil di seluruh rentang RPM inilah yang menjadikan alasan mengapa kita membutuhkan sebuah sistem pengapian CDI. Sekarang sudah menjadi semakin jelas untuk membedakan antara sekedar transistorized ignition yang menggantikan fungsi platina tanpa mempunyai output energi spark yang besar, karena hanya mengandalkan tegangan aki sebesar 12 volt DC, dengan CDI yang mampu menghasilkan energi spark besar sesuai dengan penjelasan di atas. Di pasaran, banyak yang mengklaim barang dagangannya sebagai CDI pengganti platina, padahal kenyataannya tidak lebih adalah sejenis kontak poin elektronik yang memang menggantikan fungsi platina tapi dengan output yang sama dengan platina, yaitu 12 volt DC sesuai dengan voltase aki. Memang, kontak poin jenis elektronik ini lebih awet dan tidak aus karena gesekan mekanikal dan bisa bertahan bertahun-tahun tanpa perlu menggantinya seperti platina. Kontak poin yang memakai prinsip kerja elektronik ini banyak ditemui pada mobil-mobil keluaran tahun 90an dalam berbagai jenis, seperti pick-up coil, magnetic pick up, hall efect, dll. yang dipadu dengan ignitor sebagai pembangkit pulsa untuk mentrigger koil. Kesimpulannya sistem pengapian tanpa platina bukan berarti selalu adalah CDI. Tetapi sistem kontak poin dengan menggunakan platina ini bisa disandingkan bersama dengan sistem CDI seperti halnya sistem pengapian yang memakai ignitor. Karena platina atau ignitor hanya dipakai sebagai trigger yang berguna untuk menyulut rangkaian CDI agar bekerja menghantar energi spark ke koil dan seterusnya sampai ke busi. Kalau Multiple CDI itu apa? Dalam perkembangan selanjutnya, sistem CDI konvensional mengalami kemajuan yang cukup signifikan, dengan ditemukannya prinsip penggandaan spark (multiple spark) yang mampu menghasilkan spark LEBIH BESAR, LEBIH BANYAK, serta waktu pengapian yang jauh LEBIH LAMA (20 degree crankshaft duration) sehingga mampu membakar sempurna BBM yang masuk ke ruang bakar. Sistem ini kemudian dikenal dengan sebutan MULTIPLE SPARK CDI atau biasa disingkat MULTIPLE CDI.
Apa produk yg udah mengaplikasikan multiple cdi ini? Mungkin om Indra bisa kasih testimonialnya nih pengalaman selama pake alat multiple cdi digital-nya. Sharing ya oom.. -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ozikeren Sent: Tuesday, May 01, 2007 1:05 PM To: [email protected] Subject: [InBike] Harga Pertamax Naik Lagi Mulai 1 Mei Pukul 00:00 WIB Harga Pertamax Naik Lagi Mulai 1 Mei Pukul 00:00 WIB Jakarta (ANTARA News) - PT Pertamina (Persero) mulai 1 Mei 2007 pukul 00.00 WIB kembali menaikkan harga Pertamax menyusul kenaikan harga minyak mentah internasional belakangan ini. Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal mengatakan di Jakarta, Senin, harga Pertamax di wilayah Jakarta, Banten dan Jabar mengalami kenaikan Rp450 per liter dari sebelumnya Rp5.600 per 1 April 2007 menjadi Rp6.050 per 1 Mei 2007. "Kenaikan Pertamax ini dikarenakan harga minyak naik dari 60 dolar AS per barel menjadi 67 dolar AS per barel," katanya. Sebelumnya, harga Pertamax naik dari Rp4.900 per liter pada 1 Maret 2007 menjadi Rp5.600 per 1 April 2007. Selain Pertamax, Pertamina juga menaikkan harga Pertamax Plus di wilayah yang sama menjadi Rp6.350, dari sebelumnya Rp5.850, Pertamina Dex Rp6.250 dari Rp5.900, dan Bio Pertamax Rp6.050 dari Rp5.600. Menurut Faisal, Pertamina juga menaikkan harga BBM industri per 1 Mei 2007 pukul 00.00 WIB. Harga premium naik 7,8 persen, minyak tanah naik 5,6 persen, minyak solar naik 7,7 persen, minyak diesel naik delapan persen, dan minyak bakar naik 11,3 persen. "Patokan harga minyak di Singapura pada periode April naik antara 8-11,5 persen dibanding periode sebelumnya. Sementara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah sebesar 0,47 persen," ujar Faisal. Harga baru premium industri per liter menjadi Rp5.885,7, minyak tanah Rp5.672,7, minyak solar transportasi Rp5.773, minyak solar industri Rp5.522, minyak diesel Rp5.442,8, minyak bakar Rp3.587,1 dan Pertamina Dex Rp5.992,65.(*) Copyright (c) 2007 ANTARA salam ozi anti kekerasan cinta kekenyalan --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda tergabung dalam milis Indosat Bikers Community (InBike) ----------------------------------------------------------------------------------------------- We moderators work for free only for your convenience in our milis. Help us and obey the rules or be gone! ----------------------------------------------------------------------------------------------- Untuk mendaftar kirim email data diri ke [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar milis kirim ke [EMAIL PROTECTED] Untuk mengirim ke milis email ke [email protected] http://www.inbike.org http://inbike-2006.fotopic.net http://inbike.multiply.com -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

