Catatan Laluta:
KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H, yang saya
kirim secara bertahap ( I s/d XII), adalah merupakan ungkapan ekpresi karya
tulisan yang merenungkan kembali sejarah hidup pengalaman nyata dirinya bersama
lingkungannya sebagai "Tahanan Politik" tanpa melalui proses Hukum Peradilan.
Penulisan ini tentunya bermaksud ingin menggali terus maknanya dalam mengolah
batin atau jiwanya , karena pengalaman itu bisa kita olah tidak hanya dengan
nalar tetapi juga dengan iman demi meneruskan perjuangan cita-cita bangsa untuk
"Kemerdekaan yang Adil dan Beradab".
Sehubungan dengan peristiwa Pelanggaran HAM berat paska 1965 nyatanya
belumlah terungkap secara tuntas tentang Kebenaran Sejarahnya. Untuk itu betapa
pentingnya sumbangan karya tulisan pengalaman nyata anda, tetangga, teman,
kenalan, murid, saudara, orang tua, dll yang ada di sekitar kita itu, yang
tentunya bisa kita olah dalam batin kita masing-masing. Mengapa kita pernah
bersimpati, pernah menegur dan malahan mungkin pernah menolong? Mengapa kita
tidak pernah bersimpati, tidak pernah mengulurkan tangan? Atau bahkan ikut
mensukuri? Dimana 'campur tangan Tuhan' dalam pengalaman nyata ini? Dst.
Terimakasih atas perhatian dan simpatinya,
La Luta Continua!
Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Date: Mon, 5 Feb 2007 03:57:19 -0800 (PST)
From: Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( XI I
- Selesai)
KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S
BULEMBANGBU
Oleh N. Syam. H
PULANG
Fajar tahun 1979 hampir menyingsing. Obrolan pembebasan sudah menjadi obrolan
rutin para tapol, di mana-mana, di sawah, di ladang, di hutan gergajian, apa
lagi di barak ya pokoknya di mana saja, kapan saja masalah pembebasan selalu
menjadi bahasan yang menarik. Ya namanya orang banyak, macam-macam pula pikiran
dan angan-angannya. Ada yang berucap kaul (nazar), kalau bebas mau puasa 40
hari sebagai ungkapan rasa syukur, sebaliknya ada pula yang berujar akan makan
bersama istrinya selama seminggu non-stop. Gila!, tapi semua sah-sah saja
namanya juga orang berujar semau-maunyalah, itu kan cuma ucapan sekedar
pernyataan kegembiraan.
Kerja santai berjalan terus, panen kacang tanah di ladang HP berjalan dari
pagi hingga sore, petugas dapur yang mengirim makan siang datang, mukanya
tampak ceria, setengah teriak dia berucap, Aku bebas, aku bebas!, namaku
tercantum dalam papan!
Hei, jangan teriak-teriak kayak orang sinting gitu, ayo bawa sini kirimannya
kami sudah lapar nih!
Siapa saja yang namanya tercantum di papan? tanya kami
Dari yang panen ini, kalau nggak salah cuma seorang yang nggak tercantum
namanya, mang Karna
Kami semua bersorak dan bertepuk tangan, sebaliknya mang Karna lemas lunglai
tak berdaya. Aku tepuk punggung mang Karna, "Jangan sedih mang. Mang Karna juga
pasti akan bebas, hanya waktunya saja yang berbeda, atau bisa jadi ada salah
tulis, atau mungkin tulisan di papan itu belum lengkap semuanya,". aku mencoba
menghibur.
Lihat saja sendiri mang, atau nanti di barak tanyakan kebenaran berita itu
pada kepala barak, lanjut yang lain.
Karena aku sudah termasuk dalam rombongan orang-orang yang dibebaskan laparku
mendadak jadi hilang, apalagi sambil panen kami tadi juga ngemil kacang rebus.
Rasa lapar kami semua lenyap begitu saja tertelan oleh luapan kegembiraan, ya
maklumlah, itu bisa dimengerti.
Ternyata nama-nama yang tertulis di papan barak banyak yang berubah, nama
yang tadinya tertulis bebas berganti dengan nama orang lain. Perubahan ini
menjadikan teman-teman yang tadinya penuh semangat dan harapan kembali lunglai
dan hilang semangat, seperti bara yang tersiram air. Dan ternyata dari 100
orang warga barak-III tidak semuanya bebas, ada lebih dari separuh yang
tertinggal.
Untuk membuat kenangan dalam menyambut perpisahan, barak-III akan membuat
acara istimewa, pesta kecil-kecilan akan diselenggarakan, makan enak menurut
kemampuan barak.
Dua-tiga hari sebelum kami meninggalkan Unit-II, barak-III memenuhi janjinya,
pesta kecil-kecilan pun diadakan.
Kemin, nama seekor kerbau yang telah banyak memberikan jasanya kepada tapol.
Kemin, si penarik bajak dan garu, entah sudah berapa ribu hektar sawah yang
dibajak dan diinjak-injak kakinya sampai lumat. Begitu setianya si Kemin
menemani pak Wongso (pembajak dan penggaru asal Klaten, Jawa Tengah) dan aku
biasanya suka menjadi buntut garu. Dia nggak pernah menuntut apa-apa, sesudah
rucat Kemin cukup puas dengan berkubang, makan rerumputan atau sekedar memburu
betinanya. Pengorbanan Kemin selama ini sudah luar biasa, tapi rupanya
pengorbanan Kemin belum cukup sampai di situ. Saat-saat terakhir pembebasan
para tapol, Kemin harus memberikan pengorbanan terakhir, pengorbanan yang
teramat besar. Kemin harus merelakan jiwanya melayang, menyerahkan daging,
darah tulang dan kulitnya pada para tapol. Kemin siap mati untuk disembelih.
Demikian juga yang terjadi pada seekor anjing betina, bernama Hella, anjing
yang satu ini adalah anjing kesayangan warga barak. Hella anjing cikal bakal
yang dimiliki barak, banyak keturunannya yang sudah menjadi santapan.
Kepandaian Hella menangkap tikus saat menemani panen susah dicari tandingannya,
Hella bisa menyusup di kelebatan tanaman padi, dan saat ia keluar ia pasti
membawa tikus tangkapannya. Tikus itu mati digigitnya dan kemudian
ditinggalkannya di pematang, lalu ia kembali menulusup berburu lagi. Sedang
tikus yang ia tinggalkan menjadi rebutan para tapol. Hella anjing yang tahu
balas budi dan warga makin menyayanginya. Tapi apa boleh buat Hella pun harus
mengikuti jejak si Kemin, Hella juga harus mengorbankan dirinya, Hella harus
siap mati dicekik demi majikannya.
Ya begitulah nasib hewan, kegagahannya yang tidak disertai akal, apapun
kehendak manusia, dia tak pernah bisa menolak dan membantahnya, hanya
manusianya yang kadang-kadang keterlaluan, berbuat semena-mena, apa lagi kalau
sudah menjadi penguasa, sering lupa daratan. Aji mumpung menjadi modal dan
andalan. Sekecil apa pun yang namanya kekuasaan pasti mempunyai nilai lebih,
dan untuk itu orang tak segan-segan berbuat apa pun demi sebuah kekuasaan.
Kekuasaan bisa mendatangkan kehendak apa pun yang diingkinkan, kekuasaan dapat
mendatangkan kekayaan, kekayaan bisa memenuhi kehendak di atas perut dan di
bawah perut. Kekuasaan dan kekayaan memang dapat menjungkir balikan dunia.
Pertengahan bulan Desember 1979, kami siap meninggalkan Unit-II. Unit yang
kami bangun dengan kucuran keringat, darah, tulang dan otot selama 10 tahun
harus kami tinggalkan. Kami tinggalkan seluruh hasil karya kami untuk siapa
saja yang menghendaki, kami tak ada lagi sangkut paut dan urusan dengan
Unit-II, kalau sejarah mau mencatat hasil kerja kami ya silahkan jika tidak pun
kami tak peduli. Diakui atau tidak kami telah memberikan apa yang kami miliki,
sampai kepada harta kami yang paling berharga yaitu nyawa kami, kami telah
membangun sebagian dari tanah air tercinta.
Jam 11 siang rombongan siap diberangkatkan, kami saling berpelukan, menangis
penuh haru, masa 10 tahun dalam kebersamaan bukanlah waktu yang singkat, 10
tahun yang lalu kami tak saling mengenal, kesamaan nasiblah yang mempertemukan
kami, persahabatan, kekeluargaan, rasa saling mengasihi dan menyayangi yang
kami jalin selama 10 tahun ini akan segera berakhir dan akhirnya akan tinggal
menjadi kenangan, dan boleh jadi dengan berjalannya waktu segala kenangan itu
tak terasa akan lenyap seperti menguapnya embun ditelan sinar mentari, nggak
apa-apa, tak ada pesta yang tak berakhir, kata si Kliwon. Apa yang sedang
terjadi saat ini adalah suatu hal yang selama ini kami inginkan dan kami
kehendaki. Ya kami ingin bebas berapa pun harga kebebasan itu kami siap
membayarnya. Rasa sedih akan perpisahan ini pasti akan hilang lenyap saat kami
bertemu kembali dengan keluarga yang kami cintai, keluarga yang selama ini kami
rindukan. Apakah nanti setelah kami ketemu keluarga keadaan makin
sulit, berantakan atau runyam, itu soal nanti.
Dengan diantar suasana yang haru biru kami berjalan, memasuki lending,
komando terdengar dan lending bergerak laju. Seperti ketika ADRI-11
meningggalkan Nusa Kambangan, kulambaikan tanganku, kuucapkan selamat tinggal
pada Unit-II, Inrehab dan Pulau Buru. Tak lupa kuucapkan pula selamat tinggal
pada Pocen dan Mukakodo serta khususnya untuk Mandepa, akankah Mandepa tetap
ingin menjadi tapol?. Kasihan dia.
Perjalanan pulang kami sangat jauh berbeda dengan keberangkatan kami ke Pulau
Buru, baik itu alat transportasinya maupun perlakuan yang kami terima. Kali ini
kapal haji Gunung Jati yang mengangkut kami, keadaannya jauh lebih baik dari
ADRI-11. Dulu katanya kapal ini milik PT.ARAFAT, nggak tahu mengapa sekarang
ada di tangan ALRI. Awak kapal seluruhnya dari Angkatan Laut. Selama perjalanan
kembali ke Pulau Jawa tak ada intimidasi. Kapal berjalan lancar, suara merdu
mbak Waljinah yang keluar dari kaset mengumandangkan lagu "Walang Kekek" lagu
pop daerah yang populer ikut mengantar dan menghibur kami dalam perjalanan
pulang.
Para penumpang yang beragama Katholik atau Protestan sempat bernatalan di
kapal, kopi susu yang tersedia bisa kami minum sepuas kami, entah dari mana
biayanya tak kami pedulikan, hati dan pikiran kami terlalu sibuk memikirkan
saat-saat akan pertemuan kembali dengan keluarga kelak. Kami mendapat satu set
alat makan, piring, sendok dan mug untuk minum, kami juga mendapat sepasang
sepatu dan sebuah tas pakaian. Dalam perjalanan kapal menuju ke tanah Jawa,
setiap kali kapal melewati daerah tertentu selalu ada informasi yang diberikan,
seperti kapal kini sudah memasuki Laut Jawa, kapal sudah melintas di atas
Surabaya dan mendengar informasi ini kami semua bersorak. 48 jam lagi
barangkali kami akan memasuki pelabuhan Tanjung Priok. Mudah-mudahan.
Jam tiga dini hari, kapal berhenti, mandeg tak bergerak. Aku melongok ke
jendela terlihat jelas di sekeliling laut cahaya lampu. Kedipan dan gemerlapnya
lampu membenarkan dugaanku, bahwa kapal sudah sampai di Tanjung Priok. Benar
juga, kapal sudah tiba di tempat tujuan tinggal menunggu kapal tandu yang akan
memandu ke dermaga.
Pikiran dan hatiku makin bergelora, bagaimana nantinya aku ini?. Bisakah aku
bertemu kembali dengan keluargaku, terutama dengan anakku?. Apakah aku akan
menjadi seorang gelandangan sesudah aku menginjak Jakarta kembali?. Akankah
terbukti kesombonganku di depan petugas Kejaksaan dulu yang aku tolak
bujukannya untuk mendatangkan keluargaku ke Pulau Buru?. Ya saat kebebasan
sudah menjadi kenyataan, apapun resikonya nanti harus bisa kuterima dan
kuhadapi.
Tanggal 31 Januari 1979 pada jam enam pagi, kami sudah naik darat, pertama
kalinya kaki ini kembali menginjak tanah Jawa, khususnya kota Jakarta,
truk-truk penjemput sudah siap menungu, serah terima penumpang dari Kapten
kapal kepada Komandan Kodim setempat selesai. Kami lalu diangkut dengan truk ke
Kodim. Sesampai di Kodim kami dihitung ulang, beres penghitungan kami menerima
pengarahan dan diteruskan dengan janji sumpah setia pada Pancasila dan kemudian
diakhiri dengan pembagian makan siang (nasi kardus).
Dari Kodim inilah kami mulai berpisah dengan teman-teman seperjalanan. Kami
berpisah menuju alamat tinggal masing-masing, berpencar ke lima wilayah
Jakarta, aku sendiri masuk ke dalam rombongan yang menuju ke Jakarta Timur.
Dulu ketika meninggalkan Salemba kami diangkut dengan truk dan kami nggak
boleh berdiri, kali ini kami diangkut juga dengan truk tapi ada sedikit
perbedaan, kami boleh berdiri.
13 tahun yang lalu di kiri-kanan jalan By pass masih berupa bulakan sawah dan
rawa-rawa, tapi kini di kiri-kanan jalan By pass telah berubah menjadi
gedung-gedung, seperti bangunan pabrik atau gudang. Jalan satu arah dipenuhi
lalu-lintas berbagai kendaraan yang tidak pernah kutemui ketika di Pulau Buru.
Ya Jakarta ternyata telah banyak berubah. Ketika truk pengangkut melintasi
jembatan Jatinegara, di bawah jembatan melintas kereta listrik, dari jembatan
jalan agak menurun, truk belok kanan ke arah Prumpung. Lajunya truk makin
lambat, belok lagi ke kiri, di depan pintu kereta truk mandeg karena macet.
Aku agak bingung, sebenarnya mau kemana truk ini. Nggak tahunya, sesudah
kemacetan reda tujuan truk hanya tinggal beberapa meter dari pintu kereta.
Itulah Kodim Jakarta Timur.
Di sekitar kantor Kodim telah dipadati orang-orang, laki-perempuan, tua muda
bahkan anak-anak. Mereka adalah keluarga para tapol yang hendak menjemput kami.
Masih di atas truk aku melihat sosok istri dan anakku, kakak perempuanku yang
tertua pun terlihat, mengelompok dengan anak dan istriku. Ketika kakakku
melihatku, tak sadar dia setengah berteriak memanggil namaku. Nampak mbakyuku
itu mengusap air matanya. Rasa haru dan gembira menyatu.
Belum ada komando untuk turun dari truk, kutebarkan pandanganku di sekitar
para penjemput, terlihat olehku pak Alex (guru pijatku di Salemba),
ibu-istrinya pamanku juga datang menjemput suaminya. Satu hal yang nggak pernah
terpikir olehku dan nggak pernah kuperkirakan, teman lamaku Suparno dan adiknya
Suprapto ada pula dalam kerumunan para penjemput. Tapi siapa yang hendak mereka
jemput?. Setahuku mereka adalah keluarga bersih lingkungan, nggak ada satu
pun dari keluarga mereka yang tersangkut peristiwa hebat itu.
Akhirnya kami diperintahkan turun juga, apel dan penghitungan kembali
dilakukan, satu persatu nama dipanggil untuk mengetahui keberadaannya. Semua
komplit nggak ada yang kececer. Komandan Kodim kemudian memberikan pengumuman,
"Harap para penjemput tenang dan tertib!, penyerahan tapol kepada keluarganya
akan segera dimulai. Saudara-saudara harus menandatangani berkas penyerahan
ini, dan seterusnya bekas tahanan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab si
penanda tangan. Oleh karena itu berikan kepada kami alamat yang komplit dan
jelas. Tunjukkan KTP anda sebagai penanggung jawab. Maaf saudara-saudara, perlu
saya jelaskan, untuk saudara-saudara ketahui bahwa pembebasan para tapol ini
masih dalam masa percobaan. Apakah masyarakat setempat tidak keberatan dan bisa
menerima kehadiran para tapol ini, apakah dalam masa percobaan ini mereka tidak
bikin ulah lagi. Kalau kedua hal ini terjadi, maka kami tidak akan segan-segan
untuk mengambil tindakan tegas, dan boleh jadi kami akan
mengamankan mereka kembali. Bagaimana saudara-saudara, sanggup?
Para penjemput serentak menyahut, Sanggup!
Rupanya para keluarga nggak perlu banyak berfikir, sanggupi saja, habis
perkara, soal kemudian adalah soal nanti.
Satu persatu nama penjemput dipanggil untuk menerima dan menandatangani surat
penerimaan, persis seperti menerima barang yang baru di keluarkan dari gudang.
Saat keluarga yang menjemput dan dijemput bertemu dan berpelukan terdengarlah
tepuk tangan, isak tangis, sedu-sedan dan haru tumpang tindih. Mereka saling
melepas rindu, senyum kegembiraan tampak pada wajah masing-masing, tanda rasa
syukur yang tiada tara.
Entah sudah berapa banyak nama yang dipanggil, tetapi nama istriku kok lama
banget nggak dipanggil-panggil, sesaat terfikir olehku mungkin bukan istriku
yang menjadi penanggung jawab, boleh jadi mbakyuku, siapa tahu?.
Nyonya Mulyani Nursamhari!, akhirnya terdengar juga nama istriku disertai
dengan namaku dipanggil. Hatiku nratap, deg!, tak ubahnya seperti saat aku
dipanggil ke depan ketika di Budi Kemuliaan. Kalau dulu aku dipanggil untuk
menghadapi singa lapar, sekarang aku dipanggil untuk bertemu dengan gemulainya
seorang istri tercinta. Terlihat istriku maju, dengan tangan gemetar dia
membubuhkan tanda tangannya. Nggak perlu malu dan rikuh, tanganku dibimbingnya,
dan segera saja kami berpelukan, dan tepuk tangan terdengar lagi.
Pak Alex menghampiri, menyalami dan merangkulku, Selamat datang, Ji!,
katanya. Panggilan Kajiku ternyata tetap diingatnya, kami tertawa lega.
Mbakyuku kupeluk, air matanya terus meleleh. Sudah tenang, yu!, kita kan sudah
berkumpul lagi, bujukku, tanganku terus merengkuh pundaknya yang kurus
erat-erat. Anakku sudah merambat menjadi remaja, sekolahnya mulai menginjak
SMP, tentu saja aku nggak kuat lagi menggendongnya seperti saat pertemuan
keluarga dulu di Salemba. Tangannya terus memegangiku tanganku, nggak mau lepas
dari tangan bapaknya, padahal tangan bapaknya kasar dan gedebel, mati rasa,
mungkin diiris pun nggak akan terasa, semua itu akibat gesekan dengan doran
(gagang) pacul selama 10 tahun tanpa henti, badan bapaknya ini tambah kurus,
kulitnya tambah hitam, dekil karena mandinya air kali tanpa sabun pula, kalau
pakai sabun pun itu hanya sabun cuci sekalian mencuci pakaian dinas persawahan.
Bibi yang kupanggil ibu, istri pamanku datang menyalami sambil berucap, Kau
harus berterima kasih sama istrimu, bojomu anak yang setia sama suami. Coba
perhatikan, istrimu masih kerja, masih kelihatan muda, kulitnya nampak putih
bersih, ee kok gelem-geleme nompo uwong koyo ngene rupane (mau-maunya menerima
orang macam begini). Hanya sampai di situ percakapanku dengan ibu, ibuku
mendapat panggilan untuk menerima suaminya, apa yang terjadi dalam pertemuan
mereka, aku nggak tahu. Pikiranku hanya tertuju pada satu arah, ketemu
keluargaku.
Pikiranku saat di atas truk benar, teman lamaku yang terlihat tadi memang
nggak menjemput siapa-siapa. Mereka berdua, temanku dan adiknya sengaja datang
untuk menjemputku. Mereka membiarkan aku berlama-lama menuntaskan rasa rindu
yang memenuhi dadaku ini kepada istri dan anakku. Baru sesudah itu mereka
menghampiri, menyalami dan merangkulku.
Kami sengaja datang untuk menjemputmu, kami mengerti keadaanmu, apa maksud
keadaanmu itu nggak perlu kau ketahui sekarang, nanti sajalah aku beri tahu.
Keluargaku sudah sepakat, untuk sementara kek, atau seterusnya kau boleh
tinggal bersamaku. Satu kamar telah kami sediakan untukmu.
Adiknya menyambung, Mas, mas Nur nggak saya anggap orang lain, mas Nur
adalah saudaraku juga. Kami ikhlas mas, terimalah tawaran ini tanpa perasaan
macam-macam, ini tawaran dari saudara sendiri. Kalau mas Nur kesel dan bosen
tinggal di rumah mas Parno datanglah ke rumahku, rumahku cukup untuk ditambahi
satu orang.
Tak tahan air mataku menetes tanpa henti, tak kusangka aku mendapat perhatian
begitu besar dari orang lain, mereka hanyalah teman, orang lain bapak, lain
emak, kakek dan neneknya juga lain, mereka kukenal sejak tahun 1953, ketika
sama-sama satu kelas di Taman Dewasa, yang ada di jalan Garuda 25, Jakarta.
Memang sejak itu sampai saat aku ditangkap, kami nggak pernah putus hubungan.
Bahkan sampai dengan seluruh keluarganya, aku nggak dianggap orang lain. Dan
sahabatku inilah yang dulu sering mengirim besukkan roro ireng untukku saat aku
masih dalam tahanan Budi Kemuliaan dan Salemba.
Sebuah taksi bercat kuning dipanggilnya, kami sekeluarga naik, mas Parno dan
dik Prapto ikut mengantar, kemana tujuannya aku belum tahu. Istriku lalu bilang
pada supir, Utan Kayu pak, gang Mangga.
Aku tanya sama istriku, Kita akan pulang dan menempati rumah kita dulu?,
kapan katanya rumah itu sudah diambil sama yang punya?
Iya mas, rumah kita yang dulu memang sudah diambil oleh yang punya, kita
pulang bukan ke rumah itu, tapi ke rumah kita sendiri hanya tempatnya memang
nggak jauh dari rumah kita yang dulu.
Lho lantas rumah siapa itu, rumah sewaan?
Nggak mas, itu rumah kita sendiri, nanti sajalah aku ceritakan tentang rumah
kita sekarang ini.
Mas Parno nyambung, Sudahlah ndak usah tahu dulu tentang rumah, yang penting
sekarang pulang dulu, nggak peduli rumah siapa kek, masuk dan tempati saja dulu
kan ada yang mengajak dan tanggung jawab ini.
Taksi terus melaju menuju alamat yang di tuju, nggak lebih dari setengah jam
taksi pun sampailah ke rumah. Rumah itu kecil, lebarnya nggak lebih dari 3
meter hanya agak panjang kayak gerbong kereta api, suasananya gelap maklum
belum ada listriknya. Rumah itu memang sudah tembok dan tingkat, tapi
bangunannya terlihat serba sederhana, malah sangat sederhana sekali dibanding
dengan rumah-rumah di sekelilingnya, ruang tamunya kecil dan sempit, kursinya
pun hanya berupa kursi besi dengan jog berbalut plastik seperti pentil sepeda,
pantas kalau disebut kursi pentil, dan kursi semacam ini biasanya lebih cocok
untuk kursi santai di bawah pohon jambu. Lantai rumah terbuat dari tegel
berwarna kuning kehitaman dan sudah pecah-pecah. Kamar tidur yang kecil dan
sempit ada di belakang ruang tamu, kamar itu bersekat tripleks untuk
memisahkannya dari ruang makan.
Kamar mandi dan wc menjadi satu bersebelahan dengan dapur, tempat inilah yang
paling gelap karena tak ada jendela di sana. Jadi biar siang hari pun lampu
teplok minyak tanah harus disundut. Rumah tinggalku ini tingkat bagian atasnya
hanya terdiri dari satu ruangan, seperti geladak, panjang dari depan sampai ke
belakang, hanya bagian belakang sedikit di pisah untuk tempat menjemur. Walau
keadaan rumah ini teramat sangat sederhana aku tetap bersyukur, karena masih
ada tempat bagiku bernaung bersama keluarga.
Tetangga kiri-kanan mulai berdatangan, memberi salam selamat dan kami saling
berkenalan. Sore hari adik laki-lakiku terkecil datang bersama istrinya,
ternyata mereka juga tinggal di bilangan Utan Kayu hanya berbeda gang saja,
kami saling berpelukan penuh haru, adikku sudah beranak empat, masih
kecil-kecil semuanya. Mas Parno pamit pulang sebentar, tak lama ia pun kembali
sambil menenteng petromaks, langsung saja lampu itu dinyalakan, Nih, pakailah
lampu ini, lumayan buat penerangan sebelum ada listriknya, dan ini accu (aki)
masih baik, barangkali ada radio, bisa dimanfaatkan.
Mbak Kasri, istri sahabatku yang datang menyusul setelah menyalamiku langsung
mengajak istriku masuk kamar, ada keperluan apa aku nggak tahu, itu urusan
mereka.
Karena banyaknya tamu yang berdatangan rumah kecil ini kelihatan sangat
padat, hal ini rupanya menjadi tontonan menarik bagi anak-anak, mereka nampak
berdiri di gang menonton entah apa.
Menjelang magrhib mereka semua pamit pulang, tinggallah kami berempat, anak,
istri dan kakak perempuanku. Malam hari kami berempat makan sambil ngobrol,
saling bercerita pengalaman selama 13 tahun terpisah, hingga tak terasa waktu
telah larut malam, waktu akan istrihat tidur aku agak bingung, di mana kamar
tidurku?. Anakku tentunya tidur sama ibunya di kamar yang sempit itu, kalau aku
ikut tidur di sana nggak tahu kok rasanya sungkan. Di tengah kebingunganku
istriku berkata, Mas, malam ini mas tidur di atas saja sama bude (mbakyuku),
aku pun menurut. Ah 10 hari yang lalu aku masih tidur di barak di Pulau Buru,
satu ruangan bersama 30 orang temanku, dan malam ini aku sudah tidur di Pulau
Jawa tepatnya di sebuah gang sempit, bernama gang Srikaya nomer 17 di daerah
Utan Kayu, Jakarta Timur.
Sungguh cepat peredaran waktu yang kulalui. Apakah waktu mendatang sesudah
pembebasanku ini akan membawa perubahan?, semua itu masih merupakan tanda tanya
besar bagiku.
Pagi hari istriku berkemas berangkat ke kantor sekalian mengantar anak kami
kembali ke Grogol, anakku untuk sementara memang masih tinggal bersama budenya
di Grogol, hingga menamatkan SMPnya. Otomatis malam ke dua kami hanya tinggal
bertiga, saat kami hendak tidur terjadi problem kecil. Seperti layaknya
pasangan yang telah terpisah begitu lama, rasa rindu dan kangen adalah hal yang
wajar. Aku masih seorang pria normal, malam itu ada niatku untuk menyampaikan
rasa rinduku kepada istriku, tapi apa kata istriku,
Mas, maaf, saat-saat sekarang ini aku belum bisa menerima maksud sampeyan,
sekali lagi maaf mas. Saat ini kita kan bukan suami istri lagi
Lho apa maksudmu kita bukan suami istri lagi?, apa kita sudah cerai?
"Iya mas, kita sudah lama cerai, agar mas tahu, dulu aku mendapat tekanan
dari kantor, saat itu aku disuruh memilih tetap bekerja sebagai pegawai negri
sipil (PNS) tapi harus segera bercerai dengan sampeyan atau tetap bersuamikan
seorang tapol tapi aku harus keluar dari PNS. Dan maaf mas, pilihanku jatuh
pada tetap menjadi PNS, tentunya sampeyan bisa mengerti pilihanku ini. Menjadi
PNS adalah penghidupan kami selama ini. Jadi sabarlah dulu."
Aku ingin tanya, jika sudah jelas-jelas kita bercerai, mengapa kau
menjemputku?, suaraku terdengar agak keras.
Aku menjemput sampeyan karena sampeyan itu adalah bapaknya anakku
Lha kalau kita sudah bercerai, lalu kenapa surat perceraiannya nggak kau
kirimkan bersama suratnya Mumuk lewat Romo pastur?
Ya mas aku ngerti, tapi aku sadar kalau surat cerai itu aku kirimkan ke sana
aku khawatir akan lebih membebani penderitaan sampeyan. Oleh karena itu aku
harap sampeyan bisa memaklumi dan menerimanya. Percayalah entah esok atau lusa
kita akan kembali menjadi suami-istri lagi.
Aku sadar dan mengerti akan alasan istriku, ternyata selama kami terpisah ia
pun mendapat tekanan dan kesulitan yang begitu rupa. Yah akhirnya sementara
kaulku gagal, sampai kapan?, aku sendiri belum tahu kepastiannya. Apakah
teman-temanku yang lain juga mengalami hal yang sama denganku?, hanya merekalah
yang tahu.
Aku tahu penolakan istriku itu sepenuhnya benar adanya. Penolakan itu tentu
atas dasar hukum dan perintah agama, kami atau siapa pun tidak boleh dan tidak
dibenarkan untuk melakukan hubungan suami-istri di luar pernikahan. Dengan
begitu kami terlepas dari hidup kumpul kebo.
Seminggu sesudah kebebasanku, tapatnya tanggal 7 Pebruari 1979, saat itu pagi
hari jam belum juga menunjukkan pukul 7 pagi, mbak Kasri datang dengan membawa
nampan, satu nampan berisi nasi kuning dengan lauk pauknya, dan satu nampan
lagi terisi pisang setangkap (dua sisir).
Dik Nur, hari ini ujar kaulku terlaksana sudah. Dik Nur ini adalah teman
baik bapaknya anak-anak, saya tahu dan ngerti betul bahwa dik Nik (biasa beliau
memanggil istriku dengan sebutan Nik) melakukan perceraian sepihak karena
terpaksa. Hubungan kami bersama dik Nik berjalan biasa selama dik Nur
tinggalkan. Satu ketika saya pernah berujar, Jika diijinkan oleh Allah SWT,
kapan saja jika dik Nur bebas aku akan berusaha mempertemukan kembali dik Nur
dengan dik Nik, dan walaupun barang sekepal aku sing bancaki (selamatan ala
kadarnya). Nah sekarang angan-anganku terwujud. Berkemaslah, hari ini dik Nur
akan melakukan ijab kembali
Mbak Kasri, begitu besar perhatian mbak sekeluarga pada kami, peristiwa ini
akan menjadi catatan dalam hidup saya, mbak. Dan saya nggak akan pernah
melupakannya, hanya itu yang bisa kukatakan. Kujabat tangannya dan tak urung
tangis dan haru menyesaki dada dengan ditandai lelehan air mata. Terima kasih
mbak.
Kami berangkat ke Kantor Urusan Agama di bilangan Grogol, karena KTP istriku
memang masih KTP Grogol. Aku dengan berpakaian apa adanya, hem putih pemberian
barak dan celana biru hasil barter dengan ayam piaraan, yang keduanya sudah
tampak lecek. Ya selama 13 tahun menjadi seorang tapol hanya harta itulah yang
kumiliki.
Kemarin saat aku di jemput pulang dari Kodim menuju rumah di Utan Kayu aku
dinaikan taksi bercat kuning, sekarang kami pergi menuju ke KUA Grogol dengan
naik bis umum yang juga bercat kuning. Di pinggir jalan dari jendela bis ada
kulihat kotak pos yang juga bercat kuning, bahkan ada jembatan penyebrangan
yang juga bercat kuning. Melihat semuanya ini aku jadi bertanya pada calon
istriku, kenapa banyak fasilitas umum yang bercat kuning. Calon istriku pun
menerangkan bahwa warna kuning itu adalah lambang Golkar, Golkar yang singkatan
dari Golongan Karya adalah nama partai besar yang sedang berkuasa di saat itu.
Waktu pemilihan umum mas, kewajibanku sebagai PNS adalah harus mencoblos
gambar beringin lambang partai Golkar jika nggak ingin dipecat
Oh begitu bagus!. Tapi warna kuning keemasan itu sebenarnya kan juga lambang
kematian. Setahuku dulu jika ada bendera kuning dipasang di depan jalan atau
gang itu tandanya ada kematian di sekitar situ. Apakah sekarang masih begitu?
Ya masih mas, Tapi soal kematian itu kan nggak bisa diketahui kapan
terjadinya, yang penting dan jelas warna kuning itu adalah juga lambang
ketinggian, coba lihat mobil presiden pun dipasangi bendera kecil berwarna
kuning. Jaket anak-anak mahasiswa Universitas Indonesia juga berwarna kuning.
Pokoknya warna kuning itu warna keemasan harus dipuja, dihormati dan dijunjung
tinggi. Orang biasa mengatakan ada kesempatan emas ya harus digunakan
sebaik-baiknya. Sekarang ini banyak sekali orang yang mencari kesempatan itu
Lha apa kau nggak ikut mencari kesempatan itu?
Ah mana mungkin mas, wong aku cuma pegawai rendahan, dapat tambahan uang
lembur saja juga sudah beruntung.
Jam 9 pagi, akhirnya kami tiba di KUA, kakak perempuan calon istriku dan
suaminya telah datang menunggu untuk menjadi saksi pernikahan kami kembali.
Tidak lebih dari sejam perhelatan kecil itu pun selesai, kami saling
bersalam-salaman dan berpelukan, sesudah itu kami pun kembali pulang ke Utan
Kayu.
Setibanya di rumah sambil duduk beristirahat pikiranku menjelajah ke
mana-mana. 13 tahun aku di dalam penjara dan tanah pembuangan adalah waktu yang
sangat panjang dan terasa lambat bergeraknya. Tetapi sesudah pembebasan ini
waktu terasa sangat cepat berlalu. Kalau kemarin aku masih menyandang setatus
duda, hari ini aku sudah kembali menjadi seorang suami. Sebulan lalu aku masih
menjadi seorang penekun sawah yang harus bertanggung jawab atas hidup matinya
tanaman padi, mulai hari ini aku kembali menjadi seorang suami yang harus ikut
bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluargaku. Lalu apa yang bisa
kulakukan?.
Di tengah lamunanku istriku datang membawa dua cangkir kopi dan menemaniku
duduk.
Kau tetap masih cantik istriku, di mataku kecantikanmu semakin bertambah
karena kesetian dan kesabaranmu menunggu kedatanganku.
Terima kasih mas, aku nggak bisa berbuat banyak selama ini, hanya itu saja
yang bisa aku lakukan.
Tak kusadari di siang bolong dan pintu rumah terbuka lebar kami saling
berpelukan melepas rindu. Jauh dari apa yang dikatakan oleh para petinggi
Inrehab bahwa masyarakat akan sulit menerima kedatangan dan pembebasan tapol.
Kenyataan yang kualami berkata lain.
Masyarakat di sekeliling rumahku ternyata menerima baik keberadaanku. Tak
terkecuali sahabat lamaku yang begitu antusias menerima kedatanganku dengan
segala pengorbanannya. Kemauan dan kesediaannya untuk menerima kedatanganku
adalah merupakan sikap dan perbuatan yang mempunyai nilai lebih. Bahkan
pernikahan ulangku dengan ibu anakku juga tak terlepas dari peran mas Parno
sekeluarga.
Barangkali inilah yang dikatakan oleh orang-orang pintar, Sahabat sejati
adalah sahabat di kala duka, dan aku sudah menemukannya.
*****
PENUTUP
Itulah sekelumit kisah pengalamanku dalam dunia Bulembangbu, ya Bulembangbu
itu adalah ringkasan dari empat nama tempat yang pernah kuhuni dengan status
tapol, jelasnya Bulembangbu itu adalah, Budi Kemulian (BU), Salemba (LEM), Nusa
Kambangan (BANG), dan Pulau Buru (BU). Empat tempat yang saling berjauhan ini
hakikatnya mempunyai satu sifat yang sama, sama-sama Jahanam!
Di dunia Bulembangbu itulah kuhabiskan 13 tahun perjalanan hidupku, di sana
banyak kuketahui, kualami, dan kurasakan. Pahit getir, hinaan, caci maki,
hantaman, pukulan, tendangan, dan pemerasan yang jauh dari sila ke-2 dari
Pancasila, "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab", jika kami tapol dicap sebagai
manusia-manusia yang anti Pancasila, lalu siapa mereka?.
Dunia Bulembangbu adalah tempat manusia yang tidak bernilai manusia, entah
berapa banyak nyawa yang melayang karena siksaan dan rasa frustasi, berapa
banyak manusia-manusia yang produktif berakhir menjadi seonggok daging tanpa
arti, menjadi gila karena tak tahan pada intimidasi yang dilakukan oleh manusia
yang mengaku Pancasilais sejati.
13 tahun kami di tahan dalam dunia Bulembangbu, kami tidak pernah di proses
secara hukum, kami tidak pernah diadili, kami tidak pernah divonis, kami hanya
ditahan, diamankan dan direhabilitasi.
Ya, kami tidak dibui, kami hanya ditahan. Kami juga tidak dipenjara, kami
hanya diamankan, dan kami tidak dibuang, kami hanya direhabilitasi. Mungkin
begitulah cara mereka menginterprestasikan sila ke-2 dari Pancasila secara
murni dan konsekwen. Bukan main indahnya istilah itu.
Apapun dalih yang mereka katakan, tak ada yang menyangkal jika empat tempat
itu adalah jahanam yang digelar oleh rezim yang sedang berdaulat.
Selaku manusia yang masih mempunyai nalar, aku berusaha berfikir obyektif.
Kekuasaan memang menggiurkan, dengan kekuasan manusia bisa berbuat apa saja,
mendapatkan apa saja yang diinginkannya, banyak manusia yang menjadi buta
karena kekuasan. Tetapi kekuasaan itu tidak begitu saja datang, kekuasaan itu
harus direbut, apapun resikonya. Dan bila kekuasaan sudah ada digenggaman,
gunakan kekuasaan itu sebaik-baiknya dan pertahankan semampunya. Bunuh dan
babat habis musuh-musuh politik demi kelestariannya.
Manusia tetap manusia, disamping manusia-manusia brutal yang tak berperi
kemanusiaan, aku pun masih menemukan sisa-sisa manusia yang masih mempunyai
rasa welas asih, walaupun hanya satu-dua gelintir. Sekalipun dia seorang
petugas dan prajurit yang harus melaksanakan perintah. Tetapi mereka
melaksanakan tugas dengan tetap memelihara rasa keadilan dan naluri
kemanusiaannya. Mereka tahu dicubit itu sakit karena itu jangan mencubit orang
lain. Mereka tahu menghargai sesama manusia, siapa pun mereka, sekalipun mereka
itu para tahanan, mereka juga tetap manusia yang mempunyai kedudukkan yang sama
di mata hukum.
Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 menegaskan ;
Segala warga negara bersamaan kedudukkannya di dalam hukum dan pemerintahan
dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Kepada mereka para petugas yang nyata-nyata menghargai nilai manusia dan
menjunjung hukum, tak segan-segan aku mengacungkan kedua jempolku dan tak lupa
ucapan terima kasih.
Di harian Kompas, Sabtu 31 Desember 2005, seorang dosen Sejarah di
Universitas Sanata Dharma, bernama Baskara T Wardaya SJ, menulis artikel yang
berjudul Indonesia Yang Lain. Antara lain beliau menulis,
Pada dekade 1950-an terjadi berbagai pemberontakan daerah. Para pemimpinnya
ditangkap, tetapi tak disertai pembantaian massal. Tampak sekali waktu itu ada
sikap saling menghormati diantara sesama warga negara, meski ada berbagai
perbedaan sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan.
Tak mengherankan, meskipun baru merdeka, saat itu proses demokrasi dipahami
dengan baik, sampai ketingkat akar-rumput, sebagaimana tercermin dalam pemilu
1955. Pun bangsa Indonesia mendapat tempat terhormat di kalangan bangsa-bangsa
lain. Kepercayaan dunia terhadap kepeloporan Indonesia tercermin dalam Gerakan
Non Blok dan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika. Gagasan Indonesia untuk
membangun dunia kembali pasca kolonialisme juga diterima secara internasional.
Tak terbantah pernah ada Indonesia yang lain, yang meskipun sangat majemuk para
warganya saling menghoramati dan dengan demikian dihormati oleh bangsa-bangsa
lain.
Akan tetapi entah mengapa mulai tahun 1965 berbagai konflik politik yang
terjadi selalu disertai kekerasan massal. Kekerasan yang satu disusul dengan
kekerasan yang lain. Setidaknya ratusan ribu nyawa melayang di tangan sesama
warga bangsanya sejak tahun itu. Sejak itu pula korupsi merajalela,
sumber-sumber alam dijarah, rumah-rumah ibadah dirusak, ekonomi makin tak
memihak rakyat. Rasa hormat dan kagum dari bangsa-bangsa lain juga terus
berkurang..
Begitu tulisan beliau. Bagiku tulisan itu sangat menyentuh dasar dan pokok
persoalan tentang kekuasaan.
Kalau boleh ditambahkan, sejak berdirinya negara RI, republik ini tak pernah
lepas dari rongrongan dan pemberontakan. Andi Aziz , Kahar Muzakar, DI.TII,
PRRI, Permesta semuanya selingkuh dan ingin berkuasa. Terakhir dan masih sangat
hangat adalah pemberontakan yang dilakukan oleh GAM, 30 tahun mereka melawan
pemerintah, angkat senjata, ingkar terhadap NKRI dan Sang Merah Putih. Bahkan
mereka telah menyiapkan mentri-mentrinya. Begitu banyak yang telah mereka
lakukan tetapi begitu solusi tercapai antara NKRI dan GAM, seluruh anggota GAM
mendapat rehabilitasi dan kompensasi. Nyaman rasanya.
Bandingkan dengan G.30 S, umur gerakan Untung tak lebih dari 24 jam tetapi
akibatnya mencapai puluhan tahun. Ada sebagian warga negara yang menjadi warga
negara kelas kambing di negrinya sendiri dan di mata sesama bangsanya sendiri,
walau mereka tak tahu apa yang membuat mereka harus menerima hal itu. Banyak
anak-anak yang harus menjadi yatim-piatu dan hidup menderita hanya karena orang
tua mereka ikut bertepuk tangan saat perayaan hari jadi PKI.
Kalau sudah demikian halnya dimana letak rasa adil dan keadilan. Sebagai
warga negara yang tak berdaya aku hanya pasrah, aku tidak bisa berbuat apa-apa,
aku tak bisa menuntut hakku selama ini yang telah dizalimi. Kepasrahanku itu
akhirnya kuletakan pada unen-unen, "Sopo becik ketitik, sopo olo ketoro, sing
bener ketenger, sing salah bakal seleh, sing temen bakal tinemu".
Kepasrahanku ini bukan karena aku merasa salah, kepasrahan itu semata-mata
karena aku tak dapat dan tak sempat membela diri. Aku telah kalah, aku telah
dibungkam, aku telah disrimpung (diikat), dan aku tidak diberi hak membela diri.
Selama 13 tahun dalam dunia Bulembangbu tidak membuatku hilang kesadaran, aku
tetap warga negara Indonesia yang sah, aku pun pernah turut merebut kemerdekaan
negara ini dan aku yakin aku mempunyai hak untuk hidup di negara ini. Bahkan
ada rasa bangga atas diriku. Aku dipenjarakan bukan karena aku korupsi,
ngerampok atau membobol bank yang kesemuanya sangat merugikan bangsa ini. Aku
dipenjarakan hanya karena aku seorang buruh percetakan yang menerbitkan Harian
Rakyat dan sebagai distributor.
Tugasku sebagai distributor inilah yang menjadi dasar kuat untuk melemparku
ke dunia Bulembangbu selama 13 tahun, mereka menuduhku tahu akan segalanya yang
berhubungan dengan peristiwa G.30.S 1965.
Kebanggaanku lainnya adalah karena aku dipenjarakan akibat fitnah seorang
teman, tetapi sebaliknya tak seorangpun yang celaka karena mulut dan
perbuatanku. Oleh karena itu mengapa aku mesti merasa rendah diri dan malu
menghadapi masyarakat. Ku tanamkan paengertian ini kepada anak dan istriku.
Biarlah yang benci biar benci, toh yang mau bersahabat masih ada dan banyak.
Kenyataan menunjukkan, sesudah kebebasanku aku tetap dapat hidup dan bergaul
normal dan baik dalam masyarakat di kampungku, akrab dan bahkan ada rasa
persaudaraan, tak ada tetangga di sekitar tempat tinggalku yang merasa takut
dan jijik akan keberadaanku sebagai eks-tapol. Dan mendapatkan semua ini aku
merasa sangat bersyukur, mungkin inilah karuniaNya sebagai buah penderitaanku
di dunia Bulembangbu.
Selesai
Lembaga SASTRA PEMBEBASAN
Address: Postbus 2063, 7301 DB Apeldoorn Netherlands
E-Mail: [EMAIL PROTECTED]
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65: http://www.progind.net/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel
bargains.
[Non-text portions of this message have been removed]
Bersatu Rebut Kekuasaan: Hancurkan Kapitalisme, Imperialisme, Neo-Liberalisme,
Bangun Sosialisme!
Situs Web: http://come.to/indomarxist
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/indo-marxist/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/indo-marxist/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/