Catatan Laluta:
   
  KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H, yang saya 
kirim secara bertahap ( I s/d XII), adalah merupakan ungkapan ekpresi karya 
tulisan yang merenungkan kembali sejarah hidup pengalaman nyata dirinya bersama 
lingkungannya sebagai "Tahanan Politik" tanpa melalui proses Hukum Peradilan. 
Penulisan ini tentunya bermaksud ingin menggali terus maknanya dalam mengolah 
batin atau jiwanya , karena pengalaman itu bisa kita olah tidak hanya dengan 
nalar tetapi juga dengan iman demi meneruskan perjuangan cita-cita bangsa untuk 
"Kemerdekaan yang Adil dan Beradab".
   
  Sehubungan dengan peristiwa Pelanggaran HAM berat paska 1965 nyatanya 
belumlah terungkap secara tuntas tentang Kebenaran Sejarahnya. Untuk itu betapa 
pentingnya sumbangan karya tulisan pengalaman nyata anda, tetangga, teman, 
kenalan, murid, saudara, orang tua, dll yang ada di sekitar kita itu, yang 
tentunya bisa kita olah dalam batin kita masing-masing.  Mengapa kita pernah 
bersimpati, pernah menegur dan malahan mungkin pernah menolong? Mengapa kita 
tidak pernah bersimpati, tidak pernah mengulurkan tangan? Atau bahkan ikut 
mensukuri? Dimana 'campur tangan Tuhan' dalam pengalaman nyata ini? Dst. 
   
   
  Terimakasih atas perhatian dan simpatinya,
   
  La Luta Continua!
  
Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
  Date: Mon, 5 Feb 2007 03:57:19 -0800 (PST)
From: Lembaga Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( XI I 
- Selesai) 

   
    KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S
   
  BULEMBANGBU
Oleh  N. Syam. H

   
      PULANG
   
  Fajar tahun 1979 hampir menyingsing. Obrolan pembebasan sudah menjadi obrolan 
rutin para tapol, di mana-mana, di sawah, di ladang, di hutan gergajian, apa 
lagi di barak ya pokoknya di mana saja, kapan saja masalah pembebasan selalu 
menjadi bahasan yang menarik. Ya namanya orang banyak, macam-macam pula pikiran 
dan angan-angannya. Ada yang berucap kaul (nazar), kalau bebas mau puasa 40 
hari sebagai ungkapan rasa syukur, sebaliknya ada pula yang berujar akan makan 
bersama istrinya selama seminggu non-stop. Gila!,  tapi semua sah-sah saja 
namanya juga orang berujar semau-maunyalah, itu kan cuma ucapan sekedar 
pernyataan kegembiraan.
   
  Kerja santai berjalan terus, panen kacang tanah di ladang HP berjalan dari 
pagi hingga sore, petugas dapur yang mengirim makan siang datang, mukanya 
tampak ceria, setengah teriak dia berucap, “Aku bebas, aku bebas!, namaku 
tercantum dalam papan!”
   
  “Hei, jangan teriak-teriak kayak orang sinting gitu, ayo bawa sini kirimannya 
kami sudah lapar nih!”
   
  “Siapa saja yang namanya tercantum di papan?” tanya kami
   
  “Dari yang panen ini, kalau nggak salah cuma seorang yang nggak tercantum 
namanya, mang Karna”
  Kami semua bersorak dan bertepuk tangan, sebaliknya mang Karna lemas lunglai 
tak berdaya. Aku tepuk punggung mang Karna, "Jangan sedih mang. Mang Karna juga 
pasti akan bebas, hanya waktunya saja yang berbeda, atau bisa jadi ada salah 
tulis, atau mungkin tulisan di papan itu belum lengkap semuanya,". aku mencoba 
menghibur.
   
  “Lihat saja sendiri mang, atau nanti di barak tanyakan kebenaran berita itu 
pada kepala barak,” lanjut yang lain.
   
  Karena aku sudah termasuk dalam rombongan orang-orang yang dibebaskan laparku 
mendadak jadi hilang, apalagi sambil panen kami tadi juga ngemil kacang rebus. 
Rasa lapar kami semua lenyap begitu saja tertelan oleh luapan kegembiraan, ya 
maklumlah, itu bisa dimengerti.   
   
  Ternyata nama-nama yang tertulis di papan barak banyak yang berubah, nama 
yang tadinya tertulis bebas berganti dengan nama orang lain. Perubahan ini 
menjadikan teman-teman yang tadinya penuh semangat dan harapan kembali lunglai 
dan hilang semangat, seperti bara yang tersiram air. Dan ternyata dari 100 
orang warga barak-III tidak semuanya bebas, ada lebih dari separuh yang 
tertinggal.
   
  Untuk membuat kenangan dalam menyambut perpisahan, barak-III akan membuat 
acara istimewa, pesta kecil-kecilan akan diselenggarakan, makan enak menurut 
kemampuan barak.
  Dua-tiga hari sebelum kami meninggalkan Unit-II, barak-III memenuhi janjinya, 
pesta kecil-kecilan pun diadakan.
  Kemin, nama seekor kerbau yang telah banyak memberikan jasanya kepada tapol. 
Kemin, si penarik bajak dan garu, entah sudah berapa ribu hektar sawah yang 
dibajak dan diinjak-injak kakinya sampai lumat. Begitu setianya si Kemin 
menemani pak Wongso (pembajak dan penggaru asal Klaten, Jawa Tengah) dan aku 
biasanya suka menjadi buntut garu. Dia nggak pernah menuntut apa-apa, sesudah 
rucat Kemin cukup puas dengan berkubang, makan rerumputan atau sekedar memburu 
betinanya. Pengorbanan Kemin selama ini sudah luar biasa, tapi rupanya 
pengorbanan Kemin belum cukup sampai di situ. Saat-saat terakhir pembebasan 
para tapol, Kemin harus memberikan pengorbanan terakhir, pengorbanan yang 
teramat besar. Kemin harus merelakan jiwanya melayang, menyerahkan daging, 
darah tulang dan kulitnya pada para tapol. Kemin siap mati untuk disembelih.
   
  Demikian juga yang terjadi pada seekor anjing betina, bernama Hella, anjing 
yang satu ini adalah anjing kesayangan warga barak. Hella anjing cikal bakal 
yang dimiliki barak, banyak keturunannya yang sudah menjadi santapan. 
Kepandaian Hella menangkap tikus saat menemani panen susah dicari tandingannya, 
Hella bisa menyusup di kelebatan tanaman padi, dan saat ia keluar ia pasti 
membawa tikus tangkapannya. Tikus itu mati digigitnya dan kemudian 
ditinggalkannya di pematang, lalu ia kembali menulusup berburu lagi. Sedang 
tikus yang ia tinggalkan menjadi rebutan para tapol. Hella anjing yang tahu 
balas budi dan warga makin menyayanginya. Tapi apa boleh buat Hella pun  harus 
mengikuti jejak si Kemin, Hella juga harus mengorbankan dirinya, Hella harus 
siap mati dicekik demi majikannya.
   
  Ya begitulah nasib hewan, kegagahannya yang tidak disertai akal, apapun 
kehendak manusia, dia tak pernah bisa menolak dan membantahnya, hanya 
manusianya yang kadang-kadang keterlaluan, berbuat semena-mena, apa lagi kalau 
sudah menjadi penguasa, sering lupa daratan. Aji mumpung menjadi modal dan 
andalan. Sekecil apa pun yang namanya kekuasaan pasti mempunyai nilai lebih, 
dan untuk itu orang tak segan-segan berbuat apa pun demi sebuah kekuasaan. 
Kekuasaan bisa mendatangkan kehendak apa pun yang diingkinkan, kekuasaan dapat 
mendatangkan kekayaan, kekayaan bisa memenuhi kehendak di atas perut dan di 
bawah perut. Kekuasaan dan kekayaan memang dapat menjungkir balikan dunia.
   
  Pertengahan bulan Desember 1979, kami siap meninggalkan Unit-II. Unit yang 
kami bangun dengan kucuran keringat, darah, tulang dan otot selama 10 tahun 
harus kami tinggalkan. Kami tinggalkan seluruh hasil karya kami untuk siapa 
saja yang menghendaki, kami tak ada lagi sangkut paut dan urusan dengan 
Unit-II, kalau sejarah mau mencatat hasil kerja kami ya silahkan jika tidak pun 
kami tak peduli. Diakui atau tidak kami telah memberikan apa yang kami miliki, 
sampai kepada harta kami yang paling berharga yaitu nyawa kami, kami telah 
membangun sebagian dari tanah air tercinta.
   
  Jam 11 siang rombongan siap diberangkatkan, kami saling berpelukan, menangis 
penuh haru, masa 10 tahun dalam kebersamaan bukanlah waktu yang singkat, 10 
tahun yang lalu kami tak saling mengenal, kesamaan nasiblah yang mempertemukan 
kami, persahabatan, kekeluargaan, rasa saling mengasihi dan menyayangi yang 
kami jalin selama 10 tahun ini akan segera berakhir dan akhirnya akan tinggal 
menjadi kenangan, dan boleh jadi dengan berjalannya waktu segala kenangan itu 
tak terasa akan lenyap seperti menguapnya embun ditelan sinar mentari, nggak 
apa-apa, tak ada pesta yang tak berakhir, kata si Kliwon. Apa yang sedang 
terjadi saat ini adalah suatu hal yang selama ini kami inginkan dan kami 
kehendaki. Ya kami ingin bebas berapa pun harga kebebasan itu kami siap 
membayarnya. Rasa sedih akan perpisahan ini pasti akan hilang lenyap saat kami 
bertemu kembali dengan keluarga yang kami cintai, keluarga yang selama ini kami 
rindukan. Apakah nanti setelah kami ketemu keluarga keadaan makin
 sulit, berantakan atau runyam, itu soal nanti.
   
  Dengan diantar suasana yang haru biru kami berjalan, memasuki lending, 
komando terdengar dan lending bergerak laju. Seperti ketika ADRI-11 
meningggalkan Nusa Kambangan, kulambaikan tanganku, kuucapkan selamat tinggal 
pada Unit-II, Inrehab dan Pulau Buru. Tak lupa kuucapkan pula selamat tinggal 
pada Pocen dan Mukakodo serta khususnya untuk Mandepa, akankah Mandepa tetap 
ingin menjadi tapol?. Kasihan dia.
  Perjalanan pulang kami sangat jauh berbeda dengan keberangkatan kami ke Pulau 
Buru, baik itu alat transportasinya maupun perlakuan yang kami terima. Kali ini 
kapal haji “Gunung Jati” yang mengangkut kami, keadaannya jauh lebih baik dari 
ADRI-11. Dulu katanya kapal ini milik PT.ARAFAT, nggak tahu mengapa sekarang 
ada di tangan ALRI. Awak kapal seluruhnya dari Angkatan Laut. Selama perjalanan 
kembali ke Pulau Jawa tak ada intimidasi. Kapal berjalan lancar, suara merdu 
mbak Waljinah yang keluar dari kaset mengumandangkan lagu "Walang Kekek" lagu 
pop daerah yang populer ikut mengantar dan menghibur kami dalam perjalanan 
pulang.
   
  Para penumpang yang beragama Katholik atau Protestan sempat bernatalan di 
kapal, kopi susu yang tersedia bisa kami minum sepuas kami, entah dari mana 
biayanya tak kami pedulikan, hati dan pikiran kami terlalu sibuk memikirkan 
saat-saat akan pertemuan kembali dengan keluarga kelak. Kami mendapat satu set 
alat makan, piring, sendok dan mug untuk minum, kami juga mendapat sepasang 
sepatu dan sebuah tas pakaian. Dalam perjalanan kapal menuju ke tanah Jawa, 
setiap kali kapal melewati daerah tertentu selalu ada informasi yang diberikan, 
seperti “kapal kini sudah memasuki Laut Jawa”, “kapal sudah melintas di atas 
Surabaya” dan mendengar informasi ini kami semua bersorak. 48 jam lagi 
barangkali kami akan memasuki pelabuhan Tanjung Priok. Mudah-mudahan.
   
  Jam tiga  dini hari, kapal berhenti, mandeg tak bergerak. Aku melongok ke 
jendela terlihat jelas di sekeliling laut cahaya lampu. Kedipan dan gemerlapnya 
lampu membenarkan dugaanku, bahwa kapal sudah sampai di Tanjung Priok. Benar 
juga, kapal sudah tiba di tempat tujuan tinggal menunggu kapal tandu yang akan 
memandu ke dermaga.
  Pikiran dan hatiku makin bergelora, bagaimana nantinya aku ini?. Bisakah aku 
bertemu kembali dengan keluargaku, terutama dengan anakku?. Apakah aku akan 
menjadi seorang gelandangan sesudah aku menginjak Jakarta kembali?. Akankah 
terbukti kesombonganku di depan petugas Kejaksaan dulu yang aku tolak 
bujukannya untuk mendatangkan keluargaku ke Pulau Buru?. Ya saat kebebasan 
sudah menjadi kenyataan, apapun resikonya nanti harus bisa kuterima dan 
kuhadapi.
   
  Tanggal 31 Januari 1979 pada jam enam pagi, kami sudah naik darat, pertama 
kalinya kaki ini kembali menginjak tanah Jawa, khususnya kota Jakarta, 
truk-truk penjemput sudah siap menungu, serah terima penumpang dari Kapten 
kapal kepada Komandan Kodim setempat selesai. Kami lalu diangkut dengan truk ke 
Kodim. Sesampai di Kodim kami dihitung ulang, beres penghitungan kami menerima 
pengarahan dan diteruskan dengan janji sumpah setia pada Pancasila dan kemudian 
diakhiri dengan pembagian makan siang (nasi kardus).
  Dari Kodim inilah kami mulai berpisah dengan teman-teman seperjalanan. Kami 
berpisah menuju alamat tinggal masing-masing, berpencar ke lima wilayah 
Jakarta, aku sendiri masuk ke dalam rombongan yang menuju ke Jakarta Timur. 
  Dulu ketika meninggalkan Salemba kami diangkut dengan truk dan kami nggak 
boleh berdiri, kali ini kami diangkut juga dengan truk tapi ada sedikit 
perbedaan, kami boleh berdiri.
   
  13 tahun yang lalu di kiri-kanan jalan By pass masih berupa bulakan sawah dan 
rawa-rawa, tapi kini di kiri-kanan jalan By pass telah berubah menjadi 
gedung-gedung, seperti bangunan pabrik atau gudang. Jalan satu arah dipenuhi 
lalu-lintas berbagai kendaraan yang tidak pernah kutemui ketika di Pulau Buru. 
Ya Jakarta ternyata telah banyak berubah. Ketika truk pengangkut melintasi 
jembatan Jatinegara, di bawah jembatan melintas kereta listrik, dari jembatan 
jalan agak menurun, truk belok kanan ke arah Prumpung. Lajunya truk makin 
lambat, belok lagi ke kiri, di depan pintu kereta truk mandeg karena macet.  
Aku agak bingung, sebenarnya mau kemana truk ini. Nggak tahunya, sesudah 
kemacetan reda tujuan truk hanya tinggal beberapa meter dari pintu kereta. 
Itulah Kodim Jakarta Timur.
   
  Di sekitar kantor Kodim telah dipadati orang-orang, laki-perempuan, tua muda 
bahkan anak-anak. Mereka adalah keluarga para tapol yang hendak menjemput kami. 
Masih di atas truk aku melihat sosok istri dan anakku, kakak perempuanku yang 
tertua pun terlihat, mengelompok dengan anak dan istriku. Ketika kakakku 
melihatku, tak sadar dia setengah berteriak memanggil namaku. Nampak mbakyuku 
itu mengusap air matanya. Rasa haru dan gembira menyatu.
   
  Belum ada komando untuk turun dari truk, kutebarkan pandanganku di sekitar 
para penjemput, terlihat olehku pak Alex (guru pijatku di Salemba), 
ibu-istrinya pamanku juga datang menjemput suaminya. Satu hal yang nggak pernah 
terpikir olehku dan nggak pernah kuperkirakan, teman lamaku Suparno dan adiknya 
Suprapto ada pula dalam kerumunan para penjemput. Tapi siapa yang hendak mereka 
jemput?. Setahuku mereka adalah keluarga ˜bersih lingkungan”, nggak ada satu 
pun dari keluarga mereka yang tersangkut peristiwa hebat itu. 
   
  Akhirnya kami diperintahkan turun juga, apel dan penghitungan kembali 
dilakukan, satu persatu nama dipanggil untuk mengetahui keberadaannya. Semua 
komplit nggak ada yang kececer. Komandan Kodim kemudian memberikan pengumuman, 
"Harap para penjemput tenang dan tertib!, penyerahan tapol kepada keluarganya 
akan segera dimulai. Saudara-saudara harus menandatangani berkas penyerahan 
ini, dan seterusnya bekas tahanan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab si 
penanda tangan. Oleh karena itu berikan kepada kami alamat yang komplit dan 
jelas. Tunjukkan KTP anda sebagai penanggung jawab. Maaf saudara-saudara, perlu 
saya jelaskan, untuk saudara-saudara ketahui bahwa pembebasan para tapol ini 
masih dalam masa percobaan. Apakah masyarakat setempat tidak keberatan dan bisa 
menerima kehadiran para tapol ini, apakah dalam masa percobaan ini mereka tidak 
bikin ulah lagi. Kalau kedua hal ini terjadi, maka kami tidak akan segan-segan 
untuk mengambil tindakan tegas, dan boleh jadi kami akan
 mengamankan mereka kembali. Bagaimana saudara-saudara, sanggup?”
   
  Para penjemput serentak menyahut, “Sanggup!”
   
  Rupanya para keluarga nggak perlu banyak berfikir, sanggupi saja, habis 
perkara, soal kemudian adalah soal nanti.
   
  Satu persatu nama penjemput dipanggil untuk menerima dan menandatangani surat 
penerimaan, persis seperti menerima barang yang baru di keluarkan dari gudang. 
Saat keluarga yang menjemput dan dijemput bertemu dan berpelukan terdengarlah 
tepuk tangan, isak tangis, sedu-sedan dan haru tumpang tindih. Mereka saling 
melepas rindu, senyum kegembiraan tampak pada wajah masing-masing, tanda rasa 
syukur yang tiada tara.
   
  Entah sudah berapa banyak nama yang dipanggil, tetapi nama istriku kok lama 
banget nggak dipanggil-panggil, sesaat terfikir olehku mungkin bukan istriku 
yang menjadi penanggung jawab, boleh jadi mbakyuku, siapa tahu?.
   
  “Nyonya Mulyani Nursamhari!”, akhirnya terdengar juga nama istriku disertai 
dengan namaku dipanggil. Hatiku nratap, deg!, tak ubahnya seperti saat aku 
dipanggil ke depan ketika di Budi Kemuliaan. Kalau dulu aku dipanggil untuk 
menghadapi singa lapar, sekarang aku dipanggil untuk bertemu dengan gemulainya 
seorang istri tercinta. Terlihat istriku maju, dengan tangan gemetar dia 
membubuhkan tanda tangannya. Nggak perlu malu dan rikuh, tanganku dibimbingnya, 
dan segera saja kami berpelukan, dan tepuk tangan terdengar lagi. 
   
  Pak Alex menghampiri, menyalami dan merangkulku, “Selamat datang, Ji!,” 
katanya. Panggilan Kajiku ternyata tetap diingatnya, kami tertawa lega. 
Mbakyuku kupeluk, air matanya terus meleleh. “Sudah tenang, yu!, kita kan sudah 
berkumpul lagi,” bujukku, tanganku terus merengkuh pundaknya yang kurus 
erat-erat. Anakku sudah merambat menjadi remaja, sekolahnya mulai menginjak 
SMP, tentu saja aku nggak kuat lagi menggendongnya seperti saat pertemuan 
keluarga dulu di Salemba. Tangannya terus memegangiku tanganku, nggak mau lepas 
dari tangan bapaknya, padahal tangan bapaknya kasar dan gedebel, mati rasa, 
mungkin diiris pun nggak akan terasa, semua itu akibat gesekan dengan doran 
(gagang) pacul selama 10 tahun tanpa henti, badan bapaknya ini tambah kurus, 
kulitnya tambah hitam, dekil karena mandinya air kali tanpa sabun pula, kalau 
pakai sabun pun itu hanya sabun cuci sekalian mencuci pakaian dinas persawahan. 
   
  Bibi yang kupanggil ibu, istri pamanku datang menyalami sambil berucap, “Kau 
harus berterima kasih sama istrimu, bojomu anak yang setia sama suami. Coba 
perhatikan, istrimu masih kerja, masih kelihatan muda, kulitnya nampak putih 
bersih, ee kok gelem-geleme nompo uwong koyo ngene rupane (mau-maunya menerima 
orang macam begini).” Hanya sampai di situ percakapanku dengan ibu, ibuku 
mendapat panggilan untuk menerima suaminya, apa yang terjadi dalam pertemuan 
mereka, aku nggak tahu. Pikiranku hanya tertuju pada satu arah, ketemu 
keluargaku.
   
  Pikiranku saat di atas truk benar, teman lamaku yang terlihat tadi memang 
nggak menjemput siapa-siapa. Mereka berdua, temanku dan adiknya sengaja datang 
untuk menjemputku. Mereka membiarkan aku berlama-lama menuntaskan rasa rindu 
yang memenuhi dadaku ini kepada istri dan anakku. Baru sesudah itu mereka 
menghampiri, menyalami dan merangkulku.
   
  “Kami sengaja datang untuk menjemputmu, kami mengerti keadaanmu, apa maksud 
keadaanmu itu nggak perlu kau ketahui sekarang, nanti sajalah aku beri tahu. 
Keluargaku sudah sepakat, untuk sementara kek, atau seterusnya kau boleh 
tinggal bersamaku. Satu kamar telah kami sediakan untukmu.”
   
  Adiknya menyambung, “Mas, mas Nur nggak saya anggap orang lain, mas Nur 
adalah saudaraku juga. Kami ikhlas mas, terimalah tawaran ini tanpa perasaan 
macam-macam, ini tawaran dari saudara sendiri. Kalau mas Nur kesel dan bosen 
tinggal di rumah mas Parno datanglah ke rumahku, rumahku cukup untuk ditambahi 
satu orang.”
   
  Tak tahan air mataku menetes tanpa henti, tak kusangka aku mendapat perhatian 
begitu besar dari orang lain, mereka hanyalah teman, orang lain bapak, lain 
emak, kakek dan neneknya juga lain, mereka kukenal sejak tahun 1953, ketika 
sama-sama satu kelas di Taman Dewasa, yang ada di jalan Garuda 25, Jakarta. 
Memang sejak itu sampai saat aku ditangkap, kami nggak pernah putus hubungan. 
Bahkan sampai dengan seluruh keluarganya, aku nggak dianggap orang lain. Dan 
sahabatku inilah yang dulu sering mengirim besukkan roro ireng untukku saat aku 
masih dalam tahanan Budi Kemuliaan dan Salemba.
   
  Sebuah taksi bercat kuning dipanggilnya, kami sekeluarga naik, mas Parno dan 
dik Prapto ikut mengantar, kemana tujuannya aku belum tahu. Istriku lalu bilang 
pada supir, “Utan Kayu pak, gang Mangga.”
   
  Aku tanya sama istriku, “Kita akan pulang dan menempati rumah kita dulu?, 
kapan katanya rumah itu sudah diambil sama yang punya?”
   
  “Iya mas, rumah kita yang dulu memang sudah diambil oleh yang punya, kita 
pulang bukan ke rumah itu, tapi ke rumah kita sendiri hanya tempatnya memang 
nggak jauh dari rumah kita yang dulu.”
   
  “Lho lantas rumah siapa itu, rumah sewaan?”
   
  “Nggak mas, itu rumah kita sendiri, nanti sajalah aku ceritakan tentang rumah 
kita sekarang ini.”
   
  Mas Parno nyambung, “Sudahlah ndak usah tahu dulu tentang rumah, yang penting 
sekarang pulang dulu, nggak peduli rumah siapa kek, masuk dan tempati saja dulu 
kan ada yang mengajak dan tanggung jawab ini.”
   
  Taksi terus melaju menuju alamat yang di tuju, nggak lebih dari setengah jam 
taksi pun sampailah ke rumah. Rumah itu kecil, lebarnya nggak lebih dari 3 
meter hanya agak panjang kayak gerbong kereta api, suasananya gelap maklum 
belum ada listriknya. Rumah itu memang sudah tembok dan tingkat, tapi 
bangunannya terlihat serba sederhana, malah sangat sederhana sekali dibanding 
dengan rumah-rumah di sekelilingnya, ruang tamunya kecil dan sempit, kursinya 
pun hanya berupa kursi besi dengan jog berbalut plastik seperti pentil sepeda, 
pantas kalau disebut kursi pentil, dan kursi semacam ini biasanya lebih cocok 
untuk kursi santai di bawah pohon jambu. Lantai rumah terbuat dari tegel 
berwarna kuning kehitaman dan sudah pecah-pecah. Kamar tidur yang kecil dan 
sempit ada di belakang ruang tamu, kamar itu bersekat tripleks untuk 
memisahkannya dari ruang makan. 
   
  Kamar mandi dan wc menjadi satu bersebelahan dengan dapur, tempat inilah yang 
paling gelap karena tak ada jendela di sana. Jadi biar siang hari pun lampu 
teplok minyak tanah harus disundut. Rumah tinggalku ini tingkat bagian atasnya 
hanya terdiri dari satu ruangan, seperti geladak, panjang dari depan sampai ke 
belakang, hanya bagian belakang sedikit di pisah untuk tempat menjemur. Walau 
keadaan rumah ini teramat sangat sederhana aku tetap bersyukur, karena masih 
ada tempat bagiku bernaung bersama keluarga.
   
  Tetangga kiri-kanan mulai berdatangan, memberi salam selamat dan kami saling 
berkenalan. Sore hari adik laki-lakiku terkecil datang bersama istrinya, 
ternyata mereka juga tinggal di bilangan Utan Kayu hanya berbeda gang saja, 
kami saling berpelukan penuh haru, adikku sudah beranak empat, masih 
kecil-kecil semuanya. Mas Parno pamit pulang sebentar, tak lama ia pun kembali 
sambil menenteng petromaks, langsung saja lampu itu dinyalakan, “Nih, pakailah 
lampu ini, lumayan buat penerangan sebelum ada listriknya, dan ini accu (aki) 
masih baik, barangkali ada radio, bisa dimanfaatkan.”
   
  Mbak Kasri, istri sahabatku yang datang menyusul setelah menyalamiku langsung 
mengajak istriku masuk kamar, ada keperluan apa aku nggak tahu, itu urusan 
mereka.
  Karena banyaknya tamu yang berdatangan rumah kecil ini kelihatan sangat 
padat, hal ini rupanya menjadi tontonan menarik bagi anak-anak, mereka nampak 
berdiri di gang menonton entah apa.
   
  Menjelang magrhib mereka semua pamit pulang, tinggallah kami berempat, anak, 
istri dan kakak perempuanku. Malam hari kami berempat makan sambil ngobrol, 
saling bercerita pengalaman selama 13 tahun terpisah, hingga tak terasa waktu 
telah larut malam, waktu akan istrihat tidur aku agak bingung, di mana kamar 
tidurku?. Anakku tentunya tidur sama ibunya di kamar yang sempit itu, kalau aku 
ikut tidur di sana nggak tahu kok rasanya sungkan. Di tengah kebingunganku 
istriku berkata, “Mas, malam ini mas tidur di atas saja sama bude (mbakyuku)”, 
aku pun menurut. Ah 10 hari yang lalu aku masih tidur di barak di Pulau Buru, 
satu ruangan bersama 30 orang temanku, dan malam ini aku sudah tidur di Pulau 
Jawa tepatnya di sebuah gang sempit, bernama  gang Srikaya nomer 17 di daerah 
Utan Kayu, Jakarta Timur.
   
  Sungguh cepat peredaran waktu yang kulalui. Apakah waktu mendatang sesudah 
pembebasanku ini akan membawa perubahan?, semua itu masih merupakan tanda tanya 
besar bagiku.
   
  Pagi hari istriku berkemas berangkat ke kantor sekalian mengantar anak kami 
kembali ke Grogol, anakku untuk sementara memang masih tinggal bersama budenya 
di Grogol, hingga menamatkan SMPnya. Otomatis malam ke dua kami hanya tinggal 
bertiga, saat kami hendak tidur terjadi problem kecil. Seperti layaknya 
pasangan yang telah terpisah begitu lama, rasa rindu dan kangen adalah hal yang 
wajar. Aku masih seorang pria normal, malam itu ada niatku untuk menyampaikan 
rasa rinduku  kepada istriku, tapi apa  kata istriku, 
   
  “Mas, maaf, saat-saat sekarang ini aku belum bisa menerima maksud sampeyan, 
sekali lagi maaf mas. Saat ini kita kan bukan suami istri lagi”
   
  “Lho apa maksudmu kita bukan suami istri lagi?, apa kita sudah cerai?”
   
  "Iya mas, kita sudah lama cerai, agar mas tahu, dulu aku mendapat tekanan 
dari kantor, saat itu aku disuruh memilih tetap bekerja sebagai pegawai negri 
sipil (PNS) tapi harus segera bercerai dengan sampeyan atau tetap bersuamikan 
seorang tapol tapi aku harus keluar dari PNS. Dan maaf mas, pilihanku jatuh 
pada tetap menjadi PNS, tentunya sampeyan bisa mengerti pilihanku ini. Menjadi 
PNS adalah penghidupan kami selama ini. Jadi sabarlah dulu."
   
  “Aku ingin tanya, jika sudah jelas-jelas kita bercerai, mengapa kau 
menjemputku?,” suaraku terdengar agak keras.
   
  “Aku menjemput sampeyan karena sampeyan itu adalah bapaknya anakku”
   
  “Lha kalau kita sudah bercerai, lalu kenapa surat perceraiannya nggak kau 
kirimkan bersama suratnya Mumuk lewat Romo pastur?”
   
  “Ya mas aku ngerti, tapi aku sadar kalau surat cerai itu aku kirimkan ke sana 
aku khawatir akan lebih membebani penderitaan sampeyan. Oleh karena itu aku 
harap sampeyan bisa memaklumi dan menerimanya. Percayalah entah esok atau lusa 
kita akan kembali menjadi suami-istri lagi.”
   
  Aku sadar dan mengerti akan alasan istriku, ternyata selama kami terpisah ia 
pun mendapat tekanan dan kesulitan yang begitu rupa. Yah akhirnya sementara 
kaulku gagal, sampai kapan?, aku sendiri belum tahu kepastiannya. Apakah 
teman-temanku yang lain juga mengalami hal yang sama denganku?, hanya merekalah 
yang tahu.
   
  Aku tahu penolakan istriku itu sepenuhnya benar adanya. Penolakan itu tentu 
atas dasar hukum dan perintah agama, kami atau siapa pun tidak boleh dan tidak 
dibenarkan untuk melakukan hubungan suami-istri di luar pernikahan. Dengan 
begitu kami terlepas dari hidup kumpul kebo.
   
  Seminggu sesudah kebebasanku, tapatnya tanggal 7 Pebruari 1979, saat itu pagi 
hari jam belum juga menunjukkan pukul 7 pagi, mbak Kasri datang dengan membawa 
nampan, satu nampan berisi nasi kuning dengan lauk pauknya, dan satu nampan 
lagi terisi pisang setangkap (dua sisir).
   
  “Dik Nur, hari ini ujar kaulku terlaksana sudah.” Dik Nur ini adalah teman 
baik bapaknya anak-anak, saya tahu dan ngerti betul bahwa dik Nik (biasa beliau 
memanggil istriku dengan sebutan Nik) melakukan perceraian sepihak karena 
terpaksa. Hubungan kami bersama dik Nik berjalan biasa selama dik Nur 
tinggalkan. Satu ketika saya pernah berujar, “Jika diijinkan oleh Allah SWT, 
kapan saja jika dik Nur bebas aku akan berusaha mempertemukan kembali dik Nur 
dengan dik Nik, dan walaupun barang sekepal aku sing bancaki (selamatan ala 
kadarnya). Nah sekarang angan-anganku terwujud. Berkemaslah, hari ini dik Nur 
akan melakukan ijab kembali”
   
  “Mbak Kasri, begitu besar perhatian mbak sekeluarga pada kami, peristiwa ini 
akan menjadi catatan dalam hidup saya, mbak. Dan saya nggak akan pernah 
melupakannya,” hanya itu yang bisa kukatakan. Kujabat tangannya dan tak urung 
tangis dan haru menyesaki dada dengan ditandai lelehan air mata. Terima kasih 
mbak.
   
  Kami berangkat ke Kantor Urusan Agama di bilangan Grogol, karena KTP istriku 
memang masih KTP Grogol. Aku dengan berpakaian apa adanya, hem putih pemberian 
barak dan celana biru hasil barter dengan ayam piaraan, yang keduanya sudah 
tampak lecek. Ya selama 13 tahun menjadi seorang tapol hanya harta itulah yang 
kumiliki. 
   
  Kemarin saat aku di jemput pulang dari Kodim menuju rumah di Utan Kayu aku 
dinaikan taksi bercat kuning, sekarang  kami pergi menuju ke KUA Grogol dengan 
naik bis umum yang juga bercat kuning. Di pinggir jalan dari jendela bis ada 
kulihat kotak pos yang juga bercat kuning, bahkan ada jembatan penyebrangan 
yang juga bercat kuning. Melihat semuanya ini aku jadi bertanya pada calon 
istriku, kenapa banyak fasilitas umum yang bercat kuning. Calon istriku pun 
menerangkan bahwa warna kuning itu adalah lambang Golkar, Golkar yang singkatan 
dari Golongan Karya adalah nama partai besar yang sedang berkuasa di saat itu.
   
  “Waktu pemilihan umum mas, kewajibanku sebagai PNS adalah harus mencoblos 
gambar beringin lambang partai Golkar jika nggak ingin dipecat”
   
  “Oh begitu bagus!. Tapi warna kuning keemasan itu sebenarnya kan juga lambang 
kematian. Setahuku dulu jika ada bendera kuning  dipasang di depan jalan atau 
gang itu tandanya ada kematian di sekitar situ. Apakah sekarang masih begitu?”  
 
   
  “Ya masih mas, Tapi soal kematian itu kan nggak bisa diketahui kapan 
terjadinya, yang penting dan jelas warna kuning itu adalah juga lambang 
‘ketinggian’, coba lihat mobil presiden pun dipasangi bendera kecil berwarna 
kuning. Jaket anak-anak mahasiswa Universitas Indonesia juga berwarna kuning. 
Pokoknya warna kuning itu warna keemasan harus dipuja, dihormati dan dijunjung 
tinggi. Orang biasa mengatakan ada kesempatan emas ya harus digunakan 
sebaik-baiknya. Sekarang ini banyak sekali orang yang mencari kesempatan itu”
   
  “Lha apa kau nggak ikut mencari kesempatan itu?”
   
  “Ah mana mungkin mas, wong aku cuma pegawai rendahan, dapat tambahan uang 
lembur saja juga sudah beruntung.”
   
  Jam 9 pagi, akhirnya kami tiba di KUA, kakak perempuan calon istriku dan 
suaminya telah datang menunggu untuk menjadi saksi pernikahan kami kembali. 
Tidak lebih dari sejam perhelatan kecil itu pun selesai, kami saling 
bersalam-salaman dan berpelukan, sesudah itu kami pun kembali pulang ke Utan 
Kayu.
   
  Setibanya di rumah sambil duduk beristirahat pikiranku menjelajah ke 
mana-mana. 13 tahun aku di dalam penjara dan tanah pembuangan adalah waktu yang 
sangat panjang dan terasa lambat bergeraknya. Tetapi sesudah pembebasan ini 
waktu terasa sangat cepat berlalu. Kalau kemarin aku masih menyandang setatus 
duda, hari ini aku sudah kembali menjadi seorang suami. Sebulan lalu aku masih 
menjadi seorang penekun sawah yang harus bertanggung jawab atas hidup matinya 
tanaman padi, mulai hari ini aku kembali menjadi seorang suami yang harus ikut 
bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluargaku. Lalu apa yang bisa 
kulakukan?.
   
  Di tengah lamunanku istriku datang membawa dua cangkir kopi dan menemaniku 
duduk.
  “Kau tetap masih cantik istriku, di mataku kecantikanmu semakin bertambah 
karena kesetian dan kesabaranmu menunggu kedatanganku.”
   
  “Terima kasih mas, aku nggak bisa berbuat banyak selama ini, hanya itu saja 
yang bisa aku lakukan.”
   
  Tak kusadari di siang bolong dan pintu rumah terbuka lebar kami saling 
berpelukan melepas rindu. Jauh dari apa yang dikatakan oleh para petinggi 
Inrehab bahwa masyarakat akan sulit menerima kedatangan dan pembebasan tapol. 
Kenyataan yang kualami berkata lain. 
   
  Masyarakat di sekeliling rumahku ternyata menerima baik keberadaanku. Tak 
terkecuali sahabat lamaku yang begitu antusias menerima kedatanganku dengan 
segala pengorbanannya. Kemauan dan kesediaannya untuk menerima kedatanganku 
adalah merupakan sikap dan perbuatan yang mempunyai nilai lebih. Bahkan 
pernikahan ulangku dengan ibu anakku juga tak terlepas dari peran mas Parno 
sekeluarga.
  Barangkali inilah yang dikatakan oleh orang-orang pintar, “Sahabat sejati 
adalah sahabat di  kala duka”, dan aku sudah menemukannya.
   
   
                                                             *****
              
PENUTUP            
              
  Itulah sekelumit kisah pengalamanku dalam dunia Bulembangbu, ya Bulembangbu 
itu adalah ringkasan dari empat nama tempat yang pernah kuhuni dengan status  
tapol, jelasnya Bulembangbu itu adalah, Budi Kemulian (BU), Salemba (LEM), Nusa 
Kambangan (BANG), dan Pulau Buru (BU). Empat tempat yang saling berjauhan ini 
hakikatnya mempunyai satu sifat yang sama, sama-sama “Jahanam!”
   
  Di dunia Bulembangbu itulah kuhabiskan 13 tahun perjalanan hidupku, di sana 
banyak kuketahui, kualami, dan kurasakan. Pahit getir, hinaan, caci maki, 
hantaman, pukulan, tendangan, dan pemerasan yang jauh dari sila ke-2 dari 
Pancasila, "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab", jika kami tapol dicap sebagai 
manusia-manusia yang anti Pancasila, lalu siapa mereka?. 
   
  Dunia Bulembangbu adalah tempat manusia yang tidak bernilai manusia, entah 
berapa banyak nyawa yang melayang karena siksaan dan rasa frustasi, berapa 
banyak manusia-manusia yang produktif berakhir menjadi seonggok daging tanpa 
arti, menjadi gila karena tak tahan pada intimidasi yang dilakukan oleh manusia 
yang mengaku Pancasilais sejati. 
  13 tahun kami di tahan dalam dunia Bulembangbu, kami tidak pernah di proses 
secara hukum, kami tidak pernah diadili, kami tidak pernah divonis, kami hanya 
ditahan, diamankan dan direhabilitasi.
   
  Ya, kami tidak dibui, kami hanya ditahan. Kami juga tidak dipenjara, kami 
hanya diamankan, dan kami tidak dibuang, kami hanya direhabilitasi. Mungkin 
begitulah cara mereka menginterprestasikan sila ke-2 dari Pancasila secara 
murni dan konsekwen. Bukan main indahnya istilah itu.
   
  Apapun dalih yang mereka katakan, tak ada yang menyangkal jika empat tempat 
itu adalah jahanam yang digelar oleh rezim yang sedang berdaulat. 
  Selaku manusia yang masih mempunyai nalar, aku berusaha berfikir obyektif. 
Kekuasaan memang menggiurkan, dengan kekuasan manusia bisa berbuat apa saja, 
mendapatkan apa saja yang diinginkannya, banyak manusia yang menjadi buta 
karena kekuasan. Tetapi kekuasaan itu tidak begitu saja datang, kekuasaan itu 
harus direbut, apapun resikonya. Dan bila kekuasaan sudah ada digenggaman, 
gunakan kekuasaan itu sebaik-baiknya dan pertahankan semampunya. Bunuh dan 
babat habis musuh-musuh politik demi kelestariannya. 
   
  Manusia tetap manusia, disamping manusia-manusia brutal yang tak berperi 
kemanusiaan, aku pun masih menemukan sisa-sisa manusia yang masih mempunyai 
rasa welas asih, walaupun hanya satu-dua gelintir. Sekalipun dia seorang 
petugas  dan prajurit yang harus melaksanakan perintah. Tetapi mereka 
melaksanakan tugas dengan tetap memelihara rasa keadilan dan naluri 
kemanusiaannya. Mereka tahu dicubit itu sakit karena itu jangan mencubit orang 
lain. Mereka tahu menghargai sesama manusia, siapa pun mereka, sekalipun mereka 
itu para tahanan, mereka juga tetap manusia yang mempunyai kedudukkan yang sama 
di mata hukum.
   
  Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 menegaskan ;
  Segala warga negara bersamaan kedudukkannya di dalam hukum dan pemerintahan 
dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
  Kepada mereka para petugas yang nyata-nyata menghargai nilai manusia dan 
menjunjung hukum, tak segan-segan aku mengacungkan kedua jempolku dan tak lupa 
ucapan terima kasih.
   
  Di harian Kompas, Sabtu 31 Desember 2005, seorang dosen Sejarah di 
Universitas Sanata Dharma, bernama Baskara T Wardaya SJ, menulis artikel yang 
berjudul “Indonesia Yang Lain”. Antara lain beliau menulis,
   
  “Pada dekade 1950-an terjadi berbagai pemberontakan daerah. Para pemimpinnya 
ditangkap, tetapi tak disertai pembantaian massal. Tampak sekali waktu itu ada 
sikap saling menghormati diantara sesama warga negara, meski ada berbagai 
perbedaan sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan.
   
  Tak mengherankan, meskipun baru merdeka, saat itu proses demokrasi dipahami 
dengan baik, sampai ketingkat akar-rumput, sebagaimana tercermin dalam pemilu 
1955. Pun bangsa Indonesia  mendapat tempat terhormat di kalangan bangsa-bangsa 
lain. Kepercayaan dunia terhadap kepeloporan Indonesia tercermin dalam Gerakan 
Non Blok dan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika. Gagasan Indonesia untuk 
membangun dunia kembali pasca kolonialisme juga diterima secara internasional. 
Tak terbantah pernah ada Indonesia yang lain, yang meskipun sangat majemuk para 
warganya saling menghoramati dan dengan demikian dihormati oleh bangsa-bangsa 
lain.
   
  Akan tetapi entah mengapa mulai tahun 1965 berbagai konflik politik yang 
terjadi selalu disertai kekerasan massal. Kekerasan yang satu disusul dengan 
kekerasan yang lain. Setidaknya ratusan ribu nyawa melayang di tangan sesama 
warga bangsanya sejak tahun itu. Sejak itu pula korupsi merajalela, 
sumber-sumber alam dijarah, rumah-rumah ibadah dirusak, ekonomi makin tak 
memihak rakyat. Rasa hormat dan kagum dari bangsa-bangsa lain juga terus 
berkurang..”
   
  Begitu tulisan beliau. Bagiku tulisan itu sangat menyentuh dasar dan pokok 
persoalan tentang kekuasaan.
   
  Kalau boleh ditambahkan, sejak berdirinya negara RI, republik ini tak pernah 
lepas dari rongrongan dan pemberontakan.  Andi Aziz , Kahar Muzakar, DI.TII, 
PRRI, Permesta semuanya selingkuh dan ingin berkuasa. Terakhir dan masih sangat 
hangat adalah pemberontakan yang dilakukan oleh GAM, 30 tahun mereka melawan 
pemerintah, angkat senjata, ingkar terhadap NKRI dan Sang Merah Putih. Bahkan 
mereka telah menyiapkan mentri-mentrinya. Begitu banyak yang telah mereka 
lakukan tetapi begitu solusi tercapai antara NKRI dan GAM, seluruh anggota GAM 
mendapat rehabilitasi dan kompensasi. Nyaman rasanya. 
   
  Bandingkan dengan G.30 S, umur gerakan Untung tak lebih dari 24 jam tetapi 
akibatnya mencapai puluhan tahun. Ada sebagian warga negara yang menjadi warga 
negara kelas kambing di negrinya sendiri dan di mata sesama bangsanya sendiri, 
walau mereka tak tahu apa yang membuat mereka harus menerima hal itu. Banyak 
anak-anak yang harus menjadi yatim-piatu dan hidup menderita hanya karena orang 
tua mereka ikut bertepuk tangan saat perayaan hari jadi PKI. 
   
  Kalau sudah demikian halnya dimana letak rasa adil dan keadilan. Sebagai 
warga negara yang tak berdaya aku hanya pasrah, aku tidak bisa berbuat apa-apa, 
aku tak bisa menuntut hakku selama ini yang telah dizalimi. Kepasrahanku itu 
akhirnya kuletakan pada unen-unen, "Sopo becik ketitik, sopo olo ketoro, sing 
bener ketenger, sing salah bakal seleh, sing temen bakal tinemu".
   
  Kepasrahanku ini bukan karena aku merasa salah, kepasrahan itu semata-mata 
karena aku tak dapat dan tak sempat membela diri. Aku telah kalah, aku telah 
dibungkam, aku telah disrimpung (diikat), dan aku tidak diberi hak membela diri.
   
  Selama 13 tahun dalam dunia Bulembangbu tidak membuatku hilang kesadaran, aku 
tetap warga negara Indonesia yang sah, aku pun pernah turut merebut kemerdekaan 
negara ini dan aku yakin aku mempunyai hak untuk hidup di negara ini. Bahkan 
ada rasa bangga atas diriku. Aku dipenjarakan bukan karena aku korupsi, 
ngerampok atau membobol bank yang kesemuanya sangat merugikan bangsa ini. Aku 
dipenjarakan hanya karena aku seorang buruh percetakan yang menerbitkan Harian 
Rakyat dan sebagai distributor. 
   
  Tugasku sebagai distributor inilah yang menjadi dasar kuat untuk melemparku 
ke dunia Bulembangbu selama 13 tahun, mereka menuduhku tahu akan segalanya yang 
berhubungan dengan peristiwa G.30.S 1965.
   
  Kebanggaanku lainnya adalah karena aku dipenjarakan akibat fitnah seorang 
teman, tetapi sebaliknya tak seorangpun yang celaka karena mulut dan 
perbuatanku. Oleh karena itu mengapa aku mesti merasa rendah diri dan malu 
menghadapi masyarakat. Ku tanamkan paengertian ini kepada anak dan istriku. 
Biarlah yang benci biar benci, toh yang mau bersahabat masih ada dan banyak.
   
  Kenyataan menunjukkan, sesudah kebebasanku aku tetap dapat hidup dan bergaul 
normal dan baik dalam masyarakat di kampungku, akrab dan bahkan ada rasa 
persaudaraan, tak ada tetangga di sekitar tempat tinggalku yang merasa takut 
dan jijik akan keberadaanku sebagai eks-tapol. Dan mendapatkan semua ini aku 
merasa sangat bersyukur, mungkin inilah karuniaNya sebagai buah penderitaanku 
di dunia Bulembangbu.  
                                               
  Selesai                      


  

 
                          Lembaga SASTRA PEMBEBASAN

  Address: Postbus 2063, 7301 DB Apeldoorn – Netherlands
E-Mail: [EMAIL PROTECTED] 
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65: http://www.progind.net/   















Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






 
---------------------------------
Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.

[Non-text portions of this message have been removed]



Bersatu Rebut Kekuasaan: Hancurkan Kapitalisme, Imperialisme, Neo-Liberalisme, 
Bangun Sosialisme!

Situs Web: http://come.to/indomarxist
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indo-marxist/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indo-marxist/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke