Terima kasih atas tanggapan positifnya.
Membaca tulisan anda saya teringat lingkungan sekolah saya dulu yg beragama
Katolik. Saya ingat diskusi terbuka saya dgn teman2 yg beda keyakinan.
Dan kebetulan lingkup kerjaan saya juga banyak berhubungan dgn agama yg
berbeda dgn saya.
Keyakinan dan keteguhan iman seseorang bukan berarti kita berlaku rasis,
karena setiap org berhak mengakui agamanya lah yg paling benar, dan bagi saya
itu adalah suatu hal yg wajar saja. Karena kebenaran akan datang dgn sendirinya
bagi setiap orang yg menginginkannya. Kebenaran yg dtg dari Sang Pencipta Alam.
Terima kasih, senang diskusi dgn anda
Tq
Herdi
Wassalam
Sharif Dayan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam Sejahtera...
Pada Senin, 29 Januari 2007, riz aircooled menulis:
> Saya menghargai ada org menganggap agama adalah masalah pribadi tapi kan ada
> juga
> yg menganggap agama adalah bagian publik yg tidak terpisahkan. Ada org yg
> relijius
> dan ada yg tdk saya open mind saja, tdk lantas memaksakan kehendak.
Bagi saya, tidak ada masalahnya Anda berbicara menggunakan sudut pandang
keimanan Anda,
karena itu justru menambah wawasan untuk saya sendiri. Dalam kalangan saya
sendiri
(Kristen), saya termasuk 'liar' dalam membicarakan dasar-dasar keimanan. Tidak
ada satu
pun di antara kita, MHS (menurut hemat saya), yang dapat dengan sempurna
memahami alam
ini, apalagi Sang Penciptanya.
Kosmolog Karlina Leksono suatu kali pernah berujar, bahwa rahasia mengenai alam
ini
disingkapkan / dimengerti dengan cara bertanya. Demikian pula mengenai agama
dan iman.
Membagikan pengalaman batiniah kita bisa jadi menyinggung orang, namun juga
bisa menjadi
pemicu pencerahan bagi orang lain. Saya berpegangan pada yang terakhir.
> Star Trek berbicara science dan segala hal ttg alam semesta dan keunikannya.
Sekiranya saya tidak (di)kenal(kan) pada Star Trek, mungkin saat ini saya
adalah seorang
yang berkacamata kuda serta akan sangat tersinggung pada orang yang
berkeyakinan lain yang
mempertanyakan agama saya, juga mungkin memandang dengan leceh pada orang
berkeyakinan
berbeda atau sama sekali tidak beragama / berkeyakinan tertentu.
Kenyataannya, saya justru bisa menikmati pembicaraan agamiah / imaniah dengan
teman-teman
Hindu, Buddhis dan Islam. Melalui kacamata mereka, saya merasa bisa
membayangkan betapa
tidak terukurnya Sang Pencipta ini. Itu pula yang saya alami setelah menjadi
salah satu
peminat fiksi ilmiah, yang antara lain diantarkan oleh ST.
> Kalau kita lebih dewasa saya kira topik saya masih ada nyangkutnya.
Jadi, biarlah milis kita ini menjadi rumah untuk semua yang suka pada ST, tidak
perduli
bagaimana cara mereka memandangnya dan dengan cara apa pun yang berkena bagi
mereka.
Sharif Dayan
---------------------------------
8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
with theYahoo! Search movie showtime shortcut.
[Non-text portions of this message have been removed]