hehehe...iya nih...saya naekan pasarannya jadi 'bung' lagi...
 
Menurut beberapa sumber, bentuk kapal ST NCC 1701 itu sebenarnya ga
proporsional
alias, kl di kehidupan sebenarnya, kapal ini bakal mendongak kalo
berjalan di impulse..
 
--
 
Jadi inget pas lulus SMA, cita2 pengen masuk jurusan 'bintang2an ini',
tapi akhirnya nyadar
kalo background-nya ilmu sosial..hehehe
 
--


________________________________

        From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Sharif Dayan
        Sent: 23. joulukuuta 2007 14:19
        To: [Indo-StarTrek]
        Subject: [Indo-StarTrek] Astronomi menurut saya (dh: Foto
Kegiatan...)
        
        

        Salam Sejahtera...
        
        Pada Selasa, 18 Desember 2007, Alidjaja Ivan menulis:
        
        > hehehe...eyang bisa aja...
        
        <waaaa... 'pasaran' jatuh ni ... dulu "Bung", sekarang "Eyang"
;-)>
        
        > bentuk lama, tapi jeroan baru...; )
        
        Hmmm... kenapa seri NCC 1701 bentuknya mirip satu dengan lainnya
? 
        Apakah selama ratusan tahun bentuk seperti itu yang paling baik
?
        
        > Sepertinya astronomi itu bisa jadi hobi yg menarik..
        > Hm...di sini ada yg hobi astronomi selain Capt. Sharif?
        
        Astronomi sebenarnya ilmu 'kering', karena kentalnya warna
matematika 
        dan fisika di dalamnya. Ia menjadi menarik ketika berada pada
'tangan' 
        para peminat yang mengembangkan daya khayalnya tentang apa
berada di 
        mana, serta kenapa ia menjadi bagaimana dan kapan ia menjadi
siapa.
        
        Di depan rumah saya, ada sebuah jalan kecil selebar 3-an meter.
Di tepi 
        sebelah sana tumbuhlah sebuah Pohon Murbei, yang daunnya menjadi
makanan 
        ulat sutera. Anak-anak dari kampung di dekat tempat saya sering 
        bergelayutan pada cabang dan dahannya yang kuat. Pada musimnya,
mereka 
        menikmati buahnya, yang berwarna merah kehitaman sebesar
jengkalan 
        kelingking, yang asam manis rasanya. Pohon itu belum pernah
mereka lihat 
        selama ini, mungkin sumur usia mereka, juga berlaku pada para
penduduknya.
        
        Pohon itu asalanya dari halaman sempit rumah saya. Ia sempat
tinggal 
        bersama kami sekian tahun, sebelum saya pangkas habis dan
bongkar sampai 
        ke akarnya. Sebabnya adalah karena akar tunjangnya mulai merasuk
ke 
        bawah lantai beranda. Tidak lama lagi ia akan membongkar
beranda, 
        seperti yang pernah dilakukan induknya, sekitar 25 km dari
tempat yang 
        sekarang.
        
        Ya, Pohon Murbei itu saya bawa dari Sungai Gerong, tempat saya 
        dilahirkan. Ia saya tanam pada dua tempat: di dekat dapur dan di
dekat 
        jalan masuk ke rumah. Saya mendapatkan mereka dari suatu tempat
di 
        sekitar rumah lama saya itu, dalam radius 1 km. Lalu, apa yang
menarik 
        melalui cerita ini ?
        
        Sebagian di antara kita pasti pernah mendengar ungkapan, yang
kira-kira 
        demikian bunyinya, "Kehidupan akan menemukan cara untuk
menghadirkan 
        dirinya". Ada yang tahu, mengenai siapa yang pernah menyatakan
itu ?
        
        Semula, pohon tersebut berada pada suatu tempat. Kemudian ia
dipindahkan 
        ke tempat lain, lalu akhirnya dipotongpotong dan dibuang. Namun
ia 
        kemudian dapat sendiri menanamkan akarnya pada tempat buangan,
lalu 
        hidup merimbun !
        
        Demikian saya memandang Astronomi. Kita berpikirpikir, mengenai 
        bagaimana kehidupan dapat terjadi di Bumi, menghasilkan
kesadaran untuk 
        mewariskan kesadaran dirinya, dari generasi ke generasi
berikutnya. Kita 
        menjadi bagian pewarisan itu.
        
        Sekarang, dapatkah kita percaya, bahwa kitalah, setidaknya
sampai dengan 
        saat ini, bahwa satusatunya makhluk berakal hanyalah Manusia ?
Maukah 
        kita mempertimbangkan, bahwa Manusialah yang menjadi makhluk
pertama di 
        alam ini, sebelum ia berbiak dan mengisi segenap penjuru alam
ini ?
        
        Itulah Astronomi...
        
        Sharif Dayan
        di Palembang
        
        

         



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke