Ikut nimbrung ah..dan sharing pemikiran Dulu...(dan mungkin)...ketika Isaac Asimov, menghasilkan novel-novel yg menggambarkan dominasi mesin terhadap manusia bisa saja krn kekwatiran ia jika mesin(robot dan automatisasi) akan menggantikan tenaga manusia, dan pada masa tsb ketakutan akan kehilangan pekerjaan buruh2 industri sangatlah tinggi. Namun saat ini dimana komputer sangat lebih maju dan powerful dan robot2 pabrik lebih presisi daripada yg bisa dibayangkan oleh Isaac masih hidup, TErnyata jumlah manusia dng skill hanya buruh juga berkurang (catatan: khususnya negara maju lho)dengan kata lain robot sdh medominasi pabrik-pabrik tapi tidak mendominasi eksistensi manusia (kecuali terhadap negara berkembang), karena manusia negara maju juga mencapai taraf skill lebih tinggi lagi..tidak sekedar buruh yg bekerja di ban berjalan.
Kemajuan teknologi umumnya diikuti perkembangan kecerdasaan, perilaku dan gaya hidup manusia untuk dapat beradaptasi dng ekses-ekses teknologi yg telah dicapai. Nah..lucunya..kemampuan fantasi futuristis manusia tentang teknologi masa datang memang dapat menjadi bahan cerita seru jika meng"konfrontasi"kan dengan perilaku dan live-style manusia masa sekarang. ...padahal hampirnya kenyataanya perilaku dan kemampuan manusialah yang akan beradaptasi. Spt email Arland yg mengkwatirkan bahwa berkurangnnya rasa cinta bila ibu jika proses melahirkan dibuat nyaman dng transporter. Hal ini malah tidak akan pernah jadi isu bila saja suatu waktu teknologi transporter benar2 akan menjadi trend melahirkan bayi manusia masa depan. Beberapa alasan dan skenario: Tanpa perlu membayangkan masa depan, kita bisa lihat bahwa masyarakat maju, ego masing2 individu untuk memiliki keturuan tidak se'heboh' negera berekembang (eh..jangan bandingkan dng USA yg sebenarnya masih konservatif kalo soal nilai-nilai keluarga dibandingkan negara kecil eropa barat). Tekanan akan fungsi sosial terhadap individu yg tidak menikah atau tidak memiliki anak masih sangat2 kuat di negara2 berkembang. Jadi tak heran, populasi negara berkembang lebih pesat daripada negara maju yg terus makin menyusut. Di Finland, bisa memberi cuti 1,5 thn untuk karyawan pasutri yang subur untuk lebih 'leluasa' membuat keturunan. Nah..bandingkan di indonesia, baru saja nikah dng cuti "honey moon" yang tidak sampai seminggu sdh dipastikan akan ber'isi'. belum lagi masing2 mertua menagih janji agar mereka segera dapat menggendong cucu-cucu mereka. Nah, balik ke jaman starfleet, dimana tugas misi angkasa luar bisa jadi bertahun-tahun, dng populasi dibatasi thd luas stasiun angkasa dan starship. Plus di bumi juga tidak ada trend lagi untuk membuka lahan hutan membuat pemukiman baru....jadi pola pikir masing2 individu starfleet bisa dipastikan tidak 'tertarik' dan tidak merasa wajib lagi untuk memiliki keturunan. (ehm ...ini mungkin ide yang mengerikan bagi yg masih menganut pandangan bahwa hidup itu baru berarti bila memiliki keturuan spt apa yg didoktrin oleh masyarakat dan agama saat ini). Dan bisa jadi tanggung jawab menjaga agar populasi tidak berkurang dari suatu ras manusia (masa datang) menjadi tanggung jawab dan kontrol dari 'state' (negara) eh starfleet. Pada kondisi tertentu, melahirkan merupakan 'tugas' negara (terutama setelah bencana yg memakan korban). Yang mendapatkan 'tugas'(bisa wanita bisa juga pria) akan dinyamankan dng trasnporter saat melahirkan. Tambah lagi, tidak perlu menunggu 8 bulan untuk waktu 'delivery', ketika janin sdh ada kehidupan pada usia 3-4 bulan akan di transportasikan ke holo-inkubator untuk mensimulasikan fungsi rahim dan plasenta....dng asupan gizi terkontrol..hingga saat 'delivery'. Intinya, saya cuma ingin mengatakan: Kekuatiran akan ekses yang tidak diharapakan dari teknologi futuristis tidak akan pernah menjadi isu besar pada masyarakat masa depan dimana teknologi tsb benar-benar terjadi. Ketakutan tsb muncul karena memandang ekses-ekses tsb dari kaca mata tata nilai masyarakat saat ini..yg belum siap dengan teknologi tsb. salam ivul --- In [email protected], Arlandi Landjono <arla...@...> wrote: > > transporter mungkin bagus ya utk operasi angkat tumor. tinggal diarahkan ke > koordinat tumor tersebut dan diangkat. tapi mungkin di jaman star trek itu > udah gak ada lagi tumor. mengingat deteksi dini udah bagus > > tapi kalau utk melahirkan, gue gak bisa bilang. gak pernah dan gak bakal > merasakan secara langsung. > dan apakah rasa sakit dan susah yg dirasakan seorang ibu itu malah ada efek > positifnya dalam proses mencintai anak? takutnya kalau udah gak ada rasa > sakit, ada yg kurang. harus wanita yg pernah melahirkan yg bisa menjawab ini. > > a.r.l.a.n > --------------------------------- > > --- On Thu, 26/3/09, royspangayo...@... <royspangayo...@...> wrote: > > > From: royspangayo...@... <royspangayo...@...> > > Dear all, > > I wonder... If transporter technology does exist, would you > > guys want to deliver your baby by using such device? Or > > perhaps doing surgery like removing tumor by transporting it > > outside the patient's body rather than incising it?
