Terima Kasih Mas Billie, wah lumayan.. tambah pengetahuan baru ttg Cartenzs. Buat Andi.. nanti kalau serius, ya artinya Andi bakal Jadi team Leader,
seingat saya, nggak cartenzs, masih ada beberapa puncak lannya, toh kalau gagal ke cartenzs, kenapa nggak putar haluan ke puncak yg lainnya. Cerita Freeport Makmur, saya jadi ingat ketika di Makassar bulan lalu, di kamar sebelah ada putra timika, dia sempat ajak saya untuk datang ke timika, kalau ke cartenzs dah deket dung. dan kami Bicara ttg dana untuk Rakyat papua 3%, ada 2,5 - 3 T katanya / tahun dan Orang Jakarta katanya bodoh2x nggak pandai soal bagi-bagian.. Penduduk Papua ada 2,4 jt di bagi 4 K / berarti ada sekitar 600.000 Kepala Keluar, kalau Betul itu Dana untuk Rakyat Papua, 1 KK katanya dapat sekitar 15 - 20 Jt / tahun.... artinya, tampa bekerja orang papua hidup lebih kaya ketimbang Propinsi lainnya.. tapi, katanya di Papua memang sering tidak Labil, .. Buat Andi, saya bulan Juni.. kalau nggak ada Halangan, kami sebenernya pengen trip with my daughter road to celebes 30 days... tapi, kalau nggak jadi, ayukk kita ke Papua.. minimal kemana gitu. Billie wrote: > mas dan mbak, > > Sepertinya kalimat mas Joko "Anggota milis ini yang dari > >> Freeport bisa memberi klarifikasi", ditujukan untuk saya. Insya >> > Alloh saya coba jawab, muda2han memuaskan. > > Memang benar kata mas , pendakian dari Grasberg memang lebih dekat > dan lebih cepat ke puncak. > kerap kali sekelompok pekerja memanfaatkan kondisi ini dengan secara > swakarsa inisiatif membentuk kelompok untuk mendaki (bukan program > perusahaan). > > Tim ini tentunya disertai dengan pemandu yang berpengalaman dan > (kadang) seorang anggota TNI dengan senjatanya tentunya. Hal ini > dapat dimaklumi karena sebagian besar anggota tim memang bukan > pendaki. Bahkan sering juga ikut pegawai wanita yang tidak punya > pengalaman mendaki sama sekali. > > Tentunya terbayang dong, tingkat kesulitan yang tidak begitu tinggi, > jika orang awam pun bisa sampai ke puncak jika melewati daerah > eksplorasi PT Freeport. > Kenyataan ini pula yang menjadi katalis saya untuk bekerja di sini. > > Walaupun perusahaan tidak mensponsori namun tentu perjalanan > sepengetahuan perusahaan dan juga perijinan memang (katanya) > sekarang (diper)sulit. Entah di pihak perusahaan atau di pihak yang > berwenang lainnya (pemda/aparat keamanan). > > Saya pribadi belum pernah menjalani proses ini, karena baru beberapa > bulan bekerja di sini dan belum pernah mendapat info resmi, hanya > kusak kusuk saja. > Tentunya saya akan terus mencari informasi tentang pendakian melalui > daerah eksplorasi baik untuk kepentingan pribadi maupun teman2 di > IBP. > > Oya mas joko,"Freeport jauh lebih makmur", emang iya? hehehhe > > tk, > billie > > --- In [email protected], joko santoso > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >> Sebagai tambahan informasi. >> >> Sekira 3 bulan lalu (sebelum puasa) ada tim studi >> banding dari Freeport berkunjung di Sangatta. Di luar >> presentasi resmi dan tanya-jawab santai sempat saya >> tanyakan jalur ke Cartenz. Jawabannya agak >> mengejutkan. Kata salah seorang, kalau cuaca baik >> (pada bulan-bulan tertentu) tinggal 4-5 jam jalan dari >> base camp. Kalau mau mendaki, tambahnya, bisa saja >> (lewat Freeport) dengan mengajukan ijin terlebih dulu. >> Sekilas, melihat peta lokasi dumping (timbunan) yang >> ada di presentasi, puncak Cartenz tak sampai 2km lagi. >> Ketinggiannya sudah hampir elevasi 4000 (d.p.l). >> Berhubung yang memberi jawaban ini sudah di Freeport >> sejak awal 90-an (yang tentu sudah hafal a-b-c policy >> company) informasinya dipastikan sahih. Mengapa jalan >> ini tidak dicoba? Anggota milis ini yang dari >> Freeport bisa memberi klarifikasi. >> >>
