Teman Milis,

Ini lanjutan kisah perjalanan saya ke 3 negara Asia pada 2006 lalu.
Bagian pertamanya bisa dibaca di milis Inobackpacker ini dengan
Message Number 17235. Semoga bermanfaat. Selamat menikmati.

 

 

 

BAGIAN 2-KISAH PERJALANAN 3 NEGARA ASIA 2006: RUTE
JAKARTA-BATAM-SINGAPURA, NAIK BUS DI SINGAPURA , DAN  NYARIS DITINGGAL
AIRASIA  DI CHANGI

 

 

 

 


Meninggalkan Jakarta Menuju Batam Dengan Air Asia


 

Berangkat ke bandara Soekarno Hatta dengan naik Bis Damri yang ngebut
menambah semangat saya jalan-jalan. Sayang Risti sama Aqsha tidak bisa
ikut. Saat pesan tiket dan sebagainya Risti masih bekerja, tidak dapat
cuti.  Ya sudah, lain waktu kita bisa pergi bareng.

 

Teman jalan yang ikut berangkat hari ini, 14 Februari 2006, hari
Selasa, adalah Anna. Saya kenal di milis Jalansutra sebagai member
pasif aja. Kita janjian bertemu di counter Air Asia di terminal IA.

 

Pagi itu, seperti biasa, terminal IA dipadati calon penumpang pesawat.
Sejak era penerbangan murah, mulai dari Star Air, Batavia Air, Adam
Air, sampai Air Asia, Bandara Soekarno Hatta terutama terminal 1-nya
jadi lebih ramai. Lebih hidup. 

Antrian di counter AirAsia juga mulai penuh. Setelah check in dan
bayar airport tax, saya langsung naik ke atas, ke ruang tunggu. Anna
belum kelihatan. 

 

Habis sarapan dan buka-buka laptop, Anna baru nongol dengan
backpacknya. Lalu kita   membahas rencana di Bangkok sambil
membuka-buka itinerary dan peta.

 

Pesawat take off  tepat  jam 12 siang. Ini kesekian kalinya saya naik
Air Asia dan tepat waktu. Walau banyak juga mendengar beberapa keluhan
mengenai terlambatnya pesawat ini, tapi baru sekali pernah
mengalaminya. Pesawat Low Cost Carrier ini nyaman dengan kursi
penumpang yang dibungkus kulit warna hitam, bersih dan lega. Saat
masuk pesawat tadi sudah terasa dingin, tanda AC sudah dinyalakan.
Naik beberapa pesawat lain saya pernah merasa kepanasan dan
keringatan, karena AC pesawat belum dinyalakan. Setelah pesawat
tinggal landas barulah ACnya terasa berhembus.

 

Sampai di bandara Hang Nadim, Batam, sambil menunggu travelbag di
bagasi dikeluarkan saya ‘celingak celinguk’ mencari counter Ferry Boat
yang katanya ada di dalam bandara ini. Benar saja, ada tuh di arah
jalan keluar. Si encik yang menjualnya terlihat sibuk melayani pembeli
tiket. Oya,  di sini ia menjual tiket Ferry dengan berbagai operator,
seperti Penguin dan Wavemaster. Harga tiket Ferry dari Batam ke
Singapura di jual 26 SGD atau sekitar Rp 156 ribu. Berlaku PP dalam
masa setahun.

 

Taxi bandara mudah sekali di dapat dengan ongkos yang sama jika menuju
ke Batam Centre, satu dari 2 pelabuhan penyeberangan ke Singapura.
Februari kemarin kami dicharge  Rp. 70.000,-. 

 

Suasana bandara tidak terlalu ramai sehingga keluar bandara lancar
saja. Taxi berjalan kencang tapi nyaman, karena taxinya berbodi besar
dengan mesin 1800 cc. Jalananpun lancar-lancar saja.

 

Batam Centre juga tidak terlalu ramai. Menurut supir taxi yang membawa
kita, baru besok, Sabtu, Batam Centre akan penuh orang yang
menyeberang atau datang dari Singapura.

 

Kami langsung menuju ke loket pembayaran fiskal, di sebelah kiri pintu
masuk. Tak ada calo yang biasanya akan langsung mengajukan penawaran
mengurus biaya fiskal saat kita baru masuk Batam Centre. Ini akibat
adanya kontrol yang ketat akhir-akhir ini terhadap kinerja beacukai,
serta perangkat dan instansi terkait lainnya. Biaya fiskal Rp  500
ribu.

 

Selesai membayar. Kami berdua langsung naik elevator ke lantai dua,
menuju ruang tunggu keberangkatan. Di depan pintu masuk seorang
petugas berseragam abu-abu meminta kami menunjukkan boarding pass.
Saat itulah kami sadar belum melakukan cek in di counter operator
Ferrynya. Lalu kamipun bergegas turun sambil mencari counter Ferry
Penguin di lantai satu kembali. 

 

Cek in dipermudah dengan pengisian pass card yang diketikkan dengan
komputer oleh staf yang bertugas di counter. Kami hanya menyerahkan
paspor saja serta biaya seaport tax.  

 

Setelah beres dengan urusan cek in, kami menunggu di sebuah ruang luas
menghadap ke laut. Ruangannya bersih, dan kebetulan lengang. Hanya ada
beberapa calon penumpang yang sedang duduk menunggu saat naik kapal
ferry. Di kejauhan terlihat selat Singapura yang biru dan sebuah kapal
ferry yang baru meninggalkan Batam. Ahh asyiknya…

 

 

 

 

 

Menuju Singapura, Lalu ke Changi Naik Bus SBS dan hampir ketinggalan
pesawat

 

Jam 3 kami naik ke kapal ferry Penguin yang bersih, kelihatan sekali
terawat, dengan ruangan penumpang yang dingin dengan penyejuk udara.
Saya duduk paling depan, karena mau selonjoran. Anna memilih duduk di
pinggir belakang. Sambil minum air mineral gelas yang disediakan, saya
menikmati perjalanan laut ini. Saat itu perairan kelihatan tenang
dengan sedikit ombak kecil memecah di dinding Ferry. 

Beberapa kali kita berpapasan dengan Ferry-Ferry lain yang menunjukkan
ramainya lalulintas kapal di selat penghubung negara kita dengan
Singapura ini. 

 

Dan sungguh tak terasa pula hampir 45 menit  kapal meninggalkan Batam,
hingga terlihat beberapa gedung tinggi di pelabuhan Harbor Front
terlihat makin membesar. Juga terlihat sebuah kapal pesiar besar yang
sedang bersandar.

 

Turun dari kapal kami bergegas menuju pintu masuk gedung Harbor Front.
Dulunya pelabuhan ini biasa disebut  pelabuhan WTC. Tetapi sejak
peristiwa runtuhnya gedung WTC di New York, penyebutannya diubah
menjadi Harbor Front. 

 

Kami harus melewati pemeriksaan imigrasi Singapura dulu sebelum masuk
ke bagian utama gedung ini.  Suasana dalam gedung, Harbor Front Mall,
ramai dengan orang-orang yang hilir mudik. 

 

Sesudah sempat menukarkan uang kecil di money changer, kami
menyeberangi Harbor Front  Mall menuju Terminal Bus WTC yang terletak
di seberang jalan, di jalan Telok Blangah.

 

Rencananya kami akan menaiki bus SBS no 65 menuju Orchard Road. Nanti
turun di depan Le Meridien untuk ganti bus SBS 36 menuju Changi
Airport. Saya pikir, kita bisa menikmati pemandangan Singapura sore
hari dengan naik bus, dibandingkan jika menggunakan MRT.

 

Bus tingkat yang ber AC dan bersih bergerak meninggalkan terminal 10
menit setelah setengah lima sore. 

 

Menikmati jalan-jalan utama Singapura yang bersih, sore hari, sambil
melihat para pekerja bergegas pulang kerja, anak-anak sekolah yang
bergerombol sambil bercakap-cakap, terasa sungguh menambah stimulasi
kenikmatan sebuah perjalanan wisata. 

Memasuki ujung jalan Orchard yang ramai dan padat, laju bus melambat.
Hingga tiba di depan halte hotel Le Meridien saatnya kami turun. Halte
saat itu sedang direnovasi, tetapi padat dengan orang yang menunggu
bus. Sore itupun Orchard Road sangat padat dengan orang-orang yang
lalu lalang dan jalanan pun padat dengan kendaraan yang berjalan satu
arah. 

 

Aha, itu bus SBS 36 yang harus kami naiki. Lalu kami pun naik dan
duduk di dalam bus. Anna duduk di depan sedang saya di tengah. Isi bus
masih sedikit saat kami naik, tetapi sesaat akan memasuki Bras Basah,
seluruh tempat duduk terisi.

 

Sepanjang perjalanan, penumpang silih berganti naik dan turun.
Kebanyakan para orang muda yang tampaknya adalah pekerja kantor. Dari
etnis India, Cina hingga Melayu. Tampak juga beberapa wajah Indonesia
dan Vietnam. 

 

Seorang diantara para pekerja muda usia itu duduk di samping gue
sambil asyik terus berteleponan di hapenya. Bahasa Inggrisnya bagus,
pakaiannya rapi, dan masih bersih, juga,ini, rambutnya masih tersisir
rapi.  Lengan panjang kemejanya tergulung rapi dengan jam tangan warna
Chrom,  yang…… uhh..kayaknya mati tuh,..jamnya. 

 

Saya melihat ke jam tangan, menunjukkan pukul enam seperempat. Sayang,
saya bergumam dalam hati, keren-keren tapi jamnya ngaco tidak
diperhatikan. Jamnya menunjukkan 7 lewat 15 menit. 

 

Beberapa waktu berikutnya kami melewati East Cost Highway ke arah
Changi, saat kemudian seorang penumpang wanita, dengan blazer biru
turquois, naik bis. Dan jamnya juga ngaco! 7.35. Haa? Saya lihat jam
saya lagi. Menunjukkan 6.35. ????@@@@???!!!! Kok, rasanya ada sesuatu
yang tidak beres ya...?  Saat itu pikiran saya cepat berputar dan
merubah seluruh persepsi saya. Salah nih,…ini kan Singapura, dimana
waktu dihitung lebih dulu satu jam dari waktu Jakarta. 

Berarti benar saat ini adalah jam 7.35 waktu Singapura atau jam 6.35
waktu Indonesia Bagian Barat. HUUAAAAAH?? Mati gue! Pesawat ke Bangkok
kan jam 8 waktu……Singapura? Alamaaakkk!!!!Yaa....!! Telaat!!!

 

Aduh…benar nggak sih ini? Apa cuma mimpi nih? Saya kehilangan percaya
diri sesaat itu. Lalu bertanya ke penumpang di sebelah saya, dengan
rasa bersalah atas penilaian yang keliru dan setengah berharap-tidak
tahu harapan apa- mungkin jam yang dia pakai tepat waktunya? Si pemuda
rapi tadi menjawab dengan bahasa Inggris yang santun, tapi sangat
lambat buat saya! Benar, tepat! Aeh! Matteeek! 

 

Saya langsung panik, dengan muka mulai berkeringat saya bertanya lagi
kita ada di daerah mana saat ini. Sambil melihat keluar
jendela,..ahh..Mountbatten Road. Lalu saya melihat ke Anna yang asyik
terkantuk-kantuk. Aduh! Kasihan nih,..tapi saya harus kasih tahu
segera. 

 

Anna, dari mengantuk langsung panik begitu saya jelaskan semuanya.
Menyaksikan mukanya yang langsung pucat saya merasa kasihan, lalu
mencoba menenangkannya dan meminta maaf. Saya, setelahnya, lalu
bertanya ke supir bus, berapa jarak waktu ke Changi dari daerah ini.
Sambil menenangkan dia bilang bahwa kita hanya berjarak 10-15 menit
saja dari Changi. Wah..!! Counter Air Asia kan tutup 45 menit sebelum
waktu keberangkatan. Saya merutuki kebodohan -atau kecerobohan- yang
tidak perlu ini. Kenapa tidak mengubah setting waktu begitu sampai di
Singapura tadi?  Sehingga bisa mengontrol waktu. 

 

Rasanya jalan bus melambat saja, sementara mobil-mobil di sampingnya
melaju dengan cepat. Memandang ke lingkungan yang asri di  luar sana
saya menjadi tidak bergairah. Pandangan saya kosong melompong saja,
tetapi hati tidak keruan rasanya. Saya sempat bilang ke supir apa
sebaiknya saya turun dan naik taxi saja supaya lebih cepat sampai
Changi. Tapi si supir bilang bahwa mencari taxi di lingkungan ini
susah dan akan menyita waktu lebih banyak dibanding jika tetap naik
bus ini.  Adoooww....deg-degan, kan, jadinya...!!! Gimana, dong!

 

 

 

 

 

Counter Cek In Air Asia Sudah Tutup

 

Jam 8 kurang 5 menit bus memasuki kawasan Changi. Sebelum masuk gedung
terminal, bus diperiksa oleh 2 orang petugas keamanan yang naik ke
atas bus. Halah! Ini, apa sih, pakai diperiksa segala,..bikin saya
tambah sewot aja nih..! Si petugas sempat melihat ke saya yang
bertampang panik, berkeringat. Eh, saya sempat juga kasih senyum lho.
Senyum kecut yang dipaksakan! Bukan apa-apa, soalnya saya takut dia
akan bertanya-tanya yang tidak  perlu dan akan bikin  tambah stress
saja dan mengulur waktu. Perasaan terkuat saya, saat itu, kepingin
rasanya lompat keluar,..lari ke dalam gedung terminal. Tapi, nanti kan
malah dikira penjahat yang ketakutan mau ditangkap lagi..halahh.! 

 

Si petugas satunya berlalu ke belakang bus lalu dengan sigap kembali
ke depan dan keluar bus dari pintu depan. Ah..leganya,..

Dan, tidak perlu berlama-lama lagi , sebelum bis berhenti total di
platform basement terminal satu Changi, saya buru-buru melompat
keluar. Diikuti Anna yang tergopoh-gopoh di belakang. Setengah berlari
saya menyeberangi platform dan masuk pintu kaca pembatas lalu naik
tangga ke lantai dasar terminal. Anna yang tertinggal hanya berteriak
minta di cek in-kan sekalian. Oke! Teriak saya.

 

Di atas, counter cek in penerbangan begitu banyak. Tapi penumpang
saat itu sepertinya tidak terlalu penuh. Jauh diujung sana kelihatan
warna merah counter cek in Air Asia. 

 

Saya setengah berlari menghampiri. Kosong. Sepi. Melemaskan! Lunglai
rasanya melihat tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitar counter Air
Asia itu. Counter sudah tutup dan saya yakin sudah  ketinggalan
pesawat. Mana itu pesawat Air Asia terakhir lagi! Ahh!!

 

Anna yang kemudian datang menyusul juga terbengong. Mau nangis
tampaknya. Sekitar check in counter itu benar-benar tidak ada orang
sebatang hidungpun, saya setengah berharap dalam hati ada petugas
manapun yang berseragam yang bisa di mintakan informasi.

 

Saat itu saya lihat, dalam jarak sekitar 10 meter-an, seorang bule
yang sedang berdiri, membaca secarik kertas di tangannya. Saya, sambil
terengah-engah menghampiri, maksudnya mau bertanya. Sekilas saya lihat
kertas di tangannya,..aha..itinerary Air Asia. Kelihatan tulisan warna
merah diatasnya. Ketinggalan pesawat juga tampaknya. Melihat saya yang
tergopoh-gopoh..eh ini bule malah tersenyum lebar. Mirip  Sean
Connery. 

 

Saya bertanya sopan, bahwa saya calon penumpang  Air Asia yang
ketinggalan pesawat dan mau cari informasi penerbangan ke kantor Air
Asia. Belum selesai saya bertanya, dia menunjuk ke satu arah. Sales
Counter Air Asia! 

 

Dengan seorang gadis muda berseragam merah darah sedang duduk di
baliknya. Jaraknya sekitar 5 meter dari tempat kami berdiri. Dari
counter cek in Air Asia tadi memang tidak terlihat bahwa ada sales
counter Air Asia juga di situ. Namanya juga orang panik.

 

Si gadis melayu ini menyambut dengan senyumannya yang  manis saat kami
menghampirinya. Hamidah namanya. Seperti sudah tahu, dia langsung
ngomong, sebelum kami mengeluarkan sepatah kata. Pesawat didelay
sampai jam 10 malam! Huahhh!!!! 

 

Tau bagaimana rasanya? Leggaaaaaaaaa sekali. Sekaligus senang banget.
Baru sekali itu saya senang sekali mendengar pesawat ditunda terbang.
Biasanya sebel banget, kan. Alhamdulillah. Si Hamidah terkekeh melihat
ekspresi muka saya yang sehabis panik dalam sekejap berubah senang. 

 

Si Bule, yang dari tadi juga memperhatikan dan masih ada di situ,
memandang kita dengan setengah tertawa. Dia bilang bahwa dia sudah
tahu penerbangan ke Bangkok ditunda dari sms yang didapatnya dari Air
Asia. Oh begitu, toh. Kok, saya tidak  mendapat info yang sama? Saya
bertanya ke Hamidah. Padahal kan, saya juga sudah jadi member Air Asia
dan memberikan nomer hape saya, selain alamat email, untuk memudahkan
komunikasi jika diperlukan. Hamidah hanya menjawab singkat, I dunnot
know, saat  ditanya mengenai hal ini. Yaa…

 

Hampir 20 menit kemudian counter cek in dibuka. Saat itu kami selesai
mengisi perut di Kopitiam. Saya tadi makan Kwetiau Gorengnya yang
lezat dan minum Es Lemon Tea yang segar dan asam sekali. Setelah
proses cek in dan mendapat boarding pass  selesai kami jalan-jalan
menghabiskan waktu yang masih panjang hingga jam 10 nanti.

Kami berkeliling di terminal satu dengan perasaan tenang dan nyaman.
Sambil mengobrol kita bersyukur masih diberi percobaan yang
mendebarkan sehingga kita lebih teliti dan berhati-hati dalam
melakukan perjalanan. 

 

Suasana terminal penumpang Bandara Changi malam itu cukup ramai.
Gedung terminal terang benderang, seperti biasa bersih dan nyaman
untuk berjalan-jalan. Ah..ini menimbulkan perbandingan dengan bandara
kita yang kegedean dan keharuman nama, sampai nggak mampu
mengharumkan, bahkan, toiletnya. 

 

Kenapa ya, Bandara Soekarno Hatta itu lantainya harus merah bata, yang
exposed gitu, kelihatan gelap, kusam. Dengan struktur tiang kayu dan
atap kayu yang coklat gelap. Selera bos yang membangunnya dulu pasti
payah. Mungkin masa lalunya suram,.hehehe. Belum lagi kalau lampunya
disana sini redup dan tertutup debu. Wah! Apalagi jika ada pelanggar
etika dan aturan yang seenaknya merokok dan meludah. Waduh! 

 

Changi? Terang benderang, bersih hingga ke sudut terkecilnya, nyaman
jika berjalan-jalan. Toko-tokonya yang selalu terang dan semuanya
dibuka. Dindingnya yang cerah, dihiasi TV layar datar di sana sini
yang menampilkan iklan, neon box informasi bandara yang lampunya
menyala terang terus, rak brosur yang terisi penuh dimana-mana.
Namanya juga Changi. Tidak keberatan nama, tapi isinya yang berat.
Kalau Bandara kita?  Kasihan Bung Karno dan Bung Hatta!

 

Tahu tidak? Kita dipanggil boarding jam berapa? Jam 11.15 malam! He
he..tadi sudah senang didelay 2 jam,..jadi kalau ditunda 1 jam lebih
lagi ya tidak apa-apa dong. Tapi sebelumnya kami sempat mendengar
seorang penumpang, yang sepertinya warga Thailand, marah-marah karena
tidak mendapat informasi yang cukup mengenai waktu keberangkatan. Dan,
kembali, si Hamidah dengan senyumnya yang menenangkan si bapak. Ia
menjelaskan bahwa pesawat baru saja tiba dari Bangkok jam 10. Setelah
menurunkan penumpang harus dibersihkan dulu dan diisi bahan bakar
kembali.

 

Tetapi, bagi kami, ini juga bergesernya waktu tiba di Bangkok.
Rencananya kami akan naik bus Bandara dari Airport Don Muang- Bangkok,
ke Khao San Road. Bus terakhir akan berangkat jam 12 malam. Dengan
tertundanya penerbangan seperti ini berarti kami harus menggunakan
taxi yang juga berarti menambah biaya transportasi.

 

Satu per satu kami masuk pesawat. Beberapa Monk, pendeta Buddha di
Thailand, dipersilakan masuk lebih dulu. Lalu orangtua dan anak-anak,
baru kemudian kami yang muda-muda. Semuanya berjalan tertib. Pesawat
terisi hanya ¾ kapasitasnya saja. Jadi saya memilih duduk di baris
kedua dari belakang yang kosong. 

 

Di sebelah kanan, baris seberang, seorang anak muda Thailand, kemeja
lusuh, berkaca mata  dan menyisir rambutnya dengan tangan,
mengeluarkan novel dari backpacknya. Anna duduk di deretan tengah yang
sejajar sayap. Para pramugari menjalankan tugasnya. Dan saya minum air
mineral berteguk-teguk lalu mencoba tidur. Akan cukup waktu istirahat
sebelum sampai dan menghadapi kekacauan lain. Ah..mudah-mudahan jangan
ah…!

 

 

 

 

Next : Sampai di Khao San Road, Backpacker Haven, jam  2  dinihari,
bareng dengan gajah pulang kerja...

 

 

 

Salam,

BARENS HIDAYAT

              see my activities on   <http://beha38b.multiply.com>
http://beha38b.multiply.com

                  YM ID : barenshidayat

             

                  people don't care how much you know

                  until they know how much you care...

                     

                  

 

 





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke