Duh agak mis-understanding Mas Poncho Saya tegaskan susah tidaknya, berbelit atau tidaknya mencari visa itu TIDAK bergantung pada jenis visa (social, student, bisnis, riset, dll). Itu semua bergantung pada negara mana yang akan memberi visa. Bisa jadi negara A gampang banget dapat visa (apapun jenisnya) tapi bisa jadi negara B sangat sulit mendapat visa kecuali atas kunjungan diplomatik. Sekali lagi saya tekankan : visa sosial TIDAK menjamin akan mendapat kemudahan. Yang pasti adalah gimana memenuhi syarat2 aplikasi di setiap jenis visa.
Pernyataan tentang disable atau difable apakah memperoleh prioritas, saya tidak bisa menjawab karena saya tidak pernah aplikasi visa dengan bentuk ini. Saya sarankan : hubungi kedutaan besar negara yang mau dikunjungi dan bertanya ke staf kedutaan untuk mendapatkan jawaban yang resmi. Berbagai macam jenis visa itu merupakan klsifikasi JENIS kunjungan, bukan kondisi (fisik) si pelamar visa. Contohnya begini : saya kebetulan menggunakan kursi roda namun saya melamar visa student. Itu karena sifat kunjungan saya adalah untuk sekolah lagi, bukan karena saya difable. Apakah saya memperoleh kemudahan? wah itu tergantung aplikasi saya. Jika aplikasi memenuhi semua syarat yang diminta tentu saya akan mendapat visa. Jika tidak ya terpaksa ditolak, terlepas dari kondisi fisik saya. 1. Ditilik kasus mas Ponco, jenis kunjungan yang memungkinkan adalah studi banding. Biasanya ada surat undangan yang menyatakan untuk apa studi banding itu. Apakah jenisnya sosial? saya kurang tahu. Beberapa negara tidak memberikan indikasi yang jelas tentang itu. Jadi kembali saya sarankan kontaklah dengan kedutaan negara yang bersangkutan. 2. Untuk bebas fiskal untuk student karena ia bermukim di negara luar dalam jangka waktu tertentu (minimal 3 bulan), karena itu ia harus menunjukkan bukti diterima sekolah di luar. Untuk sosial visit (keluarga) harus menunjukkan bukti surat undangan dan bahkan petugas pajak kadang meminta fotokopi passport si pengundang (he he he...kadang agak overacting sih). Melihat kasus anda saya jadi bingung. Jadi apa sih tujuan ke luar negeri? tugas banding atau hanya berkunjung. Ini harus dijelaskan dengan tepat. Saya agak bingung dengan definisi udah bekerja dan belum. Kalau untuk tugas banding berarti ada keterikatan organisasi yang berarti dengan dukungan finansial dari organisasi itu. Kalau tidak, saya kurang yakin dengan penjelasan mas Ponco. 3. Keuntungan visa sosial dan turis menurut saya sih hanya lama visa itu berlaku. Saya ngg merasa ada keuntungan yang besar dari visa ini. Paling ya dibayarin makan sama kawan saja :) 4. Waduh saya ngg bisa menjawab tentang Jepang. Mungkin kawan lain aja yang lebih tahu, 5. Sekali lagi saya tekankan, di luar negeri tidak ada keringanan finansial untuk pengunjung yang cacat. Keringanan fasilitas misalnya mendapat tempat parkir beda, tempat duduk bis di muka, dll sama sekali ngg berhubungan dengan keuangan jika kita berkunjung sebagai turis. Iyah mungkin dapet prioritas antri di supermarket, tapi harga yang dibayarkan ya tetep aja seperti yang tertera. Nah yang diceritakan ke anda adalah jika udah jadi penduduk atau warga negara lain maka jaminan sosial itu ada dan bahkan mendapat diskon untuk bis dan berkunjung ke tempat lain. Fasilitas ini mirip dengan kaum pensiunan (eldery) juga student. Jadi kalau mas Poncho jadi turis otomatis jaminan sosial itu TIDAK ADA. Beda loh mas antara visa dengan penduduk/residen/wn. Salam, Ambar --- In [email protected], "poncho Google" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Terimakasih atas memberi penjelasan ttg visa-visanya,.., > > Jadi pemahaman dari VISA SOSIAL itu upaya memberi kemudahkan jalan izin visa > dgn cepat bagi turis ke Negara mana pun yang bersangkutan tanpa kesulitan > memproseskan berbelit2 jalanya, bkn? > > > > Ada yang tahu gak alamat email yang bisa menghubungi informasi pertanyaan > jawaban jelas langsung tentang berbagai macam visa dari beberapa kedutaan2 > baik mengeluarkan passport imigrasi di Jakarta? > > > > dari beberapa urutan dibawah ini dgn satu persatu yg mau ditanyakan.. > > >
