Tanggal 14 Februari akhirnya saya berangkat ke Nias dalam rangka 
mendokumentasikan nilai-nilai fisik dan non fisik budaya yang masih tersisa 
pasca bencana. Ini sebenarnya programnya UNESCO, saya cuma bantu-bantu motret 
saja. UNESCO sendiri membuat program ini dalam rangka memasukan Nias sebagai 
salah satu nominasi, World Heritage, warisan dunia dari Indonesia. Rencananya 
saya berada di Nias selama 10 hari (tapi ternyata molor jadi 13 hari) 
   
  Waktu berangkat dari bandara Soekarno-Hatta saya hampir saja ketinggalan 
pesawat. Diluar perkiraan jalan Antasari dan Fatmawati macet berat. Padahal 
rencananya setelah mobil saya titip di Kebayoran langsung naik bis Damri ke 
bandara. Terpaksa karena sudah terlambat saya harus melupakan bus Damri dan 
langsung menyetop taksi. Dapat taksi tarif lama dan supirnya kurang ajar, dia 
minta harga diluar argo meter. Padahal argonya cuman 60 ribuan, supirnya minta 
100 ribu. Argumennya karena ke bandara belum tentu ada penumpang. Padahal nggak 
usah ke bandara ke blok M pun belum tentu juga baliknya dapat penumpang. 
Akal-akalan supirnya tuh. Karena sudah terlambat sayangalah saja.…kalau nggak 
telat biar tonjok-tonjokan saya jabanin tuh supir….Oh ya , saya naik pesawat 
Garuda (dengan asumsi yang paling aman…he…he…he…) menuju Polonia Medan. 
Keberangkatan jam 8:15 WIB.
   
  Penerbangan ke Medan kurang lebih 1.5 jam. Setelah sampai di Polonia, harus 
ganti pesawat ke G. Sitoli. Pesawat yang saya naiki maskapai penerbangan 
Merpati. Selain Merpati ada satu maskapai lagi yang beroperasi ke Gunung 
Sitoli, yaitu SMAC. Harganya bersaing ketat, kalau Merpati tiketnya Rp. 450.000 
sedangkan SMAC Rp.500.000. 
   
  Selain harus melalui Medan rute menuju Nias juga bisa melewati kota Padang. 
Dari Padang ada 2 alternatif , jalur udara dan darat. Kalau jalur udara bisa 
menggunakan pesawat SMAC yang mampir dulu ke Pulau Telo sebelum ke Gunung 
Sitoli. Harga tiketnya Rp.230.000. Ini penerbangan perintis, hanya menggunakan 
pesawat kecil. Beroperasinya hanya hari Senin dan Jumat, dan hanya satu kali 
penerbangan di pagi hari. 
   
  Jalur lainnya adalah dari Padang ke Sibolga lewat jalan darat menggunakan 
bus, memakan waktu sekitar 6 jam-an. Dari Sibolga ke Gunung Sitoli harus 
menggunakan kapal fery cepat, tarifnya Rp.100.000. Perjalanan kapal fery dari 
Sibolga ke Gunung Sitoli ini memakan waktu sekitar 3 jam. Dulu ada kapal KM 
Lawit yang beroperasi yang melayani trayek Gunung Sitoli-Sibolga-Padang pulang 
pergi, tapi sekarang pelabuhannya sedang direnovasi membuat KM Lawit tak bisa 
berlabuh di sana. 
   
  Sampai di bandara Binaka , Gunung Sitoli sekitar jam satu siang. Bandara 
Binaka adalah bandara yang kecil mungil. Setelah gempa 28 Maret 2005 memang 
sudah diperbaharui tapi kesan sederhananya tetap menonjol. Dari Binaka ini 
kalau mau ke kota Gunung Sitoli tidak ada angkutan umum. Yang ada hanya 
mobil-mobil omprengan. Perorangannya dikenakan tarif Rp. 25.000. Kalau ingin 
berjalan kaki, silahkan jaraknya lumayan jauh sampai ke jalan lingkar pulau 
Nias, sekitar 5 kilometer. Dari jalan raya itu bisa naik angkutan umum, 
bayarnya Rp. 4-5 ribu. 
   
  Untungnya saya dijemput supir, langsung diantar ke hotel Miga Beach hotel. 
Hotel ini terletak di jalan Diponegoro dari arah Binaka ke Gunung Sitoli. Waktu 
gempa dahsyat inilah satu-satunya hotel di G. Sitoli yang tidak mengalami rusak 
parah. Suasananya nyaman karena terletak dipinggir pantai yang menghadap ke 
pulau Sumatera. Tarif kamarnya dari Rp.120.000 s.d. Rp.200.000. Saya dapat 
kamar bertarif Rp. 200ribu, kata manager operasional yang juga suka merangkap 
sebagai koki, merangkap humas, merangkap agen travel, merangkap calo sewa 
mobil, Pak Berkat, kamarnya ada ACnya. Namun sayangnya ketika dihidupkan ACnya 
nggak dingin-dingin, yang keluar cuman angina doang...sebel juga nih. Hotel ada 
banyak di G. Sitoli, tarifnya berkisar seperti tarif Miga Hotel itu. 
   
  Setelah chek in saya dan kang Hepy Sulistyadi, langsung saya cabut ke Museum 
Pusaka Nias, mau ketemu Pastor Johannes, tokoh agama Khatolik sekaligus 
direktur museum. Oh ya, saya berangkat ke Nias di temani penulis Hepy 
Sulistyadi, dia ini mantan redaktur pelaksananya TEMPO dan sekarang jadi 
penulis lepas. Sesampainya di Museum Pusaka Nias kami terangkan maksud 
kedatangan kami yang ingin memotret sebagian koleksi museum. Kemudian Beliaupun 
mengajak saya berkeliling museum itu dan menerangkan koleksi-koleksi yang 
beliau miliki sambil menjelaskan kapan dan dimana ia dapatkan. Satu jam lebih 
beliau mengajak berkeliling-keliling, banyak juga koleksi beliau. Pastor 
Johannes berada di Nias sudah lebih dari 30 tahun, makanya jangan heran kalau 
bahasa Niasnya lebih lancar dari bahasa Indonesia. 
  
   
  Ternyata ada penginapan yang dikelola museum lho...tapi hanya 6 kamar, 
tarifnya murah meriah dari 40.000 sampai 70.000 rupiah. Penginapannya seperti 
asrama dengan fasilitas kasur , lemari dan di pinjamkan handuk bersih. Kamar 
mandinya bersama dan terletak di sayap penginapan. Juga ada dapur yang bisa 
dipakai bersama. Penginapan yang disewakan museum ada yang bertipe rumah adat 
dengan harga sewanya 150.000 sehari. Tipe rumah adat ini bentuknya betul-betul 
rumah adat Nias, bahasa Niasnya Omo Hada. Rumah adat ini di beli Pastor dari 
penduduk setempat. Rumah adat itu korban gempa yang mengalami kerusakan di 
beberapa bagiannya. Rumah itu lalu direnovasi dan dipindahkan ke lokasi museum. 
Ada dua rumah adat yang disewakan dan ketika saya di sana satu rumah adat 
disewakan untuk kantor FAO, Food and Agriculture Organization. (badan pangandan 
agrikultur dunia) dan satu lagi disewakan untuk tempat tinggalnya kepala kantor 
FAO di sana, Mr. Mao, dari Myanmar. Oh, ya hampir semua
 penyewa di penginapan museum adalah karyawan dan karyawati NGO yang beroperasi 
di Nias. 
   
  Hampir lupa, ada satu lagi rumah yang disewa maskapai perbangan SMAC untuk 
para karyawannya. Suasana penginapannya menyenangkan, selain terletak dipinggir 
pantai juga pergaulan antar sesama penyewa juga asyik. Maklum mereka menyewa di 
sana tidak satu dua hari tapi bulanan bahkan tahunan, seperti karyawan-karyawan 
FAO dan ILO itu. Penginapan ini saya nilai sebagai, "Highly Recomanded" jika 
ada yang ingin bermalam di Gunung Sitoli.
   
  Jangan kaget kalau ke museum itu banyak muda-mudi Nias mojok berpacaran. 
Maklum di G. Sitoli nggak ada tempat hiburan jadi museum itulah tempat 
satu-satunya untuk warga kota pelesiran. Kalau hari minggu pengunjungnya 
membludak bisa mencapai 1500 orang. Suasananya jadi kayak Jakarta Fair. Tarif 
masuknya hanya Rp. 1500. Selain itu museum juga menyedikan pepustakaan umum, 
balai serba guna, kebon binatang mini, dan juga pantai yang airnya jernih. Saya 
lihat beberapa orang tua membawa anak-anaknya mani-mandi di sana. Pastor 
Johannes, saya salut dengan apa yang kau lakukan untuk Nias! 
   
  Dari museum saya balik ke hotel Miga , rencananya besok tanggal 15 Feb 2007 
mau ikut rombongan pastor Johannes ke Gomo, di Nias Selatan. Jaraknya kurang 
lebih 90 km dari G. Sitoli. Ada peresmian rumah adat yang di sponsori oleh 
Museum Pusaka Nias. 
   
  (bersambung chapter 2)

                
---------------------------------
Meet your soulmate!
 Yahoo! Asia presents Meetic - where millions of singles gather 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke