16 Feb 2007
   
  Hari ini rencananya akan memotret koleksi pastor Johannes di museum. Tapi 
sebelum itu saya sempatkan mengambil uang di ATM BNI. Di Gunung Sitoli tidak 
ada BCA, yang ada hanya bank Danamon, BRI dan yang BNI. Yang memiliki mesin ATM 
hanya BNI dan BRI. Sehari sebelumnya saya menarik uang di ATM BRI tapi kok 
saldonya nggak balance, jumlah potongannya besar sekali. Saya belum bisa 
mengecek berapa jumlah potongannya, tapi dari hasil printoutnya besar sekali 
potongannya. Dari transaksi penarikan 900 ribu rupiah terpotong sampai 200 
ribu. Wah nggak bener nih...besoknya saya ambil di ATM BNI. Setelah ada 
kepastian dari pegawai bank bahwa setiap transaksi akan dikenakan biaya 25 ribu 
rupiah baru saya mengambil uang di ATM BNI. Dan ternyata benar! Dalam 
printoutnya terlihat jelas balancing saldonya. ATM BRI? No way! Kapok gue! ( 
terakhir saya ketahui ternyata potongan BRI hanya Rp.5000, potongannya jadi 
besar karena saldo ATM saya terdebit secara otomatis untuk membayar tagihan
 kartu kredit! Maaf ya BRI sudah salah sangka padahal lebih besar potongan dari 
mesin ATM BNI lho!) 
   
  Setelah membuat pernyataan tertulis kepada pihak museum bahwa saya tidak akan 
mengkomersialkan hasil foto dan wajib menuliskan kredit title sebagai benda 
koleksi museum saya mulai memotret. Saya membawa backdrop dari Jakarta, bahan 
kanvas berwarna coklat abstrak, dengan asumsi karena artefak-artefak itu 
berwarna natural maka coklat yang paling cocok. Ternyata nggak tuh! Coklatnya 
memang cocok, tapi coraknya abstraknya itu terasa banget artifisialnya. 
Akhirnya saya mengubek-ubek museum mencari background apa yang paling 
cocok...berhasil! Saya menemukan sebuah kain dari serat kayu yang kasar yang 
warna dan teksturnya saya pikir cocok untuk background artefak-artefak yang 
saya akan foto. Untuk memotret saya menggunaan 2 buah SB 800, 1 buah lampu 
buatan China dan sebuah triger infra red universal. Yang bikin saya sebel lampu 
buatan chinanya nggak bisa sinkron dengan triger dan 2 buah SB 800nya. Mau 
menyala kalau pakai kabel, padahal saya tidak membawa kabel demi pertimbangan
 praktis. Saya dibantu beberapa pegawai museum ketika memotretnya. Pemotretan 
selesai jam 5-an sore. Tidak banyak yang saya foto, hanya beberapa yang saya 
anggap mewakili kebudayaan dan punya potensi sebagai ikon untuk mengingat Nias. 
Selebihnya modalnya cuman improvisasi.... 
   
  Malamnya saya mendapat undangan lagi di tempat yang sama, halaman kantor ILO 
di pinggir pantai. Kali ini acaranya barbeque lobster! Yang punya hajat adalah 
Novi boss SMAC yang akan kembali ke Medan untuk merayakan Imlek. Nggak nyangka 
jauh-jauh dari Jakarta bisa makan udang yang segede-gede lengan orang dewasa 
itu. Oh ya, setiap acara makan-makan berlangsung tak lupa juga mengundang Mr. 
Mao. Dia ini kepala FAO di Nias. Asalnya dari Myanmar, jabatannya sebelum jadi 
kepala FAO Nias beliau ini semacam Dirjen di Myanmar. Dia tinggal di museum 
juga, di salah satu rumah adat yang disewakan. Mau tahu berpa harga sewanya 
rumah adat + dapur + kamar mandi? Hanya 150ribu rupiah sehari. Penginapan 
Museum Pusakan Nias adalah penginapan yang paling nyaman di seantero Nias. Saya 
memberi nilai : Higly Recomended untuk menginap di museum Pusaka Nias ini. 
Selain penginapan murah meriah itu ada juga beberapa rumah yang ditempati para 
pekerja museum yang menjadi korban gempa. Dan juga ada
 asrama untuk pelajar yang terletak di dekat pintu masuk museum. 
   
  Sedang asyik-syiknya berbarbeque listrik padam....kami berharap listrik cepat 
menyala, ditunggu sampai jam 1 malam listrik tetap padam. Akhirnya kami bubar 
jalan, kembali ke kamar kami masing-masing. Malam itu saya kekenyangan lobster. 
Malamnya tak bisa tidur nyenyak...mungkin karena pengaruh lobster? 
Meneketehe....
   
  (Bersambung ke Chapter 4)
   

                
---------------------------------
 Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke