Sebenarnya sejak dijajah belanda, bangsa indonesia memang berhenti menjadi bangsa penjelajah, lha kan dijajah....
Kalaupun menjelajah, paling sebagai tenaga kerja ke suriname atau afrika selatan (sbg tawanan perang) atau ke belanda buat sekolah krn bhs inggris pada nggak ada yg bisa. Beda dgn negara jajahan inggris atau perancis atau spanyol, yg krn faktor bhs yg sama memudahkan mereka bepergian keliling dunia ... Kendala utama orang indonesia bepergian selama ini adalah selain bahasa (kalau skrg sdh mendingan) adalah uang. Sampai dengan tahun 1980-1990-an saja, profesi diplomat dan pramugari/pilot (garuda) masih merupakan pekerjaan yg dianggap terhormat sekali karena bisa keliling dunia gratis ... Kelas menengah yg biasanya senang travelling pun baru bertumbuh pesat sejak tahun 1990-an ketika Pemerintah mulai meliberalisasikan perekonomiannya ke pihak swasta dan asing. Dimana setelah ekonomi tumbuh dan cara pandang serta interaksi golongan menengah tsb sdh semakin luas dan mulai ada merasa kebutuhan travelling ke luar negeri (baru kebutuhan krn biaya fiskal efektif membunuh keinginan jalan2 bahkan hanya untuk ke singapore). Tapi susahnya di era sebelum thn 2000, backpacking belum terlalu popular krn konotasi backpacker mengacu kepada turis kelas gembel spt yg di jalan jaksa. Sehingga buat sebagian orang indonesia, pergi dgn cara backpacker nggak ada kelasnya dan nggak gengsi, makanya gaya backpacking tdk terlalu populer ... Selain itu, informasi ttg buku2 semacam lonelyplanet belum banyak dijual di indonesia. Sepengetahuan saya sampai dgn awal thn 2000, kalau mau beli buku lonelyplanet kayaknya saya harus beli ke singapore krn di jakarta belum ada ... Kendala lain travelling atau backpacking tidak terlalu populer adalah biaya transportasi pesawat yg jaman dulu malah jauh lebih mahal dr pd hari ini. Sebelum krismon (10 tahun yg lalu lho !!!), harga tiket pesawat jakarta surabaya saja kalau nggak salah sekitar Rp 750 ribu sekali jalan !!! Mana ada yg mudah wira wiri kesana kemari dgn tiket pesawat seperti itu ??? Itulah kendala2 yg saya pikir kenapa (dimasa lalu) bangsa ini agak kurang bisa menjadi bangsa penjelajah ... Bagaimana kedepan? Wahh pasti berubah ke arah sebaliknya ... daya beli yg naik, kelas menengah yg bertumbuh pesat, tiket pesawat yg semakin murah, dan informasi travelling yg semakin membanjir jelas akan menjadi daya tarik utama kalangan kelas menengah indonesia untuk bepergian ... apa lagi bila pemerintah bener2 menghapus biaya fiskal di sekitar tahun 2009 atau 2010 ... wah lebih banyak lagi yg terbang langsung dr jakarta tanpa hrs mendarat di Batam lagi ... he5x .... Memang enak jaman sekarang, nggak kayak jaman dulu yg bener2 butuh perjuangan untuk bisa bepergian ke luar negeri .... Tapi saya beruntung masih mengalami masa dulu ketika penduduk jakarta saja masih bengong kalau ketemu bule ... atau bule yg dikerubutin orang2 sekitarnya di jakarta he5x ... ossy'81-JKT On 10/16/07, Dvi Shifa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kadang saya juga berpikir, kenapa seh saya seneng aja jalan2 entah ke > mana gitu. Sampe-sampe dulu kalo berdo'a selalu minta, mbok ya saya diberi > kesempatan terus aja keliling ke mana pun. Alhamdulillah selalu didenger > (ini gak tahu kebetulan or not). > Kalo mau dilihat ke belakang, saya rasa ini karena kebiasaan...ya, karena > pekerjaan Ayah saya, dari umur 1 tahun saya sudah "dibiasakan" > berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. > Sebagai anak kecil, tentunya seeeebeeellnya minta ampun. Baru juga punya > temen sektiar 3 ato 4 tahun, tau2 kita udah harus mendengar Ibu saya bilang > "Okay kids, time to move". Wadoeh, artinya ibu saya akan ke sekolah, minta > surat pindah lagi, bla, bla, bla....masa adaptasi bagi kami anak2 tentunya > menyebalkan... > > Jadi sekarang, kalo hanya sekadar menjadi "weekend daughter" ato "holiday > daughter" ya udah biasa kali ya ? Sampe2 saya pernah berada dalam periode > "addict to fly" karena boleh dibilang setiap 2 minggu saya harus terbang! > > Salam, > Shifa > Homebase : Jakarta
