Setelah 2 malam di Pattaya, tgl 29 April 2008,saya putuskan sudah cukup saya
melihat-lihat Pattaya. Kota ini benar2 hanya menawarkan nightlife sebagai
menu utama ... bagi para orang tua pula ......

Pagi hari itu saya harus ke terminal untuk bisa mengejar bis yg sangat
sedikit yg tersedia menuju Aranya Pathet (kota perbatasan Thailand dgn
Cambodia) untuk menyeberang ke Cambodia via Poipet, seingat saya sekitar jam
9 pagi bis yg terakhir.

Tapi saya stress karena pengelola sewa motor diseberang hotel, sampai
jam 08.45 pagi nggak nongol juga, padahal janjinya jam 7 pagi sudah buka
warung. Masalahnya ada uang jaminan saya di dia sebesar 1.000 bath yg
lumayan .... Pihak hotel baik sekali membantu cariin no HP mereka dan
menghubungi mereka. Akhirnya setelah jam 08.45 datang juga orangnya, cuman
bilang sorry, kasih uang jaminan dan pergi lagi .... Saya sendiri sdh pasrah
ketinggalan bis dan akan terpaksa ambil plan B, ke Aranya Pathet via
Bangkok.

Langsung saya ambil ojeg motor dan ngebut ke terminal bis yg nggak terlalu
jauh, sekitar 10 menit. Begitu sampai, langsung lari ke ticket box ....
Alhamdulilah ternyata masih ada satu bis yg berangkat jam 09.30 ....
phuiiiiih .... selamat .... !!! Bayar langsung 217 bath (@ Rp 300/bath)
untuk perjalanan sekitar 5-6 jam.

Nggak lama menunggu bis nya datang .... Ketika si bis datang saya surprise
sekali. Bis-nya doble decker, ada dua tingkat, baguuus, seperti baruuu,
pokoknya kereeen sekali, jauh dari bayangan saya sebelumnya. Service dari
perusahaan bis tsb juga excellent, setiap bagasi di beri tag tersendiri,
kemudian setiap penumpang dilayani dgn sangat ramahnya, termasuk disediakan
snack dan minuman aqua. Saya duduk ditingkat dua. AC nyaman tidak terlalu
dingin, kursi banyak yg kosong.

Tepat jam 09.30 bis berangkat, dan sepanjang perjalanan saya lebih banyak
tidur, bis melaju stabil tanpa guncangan karena krn tidak ngebut. Jalan raya
sangat mulus dan lebar, dua jalur disetiap sisi seperti jalan tol.
Perjalanan banyak melalui daerah2 pertanian. Pemandangan tidak ada yang
spesial.

Bis berhenti di Aranya Pathet, di terminal bis sekitar jam 15.00, kemudian
saya ambil Tuk Tuk (80 bath, biasanya antara 50-60 bath, saya agak
kemahalan), menempuh perjalanan sekitar 10 menit ke perbatasan. Diperbatasan
ini masih ada beberapa ATM. Saya makan siang dulu, murah. Sekitar jam
15.30 saya melewati perbatasan Thailand, masuk ke Cambodia, melewati daerah
tidak bertuan yang banyak gedung2 casino (ada 7 casino) dgn hotelnya, masuk
ke Imigrasi Cambodia.

Di kantor imigrasi yg sederhana ini saya lihat hanya ada satu calo yg saya
abaikan karena saya sdh punya e-visa cambodia (USD 25)via internet
www.evisa.mfaic.gov.kh yang sangat banyak memudahkan proses imigrasi yg
kabar2 sebelumnya penuh dgn pemerasan. Dimana biaya visa yang hanya USD 20,
kalau proses di perbatasan bisa diminta USD 30 atau 1.000 bath. Tapi
kayaknya sudah mulai ada penertiban disana ..... Proses imigrasi juga cepat
dan tidak bertele-tele, tidak terjadi masalah2 yg sempat saya khawatirkan
sejak awal ....

Keluar dari gedung imigrasi yang seperti bedeng sederhana itu (beda dgn
gedung imigrasi Thailand yg megah), saya duduk2 melihat-lihat situasi.
kemudian ketemu tukang ojeg yg namanya Fari, asli penduduk Poipet. Saya
setuju diantar dia ke hotel di seberang supaya dia yg dapat komisinya he he
he sekitar 20 bath dari biaya kamar 400 bath (AC, TV), tapi kamarnya di
lantai 3 ..... naik tangga ...!!!

ATM sudah mulai ada di kota Poipet ini tapi isinya bukan uang lokal tapi USD
dgn nominal terkecil USD 10 ..... Mata uang di  cambodia ini ada dua, bisa
ril atau USD. Kalau pecahan dibawah USD 5 atau USD 1 biasanya pakai uang
cambodia. 1 USD = 4.000 Ril. Seluruh harga di supermarket atau
hotel/restaurant umumnya dalam USD. Kecuali untuk di poipet, ada 3 mata uang
yang berlaku Thai Bath, USD, dan Ril .....

ATM Tabungan saya di Bank Mandiri nyariiiis nggak pernah ada masalah menarik
uang di ATM di Cambodia ini ..... Kartu Kredit nyaris nggak pernah dipakai
sama sekali .... semuanya cukup pakai ATM. Tapi saya nggak tahu apakah
setiap penarikan di ATM ini saya dikenakan biaya lagi (surcharge) .....
Mudah2an nggak besar biayanya ....

Seharian dan semalaman itu saya minta dia menemani saya mengenal kota kecil
poipet tsb. Kotanya bener amburadul, miskin, jalanan banyak kubangan kerbau.
Disebagian dalam kota kecamatan itu mulai dibangun jalan beton. Tapi
mayoritas jalan tanah yg keras. Kotanya kotor sekali, penduduk kelihatan
cukup miskin. Tapi makanan di restaurant cukup murah, nasi goreng cukup 50
bath atau Rp 15 ribu.

Rumah penduduk disini keciiiiiil2, berbentuk ruko. Saking keciiilnya, tempat
tidurnyapun terletak ruko itu kelihatan dari jalan raya .... Kendaraan
berjalan disebelah kanan (setir kiri), tapi kebanyakan kendaraannya malah
setir kanan karena kendaraan ini yg kebanyakan ex Thailand harganya lebih
murah dari pada setir kiri. Kendaraan umumnya tidak pakai plat nomor.
Kendaraan yg paling populer adalah toyota camry, lampu belakang sipit (tahun
2000-an awal?).

Toyota Camry ini jadi favorite penduduk dicambodia, khususnya di poipet yg
banyak dijadikan taxi ke Siem Reap, alasannya harganya murah, spare parts
banyak dan murah, selain itu dikatakan irit (padahal kebanyakan matic), dan
nyaman buat jalanan disana yg banyak rusak (suspensinya enaaaak). Hal yg
menarik lagi, kebanyakan kendaraan disini tidak pakai BBM tetapi pakai LPG.
Iya LPG, karena mereka kalau isi BBM, cukup langsung disambung ke tabung LPG
besar (50 Kg). Kalau harga BBM disana sekitar Rp 11.000/liter.... !!! kalau
harga LPG saya lupa nanya .....

Poipet bukan kota yang nyaman untuk ditinggali. kondisi jalan yang hancuuur,
fasilitas yg terbatas, penduduk yg miskin, keamanan yang agak2 kurang,
membuat sebagian turis hanya menjadikan poipet tempat mencari kendaraan
lanjutan ke Siem Reap. Daya tarik utama kota ini hanya casino dan itupun
hanya bagi para penjudi dari thailand saja .....

Malam harinya saya coba2 melihat casino. Maka saya sebenarnya keluar lagi
dari daerah imigrasi cambodia (karena casino terletak di daerah tidak
bertuan, antara cambodia dan thailand), cukup bilang ke petugas imigrasi
yang menjaga saya mau ke casino, tunjukan pasport, dan masuklah ke daerah
tidak bertuan yg bertebaran casino2 tsb.

Ukurannya tidak terlalu besar. kebanyakan pengunjung adalah penjudi2 dari
Thailand yg kebanyakan etnis china. Mereka memang datang khusus ke poipet
hanya untuk berjudi. Makanan dan minuman gratis. Permainan yg disukai adalah
Fan Tan (?) yg dimainkan dgn 3 dadu dan bacarat. Karyawan kebanyakan dari
Thailand, juga philipina, yang mendapat akomodasi khusus dalam bentuk
komplek dari perusahaan casino masing2.

Saya sempat ngobrol2 dgn beberapa orang Thailand berusia lanjut yang sdh
hidup di casino selama beberapa tahun. Dimana mereka sdh sangat dikenal di
casino sana saking setiap hari nongkrongnya disana. mereka senang tinggal
disana karena biaya hidupnya murah. Makan dan minum gratis. Kamar mereka
bisa sewa dengan hanya biaya 80 bath atau Rp 24.000/malam, bahkan karena sdh
kenal baik, mereka bisa dapat kamar hotel hanya dgn menyogok Rp 50 bath atau
Rp 15.000,-/malam. Mereka senang hidup disana ketimbang tinggal dirumah dan
do nothing .......

Pulang dari casino saya sempat salah arah. Bukannya ke arah cambodia, eehh
malah ke daerah Thailand. Untung saya cepat sadar, buru2 saya keluar dari
daerah Thailand dan kembali ke daerah cambodia, cukup dgn menunjukkan paspor
saya yg sdh ada cap visa cambodia saya aman masuk kembali ke cambodia ....
Pengalaman yang menarik ....

Pagi harinya saya check out dari hotel dan ditemani Fari dicarikan taxi ke
siem reap. Saya dapat taxi dengan biaya 300 bath/orang, tapi saya (merasa)
dibohongi bahwa kalau mau duduk didepan dan sendirian harus bayar 600 bath
(USD 20). Karena setahu saya biaya per orang biasanya adalah USD 15 makanya
saya terima saja tawaran itu. Beda hanya USD 5 ceng li lah ..... Kalau sewa
seluruh taxi (charter) maka biayanya adalah sekitar USD 40-70. Saat itu ada
3 penumpang lokal cambodia yang bayar 300 bath/orang. Untuk bis biayanya USD
10/orang, tapi nggak janji kapan sampainya karena mereka berusaha
melambatkan bis agar tiba di siem reap tengah malam dan penumpang terpaksa
menginap di guesthouse yang diarahkan si pemilik bis untuk tujuan
mendapatkan komisi dari guesthouse. Makanya saya lebih milih taxi.

Perjalanan sekitar 150 Km ditempuh dalam 3 jam melalui jalan tanah yg keras,
tapi kalau musim hujan seperti saat itu lumayan juga licin-nya dan medan
seperti jalanan offroad. Taxi saya (setir kanan, matic, camry) melaju
kencang 80-90 km/jam, tapi saya tenang karena mereka sdh kenal medannya
..... Ban mobil sengaja agak kempes agar ban lebih menggigit tanah dan lebih
empuk.

Perjalanan berakhir di Siem Reap tepat 3 jam kemudian, dan saya di drop di
daerah "old Market" yang terkenal sebagai daerah backpacker. Tempatnya
sangat menarik dan nyaman untuk tinggal. Bahkan daerah ini merupakan yg
terbaik dalam seluruh perjalanan saya di Thailand, Cambodia, dan Vietnam.
Senangnya sampai di Siem reap.......

Nanti cerita ttg ini diberikutnya saja .....

Ossy'81 (101/85)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke