Dari seluruh perjalanan dari Thailand, Cambodia, dan Vietnam, kota ini
merupakan kota yang paling saya suka ..... Khususnya di area Old Market (bhs
khmer: Psr Chaa) yang merupakan pusat hotel, guesthouse, cafe, bar,
restaurant, massage, dan internet.

Sejak tahun 2000-an awal, Pemerintah Cambodia menyadari pentingnya
pariwisata bagi pemasukan devisa. Karenanya mereka mulai menata area untuk
turis. Area Old Market merupakan daerah yang menarik. Disebagian area yang
kotak persegi, dibangun deretan cafe dan restaurant, termasuk ke
gang-gang-nya. Semua tertata rapi dengan design yang keren dan menarik. Saat
saya orientasi area tersebut, saya lihat beberapa cafe sedang direnovasi.
Disekitaran Old Market juga banyak hotel2 dengan bangunan kuno2 yang
menarik. Suasannya seperti di Jogja, tenang, nyaman, tapi teratur. Hebatnya,
cepaaaat sekali mereka menjadikan daerah itu menjadi salah satu daerah
tujuan utama wisatawan asing.

Cukup sediakan lokasi yang tepat. arsitektur gedung2 yang menarik, makanan
yang murah, fasilitas yang saling berkaitan ( foot massage, internet, money
changer, ATM), security, suasana yang nyaman, menghalau pedagang acungan,
menyediakan sarana transportasi yang terjangkau dan menarik design-nya
(tuk-tuk nya menarik dan bersiiih), lingkungan yang diusahakan bersih, maka
wisatawanpun datang dengan sendirinya ......

Area Old Market ini didominasi oleh backpacker bule. Beberapa traveler dari
Asia banyak juga saya lihat, sama sendirian seperti saya. Bahkan beberapa
traveler merupakan wanita. Kalau wisatawan rombongan, kebanyakan menginap
di Jl National Route No.6,  di jalan raya menuju Bandara Udara, yg banyak
hotel2 besar. Lokasi yang buat wisatawan rombongan ini agak jauuuh dari Old
Market.

Saya suka area Old Market ini, serasa di area turis yang nyaman, suasana
enak, aman, tidak berisik, tapi banyaaaaak pilihan hotel,restaurant, cafe,
bar yang bisa dipilih dan rasa pasti terjamin dengan harga yang pasti (ada
daftar harganya), tidak ada usaha menipu wisatawan yang datang.

Siem reap sendiri bukan kota yang besar, malah enak untuk dikelilingi
menggunakan Tuk-Tuk (semacam kereta beroda dua yang ditarik  motor). Disini
tidak terasa suasana wisata sex. Wisatawan yang berkunjungpun, selain
rombongan, juga pasangan2 yang mencari kenikmatan berwisata.

Kota ini sangat dekaaaat dengan Angkor Wat (sekitar 10-15 menit naik Tuk
Tuk), sehingga menjadi base camp bagi mereka yang ingin ke Angkor Wat. Obyek
wisata yg utama memang hanya Angkor Wat, tetapi mereka juga menyediakan
alternatif wisata lainnya.

Kalau malam hari saya punya satu bar/cafe, didepan cafe Red Piano, yang saya
suka. Saya suka dengan musik hidup yang dimainkan. Hanya 3 orang (drum,
bass, dan keyboard), tapi mereka tahu lagu2 yg disukai pengunjung. Cafenya
sendiri tidak seramai tempat lain.

Kegiatan2 cafe ini biasanya berakhir jam 00.00, setelah jam itu masih
ada 2-3 cafe yang buka sampai lebih larut buat sarana ngobrol para bule2
tersebut. Hotel atau guesthouse di Old Market sendiri biasanya sudah tutupp
sekitar jam 22.00 - 23.00, sehingga setiap malam saya harus bangunkan
penjaganya agar bisa masuk hotel.

Saya tinggal di Shadow Of Angkor Hotel. Terletak dipinggir sungai, masih
satu daerah dgn Old Market. Tapi tarif kamar saya agak mahal yaitu USD
20/malam, saya sdh agak malas cari hotel lain yg lebih murah (sekitar USD
12). Hotelnya lumayan, masalahnya hanya kamar mandinya tidak ada ventilasi
dan sehingga bau kamar mandi keluar ke kamar sehingga jadi agak smelly
sehingga saya agak terganggu kalau di kamar.

Untuk keamanan bertraveling bagi wisatawan nampaknya aman2 saja, juga bagi
traveler wanita, karena saya tidak mendengar ada masalah. Paling yang agak
bahaya hanya copet saja. tapi selama perjalanan saya sih nggak pernah
ngalamin hal tersebut. Awalnya juga ngeri ... tapi lama2 biasa saja, yang
penting kita jangan lupa pakai tas pinggang dan masukan semua surat berharga
di tas pinggang itu. Selama disana dompet tidak saya pakai, hanya tas
pinggang saja .....

Pakaian juga nggak usah terlalu banyak karena fasilitas laundry ada di Siem
Reap (di Old market area). Gak usah bawa handuk krn disediakan Hotel.

Lalu lintas disini tidak sekacau di Pnom Penh. Pengguna sepeda masiiih
banyak, yg nggak kalah dgn motor. Mayoritas kendaraan disini tidak
menggunakan plat nomor polisi, nggak tahu kenapa? Taxi meter? Rasanya nggak
ada (saya lupa), tapi kalau tuk tuk sih banyak, karena jaraknya deket2
kemana-mana. Ongkosnya juga nggak mahal sekali. Oh ya satu tuk tuk tuh bisa
dinaikin s/d 4 orang ...... Ada 2 kursi panjang yg hadap2an .... Jangan lupa
hapalin nama drivernya, kalau ke Angkor wat mereka nunggu kita tahu kalau
harus mencari mereka, tanya aja nama drivernya ke driver yg lain ..... Tapi
biasanya sih driver tuk tuk kita yg akan memanggil kita lebih dulu ....

Untuk bahasa nggak usah khawatir, kemampuan bahasa inggris mereka cukup
lumayan koq, mungkin masalah ada di kita kalau bahasa inggrisnya juga parah
...he he he he ....

Sekian dulu ttg Siem Reap, nanti lanjut ttg Angkor Wat yang luar biasa itu
...... !!!

Ossy'81 (101/85)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke