Aceh dan Sabang I

Untuk melihat foto dan Artikel selengkapnya Aceh dan Sabang klik

http://alambudaya.blogspot.com/2007/10/travel-journay-aceh-and-sabang.ht\
ml
<http://alambudaya.blogspot.com/2007/10/travel-journay-aceh-and-sabang.h\
tml>

Masyarakatnya yang religius, letaknya yang berada dipesisir, pemandangan
alam yang begitu menawan, serta perjalanan historis panjang yang telah
dilalui, menjadikan Aceh sebagai daerah Istimewa yang mempunyai
keunaikan dan kekhasan tersendiri.

Karakter masyarakat Aceh yang cenderung keras dan pemberani, seperti
orang pesisir pada umumnya. Itu kesan pertama saya pada saat pertama
menginjakkan kaki saya dibumi Aceh, namun lambat laun kesan tersebut
akhirnya hilang setelah saya mengambil tas diruang tunggu bagasi pesawat
dan Mereka menawarkan bantuan dengan ramah dan tulus. perjalanan dari
Jakarta ke Aceh cukup melelahkan juga, walaupun kami menuju Aceh
menggunakan pesawat terbang. Tidak banyak maskapai penerbangan mempunyai
rute langsung Jakarta – Aceh, tapi harus transit terlebih dahulu
dikota Medan. Dan meneruskan ke Aceh, sehingga lama perjalanan memakan
waktu 4 sampai dengan 5 jam.

Konon Agama Islam masuk ke Indonesia pertama kali dipantai pantai
pesisir Aceh. membentang sepanjang selat malaka yang dibawa oleh para
pedagang dari Arab dan persia, mereka melakukan perjalanan perdagangan
menuju daerah Timur. Bumi aceh sebagai tempat singgah untuk memperbaiki
kapal mereka dan juga berdagang dengan penduduk setempat. Namun seiring
dengan waktu, pada akhir abad kedua barulah Islam berkembang pesat dan
secara terang terangan disebarkan oleh para Ulama yang sebagian besar
berasal dari Persia dan India. Dan pada tahun 225H diproklamirkanlah
Kerajaan Islam Perlak, yang merupakan kerajaan Islam pertama dan
terbesar di Asia Tenggara pada saat itu. Dengan Raja Pertamanya Sultan
Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Aceh kemudian dikenal sebagai
kota dan Pelabuhan Niaga yang ramai.

Banyak tempat wisata dan situs sejarah yang ingin saya kunjungi hari
ini, tetapi saya juga tidak ingin berharap banyak karena kita tiba pukul
4 sore. Sepanjang perjalanan saya masih banyak melihat puing – puing
bangunan Setelah Aceh dilanda Musibah Tsunami, yang telah memakan banyak
korban jiwa dan memporak porandakan bangunan yang ada. Pada umumnya
masyarakat aceh bermata pencaharian Nelayan dan petani, banyak rumah
yang dibangun dipesisir pantai dan sekarang hampir rata dengan tanah.
Akomodasi dan penginapan di Aceh banyak hotel kelas melati yang banyak
terdapat dipusat kota, tarif kamarpun bervariasi dari Rp 100.000 sampai
dengan Rp 200.000. namun kondisi hotel banyak yang kurang terurus dan
berantakan, ini disebabkan oleh musibah Tsunami yang banyak
menghancurkan hotel dan rumah, pada umumnya banyak Turis dan pendatang
yang menginap lebih dari 1 hari mencari rumah penduduk untuk disewa.
Tarifnya pun sangat murah, antara Rp 35.000 sampai dengan Rp 50.000,-

Kebanggaan arsitektur Masyarakat Aceh salah satunya adalah Mesjid Raya
Baiturahman, mesjid ini terletak dipusat Kota Banda Aceh yang
bersebelahan dengan Pasar Aceh, mesjid yang berdiri kokoh dan terawat
ini masih digunakan sesuai dengan fungsinya sampai sekarang. sehingga
merupakan Mesjid kebanggaan dan ikon masyarakat Aceh, Mesjid ini selamat
dari musibah Tsunami meskipun sempat digenangi air setinggi 3 meter pada
saat itu, namun mesjid ini sudah banyak menyelamatkan masyarakat Aceh
pada musibah Tsunami tersebut. Mesjid Raya ini mempunyai Perjalanan
historis yang panjang, dahulu pada tahun 1873 mesjid ini pernah dibakar
pada saat Belanda menyerang wilayah ini. Namun kemarahan rakyat Aceh
membuat belanda membangun kembali mesjid tersebut pada tahun 1875.
mesjid ini mempunyai 5 kubah, kubah utama menjulang tinggi dan dalam
interior mesjid banyak dihiasi ukiran yang unik dan menarik. Tidak salah
Mesjid ini menjadi icon Masyarakat Aceh, karena keindahan arsitektur dan
kokohnya bangunan mesjid ini. Didepan mesjid ada kolam air teratai yang
berjarak 20 meter sampai batas gerbang utama mesjid, walaupun cuaca yang
tidak mendukung. Saya tetap mengambil foto foto mesjid ini, dan pada
saat cuaca bagus. Saya akan kembali untuk mengabadikan mesjid yang
terindah dikota Aceh ini.

Kota Banda Aceh juga memiliki Musium Negeri yang letaknya tidak jauh
dari Mesjid Raya, jaraknya hanya 3 km dan kita tempuh hanya beberapa
menit saja. Didalam musium banyak terdapat tulisan budaya Aceh, tarian,
kerajinan, ragam hias, adat istiadat dan ukiran. Didalam komplek musium
ini terdapat satu bangunan yang sangat mencolok, dan terlihat jelas
dilihat dari jalan umum. Yaitu Rumoh Aceh, rumah adat Aceh yang
berbentuk rumah panggung berpintu sempit, dan dihiasi oleh ukiran kayu
yang sangat indah dan motif Aceh yang unik. Rumah adat ini terlihat
sangat terawat baik, dan musiumnya pun terpelihara dengan baik. Banyak
koleksi barang barang purbakala yang dimiliki oleh musium ini,
diantaranya adalah Lonceng CakraDonya, lonceng ini merupakan hadiah dari
Laksamana Ceng Ho pada tahun 1414. ini membuktikan, Aceh sejak dahulu
merupakan kota dan Pelabuhan yang sangat ramai dikunjungi oleh pedagang
yang datang dari berbagai Penjuru negara. saya jadi teringat dengan Nama
Naggroe Aceh Darrusalam dalam bahasa Aceh yang berarti Negeri Aceh yang
damai dan makmur. Melimpahnya alam dan hasil bumi Aceh membuat Belanda
tertarik untuk berdagang dengan Aceh, lama kelamaan Belanda semakin
mencengkram bumi aceh, memonopoli dan menguasai hasil bumi yang terdapat
diAceh. Konon Aceh merupakan daerah yang sangat susah ditaklukan Belanda
bila dibandingkan dengan daerah lain dinusantara ini.

Setelah puas berkeliling melihat sejarah dan budaya Kota Aceh, kita
melanjutkan perjalanan sebuah peninggalan bersejarah lainnya. Yang luput
dari Musibah Tsunami yaitu Gunongan, tempat ini terletak ditengah kota
dan berada dikawasan dataran tinggi. Gunongan merupakan peninggalan
bersejarah tahun 1600, bangunan ini adalah peninggalan Sultan Iskandar
Muda. Dahulu Kerajaan Aceh dan kerajaan melayu atau Malaysia yang kita
kenal sekarang ini sangat berkaitan erat. Gunongan ini dikelilingi oleh
taman yang asri. Bangunanya berbentuk seperti bukit dan benteng kokoh,
pada awalnya saya tidak mengerti dahulu bangunan ini digunakan dan
berfungsi sebagai apa. Karena bentuknya yang aneh dan tidak seperti
bangunan bangunan yang seperti umumnya, disebelah kanan bangunan ini
terdapat musium yang berisi tentang informasi Gunongan ini. Pada tahun
1608 Sultan Iskandar Muda mempunyai istri yang sangat ia sayangi,
permaisurinya bernama Putri Phang yang sangat rindu pada kampung
halamannya yang dikelilingi oleh perbukitan. Sedangkan istana disini
tidak banyak terdapat perbukitan, akhirnya Sultan membangun sebuah
gunung buatan yang menyerupai perbukitan dikampung halamannya. Agar sang
permaisuri dapat bermain diatas bukit tersebut dan lupa akan tanah
airnya, ternyata Sang Permaisuri sangat senang dan bergembira akan
hadiah tersebut dan selalu menghabiskan waktu dikala senja untuk
menikmati matahari tenggelam diatas bukit Gunongan tersebut.

Tidak terasa hari sudah semakin sore, setelah berkeliling kota menikmati
budaya dan sejarah Kota Aceh membuat kami lelah dan lapar. Kami ingin
sekali mencicipi masakan tradisional khas Aceh, Dijakarta kami sering
mencoba Mie Aceh. Sekarang saatnya saya mencicipi Mie Aceh Asli plus
kepiting hmm perut kami makin keroncongan membayangkan nikmatnya, pusat
jajanan dan masakan khas aceh berada di Pasar yang berada ditengah kota,
memang pada siang hari Pasar ini menjadi pusat perdagangan yang ramai.
Setelah malam pasar ini berubah menjadi pusat Makanan, salah satu ciri
khas masakan Aceh adalah bumbu rempah dan rasa yang sedikit pedas
dilidah. Kami mencoba Mie Aceh, Martabak, Gulai Kambing dan Sayur Pliu.
Kesemua masakan yang kami pesan adalah Masakan yang sangat khas dan
terkenal di Aceh. Sengaja kami memesan banyak ragam sehingga kami bisa
menikmati semua, rasa Mie Aceh ternyata tidak berbeda jauh yang seperti
kami rasakan dijakarta. Namun yang berbeda adalah martabak, disini
Martabak berbentuk seperti telur dadar yang dicampur oleh tepung terigu.
Gulai kambingnya terasa sangat lezat, aroma rempah, rasa kuah yang
sedikit pedas dan gurih daging kambingnya sangat terasa. Bagi para
pecinta gulai kambing jangan sampai dilewatkan, dan masakan terakhir
yang kami coba adalah sayur pliu. Sayur bersantan ini mempunyai rasa
yang khas, aroma rempah khas aceh dan kuah yang pedas membuat kami
semakin berselera menyantap makanan dengan lauk yang lain. Memang salah
satu tujuan utama kami bertamasya tidak hanya berwisata tempat yang
indah dan bagus. Tapi kami juga berwisata kuliner, tidak lengkap rasanya
jika kami tidak mencoba sesuatu yang khas dari daerah yang kami
kunjungi.

Aceh dan Sabang I

Untuk melihat foto dan Artikel selengkapnya Aceh dan Sabang klik

http://alambudaya.blogspot.com/2007/10/travel-journay-aceh-and-sabang.ht\
ml
<http://alambudaya.blogspot.com/2007/10/travel-journay-aceh-and-sabang.h\
tml>



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke